PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH
Perekonomian Kalimantan Barat pada triwulan II 2026 mengalami pertumbuhan sebesar 5,61% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 6,14% (yoy). Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat pada triwulan II 2026 terutama ditopang oleh kinerja lapangan usaha industri pengolahan, pertanian, serta perdagangan. Ketiga lapangan usaha tersebut memberikan andil pertumbuhan masing-masing sebesar 1,36% (yoy), 1,23% (yoy), dan 0,95% (yoy). Dari sisi pengeluaran, perekonomian Kalimantan Barat pada triwulan II 2026 ditopang utamanya oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang masing-masing memberikan andil sebesar 2,17% (yoy) dan 1,92% (yoy).
PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
Inflasi Kalimantan Barat pada triwulan II 2026 meningkat menjadi 3,28% (yoy) dari 2,89% (yoy) pada akhir triwulan I 2026, namun tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1% serta lebih rendah dibandingkan inflasi nasional dan regional Kalimantan. Peningkatan inflasi terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau; transportasi; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan komoditas utama meliputi emas perhiasan, beras, bahan bakar rumah tangga, ikan baung, dan angkutan udara. Secara bulanan, tekanan inflasi melandai dari 0,57% (mtm) pada April menjadi 0,32% (mtm) pada Mei dan 0,31% (mtm) pada Juni, disertai pergeseran sumber tekanan dari pangan menuju energi dan transportasi. Secara spasial, inflasi meningkat di seluruh wilayah sampel Indeks Harga Konsumen (IHK), dengan inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Sintang, diikuti Kabupaten Ketapang. Keduanya berada sedikit di atas batas atas sasaran inflasi nasional. Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kalimantan Barat terus memperkuat strategi 4K melalui keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, yang turut didukung oleh akselerasi program Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS).
PEMBIAYAAN DAERAH SERTA PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM
Kredit perbankan wilayah Kalimantan Barat tumbuh sebesar 17,77% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 9,97% (yoy). Sementara itu, pembiayaan perbankan syariah tumbuh sebesar 11,57% (yoy) pada triwulan II 2026, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya 8,91% (yoy). Pertumbuhan kredit segmen UMKM tercatat 1,56% (yoy), mengalami pelemahan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 2,83% (yoy). Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan Kalimantan Barat tumbuh 9,13% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya 9,98% (yoy), yang didorong oleh perlambatan jenis pertumbuhan DPK giro dan DPK deposito. Selain itu, risiko kredit bermasalah di Kalimantan Barat mengalami perbaikan dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 1,70%, mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya 1,75%, jauh di bawah threshold 5%.
PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Peredaran uang kartal di Provinsi Kalimantan Barat pada Triwulan II 2026 mengalami kondisi net-inflow didorong oleh base effect besaran inflow akibat arus balik pasca Idul Fitri serta pergeseran pola transaksi masyarakat Kalimantan Barat dari uang tunai menuju pembayaran digital sejalan dengan terus meningkatnya volume transaksi QRIS di Kalimantan Barat.
Kinerja sistem pembayaran nontunai di Provinsi Kalimantan Barat secara umum tumbuh stabil. Transaksi nilai besar melalui SKNBI dan BI-RTGS meningkat di Triwulan II 2026, sama halnya dengan transaksi retail non tunai masih menunjukan persistensi pertumbuhan. Transaksi melalui BI-FAST, Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) (a.l. kartu debit dan kartu kredit), dan UE (uang elektronik) masih mencatatkan pertumbuhan dua digit baik dan didominasi kegiatan belanja masyarakat.
Implementasi elektronifikasi transaksi keuangan di Kalimantan Barat terus menunjukkan kemajuan yang signifikan. Hingga akhir Triwulan II 2026, jumlah merchant QRIS, pengguna, dan volume transaksi tumbuh secara akseleratif. Bank Indonesia melakukan berbagai inisiatif untuk mempercepat elektronifikasi transaksi pemerintah daerah (ETPD), antara lain implementasi QRIS dinamis melalui platform pemerintah daerah yang sudah diimplementasikan di Kota Pontianak (E-Ponti), Kota Singkawang (SIGAP), Kab. Sambas (E-Pakatan), Kab. Landak (SAPALA), Kab. Mempawah (Si Perjaka), Provinsi Kalbar (Samsat)
Aktivitas transaksi antar negara menunjukan sedikit terkoreksi di triwulan II 2026 secara tahunan. Hal ini tercermin dari penurunan transaksi jual/beli Uang Kertas Asing (UKA) dan transaksi incoming-outgoing melalui Layanan Remitansi, menunjukkan adanya moderasi aktivitas lintas negara.
KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Barat relatif stabil. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,46%, menurun 0,11% dibandingkan Februari 2026. Rasio kemiskinan pada Maret 2026 tercatat 5,78%, menurun sebesar 0,19% dibandingkan September 2025. Sejalan dengan itu, jumlah penduduk miskin Kalimantan Barat pada Maret 2026 mengalami penurunan sebanyak 9.17 ribu orang atau turun 0,03% dibandingkan September 2025.
Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 176,87 mengalami peningkatan 2,5% (qtq) dibandingkan Triwulan I 2026. Peningkatan ini mengindikasikan adanya peningkatan terhadap daya beli petani. Pada periode tersebut, indeks harga yang diterima petani (It) tercatat sebesar 225,61, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 127,56.
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Prospek perekonomian global tahun 2026 diprakirakan melambat menjadi 3,0%, di tengah ketidakpastian pasar keuangan yang tinggi dan divergensi pertumbuhan antarnegara. Prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi global terutama dipengaruhi oleh berlanjutnya perang Timur Tengah dan tensi geopolitik. Harga minyak dan komoditas dunia meningkat tinggi diikuti dengan disrupsi rantai pasok perdagangan antarnegara yang semakin dalam. Dari sisi keuangan global, ruang penurunan Fed Fund Rate (FFR) masih terbuka, namun yield US Treasury tenor panjang tetap tinggi karena risiko desifit fiskal AS, mendorong aliran modal ke emerging markets secara selektif.
Perekonomian Kalimantan Barat tahun 2026 diprakirakan tumbuh di kisaran 4,9-5,7% (yoy) dan inflasi yang terjaga. Perekonomian Kalbar didukung oleh kinerja lapangan usaha utama, seperti industri pengolahan dan pertanian, diimbangi dengan tingkat konsumsi masyarakat yang diprakirakan masih terjaga. Sementara itu, secara keseluruhan tahun 2026, inflasi di Kalimantan Barat diperkirakan stabil terjaga pada rentang sasaran target inflasi nasional sebesar 2,5±1% (yoy).