Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan

9/15/2026 12:00 AM
Hits: 58

Laporan Perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan Agustus 2026

Sulawesi Selatan
Triwulan

Perkembangan Makroekonomi Daerah

Ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,59% (yoy), melambat dari 6,88% (yoy) pada triwulan sebelumnya, namun tetap lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar 5,29% (yoy). Perlambatan terutama dipengaruhi normalisasi aktivitas pasca long festive season HBKN Ramadan dan Idulfitri. Meski melambat, pertumbuhan tetap ditopang permintaan domestik, terutama investasi yang menguat serta konsumsi rumah tangga yang tetap tumbuh positif.

Dari sisi pengeluaran, perlambatan terutama dipengaruhi moderasi Konsumsi Rumah Tangga dan kontraksi Ekspor Barang dan Jasa. Konsumsi Rumah Tangga tumbuh 4,69% (yoy) sejalan dengan normalisasi konsumsi pasca HBKN, sementara ekspor tertahan oleh penurunan sejumlah komoditas utama. Di sisi lain, PMTB menguat menjadi 8,76% (yoy) didukung aktivitas investasi bangunan dan nonbangunan. Konsumsi Pemerintah tetap tumbuh tinggi meski melambat, sementara impor tetap tumbuh positif dengan laju lebih moderat.

Dari sisi lapangan usaha, perlambatan terutama dipengaruhi kontraksi LU Pertanian serta moderasi LU Industri Pengolahan dan LU Perdagangan. Pertanian tertahan oleh penurunan produksi tanaman pangan dan perikanan, sementara Industri Pengolahan melambat terutama pada industri barang galian bukan logam dan logam dasar. Perdagangan tetap tumbuh kuat meski termoderasi pasca HBKN. Di sisi lain, LU Konstruksi menguat menjadi 8,97% (yoy) didorong peningkatan pembangunan fisik pemerintah, sementara LU Pertambangan masih terkontraksi namun membaik, ditopang aktivitas galian C dan produksi gas alam.

Perkembangan Inflasi Daerah

Inflasi Sulawesi Selatan pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 3,56% (yoy), melandai dari triwulan sebelumnya dan berada sedikit di atas rentang sasaran nasional. Tekanan inflasi terutama bersumber dari emas perhiasan, BBM nonsubsidi, ikan layang, tomat, cabai rawit, dan beras, seiring permintaan yang tetap kuat selama HBKN Iduladha. Namun, tekanan tersebut tertahan oleh normalisasi konsumsi pasca-HBKN Ramadan dan Idulfitri, berakhirnya low-base effect diskon tarif listrik 50%, serta penurunan harga ayam hidup, bawang putih, dan wortel.

Inflasi Sulawesi Selatan pada 2026 diprakirakan tetap terkendali dalam rentang sasaran nasional. Risiko kenaikan permintaan, gangguan cuaca, dan ketidakpastian harga komoditas global diprakirakan tertahan oleh perbaikan produksi, penguatan cadangan pangan, penyaluran SPHP dan bantuan pangan, serta pelaksanaan GPM. Sinergi TPID melalui strategi 4K terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM

Stabilitas sistem keuangan Sulawesi Selatan pada triwulan II 2026 secara umum terjaga di tengah pertumbuhan ekonomi yang tetap didukung oleh konsumsi rumah tangga. Penyaluran kredit perbankan Sulawesi Selatan tumbuh 5,19% (yoy). Penguatan kredit terutama ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh lebih tinggi, sementara kredit konsumsi tetap solid dan kredit modal kerja masih mengalami kontraksi yang lebih dalam. Sementara itu, pembiayaan perbankan syariah juga tetap tumbuh kuat sebesar 23,87% (yoy). Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh pembiayaan konsumsi dan modal kerja, meskipun pembiayaan investasi sedikit melandai. Perkembangan ini menunjukkan fungsi pembiayaan perbankan tetap terjaga dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah.

Di tengah pertumbuhan pembiayaan yang masih positif, kualitas kredit perbankan relatif tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan dan NPL UMKM masih terjaga,  berada di bawah ambang batas 5%. Dari sisi kinerja, profitabilitas perbankan tetap kuat meskipun sedikit termoderasi, tercermin dari ROA yang menurun dari 4,97% menjadi 4,87%. Sejalan dengan itu, rasio BOPO tercatat 40,86% yang secara level tetap menunjukkan efisiensi operasional perbankan yang baik. Di sisi lain, pembiayaan fintech tetap tumbuh positif dengan kualitas risiko yang relatif terkendali.

Di tengah terjaganya stabilitas sistem keuangan, penguatan sektor riil yang inklusif terus didorong sebagai bagian dari penguatan ekonomi daerah. Dalam konteks tersebut, Bank Indonesia bersama stakeholder terkait memperkuat pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif melalui Karya Kreatif Sulawesi Selatan dan South Sulawesi Digital Festival (KKS x DIGIFEST) 2026, termasuk melalui perluasan akses pasar, pembiayaan, dan digitalisasi.

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah

Indikator sistem pembayaran (SP) terutama SP ritel di Sulawesi Selatan menunjukkan perkembangan positif sejalan dengan pertumbuhan ekonomi triwulan II sebesar 5,59% (yoy). Layanan BI-FAST dengan sejumlah keunggulannya terus bertumbuh dengan nominal transaksi sebesar Rp94,31 triliun atau tumbuh 51,74% (yoy), dengan volume 41,39 juta transaksi atau meningkat 57,20% (yoy).

Pada kanal lainnya, nominal transaksi SKNBI tercatat Rp5,93 triliun atau tumbuh 5,6% (yoy), sementara nominal BI-RTGS sebesar Rp26,75 triliun atau turun 1,26% (yoy), meskipun volumenya meningkat 15,37% (yoy). Adopsi QRIS terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Hingga triwulan II 2026, jumlah pengguna QRIS mencapai 1,48 juta dan merchant mencapai 1,46 juta. Nominal transaksi QRIS sebesar Rp7,64 triliun atau tumbuh 82,79% (yoy), sedangkan volumenya mencapai 88,14 juta transaksi atau meningkat 149,72% (yoy).

Sejalan dengan pergeseran preferensi masyarakat ke kanal digital, volume transaksi kartu ATM/D menurun 6,49% (yoy) dan jumlah mesin ATM berkurang menjadi 2.722 unit. Di sisi lain, transaksi e-Commerce dan uang elektronik masing-masing tumbuh 32,49% (yoy) dan 30,85% (yoy). Dari sisi pengelolaan uang Rupiah, Sulawesi Selatan mencatat net inflow Rp1,80 triliun, dengan inflow sebesar Rp4,98 triliun dan outflow Rp3,18 triliun. Inflow turun 1,28% (yoy), sementara outflow meningkat 27,02% (yoy).

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Tingkat kemiskinan di Sulawesi Selatan pada periode Maret 2026 menurun dibandingkan periode September 2025. Penurunan tingkat kemiskinan ini terjadi pada penduduk yang tempat tinggal berada di perkotaan yang menunjukkan perbaikan kondisi kemiskinan secara berkelanjutan, terutama dalam tiga tahun terakhir.

Kondisi ketenagakerjaan di Sulawesi Selatan menunjukkan penurunan nilai indeks Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dari 67,59% pada Februari 2026 menjadi 66,83% pada Mei 2026. Angka tersebut menunjukkan persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka pada Mei 2026 turut menunjukkan penurunan dari Februari 2026. Hal ini terutama didorong oleh pengurangan penduduk bekerja dari lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran serta lapangan usaha Jasa Keuangan, dan LU Informasi dan Komunikasi.

Prospek Ekonomi Daerah

Ekonomi Sulawesi Selatan pada tahun 2026 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dalam rentang 5,4%–6,2% (yoy), terutama ditopang oleh kuatnya permintaan domestik dan berlanjutnya investasi. Dari sisi pengeluaran, Konsumsi Rumah Tangga dan Konsumsi Pemerintah diprakirakan meningkat, didukung daya beli dan pendapatan masyarakat yang tetap terjaga serta peningkatan belanja pemerintah. PMTB juga diprakirakan meningkat sejalan dengan keberlanjutan proyek pemerintah dan swasta. Sementara itu, ekspor luar negeri diprakirakan melambat akibat tertahannya kinerja komoditas utama, sedangkan impor meningkat sejalan dengan kuatnya permintaan domestik dan aktivitas investasi.

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan terutama ditopang oleh LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan, dan LU Konstruksi yang diprakirakan meningkat, didukung permintaan domestik, aktivitas produksi dan distribusi, serta keberlanjutan proyek pemerintah dan swasta. Sementara itu, LU Pertanian dan LU Pertambangan diprakirakan melambat, masing-masing sejalan dengan normalisasi produksi tanaman pangan dan penyesuaian produksi nikel.

Tekanan inflasi Sulawesi Selatan tahun 2026 diprakirakan lebih tinggi dibandingkan 2025 dan tetap berada dalam rentang sasaran nasional 2,5±1% (yoy). Peningkatan permintaan domestik seiring terjaganya daya beli, kenaikan harga energi nonsubsidi, serta potensi imported inflation menjadi pendorong utama, namun tekanan inflasi diprakirakan tertahan oleh perbaikan produksi pertanian, penguatan cadangan pangan, kebijakan stabilisasi harga, serta moderasi harga komoditas global. Sinergi pengendalian inflasi melalui TPID dalam kerangka 4K terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga.

Lampiran
Kontak
​Contact Center BICARA: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
​​Informasi Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan​
Halaman ini terakhir diperbarui 9/16/2026 11:07 AM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga