Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta​

9/14/2026 12:00 AM
Hits: 28

Laporan Perekonomian Provinsi DKI Jakarta Agustus 2026

DKI Jakarta
Triwulan

Perekonomian DKI Jakarta dengan pangsa 16,32% terhadap nasional tetap tumbuh kuat pada triwulan II 2026 sebesar 5,52% (yoy), kendati sedikit termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya (5,59% yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29% (yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan terutama ditopang oleh masih kuatnya kinerja konsumsi rumah tangga, serta akselerasi investasi dan konsumsi pemerintah. Dari sisi eksternal, kinerja impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor menyebabkan Jakarta mencatatkan net impor pada triwulan II 2026. Berdasarkan lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Jakarta terutama bersumber dari LU Perdagangan, LU Informasi dan Komunikasi (Infokom), dan LU  Konstruksi. LU utama lainnya, yaitu LU Jasa Keuangan dan LU Industri Pengolahan juga tetap tumbuh positif. Selain LU utama, LU lainnya seperti LU Jasa Perusahaan, Transportasi dan Pergudangan (Transgud), dan LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (Akamamin) tetap tumbuh tinggi dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta.

Memasuki triwulan III 2026, perekonomian Jakarta diprakirakan tetap tumbuh kuat, utamanya didorong oleh terjaganya permintaan domestik seiring maraknya penyelenggaraan event dan promo pada momentum HUT RI serta tahun ajaran baru sekolah. Selain itu, diprakirakan investasi terakselerasi seiring berlanjutnya proyek infrastruktur strategis pemerintah dan swasta seperti MRT, LRT, TOD, Jalan Tol, proyek pengendalian banjir dan fasilitas publik yang didukung dengan kegiatan promosi investasi. Dari sisi LU utama, sejalan dengan sisi pengeluaran, pertumbuhan LU Perdagangan dan Konstruksi juga diprakirakan tetap kuat, sejalan dengan kinerja Konsumsi RT dan Investasi yang diprakirakan tetap tumbuh tinggi.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Jakarta pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 2,78% (yoy). Inflasi triwulan ini tercatat paling rendah di antara semua provinsi di pulau Jawa dan lebih rendah dibandingkan nasional yang sebesar 3,34% (yoy). Capaian ini menunjukkan inflasi Jakarta yang tetap terkendali di tengah berlanjutnya penyesuaian harga sebagai dampak gejolak harga minyak dan energi global. Memasuki triwulan III 2026, inflasi Jakarta pada Agustus 2026 tetap terjaga pada rentang sasaran nasional, sebesar 2,71% (yoy). Capaian ini merupakan yang terendah di antara semua provinsi di Jawa dan lebih rendah dibandingkan nasional yang sebesar 2,88% (yoy). Tekanan inflasi tahunan terutama disebabkan oleh kenaikan harga emas global, harga energi, serta tarif angkutan udara. Ke depan, inflasi IHK Jakarta diprakirakan tetap terkendali dalam rentang sasaran pada tahun 2026 seiring dengan sinergi dan kolaborasi pengendalian inflasi dalam menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, utamanya melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Intermediasi bank umum di Provinsi DKI Jakarta pada triwulan II 2026 menunjukkan kinerja yang solid dengan profil risiko yang tetap terjaga. Dari sisi penawaran, penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek tumbuh meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan kredit diimbangi dengan kondisi likuiditas perbankan yang memadai, tecermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tetap tinggi meskipun lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Ruang ekspansi kredit juga didorong oleh kebijakan makroprudensial Bank Indonesia yang tetap akomodatif guna mendukung pembiayaan sektor riil dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Ketahanan perbankan tetap terjaga, tecermin dari rasio kredit bermasalah yang rendah dan berada jauh di bawah threshold 5%, serta rasio permodalan yang tetap kuat.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh kebutuhan pembiayaan sektor korporasi seiring ekspansi usaha dan perbaikan kinerja penjualan. Secara sektoral, kredit korporasi pada sektor-sektor utama Jakarta mengalami pertumbuhan yang positif, dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor konstruksi, real estate, dan perdagangan besar dan eceran. Kemampuan bayar korporasi juga tetap kuat, tecermin dari rasio likuiditas yang terjaga dan tingkat Non-Performing Loans (NPL) korporasi yang rendah.

Kredit pada sektor rumah tangga menunjukkan perlambatan pada triwulan II 2026. Kendati demikian, perlambatan kinerja kredit konsumsi rumah tangga lebih lanjut tertahan oleh tetap terjaganya daya beli masyarakat seiring tetap kuatnya optimisme masyarakat yang tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Risiko kredit rumah tangga tetap terjaga pada level 3% meskipun perlu terus dimonitor seiring akselerasi pertumbuhan kredit. Kredit sektor UMKM juga tetap tumbuh positif di tengah kuatnya penyaluran kredit bank umum, didukung oleh peningkatan aktivitas usaha dan berbagai program penguatan kapasitas yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta untuk mendorong produktivitas dan daya saing UMKM.

Dalam bidang sistem pembayaran, peredaran uang kartal di DKI Jakarta pada triwulan II 2026 tercatat mengalami net inflow sejalan pola historis setelah periode HBKN Ramadan Idulfitri pada triwulan sebelumnya. Transaksi pembayaran nontunai tetap tumbuh yang didukung perluasan akseptasi QRIS. Dari sisi Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB), nilai transaksi jual dan beli valuta asing (dalam Rupiah) tumbuh sebesar 56,40% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 30,78% (yoy). Peningkatan ini ditopang oleh peningkatan permintaan valuta asing masyarakat pada KUPVA BB seiring peningkatan kebutuhan, baik karena faktor musiman maupun antisipasi permintaan ke depan. Dari sisi Penyedia Jasa Pembayaran (PJP), tetap mengalami pertumbuhan positif sebesar 6,57% (yoy) meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 15,44% (yoy). Perlambatan pertumbuhan ini disebabkan oleh menurunnya transaksi outgoing (di dalam maupun ke luar negeri) di tengah meningkatnya transaksi incoming (dari luar ke dalam negeri) dibandingkan triwulan sebelumnya.

Sejalan dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi, serapan tenaga kerja di DKI Jakarta periode Mei 2026 relatif stabil pada level 94,21% meningkat dibandingkan Februari 2026 sebesar 93,97%. Berdasarkan status pekerjaan utama, sektor formal masih mendominasi penyerapan tenaga kerja di DKI Jakarta. Dari sisi LU, peningkatan serapan tenaga kerja terutama terjadi pada LU Perdagangan Besar dan Eceran. Kemudian, diikuti oleh LU sektor-sektor utama Jakarta lainnya yaitu penyediaan akomodasi dan makan minum, LU Transportasi dan Pergudangan, LU Industri Pengolahan, serta LU Jasa Lainnya.

Sementara itu, tingkat kemiskinan di DKI Jakarta juga mengalami penurunan menjadi 3,96% pada Maret 2026, dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 4,28%. Tingkat kemiskinan di DKI Jakarta juga tercatat jauh lebih rendah dibandingkan Nasional yang pada Maret 2026 berada pada level 8,07%. Menurunnya tingkat kemiskinan tersebut sejalan dengan upaya dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang secara konsisten terus melakukan program pengentasan kemiskinan dan perlindungan sosial antara lain melalui program pemberian subsidi pangan dan transportasi serta pemberian bantuan sosial bagi warga penerima manfaat.

Secara keseluruhan tahun 2026, perekonomian DKI Jakarta diprakirakan tetap tumbuh kuat pada kisaran 4,9–5,7% (yoy). Prospek tersebut didukung oleh kinerja perekonomian pada semester I 2026 yang tetap kuat serta berlanjutnya permintaan domestik baik aktivitas konsumsi maupun investasi pemerintah dan swasta. Meski demikian, ketidakpastian global yang masih tinggi, berlanjutnya ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, serta dinamika nilai tukar Rupiah tetap menjadi faktor yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi permintaan eksternal, biaya input, dan keputusan investasi pelaku usaha.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Konsumsi pada semester II diprakirakan tetap resilien, didukung oleh mobilitas masyarakat, penyelenggaraan berbagai kegiatan, MICE, konser, dan sportainment, serta momentum HBKN Nataru di akhir tahun. Investasi diprakirakan menguat didukung kelanjutan dan penyelesaian proyek strategis Pemerintah dan swasta yang bersifat multiyears seperti MRT Fase 2A, LRT Jakarta Fase 1B,  pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD), serta proyek infrastruktur perkotaan lainnya. Konsumsi Pemerintah tetap tumbuh kuat didukung belanja Pemerintah Pusat dan Daerah, dengan realisasi yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya didorong oleh program prioritas Pemerintah. Sementara itu, ekspor tetap tumbuh moderat dibandingkan tahun sebelumnya, sejalan dengan perlambatan permintaan global. Di sisi lain, impor tetap tinggi sejalan kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk mendukung kegiatan produksi dan investasi, sehingga menahan kontribusi net ekspor.

Dari sisi lapangan usaha (LU), pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada 2026 diprakirakan ditopang oleh LU Perdagangan, LU Industri Pengolahan, LU Konstruksi, serta LU Informasi dan Komunikasi. LU Perdagangan tetap kuat ditopang aktivitas konsumsi, perdagangan antarwilayah, serta penyelenggaraan MICE. LU Industri Pengolahan didukung permintaan domestik, sementara LU Konstruksi menguat sejalan berlanjutnya proyek strategis Pemerintah dan swasta. LU Informasi dan Komunikasi tetap tumbuh kuat seiring peningkatan transaksi digital dan kebutuhan layanan data y​ang terus berkembang. Di sisi lain, LU Jasa Keuangan diprakirakan tumbuh lebih moderat dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi harga, inflasi DKI Jakarta pada 2026 diprakirakan tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1% (yoy). Prakiraan tersebut terutama didukung oleh implementasi berbagai kebijakan Pemerintah dalam rangka mendukung program ketahanan pangan, serta penguatan program pengendalian inflasi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Lampiran
Kontak
Contact Center BICARA: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta

Halaman ini terakhir diperbarui 9/16/2026 8:53 AM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga