PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO KALIMANTAN SELATAN
Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II 2026 tetap tumbuh tinggi sebesar 5,28% (yoy), namun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,67% (yoy). Di sisi penawaran, ekonomi tetap tumbuh tinggi pada triwulan II 2026 ditopang oleh kinerja LU Pertambangan dan LU Konstruksi. Peningkatan kinerja LU Pertambangan seiring dengan tingginya harga batu bara global terdampak konflik Israel-US vs Iran, yang memberikan insentif bagi pelaku usaha untuk meningkatkan produksi ditengah cuaca yang lebih mendukung aktivitas pertambangan. LU Konstruksi mengalami peningkatan didorong akselerasi belanja modal proyek pemerintah daerah dan proyek ekonomi kerakyatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Namun demikian, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tertahan oleh perlambatan kinerja LU Pertanian, LU Industri Pengolahan dan LU Perdagangan. Perlambatan kinerja LU Pertanian disebabkan penurunan pertumbuhan produksi padi seiring dengan panen raya padi lokal yang baru akan berlangsung pada triwulan III 2026 dan penurunan produksi Getah Karet. Penurunan kinerja LU pertanian berdampak pada lebih rendahnya kinerja LU Industri Pengolahan dan Perdagangan seiring dengan penurunan bahan baku dan aktivitas perdagangan. Selain itu, berakhirnya konsolidasi berbagai seasonal drivers (Tahun Baru, Imlek, Ramadhan–Idul Fitri) turut menjadi pendorong turunnya kinerja LU Perdagangan dan LU Transportasi Pergudangan.
Dari sisi pengeluaran, ekonomi Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan II 2026 tetap tumbuh tinggi didorong oleh pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga, Konsumsi Pemerintah dan peningkatan kinerja Ekspor. Konsumsi RT tetap tumbuh lebih tinggi seiring dengan perayaan hari raya idul adha dan libur semester sekolah. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi pemerintah yang tetap tinggi didorong oleh program ekonomi kerakyatan Makan Bergizi Gratis (MBG) dan akselerasi belanja pemerintah daerah. Ekspor tumbuh lebih tinggi dari triwulan I 2026 didorong oleh ekspor komoditas batu bara merespon level harga batu bara global yang berada pada level yang tinggi.
PERKEMBANGAN INFLASI KALIMANTAN SELATAN
Secara tahunan, inflasi Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 4,47% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I 2026 sebesar 4,83% (yoy). Realisasi inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional sebesar 3,34% (yoy) dan lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis inflasi Provinsi Kalimantan Selatan selama tiga tahun terakhir sebesar 2,74% (yoy). Secara spasial, tekanan inflasi terjadi di seluruh kota/kabupaten sampel di Provinsi Kalimantan Selatan. Inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Tanah Laut sebesar 5,27% (yoy), diikuti Kabupaten Hulu Sungai Tengah 4,54% (yoy), Kota Banjarmasin 4,33% (yoy), Tanjung 4,17% (yoy), dan Kabupaten Kotabaru 3,74% (yoy).
Berdasarkan perkembangan kelompoknya, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mencatatkan inflasi sebesar 5,78% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,68% (yoy) di mana tekanan bersumber dari kenaikan harga beras dan minyak goreng seiring meningkatnya biaya produksi dan distribusi. Kelompok Transportasi juga berbalik mengalami inflasi sebesar 3,68% (yoy) dari deflasi -0,28% (yoy) pada triwulan I 2026, seiring transmisi kenaikan harga energi global ke tarif jasa angkutan. Sebaliknya, inflasi kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya melandai menjadi 16,07% (yoy) dari 23,24% (yoy) pada triwulan sebelumnya, yang didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan tren harga emas dunia. Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh deflasi komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras akibat kelebihan pasokan, serta deflasi pada kelompok Pakaian dan Alas Kaki.
PEMBIAYAAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN & USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM)
Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II 2026 yang positif turut didukung peningkatan fungsi intermediasi perbankan yang tumbuh solid, walaupun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Kredit perbankan tumbuh positif sebesar 4,09% (yoy) dengan outstanding Rp107,84 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I 2026 yang tumbuh 4,27% (yoy) dengan outstanding Rp108,14 triliun; serta diikuti dengan kualitas kredit yang baik, tercermin dari NPL yang terjaga pada level 2,39%.
Kredit Konsumsi pada triwulan II 2026 dengan outstanding sebesar Rp35,82 triliun, tumbuh 3,33% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,01% (yoy) dengan outstanding sebesar Rp35,93 triliun, sejalan dengan indeks ekspektasi ekonomi yang masih dalam rentang optimis. Berdasarkan distribusinya, Kredit Multiguna memiliki pangsa sebesar 42,71%, Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) sebesar 38,55% dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) sebesar 6,53% serta Kredit Konsumsi lainnya meliputi Kredit Ruko/Rukan, Apartemen, dan Elektronik sebesar 12,21%.
Penyaluran Kredit Korporasi pada triwulan II 2026 mengalami pertumbuhan sebesar 4,19% (yoy) dengan outstanding senilai Rp53,35 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,82% (yoy) dengan outstanding senilai Rp53,70 triliun. Menguatnya pertumbuhan pada Kredit Korporasi terutama bersumber dari penyaluran pembiayaan korporasi pada LU Pertambangan (dengan proporsi terbesar mencapai 51,98% dari total kredit korporasi) yang tumbuh 0,08% (yoy) dengan outstanding senilai Rp27,73 triliun, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 1,61% (yoy) dengan outstanding senilai Rp27,99 triliun.
Pada triwulan II 2026, penyaluran Kredit UMKM di Kalimantan Selatan tumbuh 11,30% (yoy) atau dengan outstanding senilai Rp22,93 triliun, meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 3,53% (yoy) atau dengan outstanding senilai Rp22,82 triliun. Pangsa kredit UMKM terhadap total kredit pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 21,27%, sedikit meningkat dibandingkan dengan pangsa pada triwulan sebelumnya sebesar 21,11%.
PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Transaksi BI-RTGS pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp35,65 triliun melambat 1,32% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh 19,00% (yoy) atau sebesar Rp36,23 triliun. Perlambatan tersebut sejalan dengan melambatnya kinerja beberapa Lapangan usaha utama di Kalimantan Selatan, seperti Lapangan Usaha Pengolahan, Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, serta Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran.
Transaksi SKNBI tercatat sebesar Rp3,91 triliun atau terkontraksi sebesar 5,67% (yoy), membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 6,80% (yoy) atau sebesar Rp3,89 triliun. Walaupun membaik, pertumbuhan transaksi SKNBI masih terkontraksi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dari sisi transaksi tunai, aliran uang kartal melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan mengalami net inflow sebesar Rp0,26 triliun. Kondisi tersebut sama dengan triwulan sebelumnya yang mengalami net inflow sebesar Rp1,54 triliun.
Perkembangan elektronifikasi dan digitalisasi terus mengalami peningkatan, tercermin dari peningkatan jumlah merchant yang telah memiliki QRIS di Kalimantan Selatan yang tumbuh sebesar 34,33% (yoy) atau mencapai 619,80 ribu merchant. Sementara itu, Kalimantan Selatan mampu mempertahankan pencapaian skor Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (IETPD) pada Semester II 2025 dengan status 100% digital.
KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Kondisi ketenagakerjaan Provinsi Kalimantan Selatan pada Semester I 2026 berada pada level yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan Semester I 2025. Hal tersebut terkonfirmasi dari penurunan jumlah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), meskipun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami penurunan. Berdasarkan Lapangan Usaha (LU), penyerapan tenaga kerja di Provinsi Kalimantan Selatan pada Semester I 2026 didominasi oleh sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan.
Optimisme daya beli masyarakat pada triwulan II 2026 masih terjaga. Hal ini tercermin dari Nilai Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 123,45, lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2025 sebesar 116,71. Pada tahun 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Kalimantan Selatan tercatat sebesar 76,10, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 75,19. Peningkatan IPM Kalimantan Selatan bersumber dari peningkatan seluruh dimensi umur panjang dan hidup sehat (UHH), serta pengetahuan yakni Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) serta Standar Hidup Layak (pengeluaran per kapita). Lebih lanjut, tingkat kemiskinan di Kalimantan Selatan menunjukkan tren menurun sepanjang Semester I 2021 hingga Semester I 2026. Pada Semester I 2026, jumlah penduduk miskin tercatat sekitar 165,41 ribu orang dengan persentase sebesar 3,63%, lebih rendah dibandingkan Semester sebelumnya.
PROSPEK PEREKONOMIAN KALIMANTAN SELATAN
Perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2026 diprakirakan tetap tumbuh positif pada kisaran 4,6% – 5,4% (yoy).
Pada tahun 2026, perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan diprakirakan tumbuh pada kisaran 4,6% - 5,4%, melanjutkan tren pertumbuhan di tahun 2025. Prakiraan pertumbuhan positif seiring berlanjutnya aktivitas hilirisasi industri di KI/KEK, berlanjutnya program swasembada pangan dan makin masifnya program ekonomi kerakyatan (a.l MBG dan KDKMP) serta potensi peningkatan aktivitas pertambangan dampak insentif harga batu bara global yang diprakirakan tetap tinggi sepanjang tahun 2026.
Secara tahunan, inflasi Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 4,47% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I 2026 sebesar 4,83% (yoy). Realisasi inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional sebesar 3,34% (yoy) dan lebih tinggi dibandingkan historis inflasi Provinsi Kalimantan Selatan selama tiga tahun terakhir sebesar 2,74% (yoy).Secara keseluruhan 2026, tekanan inflasi tahunan Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2026 diprakirakan lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2025 dan berada dalam rentang sasaran 2,5%±1% (yoy). Hal ini sejalan dengan harga emas dunia yang diprakirakan meningkat lebih terbatas seiring dengan ekspektasi suku bunga The Fed yang masih higher for longer pada tahun 2026. Selanjutnya, harga aneka rokok tidak mengalami kenaikan seiring Harga Jual Eceran (HJE) dan cukai rokok yang tidak mengalami perubahan pada tahun 2026. Tekanan inflasi lebih lanjut diantisipasi melalui program stabilisasi harga pangan termasuk penyaluran beras SPHP, penguatan cadangan pangan pemerintah daerah, dan pemanfaatan pangan lokal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).