Perkembangan Ekonomi Daerah
Pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan IV 2025 mengalami kontraksi yang disebabkan oleh bencana hidrometeorologi yang terjadi di bulan November 2025. Pertumbuhan tersebut juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatera maupun nasional. Dari sisi penawaran, penurunan pertumbuhan berasal dari menurunnya kinerja Lapangan Usaha (LU) yang terdampak langsung oleh bencana yaitu LU Pertanian, LU Perdagangan, LU Pertambangan, serta LU Transportasi dan Perdagangan. Sementara di sisi permintaan, penurunan pertumbuhan bersumber dari menurunnya Konsumsi Rumah Tangga dan kinerja ekspor.
Perkembangan Keuangan Daerah
Kinerja fiskal pemerintah daerah di Provinsi Aceh hingga akhir triwulan IV 2025 mencatatkan penurunan secara agregat, baik pada pendapatan maupun belanja, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Realisasi belanja daerah tercatat sebesar Rp30,85 triliun atau mencapai 75,13% dari pagu yang ditetapkan. Sementara itu, dari sisi pendapatan, total realisasi Provinsi Aceh sepanjang triwulan IV 2025 sebesar Rp32,39 triliun atau setara dengan 81,12% dari total pagu.
Perkembangan Inflasi Daerah
Tingkat inflasi Provinsi Aceh berada di level 6,71% (yoy) pada triwulan IV 2025, meningkat dari posisi triwulan sebelumnya yang terealisasi sebesar 4,45% (yoy). Inflasi terutama didorong oleh peningkatan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau disebabkan oleh bencana hidrometeorologi yag mengganggu produksi pertanian dan terhambatnya jalur ditsribusi.
Stabilitas Sistem Keuangan dan Pengembangan Akses Keuangan UMKM
Stabilitas Sistem Keuangan Provinsi Aceh pada triwulan IV 2025 masih terjaga di tengah terjadinya bencana hidrometeorolgi. Hal ini tercermin dari masih positifnya pertumbuhan pembiayaan dengan kualitas yang baik seiring masih rendahnya Non Performing Financing (NPF). Selain itu, inklusifitas pembiayaan mendorong perkembangan yang baik tercermin dari rasio pembiayaan untuk UMKM yang tercatat sebesar 26,03%. Namun demikian, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat mengalami kontraksi sebesar 1,51% (yoy).
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Pada triwulan IV tahun 2025, perkembangan sistem pembayaran secara konsisten berjalan lancar dalam mendukung perekonomian Provinsi Aceh. Sistem pembayaran tunai berjalan dengan baik, dimana terjadi net outflow pada triwulan laporan. Sementara metode pembayaran non tunai seperti, penggunaan kartu debit, uang elektronik, dan QRIS terus menunjukkan tren pertumbuhan positif pada triwulan laporan.
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami penurunan pada bulan November 2025 diikuti oleh angka kemiskinan yang juga mengalami penurunan pada bulan November 2025. Aktivitas perekonomian yang tetap berjalan, serta dukungan program bantuan dan pemulihan pascabencana, turut berperan dalam menjaga daya beli dan keberlangsungan pendapatan masyarakat.
Prospek Perekonomian
Kinerja perekonomian Provinsi Aceh pada tahun 2026 secara keseluruhan diprakirakan tumbuh membaik pada kisaran 3,09%-3,69% (yoy) dibandingkan tahun 2025 yang tumbuh sebesar 2,79% (yoy). Membaiknya pertumbuhan ekonomi Aceh seiring dengan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana hidrometeorolgi. Membaiknya pertumbuhan terutama didorong oleh peningkatan kinerja sektor konstruksi, seiring dengan proses rehabilitasi dan rekonstruksi daerah yang terdampak bencana, serta peningkatan kinerja transportasi
dan perdagangan seiring dengan pulihnya jalur distribusi yang terdampak. Membaiknya kinerja perekonomian juga ditopang oleh terjaganya inflasi Provinsi Aceh pada tahun 2026 yang diperkirakan berada dalam kisaran target inflasi nasional sebesar 2,5±1% (yoy). Terjaganya inflasi didukung pelaksanaan strategi pengendalian inflasi TPID melalui 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif).