Ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) pada triwulan I 2026 tetap tumbuh positif, namun mengalami moderasi menjadi 2,99% (yoy), atau lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025 yang sebesar 5,04% (yoy). Perlambatan terutama dipengaruhi oleh tertahannya kinerja Lapangan Usaha (LU) Pertambangan seiring penurunan produksi komoditas utama, khususnya batu bara.Di sisi lain, perekonomian Kaltim tetap ditopang oleh kuatnya aktivitas domestik. Peningkatan mobilitas masyarakat pada periode Ramadan dan HBKN Idulfitri, penguatan aktivitas perdagangan, serta kinerja sektor akomodasi dan makan minum menjadi sumber pertumbuhan utama pada periode laporan.
LU Industri Pengolahan tetap tumbuh positif meskipun lebih moderat, didukung aktivitas pengolahan migas serta industri makanan dan minuman. LU Perdagangan juga menguat seiring peningkatan konsumsi masyarakat, pembayaran THR, serta meningkatnya mobilitas dan kunjungan wisatawan. LU Konstruksi turut menjadi penopang, sejalan dengan berlanjutnya pembangunan IKN tahap II, proyek strategis, dan investasi swasta.Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Secara keseluruhan, perekonomian Kaltim tetap berada pada jalur pertumbuhan positif, meskipun tertahan oleh kontraksi LU Pertambangan.
Perkembangan Inflasi Daerah
Inflasi Kaltim pada triwulan I 2026 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, namun masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional. Kenaikan inflasi terutama dipengaruhi oleh kelompok inti, khususnya harga emas perhiasan yang mencapai level tertinggi (all time high) pada Maret 2026, serta meningkatnya permintaan pada periode Ramadan dan Idulfitri. Tekanan inflasi lebih lanjut tertahan oleh penurunan harga pada kelompok perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga. Secara spasial, inflasi tertinggi tercatat di Kota Samarinda sebesar 3,92% (yoy), sedangkan terendah di Kabupaten Berau sebesar 2,38% (yoy). Secara umum, seluruh kabupaten/kota sampel mengalami peningkatan inflasi dibandingkan triwulan sebelumnya, kecuali Kabupaten Berau.
Pembiayaan di Daerah serta Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM
Fungsi intermediasi perbankan di Kaltim tumbuh tinggi dan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Penyaluran kredit tumbuh positif, terutama ditopang oleh peningkatan kredit pada LU Pertambangan yang didorong kebutuhan modal kerja pelaku usaha di tengah penyesuaian kinerja sektor tersebut. Pertumbuhan kredit tersebut juga didukung oleh risiko yang terjaga rendah, tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) yang berada di bawah threshold 5%. Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) menunjukkan perbaikan dan memberikan tambahan likuiditas bagi perbankan dalam mendukung fungsi intermediasi. Inklusivitas keuangan tetap terjaga, tercermin dari pembiayaan syariah yang meningkat dan kredit UMKM yang melambat namun tetap berada dalam kondisi risiko yang rendah.
Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Transaksi sistem pembayaran di Kaltim tetap tumbuh positif, didorong oleh aktivitas ekonomi yang terjaga. Nilai transaksi melalui infrastruktur Bank Indonesia meningkat 10,03% (yoy) menjadi Rp120,26 triliun, dengan volume transaksi naik 31,61% (yoy) menjadi 32,15 juta transaksi. Pertumbuhan terutama ditopang oleh BI-FAST yang menyumbang sekitar 60% dari total nominal transaksi. QRIS mencatat pertumbuhan signifikan, diikuti Uang Elektronik yang juga tumbuh kuat. Sementara itu, APMK mengalami kontraksi terbatas seiring pergeseran preferensi masyarakat ke instrumen pembayaran digital.Dari sisi tunai, posisi uang kartal berada pada net inflow sebesar Rp1,42 triliun, dipengaruhi normalisasi kebutuhan pasca HBKN serta meningkatnya adopsi pembayaran digital.
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Kondisi ketenagakerjaan menunjukkan perbaikan di tengah perlambatan ekonomi. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun seiring penurunan jumlah pengangguran, meskipun terjadi pergeseran penyerapan tenaga kerja antar sektor. Sejalan dengan itu, indikator kesejahteraan masyarakat menunjukkan perbaikan yang tercermin dari penurunan tingkat kemiskinan serta menurunnya ketimpangan pendapatan.
Prospek Perekonomian Daerah
Perekonomian Kaltim tahun 2026 diprakirakan tetap tumbuh, namun termoderasi pada kisaran 2,00-3,75% (yoy). Perlambatan terutama dipengaruhi oleh tertahannya LU Pertambangan akibat penurunan RKAB, pelemahan produksi batu bara, serta moderasi permintaan ekspor.LU Industri Pengolahan dan Perdagangan juga diprakirakan melambat seiring tekanan pasokan energi. Namun demikian, perlambatan lebih dalam tertahan oleh kinerja LU Konstruksi yang ditopang pembangunan IKN, proyek strategis, dan investasi swasta.
Inflasi Kaltim diprakirakan tetap terkendali dalam kisaran 2,5±1% (yoy), meskipun sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok inti, volatile food, dan administered prices, namun tetap dapat dijaga melalui sinergi TPID, penguatan GPIPS, GPM, SPHP, kerja sama antardaerah, serta penguatan pemantauan harga dan pasokan.