PERKEMBANGAN EKONOMI DAERAH
Ekonomi Sumatera Selatan tetap tumbuh kuat pada triwulan I 2026 sebesar 5,34% (yoy) yang didorong oleh percepatan realisasi belanja pemerintah. Kinerja positif tersebut didorong oleh kuatnya aktivitas konsumsi pemerintah yang didorong oleh percepatan belanja Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Daerah (Pemda) se-Sumatera Selatan pada triwulan I 2026. Jika dibandingkan dengan regional Sumatera dan Nasional, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan lebih tinggi dibandingkan regional Sumatera yang tercatat sebesar 5,13% (yoy) namun lebih rendah dari Nasional yang tercatat sebesar 5,61% (yoy). Sementara itu, pangsa ekonomi Sumatera Selatan terhadap ekonomi Sumatera pada triwulan laporan tercatat 13,60%.
Dari sisi pengeluaran, kinerja Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada triwulan I 2026 bersumber dari komponen konsumsi rumah tangga dan PMTB atau investasi yang memberikan andil tertinggi. Sementara secara pertumbuhan, peningkatan kinerja ekonomi pada triwulan laporan berasal dari konsumsi pemerintah. Kinerja positif tersebut didorong oleh kuatnya aktivitas konsumsi pemerintah didorong oleh percepatan belanja APBD, khususnya pada komponen belanja operasi dan belanja transfer. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan I 2026 bersumber dari komponen LU Akomodasi dan Makan Minum. Sementara LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan, LU Konstruksi, serta LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan merupakan LU dengan andil pertumbuhan tertinggi sehingga menjadi faktor pendorong lebih kuatnya pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan laporan dibandingkan triwulan sebelumnya.
PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
Tekanan inflasi Provinsi Sumatera Selatan tercatat meningkat pada triwulan I 2026 sejalan dengan dorongan konsumsi masyarakat pada momentum HBKN Imlek dan Idulfitri. Inflasi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 3,09% (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan IV 2025 yang sebesar 2,91% (yoy). Tekanan inflasi pada triwulan I 2026 didorong utamanya oleh tekanan harga emas perhiasan sejalan dengan meningkatnya harga emas global. Selain itu, tekanan inflasi juga didorong oleh berbagai produk bahan pangan pokok dan hortikultura (cabai merah dan beras) serta akibat permintaan masyarakat yang meningkat di tengah momen ramadhan dan perayaan idul fitri. Tekanan inflasi pada Triwulan II 2026 diperkirakan menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sejalan dengan normalisasi pola konsumsi masyarakat setelah periode puncak permintaan pada Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri. Prospek inflasi IHK di tahun 2026 diperkirakan akan kembali ke dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1% dengan sinergi BI-TPID, digitalisasi, ketahanan pangan, dan komunikasi efektif untuk menjaga ekspektasi konsumen di tengah dorongan konsumsi yang tetap kuat.
PEMBIAYAAN DAERAH DAN PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH
Kinerja stabilitas sistem keuangan Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan I 2026 tetap terjaga di tengah ketidakpastian perekonomian yang mendorong sikap wait and see oleh masyarakat dan pelaku usaha. Hal direfleksikan melalui pertumbuhan penyaluran kredit serta aset perbankan. Di lain sisi, pertumbuhan kinerja intermediasi turut disertai dengan kualitas kredit yang relatif terjaga. Kinerja pertumbuhan aset perbankan pada triwulan I 2026 tumbuh positif sebesar 6,12% (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,60% (yoy). Kinerja aset perbankan disumbang oleh pertumbuhan penyaluran kredit perbankan yang meningkat sebesar 7,45% (yoy). Berdasarkan golongan debitur, penyaluran kredit rumah tangga tumbuh 9,73% (yoy) dan penyaluran kredit korporasi tumbuh 11,05% (yoy). Di lain sisi, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar 5,98% (yoy), menurun dibandingkan tahun sebelumnya di periode yang sama sebesar 10,05% (yoy). Pada periode laporan, kinerja DPK disumbang oleh pertumbuhan pada instrumen Giro (28,89% (yoy)) dan Tabungan (5,47%(yoy)) serta ditahan oleh instrumen deposito yang mengalami kontraksi (-3,69% (yoy)). Sejalan dengan penyaluran kredit secara umum, kredit UMKM triwulan I 2026 tetap mencatatkan kinerja positif dicatatkan melalui penyaluran kredit yang tumbuh 1,99% (yoy) sedikit lebih rendah dibanding periode sebelumnya. Penyaluran kredit UMKM skala kecil pada periode ini merupakan penyumbang pertumbuhan UMKM di Provinsi Sumatera Selatan dengan pertumbuhan sebesar 6,71% (yoy). Di lain sisi, kredit UMKM mikro sebagai pangsa penyaluran terbesar terkontraksi sebesar -1,12% (yoy) menunjukkan tekanan daya beli masyarakat berdampak pada UMKM perintis. Namun demikian, secara umum kinerja kredit UMKM yang positif mencerminkan kondisi keuangan dan optimisme UMKM tetap terjaga.
PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Sistem pembayaran yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal melalui instrumen tunai maupun nontunai terus memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan I 2026. Peredaran uang kartal pada triwulan I 2026 menunjukkan net outflow yang mengindikasikan peningkatan kebutuhan uang tunai di masyarakat dikarenakan data historis dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) yaitu Hari Raya Idul Fitri. Data pada triwulan laporan mencatatkan peredaran uang kartal di Sumatera Selatan mengalami net outflow sebesar Rp. 804 miliar. Realisasi net outflow tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami net outflow sebesar Rp3,35 triliun seiring dengan adanya normalisasi berupa arus balik uang kartal pasca momen Hari Raya Idul Fitri 1447 H.
Dari sisi nontunai, kinerja transaksi ritel melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada Triwulan I 2026 masih mengalami perlambatan secara tahunan, baik dari sisi nominal maupun volume transaksi. Secara nominal, nilai transaksi perputaran kliring tercatat sebesar Rp6,68 triliun atau terkontraksi 10,33% (yoy), lebih dalam dibandingkan kontraksi pada Triwulan IV 2025 sebesar 7,44% (yoy). Dari sisi volume, jumlah warkat tercatat sebanyak 109,47 ribu warkat atau terkontraksi 16,49% (yoy). Perkembangan tersebut mencerminkan masih terbatasnya perbaikan aktivitas transaksi melalui SKNBI, seiring dengan berlanjutnya pergeseran preferensi masyarakat dan pelaku usaha menuju instrumen pembayaran digital non-kliring, khususnya BI-FAST dan QRIS.
Di sisi lain, akselerasi digitalisasi pembayaran terus berlanjut. Pertumbuhan positif pada nominal transaksi Uang Elektronik (UE) dan e-commerce, mencerminkan tingginya preferensi masyarakat Sumatera Selatan terhadap instrumen pembayaran digital. Perkembangan tersebut turut diperkuat oleh semakin luasnya akseptansi QRIS di berbagai sektor ekonomi.
PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN DAERAH
Pada triwulan I 2026, indikator ketenagakerjaan dan kesejahteraan serta optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi membaik. Hal ini tercermin dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Sumatera Selatan pada Februari 2026 menunjukkan peningkatan seiring dengan pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Sejalan dengan hal tersebut, perbaikan kondisi ketenagakerjaan juga tercermin dari penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 3,59%, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 3,89%. Di sisi lain, Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada triwulan I 2026 menunjukkan pendapatan masyarakat saat ini lebih baik dibandingkan 6 bulan lalu dan tetap optimis akan meningkat ke depan. Peningkatan optimisme dan aktivitas ekonomi tersebut turut berdampak pada membaiknya tingkat kesejahteraan masyarakat, khususnya petani. Hal ini tercermin dari kenaikan indeks Nilai Tukar Petani (NTP).
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Di tengah dinamika kondisi geopolitik dan perekonomian global, ekonomi Sumatera Selatan diprakirakan akan tetap tumbuh kuat pada tahun 2026, didukung oleh inflasi yang terjaga pada rentang sasaran. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada tahun 2026 diproyeksikan berada pada kisaran 5-5,8% (yoy), mencerminkan resiliensi ekonomi di tengah ketidakpastian global. Dengan sinergi, inovasi, dan optimisme yang terjaga, potensi pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan tetap besar untuk terus dimanfaatkan. Ke depan, inflasi pada tahun 2026 diprakirakan akan kembali berada dalam kisaran rentang target inflasi nasional sebesar 2,5±1%, mempertahankan capaian di tahun 2025. Untuk memperkuat ketahanan dan mengoptimalkan potensi ekonomi Sumatera Selatan ke depan, diperlukan sinergi antar pemangku kepentingan terutama dalam memperkuat ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, mengakselerasi investasi, mendorong digitalisasi, serta hilirisasi komoditas unggulan Sumatera Selatan.