Perkembangan Makroekonomi Daerah
Ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 6,88% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya dan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Peningkatan tersebut terutama didukung oleh kuatnya permintaan domestik pada periode Ramadan dan Idulfitri, serta berlanjutnya aktivitas investasi dan peningkatan kinerja beberapa sektor utama.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan terutama bersumber dari Konsumsi Rumah Tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Konsumsi Rumah Tangga tetap tumbuh kuat didukung peningkatan mobilitas masyarakat selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), penyaluran THR, serta keyakinan konsumen yang tetap optimis. PMTB meningkat sejalan dengan berlanjutnya aktivitas konstruksi dan realisasi investasi. Sementara itu, Konsumsi Pemerintah tumbuh akseleratif didorong peningkatan belanja pemerintah pusat, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) Aparatur Sipil Negara (ASN). Dari sisi eksternal, ekspor tetap tumbuh positif meskipun tertahan pada komoditas utama, sementara impor meningkat sejalan dengan kebutuhan bahan baku dan barang modal.
Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan terutama ditopang oleh LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan, LU Pertanian, dan LU Konstruksi. LU Industri Pengolahan meningkat didorong permintaan industri makanan dan minuman serta industri barang galian bukan logam. LU Perdagangan menguat sejalan dengan peningkatan konsumsi, mobilitas, dan distribusi komoditas. LU Pertanian tetap tumbuh positif didukung peningkatan produksi tanaman pangan, meskipun tertahan perlambatan subsektor perikanan. LU Konstruksi meningkat seiring keberlanjutan proyek pemerintah dan swasta. Di sisi lain, LU Pertambangan masih tertahan akibat penurunan produksi bijih logam dan penyesuaian operasional pada awal tahun.
Perkembangan Inflasi Daerah
Perkembangan inflasi di Sulawesi Selatan pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 4,50% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2025 dan berada di atas rentang sasaran nasional 2,5±1% (yoy). Seluruh kab/kota IHK mengalami inflasi, tertinggi di Sidrap (5,73% yoy) dan terendah di Palopo (2,81% yoy). Inflasi terutama dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan dan komoditas pangan seperti beras, daging ayam ras, dan telur ayam ras, serta low base effect diskon tarif listrik. Dari sisi permintaan, tekanan inflasi didorong peningkatan konsumsi rumah tangga pada periode HBKN Ramadan dan Idulfitri yang sejalan dengan optimisme keyakinan konsumen.
Ke depan, tekanan inflasi Sulawesi Selatan pada 2026 diprakirakan lebih rendah dibandingkan 2025 dan tetap berada dalam rentang sasaran nasional 2,5±1%. Meskipun peningkatan permintaan domestik dan kenaikan harga energi serta komoditas global akibat ketidakpastian eksternal berpotensi memberikan tekanan inflasi, risiko tersebut diprakirakan tertahan oleh perbaikan produksi pertanian, penguatan cadangan pangan, kebijakan stabilisasi harga, serta moderasi harga beberapa komoditas global. Sinergi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam kerangka 4K terus diperkuat guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, termasuk melalui HLM TPID HBKN.
Stabilitas Sistem Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM
Stabilitas sistem keuangan Sulawesi Selatan pada triwulan I 2026 secara umum masih terjaga di tengah pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Penyaluran kredit perbankan Sulawesi Selatan masih tumbuh positif meskipun sedikit melandai dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh kredit investasi dan konsumsi yang tetap kuat, sementara kredit modal kerja masih terkontraksi. Sementara itu, pembiayaan perbankan syariah juga tumbuh lebih tinggi, didorong oleh penguatan pembiayaan konsumsi dan investasi, meskipun pembiayaan modal kerja mulai melandai. Hal tersebut menunjukkan bahwa perbankan syariah tetap berperan penting dalam mendukung aktivitas konsumsi dan investasi daerah.
Di tengah pertumbuhan pembiayaan yang masih positif, kualitas kredit perbankan relatif tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan tercatat sebesar 3,77%, sementara NPL UMKM sebesar 4,90%, keduanya masih berada di bawah ambang batas 5%. Namun demikian, NPL korporasi yang masih berada di atas threshold perlu terus dicermati sebagai sumber risiko utama dalam portofolio kredit perbankan. Dari sisi kinerja, profitabilitas perbankan menunjukkan perbaikan yang tecermin dari peningkatan Return on Assets (ROA). Sejalan dengan itu, efisiensi operasional juga membaik seiring penurunan rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Di sisi lain, pembiayaan fintech tetap tumbuh positif dengan kualitas risiko yang relatif terkendali.
Di tengah terjaganya stabilitas sistem keuangan, penguatan sektor riil yang inklusif terus didorong sebagaimana bentuk penguatan ekonomi daerah dan stabilitas sistem keuangan. Dalam konteks tersebut, Bank Indonesia bersama stakeholders terkait memperkuat sinergi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah melalui Program REWAKO (Resilient, World Class, Agile, and Knowledgeable).
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Indikator sistem pembayaran di Sulawesi Selatan pada triwulan I 2026 menunjukkan perkembangan yang positif dan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi daerah. Transaksi pembayaran digital terus meningkat, terutama melalui layanan BI-FAST yang tumbuh 40,48% (yoy) dengan nominal transaksi mencapai Rp87,90 triliun. Transaksi BI-RTGS juga meningkat, sementara transaksi SKNBI mengalami penurunan seiring pergeseran preferensi masyarakat ke instrumen pembayaran yang lebih cepat dan efisien. Tren digitalisasi pembayaran semakin kuat, tecermin dari pertumbuhan transaksi uang elektronik sebesar 31,71% (yoy) dan transaksi kartu kredit yang meningkat 18,94% (yoy), didukung rasio kredit bermasalah yang tetap terjaga.
Penerimaan masyarakat terhadap pembayaran berbasis QRIS juga terus menguat, dengan jumlah pengguna mencapai 1,38 juta dan nominal transaksi sebesar Rp6,69 triliun, tumbuh 82,14% (yoy). Sementara itu, aktivitas usaha penukaran valuta asing bukan bank (KUPVA BB) tercatat sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi pengelolaan uang rupiah, pada triwulan I 2026 tercatat net inflow sebesar Rp2,17 triliun yang dipengaruhi oleh meningkatnya penyetoran uang pasca-Natal dan Tahun Baru serta tingginya kebutuhan uang tunai menjelang Ramadan dan Idulfitri. Untuk mendukung kelancaran pemenuhan kebutuhan uang layak edar selama periode tersebut, Bank Indonesia bersama perbankan kembali melaksanakan program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI).
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Kondisi ketenagakerjaan di Sulawesi Selatan menunjukkan peningkatan nilai Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dari 65,99% pada Februari 2025 menjadi 67,59% pada Februari 2026. Hal ini menunjukkan kenaikan persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 menunjukkan penurunan dari Februari 2025. Hal ini terutama didorong oleh bertambahnya penduduk bekerja dari lapangan usaha Pertanian dan Industri Pengolahan.
Tingkat kemiskinan di Sulawesi Selatan pada periode September 2025 menurun dibandingkan periode Maret 2025. Penurunan tingkat kemiskinan ini terjadi pada penduduk yang tempat tinggal berada di pedesaan. Perkembangan tersebut disertai dengan Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan yang relatif menurun.
Prospek Ekonomi Daerah
Perekonomian Sulawesi Selatan pada 2026 diprakirakan tumbuh meningkat dalam rentang 5,4%–6,2%. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan didorong konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, belanja pemerintah pusat maupun daerah yang meningkat, serta PMTB yang menguat seiring keberlanjutan pembangunan proyek pemerintah maupun swasta dan aktivitas investasi yang tetap terjaga. Ekspor diprakirakan tumbuh dipengaruhi oleh dinamika permintaan negara mitra dagang dan harga komoditas global. Sementara itu, impor diprakirakan meningkat sejalan dengan kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk mendukung aktivitas produksi dan investasi. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan terutama ditopang oleh Industri Pengolahan, Perdagangan, dan Konstruksi, sementara Pertanian dan Pertambangan diprakirakan tumbuh melambat sejalan dengan normalisasi produksi dan penyesuaian kinerja komoditas utama.
Tekanan inflasi Sulawesi Selatan tahun 2026 diprakirakan lebih rendah dibandingkan 2025 dan tetap berada dalam rentang sasaran nasional 2,5±1%. Peningkatan permintaan domestik seiring terjaganya daya beli, kenaikan harga energi nonsubsidi, serta risiko imported inflation menjadi pendorong utama, namun tekanan inflasi diprakirakan tertahan oleh perbaikan produksi pertanian, penguatan cadangan pangan, kebijakan stabilisasi harga, serta moderasi harga komoditas global. Sinergi pengendalian inflasi melalui TPID dalam kerangka 4K terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga.