ASESMEN MAKRO EKONOMI REGIONAL
Perekonomian Sumatera Utara pada triwulan III 2025 tercatat tumbuh sebesar 4,55% (yoy), melambat dibandingkan triwulan II 2025 sebesar 4,69% (yoy), terutama dipengaruhi base effect dari penyelenggaraan PON XXI pada tahun 2024. Dari sisi pengeluaran, perlambatan terutama disebabkan kinerja konsumsi LNPRT yang terkontraksi seiring normalisasi pasca pelaksanaan PON XXI pada triwulan III 2024. Kinerja konsumsi RT masih tumbuh kuat kendati mengalami perlambatan akibat penurunan pembelian barang tahan lama, pembelian ritel, dan perlambatan kredit konsumsi. Meski demikian, perkembangan transaksi e-commerce yang masih cukup baik, masih kuatnya ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya, serta jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang mendorong ekspor jasa menjadi pendorong pertumbuhan konsumsi RT dan ekspor pada triwulan laporan. Kinerja investasi masih belum kuat akibat terkontraksinya pertumbuhan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada triwulan laporan. Perlambatan yang lebih dalam tertahan oleh kinerja Konsumsi Pemerintah khususnya belanja barang dan jasa yang meningkat didukung membaiknya operasional Pemerintah tercermin dari peningkatan konsumsi listrik di kantor Pemerintah.
Dari sisi Lapangan Usaha (LU), kinerja LU utama Sumatera Utara disebabkan oleh perlambatan LU pertanian, transportasi dan pergudangan serta konstruksi. Perlambatan pada LU pertanian terutama dipicu oleh penurunan produksi tanaman pangan. Kendati demikian, LU pertanian tetap menunjukkan pertumbuhan yang solid didorong peningkatan produksi padi dan kelapa sawit. LU transportasi dan pergudangan melambat, meskipun tetap tumbuh tinggi. Hal tersebut didukung peningkatan jumlah barang yang dimuat pada aktivitas angkatan udara dan laut serta jumlah wisman yang mengalami peningkatan seiring adanya event Aquabike dan F1H2O di Balige pada Agustus 2025. Namun demikian, dorongan tersebut belum mampu sepenuhnya menggantikan pertumbuhan yang tinggi saat pelaksanaan PON XXI pada periode yang sama tahun lalu. LU konstruksi melambat sebagai dampak dari penurunan aktivitas proyek dan belanja konstruksi. Sementara itu, kinerja LU industri pengolahan dan perdagangan menjadi penahan perlambatan kinerja utama perekonomian Sumatera Utara pada triwulan III 2025 seiring masih kuatnya kinerja dan permintaan ekspor CPO dan turunannya.
ASESMEN KEUANGAN PEMERINTAH
Pada triwulan III 2025, secara agregat realisasi pendapatan dan belanja APBD Provinsi Sumatera Utara mengalami perlambatan dibandingkan triwulan III 2024. Sehingga kondisi APBD Provinsi Sumatera Utara menghasilkan surplus sebesar Rp9,07 triliun. Dari sisi pendapatan, APBD Provinsi Sumatera Utara mencapai Rp42,47 triliun (66,37% dari pagu) didominasi oleh Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD). Dibandingkan dengan triwulan III 2024, realisasi pendapatan APBD melambat sebesar 5% terutama disebabkan oleh komponen TKDD dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) masing-masing sebesar Rp30,05 triliun (turun dari Rp32,57 triliun) dan Rp10,1 triliun (turun dari Rp10,54 triliun). Di sisi lain, realisasi Pendapatan Lainnya mengalami peningkatan 45,6% menjadi Rp2,33 triliun (turun dari Rp1,6 triliun) dibandingkan triwulan III 2024. Dari sisi belanja, APBD Provinsi Sumatera Utara mencapai Rp33,4 triliun (51,48% dari pagu) didominasi oleh belanja pegawai. Dibandingkan dengan triwulan III 2024, realisasi beban APBD melambat sebesar 14,5% terutama disebabkan oleh komponen belanja modal sebesar Rp2,3 triliun (turun dari Rp3,73 triliun),belanja barang dan jasa sebesar Rp8,45 triliun (turun dari Rp9,04 triliun), dan belanja lainnya sebesar Rp6,95 triliun (turun dari Rp10,79 triliun). Ke depan, seluruh pemerintah daerah di Sumatera Utara perlu mempercepat penyerapan ABPD menjelang akhir tahun 2025 mengingat serapan anggaran sejumlah Kabupaten/Kota masih rendah. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah percepatan penggunaan APBN dan APBD dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sebagai katalis penggerak perekonomian.
ASESMEN INFLASI
Inflasi Sumatera Utara pada triwulan III 025 mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Inflasi Provinsi Sumatera Utara pada periode laporan tercatat sebesar 5,32% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1,25% (yoy). Selanjutnya, inflasi Sumatera Utara pada triwulan III 2025 juga lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,65% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi sepanjang triwulan laporan banyak disebabkan oleh kenaikan harga cabai merah dan juga emas perhiasan yang menjadi penyumbang utama inflasi Sumatera Utara secara tahunan. Tekanan inflasi juga didorong dari kenaikan harga komoditas pangan lainnya seperti bawang merah, beras, dan daging ayam ras. Kenaikan harga komoditas pangan strategis ini disebabkan oleh keterbatasan pasokan sepanjang triwulan laporan akibat mundurnya masa tanam. Sumber tekanan inflasi terutama berasal dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, diikuti oleh Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, dan Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran. Adapun komoditas utama penyumbang inflasi antara lain Cabai Merah, Emas Perhiasan, Bawang Merah, Beras, dan Daging Ayam Ras. Peningkatan harga cabai merah disebabkan oleh penurunan produksi yang disebabkan oleh masih belum masuknya masa panen cabai merah di Sumatera Utara. Selanjutnya, kenaikan harga emas perhiasan sebagai dampak dari tingginya harga komoditas emas internasional sebagai salah satu instrumen investasi safe haven ditengah kondisi geopolitik dunia yang terjadi. Selanjutnya, kenaikan harga bawang merah dan beras secara tahunan disebabkan oleh adanya masalah distribusi pasokan yang sempat terhambat sejalan dengan masalah cuaca yang terjadi di sentra produksi. Selain itu, kenaikan harga juga dialami oleh komoditas daging ayam ras yang disebabkan oleh penurunan pasokan s.d. 10% serta kenaikan harga pakan (terutama jagung). Di sisi lain, koordinasi TPID yang semakin baik melalui kerangka 4K termasuk program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) turut menahan laju inflasi lebih tinggi pada triwulan laporan. GNPIP dilakukan melalui sejumlah program seperti (i) pelaksanaan pasar murah yang tepat waktu dan tepat sasaran, (ii) perluasan jangkauan distribusi barang, diiringi dengan pelaksanaan sidak pasar yang masif, (iii) dukungan terhadap peningkatan produksi, serta (iv) dorongan prioritisasi pemenuhan kebutuhan pangan di dalam Sumatera Utara melalui KAD.
ASESMEN PEMBIAYAAN DAERAH DAN PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN, SERTA UMKM
Penyaluran kredit di Sumatera Utara tetap tumbuh tinggi dengan risiko yang terjaga, mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Pada triwulan III 2025, penyaluran kredit tumbuh sebesar 13,63% (yoy), sedikit melambat dibandingkan triwulan II 2025 yang mencapai 14,62% (yoy). Risiko kredit tetap terkendali dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) rendah di 1,89%, mencerminkan kualitas kredit yang sehat. Perlambatan terutama terjadi pada kredit modal kerja dan konsumsi, masing-masing tumbuh 13,27% (yoy) dan 9,20% (yoy), sejalan dengan normalisasi permintaan pasca ekspansi sebelumnya. Sebaliknya, kredit investasi mencatat akselerasi signifikan sebesar 19,91% (yoy), menunjukkan pemulihan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek jangka panjang dan meningkatnya aktivitas investasi di sektor produktif, termasuk proyek prioritas pemerintah dan percepatan infrastruktur. Secara keseluruhan, intermediasi perbankan tetap kuat di tengah suku bunga yang kondusif, menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Pengembangan UMKM di tingkat regional terus dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung program Asta Cita dalam mendorong kewirausahaan dan ekonomi kreatif. Strategi yang diterapkan tetap mencakup Korporatisasi, Kapasitas, dan Pembiayaan (KKP) dengan fokus pada lima bidang prioritas: UMKM Ketahanan Pangan, UMKM Potensi Ekspor, UMKM Digital, UMKM Hijau, serta Akses Keuangan dan Informasi. Kantor Perwakilan BI Sumatera Utara terus memperkuat program TPAKD (UMKM go marketplace, go cashless, go export), pendampingan UMKM binaan, business matching, serta pelatihan pencatatan keuangan melalui aplikasi SIAPIK. Upaya ini selaras dengan Asta Cita untuk memperkuat daya saing UMKM melalui digitalisasi, hilirisasi, dan akses pembiayaan inklusif.
ASESMEN PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Pada triwulan III 2025, sistem pembayaran di Sumatera Utara terus menunjukkan penguatan. Hal tersebut tercermin dari pergeseran preferensi masyarakat dari transaksi tunai ke non tunai dengan pertumbuhan nominal transaksi non tunai, meliputi kartu ATM/Debit, kartu kredit, dan uang elektronik sebesar 12,01% (yoy), serta peningkatan volume agregat APMK sebesar 6,60% (yoy). Inovasi pembayaran berbasis QRIS juga semakin diterima luas oleh masyarakat, ditunjukkan oleh lonjakan pertumbuhan merchant transaksi sebesar 18,50% (yoy). Bank Indonesia ke depan akan terus mendorong penggunaan QRIS yang Cepat, Mudah, Murah, Aman, dan Handal (CeMuMuAH). Dari sisi uang kartal, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara mencatatkan net outflow sebesar Rp Rp2,78 triliun, sejalan dengan meningkatnya likuiditas masyarakat. Sementara itu, ekosistem pasar valuta asing domestik juga mencatat kinerja positif, yang tercermin dari pertumbuhan transaksi Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) sebesar 2,25% (yoy) dan transaksi Penyedia Jasa Pembayaran Layanan Remitansi (PJP LR) sebesar 18,6% (yoy).
ASESMEN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan di Sumatera Utara pada triwulan III 2025 menunjukkan perbaikan yang konsisten di tengah dinamika perekonomian. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun menjadi 5,32% dari 5,60% pada periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan semakin kuatnya penyerapan tenaga kerja, khususnya pada sektor transportasi dan pergudangan, jasa pendidikan, serta akomodasi dan makan minum. Perbaikan ini turut ditopang oleh meningkatnya investasi di sejumlah sektor strategis dan implementasi berbagai program Pemerintah Daerah yang berorientasi pada penciptaan kesempatan kerja. Perbaikan kesejahteraan masyarakat juga tercermin dari tren penurunan angka kemiskinan serta membaiknya indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan, meskipun sempat mengalami kenaikan pada Maret 2025. Sejalan dengan kerangka Asta Cita yang menekankan pembangunan manusiadan pemerataan pembangunan, ke depan, penguatan strategi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan merata di seluruh wilayah diharapkan semakin memperkokoh daya saing serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat Sumatera Utara.
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Perekonomian Sumatera Utara diperkirakan tetap kuat dengan pertumbuhan 4,6–5,4% (yoy) pada 2025 dan meningkat menjadi 4,9–5,7% di 2026. Dorongan utama pertumbuhan berasal dari kuatnya ekspor yang memperkuat daya saing industri pengolahan, sektor yang memiliki dampak besar terhadap penciptaan lapangan kerja. Penguatan industri ini, ditopang permintaan domestik dan ekspor serta keterkaitannya dengan lapangan usaha lain seperti pertanian, khususnya perkebunan, diperkirakan terus mendukung perekonomian. Selain itu, aktivitas perdagangan diprediksi tetap berkembang berkat peningkatan infrastruktur konektivitas dan pemanfaatan teknologi informasi.
Inflasi tahun 2025 dan 2026 ditargetkan terjaga pada level 2,5±1%, sejalan dengan upaya menjaga daya saing, mendorong pertumbuhan berkelanjutan, dan didukung perbaikan struktural. Meski demikian, sejumlah risiko perlu diantisipasi, antara lain dampak konflik geopolitik berkepanjangan yang dapat mengganggu perdagangan internasional, serta lambatnya pemulihan ekonomi mitra dagang utama. Di sisi lain, stabilitas inflasi diperkirakan tetap terjaga dalam kisaran target melalui sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia, termasuk pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di Sumatera Utara.