Perkembangan Ekonomi Daerah
Ekonomi Aceh pulih lebih kuat dibandingkan perkiraan sebelumnya, seiring berbagai upaya percepatan pemulihan pascabencana hidrometeorologi. Pada triwulan I 2026, ekonomi Aceh tumbuh 4,09% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar -1,61% (yoy). Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Aceh ditopang oleh peningkatan pertumbuhan pada Lapangan Usaha (LU) Konstruksi, LU Perdagangan Besar dan Eceran, dan LU Administrasi Pemerintahan. Sementara itu, dari sisi pengeluaran, peningkatan kinerja ekonomi Aceh tercermin dari meningkatnya kinerja Konsumsi Pemerintah, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), serta didorong oleh perbaikan kinerja Konsumsi Rumah Tangga.
Perkembangan Inflasi Daerah
Inflasi Aceh pada triwulan I 2026 masih tinggi namun membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Provinsi Aceh mencatatkan inflasi sebesar 5,34% (yoy), melandai jika dibandingkan dengan capaian pada triwulan sebelumnya yang menyentuh level 6,71% (yoy). Membaiknya tekanan inflasi sejalan dengan mulai pulihnya jalur distribusi pascabencana di tengah dorongan permintaan yang meningkat pada bulan Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H.
Stabilitas Keuangan Daerah dan Pengembangan Akses Keuangan UMKM
Stabilitas Sistem Keuangan Provinsi Aceh pada triwulan I 2026 terjaga pasca terjadinya bencana hidrometeorologi. Hal ini tercermin dari masih positifnya pertumbuhan pembiayaan dengan kualitas yang baik seiring masih rendahnya Non-Performing Financing (NPF). Selain itu, inklusivitas pembiayaan menunjukkan perkembangan yang baik tercermin dari rasio pembiayaan untuk UMKM yang tercatat sebesar 25,33%. Kemudian, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat mengalami ekspansi sebesar 11,48% (yoy).
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Pada triwulan I 2026, perkembangan sistem pembayaran secara konsisten berjalan lancar dalam mendukung perekonomian Provinsi Aceh. Sistem pembayaran tunai berjalan dengan baik, dimana terjadi net outflow pada triwulan laporan. Sementara, metode pembayaran non tunai seperti, penggunaan APMK dan QRIS terus menunjukkan tren pertumbuhan positif pada triwulan laporan.
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami peningkatan pada Februari 2026 sebagai dampak dari bencana hidrometeorologi pada akhir tahun 2025. Meskipun demikian, kondisi ketenagakerjaan masih menunjukkan beberapa perbaikan dari sisi kualitas, seperti peningkatan proporsi pekerja formal serta penurunan tingkat setengah pengangguran dan pekerja paruh waktu. Dinamika ini mencerminkan bahwa meskipun tekanan di pasar tenaga kerja meningkat, aktivitas ekonomi tetap berjalan dan mampu menjaga sebagian daya serap tenaga kerja.
Prospek Perekonomian
Kinerja perekonomian Provinsi Aceh pada tahun 2026 secara keseluruhan diprakirakan tumbuh terakselerasi pada kisaran 4,66%-5,16% (yoy), meningkat dibandingkan tahun 2025 yang tumbuh sebesar 2,97%. Terakselerasinya pertumbuhan perekonomian Aceh di tahun 2026, seiring dengan mulai efektifnya pembangunan dan rekonstruksi daerah pascabencana, serta normalisasi aktivitas perekonomian dan daya beli masyarakat. Di sisi lain, laju inflasi Provinsi Aceh di tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dan berada dalam range sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1% (yoy) yang didukung pelaksanaan strategi pengendalian inflasi melalui 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif).