EKONOMI SUMATERA BARAT TETAP TUMBUH POSITIF DI TENGAH NORMALISASI AKTIVITAS EKONOMI
Ekonomi Sumatera Barat tumbuh sebesar 4,54% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,01% (yoy). Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh normalisasi aktivitas konsumsi dan mobilitas masyarakat pasca periode Ramadan dan Idulfitri dan meningkatnya kehati-hatian masyarakat dalam melakukan konsumsi. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi tetap ditopang oleh konsumsi pemerintah yang masih tinggi, investasi yang tetap kuat, serta ekspor yang meningkat didukung perbaikan harga komoditas unggulan seperti crude palm oil (CPO) dan karet. Di sisi lain, berlanjutnya pemulihan pascabencana, peningkatan produksi pertanian, pembangunan infrastruktur, serta kinerja ekspor yang tetap kuat menjadi faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi daerah. Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi didukung oleh akselerasi Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang memperoleh manfaat dari perbaikan produksi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan. Sebaliknya, sektor perdagangan, industri pengolahan, serta transportasi dan pergudangan mengalami perlambatan seiring normalisasi aktivitas ekonomi pasca HBKN.
INFLASI MENINGKAT NAMUN TETAP TERKENDALI
Tekanan inflasi Sumatera Barat meningkat pada triwulan II 2026. Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 4,70% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 3,37% (yoy). Kenaikan inflasi terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga cabai merah, beras, bensin, minyak goreng, dan emas perhiasan. Selain itu, kenaikan harga energi global turut mendorong peningkatan biaya produksi dan distribusi. Meski demikian, secara kumulatif inflasi hingga Juni 2026 masih relatif rendah, yaitu sebesar 0,98% (ytd), terendah dalam tiga tahun terakhir.
STABILITAS SISTEM KEUANGAN TETAP TERJAGA
Intermediasi perbankan menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan kredit mencapai 6,27% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,62% (yoy). Peningkatan tersebut terutama ditopang penyaluran kredit kepada sektor korporasi, khususnya sektor pertanian, industri pengolahan, dan konstruksi. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh kuat sebesar 13,00% (yoy), mencerminkan membaiknya kapasitas pembiayaan perbankan. Risiko kredit juga tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,59%, masih jauh di bawah ambang batas yang perlu diwaspadai. Meski demikian, kredit UMKM masih mengalami kontraksi tipis sebesar 1,41% (yoy), di tengah kehati-hatian perbankan dan masih terbatasnya permintaan pembiayaan pada sektor UMKM.
DIGITALISASI SISTEM PEMBAYARAN TERUS MENGUAT
Aktivitas sistem pembayaran tetap menunjukkan perkembangan positif. Transaksi non-tunai, baik pada segmen wholesale maupun retail, terus meningkat seiring berlanjutnya pembangunan infrastruktur, belanja pemerintah, dan perluasan digitalisasi pembayaran. Pada triwulan II 2026, nominal transaksi QRIS tumbuh 97,37% (yoy), sementara volume transaksi meningkat 158,00% (yoy). Hingga Juni 2026, jumlah merchant QRIS di Sumatera Barat telah mencapai lebih dari 768 ribu merchant dan jumlah pengguna melampaui 1 juta pengguna. Capaian tersebut menunjukkan semakin tingginya akseptasi masyarakat terhadap transaksi digital.
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT RELATIF MEMBAIK
Perlambatan ekonomi mendorong peningkatan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 5,53%. Namun demikian, membaiknya kinerja sektor pertanian dan perkebunan turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah perdesaan. Persentase penduduk miskin tercatat menurun menjadi 5,27%, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Selain itu, indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan juga menunjukkan perbaikan. Peningkatan kesejahteraan tersebut didukung oleh membaiknya Nilai Tukar Petani (NTP), terutama pada subsektor hortikultura dan perkebunan rakyat yang memperoleh manfaat dari peningkatan produktivitas dan harga komoditas.
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH TETAP POSITIF
Ekonomi Sumatera Barat tahun 2026 diprakirakan tumbuh pada kisaran 4,53% hingga 5,33% (yoy). Pertumbuhan ditopang oleh menguatnya konsumsi rumah tangga, peningkatan belanja pemerintah, percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, serta berlanjutnya proyek strategis dan investasi swasta. Dari sisi sektoral, perbaikan diperkirakan terjadi pada sektor perdagangan, industri pengolahan, konstruksi, pertanian, serta transportasi dan pergudangan.
Sementara itu, inflasi pada tahun 2026 diprakirakan kembali berada dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5±1% seiring membaiknya pasokan pangan dan berlanjutnya sinergi pengendalian inflasi melalui implementasi strategi 4K dan program GPIPS. Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, antara lain ketidakpastian geopolitik global, kenaikan harga energi, depresiasi nilai tukar, serta potensi gangguan produksi akibat cuaca dan kebencanaan.