PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH
Kinerja perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap tumbuh kuat pada triwulan II 2026. Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada triwulan II 2026 tumbuh 5,01% (yoy), tetap tumbuh kuat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,32% (yoy). Dari sisi pengeluaran, perlambatan pertumbuhan terjadi pada seluruh komponen utama kecuali pada komponen ekspor yang masih terakselerasi pada triwulan II 2026. Dari sisi lapangan usaha, perlambatan terjadi pada kinerja LU utama yaitu pertanian, perikanan dan kehutanan serta LU Administrasi pemerintahan, sementara pada LU konstruksi dan LU perdagangan besar dan eceran terjadi akselerasi pertumbuhan pada triwulan II 2026 yang membantu menjaga pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT tetap tumbuh kuat.
PERKEMBANGAN INFLASI
Inflasi Provinsi NTT pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 3,56% (yoy), meningkat dibandingkan dengan inflasi pada triwulan sebelumnya yang sebesar 2,40% (yoy). Tingkat inflasi ini sedikit di atas sasaran inflasi 2,5±1%, serta berada di atas capaian inflasi nasional yang sebesar 3,34% (yoy). Kenaikan inflasi terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman dan tembakau serta masih tingginya inflasi pada kelompok perawatan pribadi & jasa lainnya. Secara spasial, 2 (dua) dari 5 (lima) kabupaten/kota pengukuran IHK memiliki tingkat inflasi di atas sasaran. Upaya pengendalian inflasi terus dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan di daerah dengan dipimpin oleh TPID masing-masing daerah dalam rangka mencapai inflasi yang terjaga dalam sasaran.
PEMBIAYAAN DAERAH
Secara umum, stabilitas sistem keuangan Provinsi NTT pada triwulan II 2026 tetap terjaga, dengan rasio NPL (gross) sebesar 3,63% yang masih berada di bawah ambang batas 5%. Intermediasi perbankan perbankan meningkat sejalan dengan menguatnya pertumbuhan penyaluran kredit Bank Konvensional dan Bank Syariah dibandingkan triwulan sebelumnya. Disisi lain, pertumbuhan DPK tetap kuat namun melambat didorong oleh melemahnya pertumbuhan deposito dan giro. Meski demikian LDR meningkat menjadi 116,90%, mencerminkan fungsi intermediasi yang tetap terjaga di tengah adanya perlambatan DPK.
PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Kondisi Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah di Provinsi NTT dapat dilihat dari indikator sistem pembayaran nontunai dan tunai. Indikator sistem pembayaran nontunai di Provinsi NTT, yang ditunjukkan melalui transaksi BI-RTGS dan SKNBI, mengalami tren peningkatan pada triwulan II 2026 lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2026. Sementara itu, indikator sistem pembayaran tunai mengalami net outflow sebesar Rp0,67 triliun pada triwulan II 2026 atau berbanding terbalik dibandingkan triwulan II 2025 yang mengalami net inflow sebesar Rp1,23 triliun.
KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi NTT pada periode Mei 2026 menunjukkan perkembangan yang relatif stabil, meskipun tingkat partisipasi penduduk dalam pasar kerja mengalami sedikit pelemahan. Di sisi lain, Aktivitas ekonomi daerah masih menunjukkan kinerja yang kuat, hal ini tercermin dari kondisi pasar tenaga kerja yang secara umum tetap stabil. Lebih lanjut, jumlah angkatan kerja pada Mei 2026 tercatat sebanyak 3,19 juta orang, lebih tinggi dari Februari 2026 yang sebesar 3,18 juta orang. Di sisi lain, kondisi kesejahteraan di Provinsi NTT menunjukkan tren peningkatan, yang tercermin dari persentase kemiskinan pada Maret 2026 sebesar 17,52% atau lebih rendah dibandingkan Maret 2025 sebesar 18,6%. Kemudian, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTT menunjukkan peningkatan, meski Rasio Gini pada Maret 2026 mengalami sedikit peningkatan. Lebih lanjut, Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami peningkatan pada triwulan II 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.
PROSPEK PEREKONOMIAN
Kinerja perekonomian NTT tahun 2026 diprakirakan tumbuh dalam kisaran 4,2 - 5,2% (yoy), berpotensi tetap kuat dibandingkan tahun 2025 yang tumbuh 5,14% (yoy). Dari sisi pengeluaran, kinerja ekonomi NTT tahun 2026 tetap ditopang oleh realisasi investasi pemerintah yang kembali meningkat serta investasi swasta yang tetap solid. Selain itu, kinerja impor tahun 2026 diprakirakan meningkat sejalan dengan kebutuhan bahan konstruksi, di tengah permintaan domestik tahun 2026 yang diprakirakan meningkat. Kondisi tersebut menopang kinerja perekonomian NTT melalui akselerasi Konsumsi Rumah Tangga (RT) dan Investasi. Prospek tersebut didukung dengan menguatnya optimisme masyarakat terhadap kondisi perekonomian ke depan, sejalan dengan akselerasi program ekonomi kerakyatan dan berbagai stimulus fiskal yang mendukung daya beli masyarakat. Dari sisi lapangan usaha, prospek tersebut akan tercermin dari peningkatan kinerja Lapangan Usaha (LU) Konstruksi, LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, serta tetap kuatnya kinerja LU Administrasi Pemerintahan.
Inflasi Provinsi NTT pada tahun 2026 diprakirakan berada dalam rentang sasaran 2,5±1 % (yoy). Sejalan dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang meningkat, prospek inflasi NTT 2026 tetap terjaga namun dalam tendensi meningkat dibandingkan inflasi tahun 2025 yang sebesar 2,39% (yoy). Prakiraan tersebut dipengaruhi oleh prospek meningkatnya inflasi pada kelompok pangan dan beberapa komoditas impor yang mendorong imported inflation di Provinsi NTT. Upaya pengendalian inflasi terus diperkuat dengna koordinasi TPIP-TPID dalma program pengendalian inflasi yang tetap sasaran serta penguatan program gerakan pengendalian inflasi dan pangan sejahtera (GPIPS) untuk pengendalin inflasi pangan dalam mencapai target tingkat inflasi dalam sasaran 2,5±1 % (yoy).