PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH
Perekonomian Kalimantan Barat pada triwulan IV 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 5,62% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 5,31% (yoy). Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat pada triwulan IV 2025 terutama ditopang oleh kinerja lapangan usaha pertambangan dan penggalian, perdagangan, serta konstruksi. Ketiga lapangan usaha tersebut memberikan andil pertumbuhan masing-masing sebesar 1,56%, 0,97%, dan 0,85% year-on-year. Dari sisi pengeluaran, perekonomian Kalimantan Barat pada triwulan IV 2025 ditopang utamanya oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang masing – masing memberikan andil sebesar 2,6% dan 2,5% year-on-year.
KEUANGAN PEMERINTAH
Realisasi total pendapatan daerah APBD Provinsi Kalimantan Barat pada 2025 mengalami penurunan menjadi sebesar Rp5.760,92 miliar atau 96,11% dari pagu anggaran, lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2024 yang sebesar Rp6.461,15 miliar atau 100,60% dari pagu anggaran. Realisasi belanja APBD Provinsi Kalimantan Barat pada 2025 secara total mencapai sebesar Rp5.248,91 miliar atau 85,43% dari pagu anggaran. Realisasi tersebut mengalami kontraksi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 17,41% (yoy) dari yang sebelumnya tercatat Rp6.355,04 miliar. Sementara itu, persentase realisasi belanja APBN di Kalimantan Barat pada 2025 tercatat sebesar 69,68% dari pagu anggaran atau senilai Rp20.534,44 miliar. Realisasi tersebut terkontraksi 22,73% (yoy) dibandingkan dengan realisasi belanja pada 2024 yang tercatat sebesar Rp26.574,42 miliar.
PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
Inflasi Kalimantan Barat pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 1,85% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III 2025 yang tercatat sebesar 1,94% (yoy). Terutama didorong oleh komoditas emas perhiasan, beras, dan ikan kembung. Namun, terjaganya ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga komoditas daging ayam ras, bawang putih, dan sawi hijau, serta adanya sinergi akselerasi langkah strategis pemerintah melalui program Asta Cita al. swasembada pangan (padi dan jagung) dan penyaluran beras SPHP dapat menahan laju inflasi yang lebih tinggi. Selain itu, pelaksanaan dukungan kelancaran distribusi dan komunikasi efektif melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM), Operasi Pasar (OP) serta HLM TPID Wilayah Kalimantan, HLM TPID kabupaten/kota, didukung Forum Kerjasama Antar Daerah (KAD), memperkuat kolaborasi dan kapabilitas mitra strategis dalam mendukung upaya pengendalian inflasi Kalimantan Barat tahun 2025 pada target sasaran 2,5 ±1%.
PEMBIAYAAN DAERAH SERTA PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM
Kredit perbankan wilayah Kalimantan Barat tumbuh sebesar 6,82% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 2,04% (yoy). Sementara itu, pembiayaan perbankan syariah tumbuh sebesar 5,89% (yoy) pada triwulan IV 2025, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya 7,68% (yoy). Pertumbuhan kredit segmen UMKM tercatat -0,20% (yoy), mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh -0,35% (yoy). Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan Kalimantan Barat tumbuh 8,56% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya 5,45% (yoy), yang didorong oleh jenis pertumbuhan DPK tabungan dan perbaikan kinerja DPK giro yang meningkat signifikan. Di sisi lain, risiko kredit bermasalah di Kalimantan Barat mengalami perbaikan dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 1,71%, mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya 1,95%, jauh di bawah threshold 5%.
PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Peredaran uang kartal di Provinsi Kalimantan Barat pada Triwulan IV 2025 mengalami kondisi net-outflow sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang mendorong konsumsi masyarakat sehingga terjadi peningkatan kebutuhan uang tunai perbankan. Kondisi net outflow tersebut disebabkan kenaikan outflow sekaligus penurunan inflow perbankan selaras dengan peningkatan penarikan nasabah pada momentum Nataru serta optimalisasi TUKAB untuk memenuhi kebutuhan permintaan uang kartal. Kinerja sistem pembayaran nontunai di Provinsi Kalimantan Barat secara umum tumbuh melambat. Transaksi nilai besar melalui SKNBI dan BI-RTGS meningkat di Triwulan III 2025, sama halnya dengan transaksi retail non tunai masih menunjukan persistensi pertumbuhan. Transaksi melalui BI-FAST, APMK (Kartu debit dan kredit), dan UE (uang elektronik) masih mencatatkan pertumbuhan dua digit baik nominal maupun volume. Kegiatan belanja masyarakat mendominasi pangsa penggunaan transaksi ritel tersebut. Implementasi elektronifikasi transaksi keuangan di Kalimantan Barat terus menunjukkan kemajuan yang signifikan. Hingga akhir Triwulan IV 2025, jumlah merchant QRIS, pengguna, dan volume transaksi mencatatkan pertumbuhan positif. Bank Indonesia melakukan berbagai inisiatif untuk mempercepat elektronifikasi transaksi pemerintah daerah (ETPD) sehingga semua pemda di wilayah Kalimantan Barat mencapai stastus digital (Indeks ETPD > 80%). Aktivitas transaksi antar negara menunjukan sedikit terkoreksi di triwulan IV 2025 secara tahunan. Hal ini tercermin dari penurunan transaksi jual/beli UKA dan transaksi incoming-outgoing melalui Layanan Remitansi, menunjukkan adanya moderasi aktivitas lintas negara.
KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Barat relatif stabil. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada November 2025 tercatat sebesar 4,63%, menurun 0,19% dibandingkan Agustus 2025. Rasio kemiskinan pada September 2025 tercatat 5,97%, menurun sebesar 0,19% dibandingkan Maret 2025. Sejalan dengan itu, jumlah penduduk miskin Kalimantan Barat pada September 2025 mengalami penurunan sebanyak 578 ribu orang atau turun 0,03% dibandingkan Maret 2025.
Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Triwulan IV 2025 tercatat sebesar 170,26 mengalami penurunan 0,19% (qtq) dibandingkan Triwulan III 2025. Penurunan ini mengindikasikan adanya penurunan terhadap daya beli petani. Pada periode tersebut, indeks harga yang diterima petani (It) tercatat sebesar 211,82, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 124, 41.
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Prospek perekonomian global tahun 2026 diprakirakan melambat menjadi 3,2%, di tengah ketidakpastian pasar keuangan yang tinggi dan divergensi pertumbuhan antarnegara. Perlambatan terutama dipengaruhi dampak tarif resiprokal AS dan berlanjutnya tensi geopolitik, meskipun ekonomi AS relatif meningkat ditopang stimulus fiskal dan investasi, termasuk AI. Sementara itu, Eropa, Jepang, Tiongkok, dan India cenderung melambat akibat lemahnya permintaan domestik dan kinerja ekspor. Dari sisi keuangan global, ruang penurunan FFR masih terbuka, namun yield US Treasury tenor panjang tetap tinggi karena risiko fiskal AS, mendorong aliran modal ke emerging markets secara selektif. Berdasarkan IMF WEO, mitra dagang utama Kalimantan Barat menunjukkan kinerja beragam: Tiongkok dan Jepang melambat, sedangkan Malaysia dan India tumbuh menguat.
Perekonomian Kalimantan Barat tahun 2026 diprakirakan tumbuh di kisaran 5,3 – 6,1% (yoy) dan inflasi yang terjaga. Kinerja lapangan usaha utama diimbangi dengan tingkat konsumsi masyarakat yang diprakirakan tetap kuat, serta perbaikan kinerja ekspor menjadi faktor pendorong perekonomian Kalimantan Barat pada tahun 2026. Semantara itu, secara keseluruhan tahun 2026, inflasi di Kalimantan Barat diperkirakan stabil terjaga pada rentang sasaran target inflasi nasional sebesar 2,5±1% (yoy).