Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

​​​​​​Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara​​​

9/15/2026 6:00 PM
Hits: 1

Laporan Perekonomian Provinsi Sumatera Utara Agustus 2026

Sumatera Utara
Triwulan

Asesmen Makro Ekonomi Regional

Di tengah ketidakpastian perekonomian global dan pengetatan kebijakan moneter internasional, perekonomian domestik pada triwulan II 2026 tetap terjaga melalui penguatan permintaan domestik, percepatan realisasi program prioritas pemerintah, serta sinergi bauran kebijakan fiskal dan moneter. Berdasarkan kondisi makroekonomi tersebut, perkembangan perekonomian di Sumatera Utara menunjukkan ketahanan yang ditopang oleh kinerja positif sektor-sektor utama, termasuk industri pengolahan CPO, sektor konstruksi, dan kinerja ekspor komoditas unggulan di tengah dinamika global.

Perekonomian Sumatera Utara pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,06% (yoy) lebih tinggi dari triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 4,98% (yoy). Dari sisi pengeluaran, penguatan ekonomi didorong oleh akselerasi konsumsi pemerintah, konsumsi rumah tangga (RT) dan investasi (PMTB). Sementara dari sisi net ekspor mengalami pelemahan terutama karena tingginya pertumbuhan impor. Akselerasi konsumsi pemerintah melonjak seiring meningkatnya realisasi belanja pegawai dan belanja barang-jasa, pembayaran gaji ke-13, pengangkatan ASN baru, serta percepatan pembayaran gaji tenaga pendidik. Kondisi ini turut menopang konsumsi RT yang tumbuh berbasis kebutuhan esensial akibat keterbatasan ekspektasi pendapatan, serta mobilitas dan pariwisata selama libur panjang. Kinerja ekspor menguat dipicu oleh peningkatan pengapalan CPO dan turunannya, karet, produk olahan laut, aluminium, serta lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara. Sementara itu, investasi (PMTB) meningkat ditopang oleh percepatan proyek infrastruktur strategis, pengembangan kawasan industri, serta pembangunan infrastruktur. Namun demikian, laju pertumbuhan ekonomi tertahan oleh tingginya impor bahan baku.

Dari sisi lapangan usaha (LU), penguatan pertumbuhan terutama ditopang oleh kinerja LU Pertanian, Industri Pengolahan, dan Konstruksi. Pertumbuhan LU Pertanian didukung oleh pemulihan lahan pascabencana untuk perkebunan, faktor musiman, dan penguatan harga komoditas perkebunan, khususnya sawit dan karet, sementara produksi padi masih tertahan. LU Industri Pengolahan juga menguat sejalan dengan peningkatan ekspor CPO dan produk turunannya, permintaan mitra dagang, konsumsi listrik industri, akselerasi kredit industri. Lebih lanjut, kinerja LU konstruksi membaik didorong oleh peningkatan belanja modal pemerintah, pembangunan JTTS dan BRT Mebidang, rehabilitasi-rekonstruksi pascabencana, serta pembangunan tenant di KEK dan KI.

Di sisi lain, walaupun LU Perdagangan dan LU Transgud tetap tumbuh tinggi, kedua LU tersebut sedikit termoderasi pada triwulan laporan. Perlambatan kinerja LU Perdagangan disebabkan berakhirnya momentum Ramadan–Idulfitri dan moderasi daya beli. Namun perbaikan perdagangan eksternal, penguatan distribusi, peningkatan transaksi e-commerce, serta terjaganya konsumsi masyarakat menjaga kinerja LU Perdagangan tetap tumbuh tinggi. Sementara itu, LU Transportasi dan Pergudangan melambat seiring normalisasi mobilitas dan aktivitas logistik pasca puncak HBKN Idulfitri, meskipun volume penumpang udara masih relatif tinggi dan penumpang laut tumbuh positif secara yoy. Dengan demikian, struktur pertumbuhan LU pada triwulan II 2026 mencerminkan penguatan aktivitas produksi dan investasi yang diimbangi normalisasi konsumsi dan mobilitas, dengan dukungan pembiayaan perbankan yang semakin kuat pada sektor-sektor utama.

Asesmen Inflasi

Inflasi Sumatera Utara pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 4,79% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,86% (yoy) serta berada di atas inflasi Nasional sebesar 3,34% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi terutama dipengaruhi oleh meningkatnya mobilisasi dan permintaan masyarakat menjelang dan selama libur sekolah Juni 2026. Selain itu, penyesuaian harga BBM jenis Pertamax pada 10 Juni 2026 turut memberikan kontribusi terhadap tingginya inflasi, khususnya pada komoditas bensin. Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik global mendorong peningkatan preferensi investor terhadap aset safe haven, yang meningkatkan permintaan emas dan berimbas pada kenaikan harga emas global.

Sumber tekanan inflasi terutama berasal dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, serta Kelompok Transportasi. Inflasi Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau didorong oleh berakhirnya masa panen raya komoditas cabai merah dan cabai rawit, masih berlangsungnya masa tanam komoditas beras, dan perubahan harga Gabah Kering Giling (GKG). Sejalan dengan peningkatan harga emas dunia di tengah ketidakpastian geopolitik global, harga emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya. Penyesuaian harga BBM Pertamax dan tingginya permintaan angkutan udara menjelang dan selama libur sekolah Juni 2026 turut menekan inflasi Kelompok Transportasi.

Secara spasial, wilayah di Sumatera Utara yang mengalami inflasi tertinggi, yaitu Kota Gunungsitoli (6,25%, yoy), Kabupaten Labuhanbatu (5,81% yoy), dan Kota Sibolga (5,79%, yoy). Inflasi terendah tercatat di Kabupaten Karo (4,47%, yoy). Mayoritas Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara mengalami inflasi yang disumbang oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.

Guna menahan laju inflasi lebih tinggi pada triwulan laporan, koordinasi TPID yang semakin baik dilakukan melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), seperti: (i) pelaksanaan pasar murah 4T (tepat waktu, tepat lokasi, tepat sasaran, dan tepat komoditas); (ii) perluasan jangkauan distribusi barang, termasuk pelaksanaan sidak pasar yang masif; (iii) dukungan terhadap peningkatan produksi; (iv) dorongan prioritisasi pemenuhan kebutuhan pangan di dalam Sumatera Utara melalui KAD, serta (v) perluasan kemitraan UMKM dan SPPG dalam menjaga ketersediaan pasokan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan diversifikasi menu.

Asesmen Pembiayaan Daerah dan Pengembangan Akses Keuangan, Serta UMKM

Kinerja pembiayaan Sumatera Utara pada triwulan II 2026 menunjukkan kondisi yang tetap resilien di tengah proses pemulihan aktivitas ekonomi yang masih berlangsung pascabencana akhir tahun 2025. Fungsi intermediasi perbankan mengalami peningkatan, tecermin dari akselerasi pertumbuhan kredit menjadi 7,69% (yoy), terutama didorong oleh percepatan kredit modal kerja dan pertumbuhan kredit investasi yang tetap tinggi. Perkembangan tersebut mengindikasikan meningkatnya permintaan pembiayaan produktif seiring dengan penguatan aktivitas ekonomi di Sumatera Utara. Di sisi lain, risiko kredit tetap terkendali, tecermin dari rasio NPL sebesar 1,91%, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional sebesar 2,1%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan penyaluran pembiayaan tetap diikuti dengan kualitas kredit yang terjaga.

Secara keseluruhan, akselerasi pembiayaan yang disertai dengan risiko kredit yang tetap terkendali mencerminkan terjaganya ketahanan sistem keuangan di Sumatera Utara. Kondisi ini turut mendukung pertumbuhan ekonomi melalui tersedianya pembiayaan bagi dunia usaha dan rumah tangga, khususnya untuk mendorong aktivitas produksi, investasi, dan konsumsi di tengah proses pemulihan ekonomi pascabencana.

Ke depan, prospek pembiayaan perbankan Sumatera Utara diperkirakan terus meningkat seiring dengan semakin stabilnya aktivitas ekonomi pascabencana dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan untuk mendukung berbagai program strategis Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dengan risiko kredit yang tetap terkendali, peningkatan kapasitas intermediasi perbankan diharapkan dapat terus memperkuat pemulihan dan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara ke depan.

Asesmen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah

Secara umum, transaksi sistem pembayaran non-tunai di triwulan II 2026 tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif. Secara agregat, pertumbuhan kartu ATM/Debit, Kartu Kredit, dan Uang Elektronik tercatat menunjukkan pertumbuhan sebesar 0,59% (yoy) dari sisi nominal dan sebesar 6,86% (yoy) dari sisi volume. Selain APMK, inovasi pembayaran berbasis QRIS semakin diterima luas oleh masyarakat, ditunjukkan oleh pertumbuhan volume transaksi QRIS yang tumbuh sebesar 90,5% (yoy), sejalan dengan peningkatan nominal transaksi QRIS yang juga tumbuh sebesar 82% (yoy). Perluasan akseptasi QRIS juga ditunjukkan melalui jumlah pengguna QRIS yang tumbuh sebesar 11,5% (yoy) dan sejalan dengan jumlah merchant QRIS yang juga tumbuh sebesar 18,3% (yoy). Peningkatan ini menunjukkan bahwa akseptasi QRIS di Sumatera Utara terus meluas, baik dari sisi masyarakat sebagai pengguna maupun pelaku usaha sebagai penyedia kanal pembayaran digital. Sementara itu, ekosistem pasar valuta asing domestik juga mencatat kinerja positif, yang tecermin dari pertumbuhan transaksi Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) sebesar 75% (yoy) dan transaksi Penyedia Jasa Pembayaran Layanan Remitansi (PJP LR) sebesar 25% (yoy). Seiring dengan semakin menguatnya digitalisasi sistem pembayaran di Sumatera Utara, kinerja penerimaan daerah juga menunjukkan tren yang positif. Kondisi tersebut tecermin dari realisasi PAD total Sumatera Utara yang meningkat di tahun 2026 sebesar Rp16 triliun, dengan porsi transaksi melalui kanal non tunai mencapai 88,4% yang menunjukkan tingginya adopsi transaksi digital dalam pengelolaan penerimaan daerah. Untuk mengakselerasi digitalisasi penerimaan daerah, telah dikembangkan inovasi split payment pajak untuk Hotel, Restoran, dan Kafe (HOREKA) untuk meningkatkan transparansi dan optimalisasi PAD. Selain itu, implementasi split payment pajak didorong dengan adanya insentif pada merchant dan konsumen.

Asesmen Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Kondisi ketenagakerjaan di Sumatera Utara pada Mei 2026 berada pada level yang lebih rendah dibandingkan Februari 2026. Hal ini ditandai dengan menurunnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sejalan dengan meningkatnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). TPT mengalami peningkatan bersamaan dengan kesenjangan urban dan rural. Masih terdapat ketimpangan antara upah riil dan upah nominal yang cenderung melebar pasca COVID 19.

Kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara secara umum tetap terjaga, tecermin dari penurunan kemiskinan yang disertai peningkatan NTP serta penurunan Rasio Gini yang menunjukkan distribusi hasil Pembangunan semakin merata. Secara historis, jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara terus menunjukkan tren penurunan. Pada periode terbaru, Maret 2026, jumlah penduduk miskin tercatat sebesar 1,11 juta jiwa atau 7,10% dari total populasi atau menurun dibanding dibandingkan September 2025 yang sebesar 7,24% atau sekitar 1,13 juta jiwa. Penurunan tingkat kemiskinan terjadi baik di pedesaan maupun perkotaan. Lebih lanjut, kesejahteraan petani mengalami peningkatan tecermin dari Nilai Tukar Petani yang meningkat pada triwulan II 2026 dibandingkan triwulan I 2026. Ketimpangan pendapatan di Sumatera Utara tetap berada dalam kondisi yang relatif terjaga, tecermin dari nilai Rasio Gini yang masih lebih rendah dibandingkan Nasional. Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) turut memperkuat kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan, dan standar hidup.

Prospek Perekonomian Daerah

Perekonomian Sumatera Utara pada 2026 diprakirakan tumbuh lebih kuat dalam kisaran 4,9–5,7% (yoy), ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang solid, peningkatan kualitas belanja pemerintah melalui optimalisasi Transfer ke Daerah (TKD) dan pemulihan pascabencana, serta PMTB yang menguat didorong ekspansi KEK Sei Mangkei dan proyek infrastruktur strategis. Kinerja ekspor diproyeksikan tetap tinggi seiring kuatnya permintaan global terhadap CPO dan produk turunannya, sementara dari sisi sektoral pertumbuhan didorong oleh akselerasi industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, transportasi, serta pertanian melalui program swasembada pangan.

Inflasi tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1% berkat sinergi erat TPID dan implementasi GPIPS untuk mengendalikan harga volatile food. Di tengah tingginya ketidakpastian global, perlambatan ekonomi dunia, serta dinamika geopolitik, Sumatera Utara perlu memperkuat sinergi dan implementasi strategi pembangunan guna mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Lampiran
Kontak
Contact Center BICARA: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara​​​
Halaman ini terakhir diperbarui 9/15/2026 9:57 PM

Baca Juga