Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

​​Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara

6/3/2021 9:30 PM
Hits: 8361

Laporan Perekonomian Provinsi Sumatera Utara Mei 2021

Sumatera Utara
Triwulan

ASESMEN MAKRO EKONOMI REGIONAL

Mengawali tahun 2021, optimisme pemulihan ekonomi Sumatera Utara mulai terlihat. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada triwulan I-2021 tercatat -1,85% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar -2,94% (yoy). Dari sisi permintaan perbaikan terutama didorong oleh kinerja ekspor yang meningkat. Perbaikan di negara maupun provinsi mitra dagang didukung dengan peningkatan harga komoditas menjadi faktor utama akselerasi perekonomian Sumatera Utara. Dari sisi Lapangan Usaha, kinerja seluruh sektor utama pada triwulan laporan terakselerasi. Ke depan perekonomian Sumatera Utara memiliki banyak ruang untuk bertumbuh berkenaan dengan realisasi yang tercatat masih lebih rendah dari nasional yang sebesar -0,74% (yoy) dan Sumatera yang sebesar -0,86% (yoy). Kerja sama yang solid antara pemerintah dan masyarakat seiring dengan program vaksinasi yang terus berjalan menjadi kunci utama pemulihan ekonomi Sumatera Utara.


ASESMEN KEUANGAN DAERAH

Pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APDB) Sumatera Utara 2021 meningkat. Anggaran pendapatan dan belanja daerah pada APBD 2021 naik masing-masing sebesar 6,3% dan 6% dibandingkan dengan APBD 2020. Realisasi pendapatan APBD pada triwulan I-2021 belum optimal pada seluruh pos pendapatan sejalan dengan kebijakan insentif perpajakan yang berdampak pada menurunnya pendapatan wajib pajak sebagai dampak pandemi COVID-19 dan tertahannya penyaluran pendapatan transfer dari Pemerintah Pusat. Sementara, realisasi belanja masih di bawah target didorong oleh penurunan pada jenis belanja operasional dan belanja modal. Di sisi lain, pagu belanja Pemerintah Pusat ke Sumatera Utara turun 5,6% dari tahun 2020, dengan optimalisasi realisasi belanja yang naik 8,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Optimalisasi realisasi belanja APBN di daerah didorong oleh belanja modal untuk percepatan pembangunan dan belanja bantuan sosial terutama penanganan pandemi COVID-19.

 

ASESMEN INFLASI

Inflasi Sumatera Utara pada triwulan I-2021 menurun, terutama didorong oleh meredanya tekanan pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Kelompok ini masih menjadi sumber utama tekanan inflasi meski magnitudenya menurun cukup signifikan seiring dengan normalisasi harga aneka cabai yang sempat meningkat pada akhir tahun. Selain itu deflasi aneka bawang karena melimpahnya pasokan bawang merah dari Brebes, Jawa Tengah, dan impor bawang putih dari Tiongkok juga turut mendorong penurunan laju inflasi pada triwulan laporan. Adapun tekanan inflasi terutama bersumber dari minyak goreng, akibat kenaikan harga CPO di pasar internasional. Sejalan dengan itu, ikan asin teri dan tomat jugat turut menyumbang inflasi akibat penurunan pasokan, imbas gangguan cuaca dan erupsi Gunung Sinabung. Dampaknya, inflasi pada triwulan I-2021 tercatat sebesar 1,43% (yoy), turun cukup signifikan dari triwulan sebelumnya yang tercatat 1,96% (yoy). Dengan realisasi ini, laju inflasi Sumatera Utara pada triwulan laporan berada di atas inflasi Nasional sebesar 1,37% (yoy) dan di bawah inflasi Sumatera sebesar 1,60% (yoy). Pada triwulan II-2021 tekanan inflasi Sumatera Utara diprakirakan meningkat dibandingkan triwulan I-2021 sebelumnya, sesuai dengan pola historisnya. Peningkatan ini terutama diperkirakan bersumber dari meningkatnya tekanan inflasi pada kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau sehubungan dengan naiknya permintaan masyarakat dan industri seiring dengan perbaikan ekonomi yang turut mempengaruhi harga pangan domestik.

 

ASESMEN PEMBIAYAAN DAERAH SERTA PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM

Tekanan stabilitas sistem keuangan Sumatera Utara pada triwulan I-2021 meningkat, tercermin dari tingkat profitabilitas bank yang melambat serta rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional atau BOPO yang meningkat. Meskipun demikian, risiko kredit terjaga pada level 3,5%. Penyaluran pembiayaan tercatat meningkat didorong oleh perbaikan kinerja kredit modal kerja. Hal ini merepresentasikan optimisme pelaku usaha yang mulai meningkat. Perbaikan kredit korporasi turut mengonfirmasi hal ini. Sementara itu, daya beli masyarakat yang belum kuat diindikasi menjadi penyebab perlambatan kredit rumah tangga terutama terjadi pada kredit multiguna dan kredit kendaraan bermotor di tengah perbaikan KPR. Di sisi lain, DPK juga menunjukkan perlambatan pada jenis tabungan dan deposito, diindikasi terkait dengan penurunan suku bunga perbankan dan mencerminkan masih adanya precautionary motive serta pembatasan konsumsi seiring belum usainya wabah COVID-19.


ASESMEN PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

Perkembangan sistem pembayaran pada triwulan I-2021 tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Aliran uang kartal di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara pada triwulan I-2021 mengalami net inflow sebesar Rp9,87 triliun, berbalik arah dari triwulan sebelumnya yang mengalami net outflow. Hal ini mengindikasikan aliran kas masuk (inflow) ke khazanah Bank Indonesia se-Provinsi Sumatera Utara lebih besar dibandingkan aliran kas keluar (outflow). Dari sisi sistem pembayaran non tunai, Real Time Gross Settlement (RTGS) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) berjalan dengan baik, meskipun melambat. Selain itu, nominal transaksi Kartu ATM Debet dan Kartu Kredit cukup terjaga. Di sisi lain, tren digitalisasi semakin meningkat tercermin dari pesatnya penggunaan uang elektronik dan transaksi e-commerce. Perkembangan sistem pembayaran sesuai dengan pola seasonal dimana pada awal tahun aktivitas ekonomi cenderung turun pasca libur Natal dan Tahun Baru. Hal ini juga terkonfirmasi dari penurunan konsumsi masyarakat dan belum terealisasinya belanja Pemerintah pada awal tahun.

 

ASESMEN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Di tengah pemulihan ekonomi yang terus berjalan, kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan masih diliputi tantangan. Di sisi ketenagakerjaan, serapan tenaga kerja berkurang seiring meningkatnya tingkat pengangguran terbuka. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sumatera Utara pada Februari 2021 tercatat 6,01% atau lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 4,73%. Kondisi tersebut juga sejalan dengan penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang tercatat 69,39% pada Februari 2021, turun dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar 72,2%. Sementara itu, Nilai Tukar Petani mencatat apresiasi. Sedangkan di sisi kesejahteraan, ketimpangan pendapatan, baik di perkotaan maupun perdesaan, semakin berkurang, meskipun indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan meningkat.

 

PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH

Pemulihan ekonomi akan berlanjut hingga akhir 2021. Secara keseluruhan tahun 2021, perekonomian Sumatera Utara diprediksi tumbuh pada rentang 3%-4,5%. Program vaksinasi diharapkan menjadi jawaban dari perbaikan perekonomian. Peningkatan pertumbuhan, baik dari sisi permintaan maupun penawaran, menunjukkan perbaikan. Perbaikan terutama didorong oleh peningkatan aktivitas belanja masyarakat di HBKN Idul Fitri dan jaring pengaman sosial dari pemerintah. Sementara itu, secara keseluruhan tahun, tekanan inflasi diprakirakan meningkat namun masih dalam rentang sasaran 3,0%±1%. Fase pemulihan yang berlangsung akan meningkatkan permintaan domestik sekaligus memperbaiki daya beli masyarakat yang pada gilirannya akan berpengaruh pada kenaikan harga. 

Lampiran
Kontak
​Contact Center BICARA: (62 21) 131, e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan BI ​​Provinsi Sumatera Utara
Halaman ini terakhir diperbarui 9/7/2021 3:17 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga