BAB 1 PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II 2026
Perekonomian Provinsi Bali pada triwulan II 2026 tumbuh kuat sebesar 5,78% (yoy), di tengah gejolak geopolitik global. Capaian ini meningkat dibandingkan kinerja triwulan sebelumnya (5,58%; yoy) dan berada di atas nasional (5,29%; yoy). Dari sisi lapangan usaha, sumber pertumbuhan ekonomi Bali triwulan II bersumber dari LU Konstruksi utamanya didorong proyek konstruksi pemerintah dan masih tingginya proyek swasta. LU Pertanian turut berkontribusi terhadap ekonomi Bali didukung oleh peningkatan produksi hortikultura tahunan (jeruk, alpukat, manggis), peternakan (daging ayam ras dan telur), perikanan, dan padi. Sementara itu, LU Akmamin tercatat tumbuh melambat imbas konflik Timur Tengah, yang berdampak pada kunjungan wisatawan mancanegara yang terkontraksi sebesar -5,17% (yoy). Dari sisi permintaan, sumber pertumbuhan ekonomi Bali masih ditopang oleh solidnya Konsumsi Rumah Tangga (RT), meningkatnya investasi dan tetap tingginya Konsumsi Pemerintah.
BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI
Inflasi IHK di Provinsi Bali pada triwulan II 2026 sebesar 3,27% (yoy), meningkat dari triwulan I 2026 (2,81%; yoy), namun masih terkendali dalam sasaran 2,5±1%. Tekanan inflasi pada triwulan II 2026 tersebut utamanya disebabkan oleh kenaikan biaya distribusi seiring konflik geopolitik di timur tengah. Berdasarkan kelompok inflasi, Kelompok Makanan, Minuman, dan tembakau dan Kelompok Transportasi menjadi penyumbang inflasi tertinggi; diikuti oleh Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga; serta Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya. Secara spasial, Kota Denpasar mengalami inflasi tertinggi diikuti Kabupaten Tabanan, dan Singaraja. Sementara itu Kabupaten Badung mencatat inflasi tahunan (yoy) yang paling rendah.
Selanjutnya Inflasi Bali pada triwulan III 2026 diprakirakan meningkat dibandingkan realisasi triwulan II 2026, namun tetap berada dalam rentang sasaran inflasi sebesar 2,5±1% (yoy). Peningkatan tersebut terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Perkembangan tersebut dipengaruhi beberapa faktor, yakni (i) masuknya musim kemarau panjang dengan kondisi El-Nino hingga akhir triwulan III 2026 yang berpotensi menghambat produksi sejumlah tanaman pangan, dan (ii) meningkatnya permintaan bahan pangan menjelang peak season pariwisata. Meski demikian, tekanan inflasi yang lebih tinggi diprakirakan tertahan oleh berkurangnya dampak mulai meredanya dampak tekanan konflik timur tengah dibandingkan triwulan sebelumnya. Lebih lanjut, sinergi TPID di Bali dalam mengimplementasikan kebijakan 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif, diharapkan mampu menjaga stabilitas inflasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
BAB 3 PEMBIAYAAN DAERAH SERTA PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM
Stabilitas keuangan daerah di Provinsi Bali pada triwulan II 2026 tetap kuat dan terjaga. Hal tersebut tercermin dari peningkatan penyaluran kredit, terutama pada sektor-sektor utama pendorong ekonomi Bali. Otoritas bersama perbankan di Bali terus berupaya menjaga momentum tersebut melalui optimalisasi fungsi intermediasi, dengan tetap memastikan risiko kredit tetap terkendali. Dengan kondisi tersebut, masih tersedia ruang yang cukup luas untuk mendorong penyaluran kredit di tengah risiko kredit yang relatif rendah, khususnya dalam rangka diversifikasi dan pemerataan pembiayaan guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Berdasarkan penyaluran jenis kredit, peningkatan pertumbuhan kredit utamanya didorong oleh akselerasi kredit investasi yang mencerminkan peningkatan aktivitas usaha dan ekspansi kapasitas produksi, di tengah prospek ekonomi yang tetap terjaga. Hal ini juga mengindikasikan peningkatan keyakinan pelaku usaha untuk melakukan pengembangan usaha dan penambahan kapasitas produksi.
Selanjutnya, akses UMKM terhadap pembiayaan perbankan di Bali pada triwulan II 2026 tetap terjaga. Pangsa kredit UMKM terhadap total kredit tercatat sebesar 41,69%. Kondisi tersebut menunjukkan komitmen perbankan yang masih kuat dalam mendukung akses pembiayaan bagi pelaku UMKM sebagai salah satu motor penggerak perekonomian daerah. Sejalan dengan itu, penyaluran kredit UMKM pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 6,11% (yoy), meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kinerja positif kredit UMKM pada LU akmamin, Industri Pengolahan, dan Pertanian. Di sisi lain, kredit UMKM pada LU Perdagangan masih mengalami kontraksi sehingga menahan pertumbuhan kredit UMKM secara keseluruhan.
BAB 4 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN
Pada triwulan II 2026, aliran uang kartal perbankan di Provinsi Bali mencatat posisi net outflow sebesar Rp0,90 triliun, berbalik arah dibandingkan triwulan I 2026 yang mencatat net inflow sebesar Rp1,76 triliun. Perkembangan tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan uang kartal masyarakat seiring penguatan aktivitas ekonomi dan pariwisata serta momentum libur pada triwulan II 2026. Kondisi ini juga sejalan dengan pola siklikal aliran uang kartal di Bali yang pada triwulan II cenderung mengalami net outflow seiring peningkatan kebutuhan transaksi masyarakat.
Kemudian, velositas pada sistem pembayaran nontunai terus mengalami pertumbuhan baik dari sisi nominal maupun volume transaksi. Pada layanan BI‑FAST, pertumbuhan nominal dan volume transaksi terus tumbuh menjadikan BI-Fast sebagai salah satu kanal yang paling diminati dalam transaksi digital. Sementara itu, transaksi pada SKNBI dan BI-RTGS mengalami perbaikan. Peningkatan velositas transaksi juga tercermin dari peningkatan transaksi kartu kredit, Uang Elektronik (UE), dan QRIS seiring meningkatnya adopsi digital di masyarakat.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali secara konsisten memperkuat perannya dalam menjaga keandalan sistem pembayaran, baik berbasis tunai maupun digital, guna menunjang aktivitas perekonomian yang sehat dan berkelanjutan. Dorongan terhadap peningkatan penggunaan transaksi nontunai terus diakselerasi melalui kerja sama erat dengan berbagai pihak dan elemen masyarakat. Inisiatif ini melibatkan institusi keuangan, kalangan pendidikan, generasi muda, serta masyarakat luas, dengan harapan dapat menciptakan proses transaksi yang lebih praktis dan aman, sekaligus memperluas akses keuangan serta membangun ekosistem pembayaran yang semakin modern dan inklusif di Bali.
BAB 5 PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Tingkat kesejahteraan masyarakat Bali berada pada level yang baik, mendukung capaian pertumbuhan ekonomi yang solid pada triwulan II 2026. Hal ini tercermin dari penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang konsisten terjaga rendah. Tren ini didukung oleh terciptanya lapangan kerja baru di sejumlah lapangan usaha (LU), dengan penyerapan tenaga kerja terbesar secara pangsa sektoral terjadi pada LU Pertanian, Perdagangan, dan Akomodasi dan Makan Minum.
Lebih lanjut, secara umum tingkat kesejahteraan masyarakat di Bali lebih baik dibandingkan kondisi nasional, tercermin dari Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) yang lebih rendah dibandingkan nasional. Adapun Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) mengindikasikan bahwa tantangan pengentasan kemiskinan tidak hanya pada jumlah penduduk miskin, tetapi juga pada ketimpangan dan intensitas kemiskinan. Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bali pada 2025 mencatat kenaikan dan tetap berada di atas rata-rata nasional yang mencerminkan kualitas hidup masyarakat Bali terus membaik.
Dengan perkembangan ini, Bali terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu provinsi dengan kesejahteraan masyarakat yang tinggi, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, penciptaan lapangan kerja pada berbagai LU utama, dan stabilitas inflasi yang terjaga.
BAB 6 PROSPEK PEREKONOMIAN BALI
Perekonomian Bali pada tahun 2026 diproyeksikan terus tumbuh kuat dalam rentang 5,4–5,9% (yoy) di tengah gejolak geopolitik global, yang lebih lebih tinggi dibandingkan proyeksi PDB nasional pada rentang 4,9-5,7% (yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh menguatnya kinerja LU Pertanian, Konstruksi, Perdagangan, serta tetap solidnya kinerja LU Akomodasi, Makan dan Minum dan LU Transportasi dan Pergudangan. LU Pertanian diprakirakan tumbuh menguat utamanya sejalan dengan berlanjutnya program swasembada pangan dan semakin meluasnya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Lebih lanjut, Kinerja LU Konstruksi diprakirakan menguat seiring dengan tetap tingginya proyek konstruksi terkait sektor pariwisata, berlanjutnya proyek strategis multiyears, meningkatnya proyek infrastruktur pemerintah, dan dimulainya proyek strategis nasional yakni konstruksi Proyek Strategis Nasional Pelabuhan Perikanan Nusantara (PSN PPN) Pengambengan. Kinerja LU terkait pariwisata diprakirakan tetap menjadi motor utama pertumbuhan kendati sedikit termoderasi akibat gejolak geopolitik global.
Tingkat inflasi Provinsi Bali pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga pada rentang sasaran inflasi 2,5±1% di tengah Konflik Timur Tengah yang menyebabkan gejolak harga minyak dunia khususnya avtur global. Sinergi antara Pemerintah, lembaga terkait, dan pelaku usaha ke depannya terus diperkuat untuk memastikan ketersediaan pasokan serta menjaga stabilitas harga komoditas pangan utama. Dengan kinerja sektor pertanian dan pariwisata yang berdaya tahan, serta inflasi yang tetap terkendali, ekonomi Bali mampu berdaya tahan di tengah gejolak global.