PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat terakselerasi di triwulan I 2026 setelah sebelumnya mengalami tekanan pada triwulan IV 2025 akibat bencana hidrometeorologi. Pertumbuhan ekonomi tercatat meningkat menjadi 5,02% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 1,69% (yoy). Akselerasi pertumbuhan didorong momentum festive season Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), pelaksanaan proses pemulihan dan rehabilitasi bencana, percepatan progres pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN), front loading belanja pemerintah, serta peningkatan produksi dan permintaan komoditas perkebunan. Perkembangan di atas menopang perbaikan kinerja pada hampir seluruh Lapangan Usaha (LU) utama serta mendorong peningkatan kinerja seluruh komponen pengeluaran. Menurut LU, dorongan terbesar pertumbuhan berasal dari peningkatan kinerja LU Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor. Sementara dari sisi pengeluaran, seluruh komponen memberikan dorongan yang relatif merata dengan dorongan terbesar berasal dari peningkatan kinerja Investasi dan Konsumsi Rumah Tangga.
PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
Inflasi Sumatera Barat triwulan I 2026 tercatat 3,37% (yoy), kembali berada dalam rentang target 2,5±1% setelah sebelumnya mengalami inflasi relatif tinggi 5,15% di akhir tahun 2025. Penurunan inflasi terutama dipengaruhi oleh respons cepat pemulihan infrastruktur akibat bencana yang mendukung kelancaran pasokan dan distribusi barang dan jasa baik intra maupun antar wilayah. Sejalan dengan itu, perbaikan konektivitas antar wilayah meminimalkan potensi kenaikan biaya distribusi dan logistik serta tarif angkutan. Seiring dengan itu, antisipasi lonjakan permintaan di masa Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) melalui sinergitas Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan pelaksanaan program-program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) mendukung terkendalinya harga-harga selama periode HBKN Ramadhan dan Idul Fitri.
PEMBIAYAAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN, DAN UMKM
Akselerasi pertumbuhan ekonomi ditopang stabilitas sektor keuangan yang terjaga. Intermediasi perbankan melalui penyaluran kredit/pembiayaan meningkat meski belum optimal didukung kapasitas pembiayaan yang meningkat melalui kenaikan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan serta terjaganya risiko kredit/pembiayaan. Kenaikan pertumbuhan penyaluran kredit/pembiayaan didorong kenaikan penyaluran kredit/pembiayaan kepada sektor korporasi terutama pada sektor konstruksi, pertanian, dan industri pengolahan. Sementara pertumbuhan kredit/pembiayaan kepada sektor Rumah Tangga relatif stagnan. Sebaliknya penyaluran kredit kepada sektor UMKM masih melanjutkan tren kontraksi seiring dengan masih tingginya risiko kredit bagi sektor UMKM.
PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Transaksi non-tunai wholesale maupun retail meningkat. Peningkatan transaksi wholesale terjadi sejalan dengan akselerasi progres pelaksanaan proyek-proyek investasi baik dalam rangka rehabilitasi infrastruktur pascabencana, pembangunan PSN, maupun akselerasi belanja pemerintah. Sementara itu, peningkatan aktivitas konsumsi terutama pada masa HBKN dan long weekend mendorong meningkatnya penggunaan instrumen transaksi retail. Sejalan dengan hal tersebut, penggunaan uang kartal meningkat. Arus uang masuk (inflow) maupun ke luar (outflow) Bank Indonesia meningkat. Pertumbuhan inflow dipengaruhi peningkatan arus mudik dan wisatawan selama festive seasons HBKN dan long weekend baik dari warga Sumatera Barat maupun warga di luar Sumatera Barat yang bertransaksi uang kartal di wilayah Sumatera Barat. Sementara itu, peningkatan jumlah outflow didorong peningkatan kebutuhan konsumsi dan transaksi menggunakan uang layak edar khususnya dalam rangka menyambut momen HBKN Ramadan dan Idulfitri.
KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN DAERAH
Kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan mengalami perbaikan dan mendorong peningkatan kesejahteraan. Penciptaan lapangan pekerjaan meningkat di triwulan I 2026 didorong perluasan lapangan kerja formal, meski porsi tenaga informal masih relatif besar. Sejalan dengan itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami penurunan. Dengan kondisi ini penghasilan masyarakat mengalami perbaikan yang mendorong menurunnya jumlah penduduk miskin serta berkurangnya kesenjangan pendapatan antar golongan pendapatan. Secara keseluruhan, dinamika pembangunan dan pertumbuhan ekonomi mendorong peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat.
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Perekonomian Sumatera Barat pada tahun 2026 diprakirakan tumbuh solid pada kisaran 4,64% (yoy) – 5,44% (yoy). Pertumbuhan diperkirakan terjadi pada mayoritas komponen pengeluaran, seiring progres pemulihan pascabencana, pembangunan PSN, dan terjaganya penghasilan dan daya beli masyarakat. Secara sektoral, pertumbuhan akan terjadi pada LU utamanya, LU Konstruksi, LU Perdagangan, dan LU Akomodasi Makanan dan Minuman. Namun demikian terdapat tekanan pada sektor pertanian dan industri pengolahan dampak lanjutan bencana yang berpotensi menurunkan produksi. Lebih lanjut, ketidakpastian ekonomi global, risiko suku bunga, fluktuasi cuaca, dan kebencanaan tetap menjadi tantangan dan risiko perekonomian Sumbar ke depan.
Laju inflasi Sumatera Barat tahun 2026 diprakirakan menurun dan kembali stabil dalam rentang sasaran 2,5±1% (yoy), seiring sinergi berbagai pihak dalam percepatan pemulihan pascabencana. Perbaikan lahan produktif, infrastruktur pertanian, akses jalan, dan jalur distribusi diproyeksikan mendorong terjaganya pasokan pangan strategis. Secara fundamental, tekanan inflasi akan berasal dari peningkatan permintaan sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi baik dari wilayah Sumbar maupun luar wilayah Sumbar. Sementara secara musiman, tekanan inflasi akan tetap terjadi pada momen-momen HBKN, masa tanam, dan akhir tahun. Meski demikian perlu diwaspadai beberapa risiko utama yaitu peningkatan eskalasi situasi global yang berdampak pada kenaikan harga energi, berlanjutnya depresiasi rupiah yang ditransmisikan secara langsung maupun melalui kenaikan harga input dan logistik, serta faktor cuaca termasuk kondisi el-Nino yang berpotensi mendorong peningkatan permintaan dari wilayah luar Sumbar.