Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur​

6/19/2026 6:00 PM
Hits: 9

Laporan Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur Mei 2026

Nusa Tenggara Timur
Triwulan

EKONOMI MAKRO REGIONAL

Kinerja perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tumbuh lebih rendah pada triwulan I 2026. Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada triwulan I 2026 tumbuh 5,32% (yoy), relatif stabil meskipun sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,34% (yoy). Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi didorong oleh meningkatnya kinerja dan kontribusi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) serta Konsumsi Pemerintah, sejalan dengan percepatan realisasi belanja pemerintah pusat dan daerah, terutama untuk proyek konstruksi. Dukungan juga berasal dari penguatan stimulus fiskal yang mendorong aktivitas ekonomi. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ditopang oleh akselerasi sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan serta Konstruksi, di tengah tetap kuatnya kinerja sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib. Perkembangan tersebut didukung oleh peningkatan produksi padi dan hasil perikanan akibat kondisi cuaca yang kondusif bagi aktivitas nelayan, serta meningkatnya realisasi pengeluaran untuk ternak sapi. 

PERKEMBANGAN INFLASI

Inflasi Provinsi NTT pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 2,40% (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi pada triwulan sebelumnya yang sebesar 2,39% (yoy). Tingkat inflasi ini berada dalam target sasaran inflasi nasional 2,5±1%, serta berada di bawah capaian inflasi nasional yang sebesar 3,48% (yoy). Kenaikan inflasi terutama bersumber dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya serta kelompok transportasi. Secara spasial, inflasi pada seluruh kab/kota pengukuran IHK terjaga dalam target sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Upaya pengendalian inflasi terus dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan di daerah dengan dipimpin oleh TPID masing-masing daerah dalam rangka mencapai inflasi yang terjaga dalam target sasaran nasional.

STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAERAH

Secara umum, stabilitas sistem keuangan di Provinsi NTT pada triwulan I 2026 tetap terjaga, dengan rasio NPL (gross) sebesar 3,72% yang masih berada di bawah threshold 5%. Kinerja intermediasi perbankan di Provinsi NTT juga menunjukkan peningkatan dengan penyaluran kredit Bank Konvensional dan Bank Syariah yang tumbuh menguat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perhimpunan DPK tetap kuat dengan kinerja tabungan yang tetap terjaga di tengah perlambatan pada deposito dan giro. Tingkat LDR terus menunjukkan perbaikan yang berada pada level 115,00%.

PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

Kondisi Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah di Provinsi NTT dapat dilihat dari Indikator sistem pembayaran non-tunai dan tunai. Indikator sistem pembayaran nontunai di Provinsi NTT, yang ditunjukkan melalui transaksi BI-RTGS dan SKNBI, mengalami tren peningkatan pada triwulan I 2026. Pada triwulan I 2026, nominal transaksi BI-RTGS dan SKNBI mengalami peningkatan dibandingkan triwulan IV 2025. Sementara itu, indikator sistem pembayaran tunai mengalami net inflow sebesar Rp1,23 triliun pada triwulan I 2026 atau berbanding terbalik dibandingkan triwulan I 2025 yang mengalami net outflow sebesar Rp1,34 triliun.

KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Kondisi ketenagakerjaan Provinsi NTT pada Februari 2026 mengalami perbaikan dibandingkan Februari 2025. Hal ini tercermin dari peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Februari 2026 serta peningkatan jumlah orang bekerja. Lebih lanjut, jumlah angkatan kerja pada Februari 2026 tercatat sebesar 3,18 juta orang, lebih tinggi dari Februari 2025 yang sebesar 3,08 juta orang. Di sisi lain, kondisi kesejahteraan di Provinsi NTT menunjukkan tren peningkatan, yang tercermin dari persentase kemiskinan pada September 2025 sebesar 17,5% atau lebih rendah dibandingkan September 2024 sebesar 19,02%. Kemudian, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTT menunjukkan peningkatan, meski  Gini Rasio pada September 2025 mengalami sedikit peningkatan.  Lebih lanjut, Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami tekanan penurunan pada triwulan I 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

PROSPEK PEREKONOMIAN

Kinerja perekonomian NTT tahun 2026 diprakirakan tumbuh dalam kisaran 4,91 - 5,51% (yoy), dengan potensi meningkat lebih tinggi dibandingkan tahun 2025 yang tumbuh 5,14% (yoy). Dari sisi pengeluaran, kinerja permintaan domestik tahun 2026 diprakirakan meningkat, menopang kinerja perekonomian NTT melalui akselerasi Konsumsi Rumah Tangga (RT) dan Investasi. Prospek tersebut didukung penguatan optimisme masyarakat terhadap kondisi perekonomian ke depan, sejalan dengan akselerasi program ekonomi kerakyatan dan berbagai stimulus fiskal pendukung daya beli masyarakat. Prospek meningkatnya kinerja ekonomi NTT 2026 juga didukung realisasi investasi Pemerintah yang kembali akseleratif, serta kinerja investasi swasta yang solid. Prospek dari sisi pengeluaran tersebut akan tercermin dari peningkatan kinerja Lapangan Usaha (LU) Konstruksi, LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, serta tetap kuatnya kinerja LU Administrasi Pemerintahan.

Inflasi Provinsi NTT pada tahun 2026 diprakirakan berada dalam rentang sasaran 2,5±1 % (yoy). Sejalan dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang meningkat, prospek inflasi NTT 2026 tetap terjaga namun dalam tendensi meningkat dibandingkan  inflasi tahun 2025 yang sebesar 2,39% (yoy). Prakiraan tersebut dipengaruhi oleh prospek meningkatnya inflasi pada kelompok volatile food dan administered prices, di tengah inflasi inti yang diprakirakan relatif stabil dan dalam tendensi menurun.

Lampiran
Kontak
Contact Center BICARA: (62 21) 131, e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan BI Provinsi Nusa Tenggara Timur
Halaman ini terakhir diperbarui 6/19/2026 7:20 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga