Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan​

9/14/2026 5:00 PM
Hits: 0

Laporan-Perekonomian-Provinsi-Sumatera Selatan-Agustus-2026

Sumatera Selatan
Triwulan

PERKEMBANGAN EKONOMI DAERAH

Ekonomi Sumatera Selatan tetap tumbuh kuat pada triwulan II 2026 sebesar 5,20% (yoy) yang ditopang oleh akselerasi investasi dan perbaikan kinerja ekspor. Kinerja positif tersebut didorong oleh pembangunan berbagai infrastruktur logistik batu bara, pembangunan pabrik industri pengolahan, serta realisasi ekspor komoditas utama Sumatera Selatan yang lebih baik. Jika dibandingkan dengan regional Sumatera dan Nasional, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan lebih tinggi dibandingkan regional Sumatera yang tercatat sebesar 5,06% (yoy) namun lebih rendah dari Nasional yang tercatat sebesar 5,29% (yoy). Sementara itu, pangsa ekonomi Sumatera Selatan di ekonomi Sumatera pada triwulan laporan tercatat 13,64%.

Dari sisi pengeluaran, kinerja Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada triwulan II 2026 bersumber dari komponen konsumsi rumah tangga dan PMTB atau investasi yang memberikan andil tertinggi. Sementara secara pertumbuhan, peningkatan kinerja ekonomi pada triwulan laporan berasal dari PMTB atau investasi dan ekspor luar negeri. Kinerja positif tersebut didorong oleh akselerasi pembangunan proyek pemerintah dan swasta di Sumatera Selatan dan perbaikan kinerja ekspor komoditas unggulan milik Sumatera Selatan. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan II 2026 bersumber dari komponen LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan serta LU Konstruksi. Sementara LU  Perdagangan, Industri Pengolahan, serta LU Konstruksi merupakan LU dengan andil pertumbuhan tertinggi sehingga menjadi faktor pendorong lebih kuatnya pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan laporan dibandingkan triwulan sebelumnya.

PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH

Inflasi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 2,89% (yoy), menurun dibandingkan dengan triwulan I 2026 yang sebesar 3,04% (yoy). Tekanan inflasi pada triwulan II 2026 didorong oleh kenaikan harga bahan bakar minyak jenis RON 92 yang turut mendorong biaya transportasi dan biaya distribusi. Selain itu, inflasi juga dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas bahan pangan pokok dan hortikultura, seperti bawang merah dan cabai merah. Tekanan inflasi pada triwulan III 2026 diperkirakan menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sejalan dengan membaiknya pasokan komoditas hortikultura seiring berlangsungnya masa panen di sejumlah sentra produksi. Namun demikian, tekanan inflasi perlu diwaspadai seiring memasuki puncak musim kemarau pada Agustus–September dan menguatnya fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu produktivitas serta pasokan pangan di Sumatera Selatan. Prospek inflasi IHK di tahun 2026 diperkirakan akan kembali ke dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1% dengan sinergi BI-TPID, digitalisasi, ketahanan pangan, dan komunikasi efektif untuk menjaga ekspektasi konsumen di tengah dorongan konsumsi yang tetap kuat.

 

PEMBIAYAAN DAERAH DAN PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH

 

Secara umum, kinerja stabilitas sistem keuangan Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan II 2026 tetap positif meskipun sedikit melambat dibandingkan triwulan I 2026. Terjaganya pertumbuhan penyaluran kredit serta aset perbankan mengindikasikan fungsi intermediasi yang tetap lancar, dengan turut disertai kualitas penyaluran yang relatif terjaga. Kinerja pertumbuhan aset perbankan Sumatera Selatan pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,12% (yoy), lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 8,20% (yoy), disumbang oleh pertumbuhan penyaluran kredit perbankan yang meningkat sebesar 3,32% (yoy). Kinerja penyaluran kredit perbankan disumbang oleh kredit konsumsi yang tumbuh sebesar 12,54 (yoy) diikuti oleh kredit investasi sebesar 21,09% (yoy) dan ditahan oleh kredit modal kerja yang kontraksi sebesar -3,64% (yoy). Di lain sisi, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar 4,93% (yoy), menurun dibandingkan tahun sebelumnya di periode yang sama sebesar 7,15% (yoy). Pada periode laporan, kinerja DPK disumbang oleh pertumbuhan pada instrumen Giro (15,49% (yoy)) dan Tabungan (6,24%(yoy)) serta ditahan oleh instrumen deposito yang mengalami kontraksi (-4,22% (yoy)). Kredit UMKM triwulan II 2026 mencatatkan kinerja positif dicatatkan melalui penyaluran kredit yang tumbuh 0,91% (yoy), namun lebih rendah dibanding periode sebelumnya. Penyaluran kredit UMKM skala kecil pada periode ini merupakan penyumbang pertumbuhan UMKM di Provinsi Sumatera Selatan dengan pertumbuhan sebesar 3,22% (yoy). Di lain sisi, kredit UMKM mikro sebagai pangsa penyaluran terbesar terkontraksi sebesar -1,45% (yoy) menunjukkan tekanan daya beli masyarakat berdampak pada UMKM perintis. Namun demikian, secara umum kinerja kredit UMKM yang positif mencerminkan kondisi keuangan dan optimisme UMKM tetap terjaga.

PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

Sistem pembayaran yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal melalui instrumen tunai maupun nontunai terus mendukung aktivitas ekonomi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan II 2026. Dari sisi tunai, peredaran uang kartal di Sumatera Selatan mencatatkan net outflow sebesar Rp1,05 triliun, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp804 miliar. Peningkatan kebutuhan uang tunai tersebut sejalan dengan karakteristik ekonomi Sumatera Selatan yang masih ditopang oleh aktivitas perdagangan, komoditas, UMKM, serta transaksi pada wilayah dengan penggunaan uang tunai yang relatif dominan. Selain itu, peningkatan net outflow pada triwulan laporan turut dipengaruhi oleh penyaluran bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di Sumatera Selatan.

Sementara itu, dari sisi nontunai, perkembangan transaksi pembayaran menunjukkan pola yang semakin terdigitalisasi. Transaksi melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) masih mengalami kontraksi secara tahunan, namun menunjukkan perbaikan signifikan dari sisi nominal. Nilai transaksi kliring tercatat sebesar Rp6,89 triliun atau terkontraksi 0,02% (yoy), membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 10,33% (yoy). Di tengah perbaikan tersebut, volume transaksi masih terkontraksi 11,74% (yoy) menjadi 111,50 ribu warkat. Perkembangan ini menunjukkan bahwa transaksi ritel melalui SKNBI masih menghadapi tekanan seiring semakin kuatnya pergeseran preferensi masyarakat dan pelaku usaha menuju instrumen pembayaran digital yang lebih cepat dan praktis, khususnya BI-FAST dan QRIS.

Akselerasi digitalisasi semakin terlihat pada penggunaan Uang Elektronik (UE) dan QRIS. Pada triwulan II 2026, nilai transaksi UE mencapai Rp3,98 triliun atau tumbuh 30,34% (yoy), sementara volumenya mencapai 39,34 juta transaksi atau tumbuh 26,02% (yoy). Sejalan dengan itu, nilai transaksi QRIS di Provinsi Sumatera Selatan tercatat sebesar Rp8,45 triliun atau tumbuh 53,56% (yoy), dengan jumlah merchant QRIS mencapai 1,18 juta merchant atau meningkat sebesar 17,76% (yoy).

Secara keseluruhan, perkembangan sistem pembayaran pada triwulan II 2026 menunjukkan pergeseran pola transaksi menuju instrumen pembayaran digital yang semakin kuat, di tengah masih tingginya kebutuhan uang tunai pada segmen dan wilayah tertentu. Kondisi tersebut mencerminkan semakin beragamnya preferensi masyarakat dalam menggunakan instrumen pembayaran sesuai kebutuhan, sekaligus membuka ruang bagi penguatan ekosistem pembayaran digital yang semakin inklusif di Sumatera Selatan.

 

 

PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN DAERAH

Pada triwulan II 2026, indikator ketenagakerjaan dan kesejahteraan serta optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga. TPAK di Sumatera Selatan masih menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi, meski sedikit mengalami penurunan, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Kondisi ini mengindikasikan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam aktivitas ekonomi dan pasar kerja. Di sisi lain, Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada triwulan II 2026 menunjukkan pendapatan masyarakat saat ini lebih baik dibandingkan 6 bulan lalu dan tetap optimis akan meningkat ke depan. Peningkatan optimisme dan aktivitas ekonomi tersebut turut berdampak pada membaiknya tingkat kesejahteraan masyarakat, khususnya petani. Hal ini tercermin dari kenaikan indeks Nilai Tukar Petani (NTP).

 

PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH

Di tengah dinamika kondisi geopolitik dan perekonomian global, ekonomi Sumatera Selatan  diprakirakan akan tetap tumbuh kuat pada tahun 2026, didukung oleh inflasi yang terjaga pada rentang sasaran.  Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada tahun 2026 diproyeksikan berada pada kisaran 5-5,8% (yoy), mencerminkan resiliensi ekonomi di tengah ketidakpastian global. Dengan sinergi, inovasi, dan optimisme yang terjaga, potensi pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan tetap besar untuk terus dimanfaatkan. Ke depan, inflasi pada tahun 2026 diprakirakan akan kembali berada dalam kisaran rentang target inflasi nasional sebesar 2,5±1%, mempertahankan capaian di tahun 2025. Untuk memperkuat ketahanan dan mengoptimalkan potensi ekonomi Sumatera Selatan ke depan, diperlukan sinergi antar pemangku kepentingan terutama dalam memperkuat ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, mengakselerasi investasi, mendorong digitalisasi, serta hilirisasi komoditas unggulan Sumatera Selatan.



Lampiran



Kontak
Contact Center BICARA: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan BI ​Provinsi Sumatera Selatan


Halaman ini terakhir diperbarui 9/14/2026 5:28 PM

Baca Juga