Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Kinerja
ekonomi Jawa Timur pada triwulan IV 2022 tetap tumbuh positif kendati lebih
rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, kinerja ekonomi
Jawa Timur tumbuh 4,76% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan III 2022 yang
tumbuh sebesar 5,59% (yoy). Perlambatan ekonomi Jawa Timur pada triwulan IV
2022 terutama dipengaruhi oleh perlambatan permintaan domestik dan eksternal
akibat eskalasi ketidakpastian global, dampak penyesuaian harga Bahan Bakar
Minyak (BBM) 3 September 2022, dan telah selesainya beberapa insentif
pemerintah. Hal tersebut tercermin dari lebih rendahnya pertumbuhan konsumsi
Rumah Tangga (RT), ekspor LN, dan perdagangan antardaerah. Perlambatan domestik
dan eksternal tersebut berdampak pada penurunan kinerja LU utama Jawa Timur,
yakni LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan, dan LU Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum.
Dengan pencapaian triwulan IV 2022, kinerja ekonomi Jawa Timur untuk keseluruhan tahun 2022 terakselerasi dibandingkan tahun 2021. Ekonomi Jawa Timur pada tahun 2022 tumbuh 5,34% (yoy), meningkat dibandingkan tahun 2021 yang tumbuh sebesar 3,56% (yoy) terutama ditopang oleh perbaikan permintaan domestik dan masih positifnya permintaan eksternal. Akselerasi ekonomi Jawa Timur pada tahun 2022 ditopang oleh berlanjutnya upaya efektif penanganan Covid-19 dan program pemulihan ekonomi yang mendorong perluasan pembukaan sektor ekonomi produktif. Di samping itu, perbaikan ekonomi Jawa Timur tahun 2022 turut didukung oleh percepatan penyelesaian proyek-proyek yang terdapat dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dan implementasi Peraturan Presiden (Perpres) No.80 Tahun 2019. Hal tersebut mendorong akselerasi konsumsi RT dan investasi. Permintaan global yang masih tinggi pada komoditas ekspor LN utama Jawa Timur, yakni emas/perhiasan serta lemak dan minyak hewani/nabati juga turut mendukung lebih tingginya ekspor LN Jawa Timur pada tahun 2022 dibandingkan tahun sebelumnya. Perbaikan permintaan domestik dan masih positifnya permintaan eksternal tersebut mendorong akselerasi LU utama di Jawa Timur, yakni LU Industri Pengolahan, LU Konstruksi, LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, serta LU Transportasi dan Pergudangan.
Asesmen Inflasi Daerah
Inflasi gabungan Kota Indeks Harga Konsumen (IHK) Jawa Timur pada triwulan IV 2022 dan keseluruhan tahun 2022 tercatat sebesar 6,52% (yoy). Pencapaian ini melandai dibandingkan triwulan III 2022 (6,80%, yoy) namun meningkat signifikan dibandingkan tahun 2021 (2,45%, yoy) dan berada di atas target inflasi 3±1% (yoy). Melandainya tingkat inflasi gabungan kota IHK Jawa Timur pada triwulan IV 2022 dibandingkan triwulan III 2022 terutama disebabkan oleh penyesuaian harga BBM yang telah berlangsung pada triwulan III 2022 serta peningkatan pasokan komoditas hortikultura sejalan dengan berlangsungnya panen raya di beberapa sentra produksi. Berdasarkan kelompok, lebih rendahnya inflasi tahunan gabungan kota IHK Jawa Timur terutama disebabkan oleh semakin terkendalinya tekanan inflasi pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau; Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran; serta Transportasi. Sementara itu, peningkatan inflasi gabungan kota IHK Jawa Timur pada tahun 2022 dibandingkan tahun 2021 dipengaruhi oleh tingginya inflasi hortikultura pada triwulan II-III 2022 akibat gangguan hama antraknosa, tingginya intesitas curah hujan, serta penyesuaian harga BBM pada 3 September 2022.
Inflasi gabungan kota IHK Jawa Timur pada
triwulan I 2023 diprakirakan lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2022, namun
berpotensi masih berada di atas sasaran inflasi 3,0±1% (yoy). Semakin
terkendalinya tingkat inflasi diprakirakan terutama terjadi pada kelompok (1)
Transportasi; (2) Perumahan, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar; serta (3) Mamin dan
Tembakau sejalan dengan normalisasi tarif angkutan pasca kenaikan harga pada
momentum HBKN Natal dan Tahun Baru, serta peningkatan pasokan komoditas pangan
berkenaan dengan masa panen di sejumlah sentra produksi. Lebih lanjut,
penyelenggaraan operasi pasar yang terukur dan penerapan pola kemitraan – offtaker,
serta pasar lelang diprakirakan turut menjadi faktor penahan tekanan inflasi
pada triwulan I 2023.
Asesmen Keuangan Pemerintah Daerah
Realisasi belanja daerah di Jawa Timur hingga triwulan IV 2022 lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2021. Anggaran Belanja Pemerintah secara agregat di Jawa Timur pada tahun 2022 mencapai Rp193,04 triliun, dengan realisasi sampai dengan triwulan IV 2022 sebesar 91,51% terhadap pagu anggaran atau sebesar Rp210,942 triliun. Pagu Anggaran Belanja tersebut meningkat 1,28% (yoy), demikian pula dengan nilai realisasi belanja yang meningkat 3,18% (yoy) dibandingkan anggaran pasca perubahan tahun 2021. Dari nominal tersebut, 53,02% atau Rp111,85 triliun merupakan APBD Kabupaten/Kota, 31,05% atau 65,50 triliun merupakan belanja APBN di Provinsi Jawa Timur, dan sebesar 15,93% atau Rp33,60 triliun merupakan APBD Provinsi Jawa Timur. Sampai dengan triwulan IV 2022, total realisasi belanja daerah mencapai 91,51% dari pagu anggaran atau lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2021 (89,83%). Realisasi anggaran terbesar terjadi pada belanja APBN di Provinsi Jawa Timur yang terealisasi hingga 96,89%, disusul oleh realisasi belanja APBD Provinsi yang sebesar 93,76% dari pagu anggaran, dan realisasi pada APBD Kabupaten/Kota yang tercatat sebesar 87,69%.
Pembiayaan Daerah dan Pengembangan UMKM
Perlambatan kinerja intermediasi perbankan di Jawa Timur pada triwulan IV 2022 terjadi baik di sektor korporasi maupun Rumah Tangga (RT). Kinerja penyaluran kredit kepada korporasi dan Rumah Tangga (RT) tercatat menurun pada triwulan IV 2022 sejalan dengan perlambatan kinerja seluruh LU utama Jawa Timur dan penurunan keyakinan RT terhadap kondisi ekonomi pada triwulan laporan. Di sisi lain, kinerja penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) korporasi tercatat mengalami peningkatan, mengindikasikan bahwa korporasi masih menahan investasi maupun ekspansi usaha dan cenderung menyimpan modal di perbankan. Kondisi serupa juga terjadi pada sektor RT yang mencatatkan peningkatan DPK yang diindikasikan sebagai respon dari eskalasi ketidakpastian global dan masih tingginya tingkat inflasi. Lebih lanjut, peningkatan DPK juga sejalan dengan kebijakan peningkatan suku bunga acuan Bank Indonesia yang telah tertransmisi dengan baik.
Ketahanan
korporasi dan RT di Jawa Timur masih terjaga terindikasi dari risiko kredit dan
risiko likuiditas perbankan di Jawa Timur pada triwulan IV 2022 yang masih
berada dalam batas aman. Secara agregat, risiko kredit di Jawa Timur tercermin
dari rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 3,27%, lebih rendah dibandingkan
triwulan sebelumnya sebesar 3,89%. Lebih lanjut, risiko likuiditas terpantau
cenderung rendah yang tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar
89,07% atau masih dalam kisaran Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM).
Asesmen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran
Pada triwulan IV 2022, transaksi pembayaran secara umum mengalami kenaikan terutama disebabkan oleh peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat dalam menyambut HBKN Natal dan Tahun Baru 2023, serta periode libur sekolah akhir tahun. Aktivitas belanja pemerintah menjelang akhir tahun juga mengalami peningkatan terutama disebabkan oleh realisasi belanja pemerintah yang memiliki tenggat penyelesaian hingga akhir tahun 2022.
Transaksi tunai di Jawa Timur mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan IV 2022, KPw Jawa Timur mencatatkan net-outflow sebesar Rp 8,78 triliun, setelah sebelumnya mengalami net-inflow pada triwulan III 2022 sebesar Rp0,93 triliun. Peningkatan outflow sejalan dengan pola historis yang didorong oleh kenaikan konsumsi masyarakat berkenaan dengan HBKN Natal dan Tahun Baru 2023, serta periode libur sekolah akhir tahun. Lebih lanjut, peningkatan nominal outflow juga sejalan dengan realisasi belanja Pemerintah yang terakselerasi pada akhir tahun.
Transaksi nontunai melalui Bank Indonesia pada triwulan IV 2022 tercatat meningkat, sementara transaksi nontunai retail mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Transaksi melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dan Bank Indonesia-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) pada triwulan IV 2022 tercatat meningkat masing-masing sebesar 4,24% (qtq) dan 14,35% (qtq), seiring meningkatnya kebutuhan untuk bertransaksi dalam jumlah besar, khususnya korporasi dan Pemerintah. Sementara itu, penurunan transaksi nontunai retail tercermin dari penurunan nominal transaksi melalui APMK dan Uang Elektronik yang masing-masing turun sebesar 7,34% (qtq) dan 0,51% (qtq). Lebih lanjut, transaksi pada platform e-commerce yang dilakukan masyarakat Jawa Timur pada triwulan IV 2022 juga tercatat menurun sebesar 12,31% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini seiring dengan peningkatan mobilitas masyarakat berkenaan dengan tidak adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan di Hari Natal dan Tahun Baru sehingga mendorong kegiatan jual-beli secara langsung.
Upaya perluasan digitalisasi melalui kanal
pembayaran QRIS terus berlanjut. Jumlah merchant QRIS pada triwulan IV
2022 di Jawa Timur sudah mencapai 2,60 juta, diiringi oleh peningkatan jumlah
pengguna QRIS yang sudah mencapai 3,90 juta. Peningkatan tersebut mendorong
nominal transaksi melalui kanal pembayaran QRIS yang tercatat meningkat 25,88%
(qtq) pada triwulan IV 2022.
Asesmen Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Masyarakat
Kondisi
ketenagakerjaan di Jawa Timur pada Agustus 2022 menunjukkan perlambatan
dibandingkan Februari 2022, namun lebih baik dibandingkan Agustus 2021. Kondisi
ketenagakerjaan di Jawa Timur pada Agustus 2022 mengalami perlambatan
dibandingkan Februari 2022 dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi Jawa Timur pada
triwulan III 2022 akibat eskalasi ketidakpastian global yang berdampak pada
tertahannya kinerja mayoritas lapangan usaha utama. Lebih rendahnya kondisi
ketenagakerjaan dibandingkan Februari 2022 tercermin dari peningkatan Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT). Sementara itu, jika dibandingkan Agustus 2021,
kondisi ketenagakerjaan meningkat sejalan dengan semakin terkendalinya kasus
Covid-19 di tengah akselerasi vaksin Covid-19 yang mendorong peningkatan
penyerapan tenaga kerja sejalan dengan semakin luasnya pembukaan sektor ekonomi
produktif. Lebih lanjut, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Jawa
Timur pada Agustus 2022 terpantau mengalami peningkatan dibandingkan Februari
2022 dan Agustus 2021 ditopang oleh kenaikan jumlah angkatan kerja di Jawa
Timur yang bekerja penuh. Peningkatan TPAK menunjukkan peningkatan tenaga kerja
produktif yang siap bekerja di
Jawa Timur yang dapat mendukung perbaikan ekonomi Jawa Timur pada masa depan.
Pada triwulan IV 2022, berdasarkan SKDU Bank Indonesia di Jawa Timur,
penyerapan tenaga kerja di Jawa Timur terindikasi menurun dibandingkan triwulan
sebelumnya. Hal tersebut dipengaruhi oleh lebih rendahnya kinerja ekonomi Jawa
Timur pada triwulan laporan dibandingkan triwulan sebelumnya khususnya akibat
penurunan kinerja ekspor LN.
Kesejahteraan masyarakat Jawa Timur pada September 2022 terpantau mengalami sedikit menurun dibandingkan Maret 2022, namun lebih baik dibandingkan September 2021. Perlambatan kesejahteraan masyarakat tercermin dari peningkatan jumlah penduduk pra-sejahtera di Jawa Timur pada September 2022 dibandingkan Maret 2022. Kondisi tesebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM pada 3 September 2022 yang berdampak pada peningkatan tarif transportasi dan berbagai komoditas konsumsi sehingga menekan pendapatan dan pengeluaran sekelompok masyarakat. Sementara itu, kesejahteraan masyarakat Jawa Timur pada September 2022 dibandingkan September 2021 terpantau mengalami peningkatan. Hal tersebut tercermin dari lebih rendahnya jumlah penduduk pra-sejahtera di Jawa Timur, baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan. Perluasan Pembukaan sektor ekonomi produktif pada tahun 2022 dibandingkankan tahun 2021 yang ditopang oleh semakin terkendalinya kasus Covid-19 mendorong semakin tingginya penyerapan tenaga kerja yang berimplikasi pada penurunan jumlah penduduk pra-sejahtera di Jawa Timur pada September 2022 dibandingkan September 2021.
Kesejahteraaan masyarakat pedesaan yang direpresentasikan dengan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) tercatat mengalami kenaikan pada triwulan IV 2022 dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal tersebut didorong oleh peningkatan penerimaan petani di sektor tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, dan peternakan sejalan dengan peningkatan harga komoditas beras, hasil ternak/unggas, dan komoditas tebu. Sementara itu, kesejahteraan kelompok nelayan juga terpantau meningkat pada triwulan laporan dibandingkan triwulan sebelumnya seiring dengan kenaikan penerimaan nelayan, terutama untuk perikanan.
Prospek Ekonomi dan Inflasi Tahun 2023
Perekonomian Jawa Timur pada tahun 2023
diprakirakan tetap tumbuh positif meskipun termoderasi dibandingkan tahun 2022
disebabkan oleh faktor global dan domestik. Kinerja ekonomi Jawa Timur pada
tahun 2023 diprakirakan berada di kisaran 4,73% - 5,53% (yoy), cenderung bias
bawah, termoderasi dibandingkan tahun 2022 yang tumbuh sebesar 5,34%(yoy).
Moderasi kinerja ekonomi Jawa Timur pada tahun 2023 terutama dipengaruhi oleh
estimasi kinerja ekonomi global pada tahun 2023 yang diperkirakan lebih rendah
dibandingkan tahun 2022. Perlambatan ekonomi global tersebut dipengaruhi oleh
fragmentasi ekonomi, perdagangan dan investasi akibat konflik geopolitik Rusia
– Ukraina, Tiongkok – Taiwan, dan Amerika Serikat – Arab Saudi yang berlanjut
serta dampak pengetatan kebijakan moneter yang agresif di negara maju. Hal
tersebut diprakirakan menahan kinerja ekspor LN Jawa Timur pada tahun 2023.
Moderasi kinerja ekonomi Jawa Timur pada tahun 2023 diprakirakan turut
dipengaruhi oleh konsolidasi fiskal pemerintah sejalan dengan tren perbaikan
ekonomi domestik. Sejalan dengan perbaikan ekonomi yang terjadi, pemerintah
berupaya mengembalikan kebijakan anggaran untuk tidak lebih dari 3%.
Konsolidasi fiskal tersebut diprakirakan berdampak pada pengurangan dana dari
pemerintah pusat kepada pemerintah daerah sehingga berpotensi mengurangi
belanja pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tahun 2023.
Hal tersebut diprakirakan menahan laju pertumbuhan konsumsi Pemerintah Provinsi
Jawa Timur pada tahun 2023 dan berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi
Jawa Timur.
Inflasi gabungan Kota IHK Jawa Timur pada tahun 2023 diprakirakan kembali di kisaran sasaran inflasi 3,0%±1% (yoy). Tingginya tekanan inflasi dari sisi penawaran pada tahun 2022 terutama akibat peningkatan harga hortikultura serta penyesuaian harga energi berdampak pada tingkat inflasi IHK di Jawa Timur pada tahun 2022 yang lebih tinggi dibandingkan batas atas sasaran inflasi 3,0%±1% (yoy). Pada tahun 2023, tekanan inflasi dari sisi penawaran diprakirakan mereda sejalan dengan prakiraan cuaca yang lebih mendukung produksi tanaman pangan dan harga komoditas energi global yang lebih rendah dibandingkan tahun 2022. Lebih lanjut, berbagai kebijakan pengendalian inflasi yang dilakukan oleh TPIP dan TPID diprakirakan turut menjaga tingkat inflasi IHK Jawa Timur di kisaran sasaran inflasi 3,0%±1% (yoy).