Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu​

9/14/2026 9:15 PM
Hits: 0

Laporan Perekonomian Provinsi Bengkulu Agustus 2026

Bengkulu
Triwulan

PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI DAERAH

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu pada triwulan II 2026 tumbuh 5,11% (yoy), meningkat dari 4,72% pada triwulan sebelumnya, ditopang oleh penguatan permintaan domestik dan aktivitas investasi. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan terutama didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap solid, konsumsi pemerintah yang tumbuh kuat, serta akselerasi PMTB/investasi, sementara ekspor kembali tumbuh positif seiring pulihnya aktivitas pengiriman melalui Pelabuhan Pulau Baai. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan terutama ditopang oleh akselerasi LU Pertambangan dan Penggalian, Konstruksi, serta Perdagangan, sejalan dengan pemulihan aktivitas pertambangan, percepatan pembangunan infrastruktur, dan meningkatnya mobilitas serta konsumsi masyarakat. Sementara itu, LU Transportasi dan Pergudangan tetap tumbuh kuat, meskipun kinerja LU Pertanian dan Industri Pengolahan mengalami perlambatan akibat kendala produksi dan keterbatasan pasokan bahan baku.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu pada triwulan II 2026 tumbuh meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, didorong oleh penguatan aktivitas ekonomi domestik dari sisi konsumsi, investasi, dan ekspor. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi sumber pertumbuhan utama, didukung oleh terjaganya daya beli masyarakat seiring pencairan gaji ke-13, peningkatan mobilitas dan aktivitas belanja pada momentum Festival Tabot dan libur sekolah, serta perbaikan pendapatan petani sejalan dengan meningkatnya harga komoditas kelapa sawit. Konsumsi pemerintah tumbuh menguat sejalan dengan peningkatan realisasi belanja pegawai, penyaluran Tunjangan Profesi Guru (TPG), pelaksanaan program prioritas pemerintah, serta realisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kinerja investasi (PMTB) juga turut menguat, didorong oleh percepatan pembangunan infrastruktur, pembangunan fisik Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), Sekolah Rakyat, revitalisasi fasilitas publik, serta proyek strategis daerah. Dari sisi eksternal, ekspor kembali tumbuh positif, didukung oleh peningkatan pengiriman komoditas unggulan seperti batu bara, kayu, serta hasil pertanian seiring membaiknya aktivitas logistik melalui Pelabuhan Pulau Baai.

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu terutama didorong oleh akselerasi LU Konstruksi, LU Pertambangan dan Penggalian, serta tetap terjaganya kinerja LU Perdagangan dan Transportasi. LU Konstruksi tumbuh signifikan, didorong oleh percepatan pembangunan infrastruktur, proyek Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), Sekolah Rakyat, serta revitalisasi fasilitas publik. LU Pertambangan dan Penggalian kembali tumbuh positif, sejalan dengan mulai beroperasinya perusahaan tambang setelah penerbitan RKAB dan peningkatan aktivitas produksi batu bara. LU Perdagangan Besar dan Eceran dan LU Transportasi dan Pergudangan tumbuh juga turut menguat, didukung oleh meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat, mobilitas selama Festival Tabot dan libur sekolah, serta normalisasi aktivitas logistik melalui Pelabuhan Pulau Baai. Sementara itu, LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengalami perlambatan, akibat kendala produksi sejumlah komoditas utama, meskipun tetap menjadi sektor dengan kontribusi terbesar dalam struktur ekonomi Bengkulu.

 

PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH

Inflasi Provinsi Bengkulu pada triwulan II 2026 menunjukkan peningkatan menjadi sebesar 3,96% (yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,85% (yoy). Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 2,09% (yoy) dengan komoditas pendorong utama cabai merah (andil 0,43% yoy).

Komoditas cabai merah menjadi pendorong inflasi utama sejalan dengan masih tingginya level harga secara tahunan akibat dinamika produksi dan pasokan komoditas hortikultura. Gangguan produksi pada periode sebelumnya akibat dinamika cuaca menyebabkan berkurangnya volume dan kualitas hasil panen, sehingga tingkat harga masih relatif tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun demikian, pada Juni 2026 harga cabai merah telah mengalami koreksi seiring masuknya masa panen di daerah sentra. Selanjutnya, daging ayam ras masih memberikan tekanan inflasi secara tahunan, meskipun pada Juni 2026 harganya mulai menurun seiring peningkatan produksi, tambahan pasokan dari luar daerah, serta realisasi SPHP Jagung oleh Bapanas yang membantu menurunkan biaya operasional peternak. Tekanan inflasi turut berasal dari bensin sejalan dengan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 1 dan 10 Juni 2026, serta emas perhiasan yang masih berada pada level tinggi mengikuti perkembangan harga emas global. Di sisi lain, inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga santan segar, tarif rumah sakit, dan ikan tongkol/ikan ambu-ambu.

Pada triwulan III 2026, tekanan inflasi Provinsi Bengkulu diprakirakan melandai dibandingkan triwulan II 2026, namun tetap perlu mencermati risiko kenaikan harga pangan bergejolak. Inflasi diprakirakan terutama dipengaruhi oleh perkembangan harga komoditas hortikultura seiring dinamika musim tanam dan panen, risiko kenaikan harga tomat dan cabai rawit akibat keterbatasan pasokan, serta perkembangan harga energi dan emas global. Dari sisi pangan, harga cabai merah diprakirakan relatif terkendali seiring masih tersedianya pasokan hasil panen, sementara harga daging ayam ras dan beras diprakirakan tetap terjaga didukung pasokan yang memadai, realisasi SPHP Jagung, stok pemerintah, serta penyaluran SPHP beras. Harga komoditas perikanan masih berpotensi berfluktuasi mengikuti kondisi gelombang dan aktivitas penangkapan. TPID Provinsi Bengkulu terus melakukan berbagai upaya pengendalian inflasi dalam menjaga keterjangkauan harga melalui pemantauan harga dan stok, pelaksanaan GPM 5 Tepat (Sasaran, Lokasi, Waktu, Komoditas, dan Jumlah), penyaluran SPHP, penguatan KAD, serta fasilitasi distribusi pangan dari wilayah surplus ke wilayah defisit.

PEMBIAYAAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM

Intermediasi perbankan pada triwulan II 2026 tetap terjaga dengan ditopang oleh pertumbuhan kredit yang positif. Penurunan tingkat Loan to Deposit Ratio mencerminkan penurunan rasio penyaluran kredit yang lebih besar dibandingkan tingkat penghimpunan dana. Namun demikian, kualitas kredit tetap terjaga dengan membaiknya rasio kredit bermasalah/Non-Performing Loan/Funding.

  • Kinerja penyaluran kredit pada triwulan laporan mengalami perlambatan didorong oleh pertumbuhan kredit investasi dan kredit konsumsi yang tumbuh yang terus tumbuh meski sedikit melambat.
  • Kinerja penghimpunan dana tercatat positif sebagaimana ditunjukan oleh posisi DPK yang meningkat pada tabungan, deposito, dan giro dengan pertumbuhan yang menguat. Sejalan dengan hal tersebut, aset perbankan tercatat tumbuh menguat.
  • Kinerja perbankan syariah cenderung meningkat disertai dengan peningkatan pangsa perbankan syariah pada triwulan laporan.
  • Pada triwulan II 2026, penyaluran kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tercatat mengalami penurunan dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya dengan NPL yang relatif meningkat namun tetap di bawah batas aman NPL.

PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

Aktivitas transaksi tunai di Provinsi Bengkulu pada triwulan II 2026 tercatat mengalami net outflow. Transaksi nontunai SKNBI mengalami penurunan secara yoy, sedangkan APMK debit dan kredit, uang elektronik, dan QRIS menunjukkan tren peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Perluasan ekosistem digital di Provinsi Bengkulu juga terakselarasi yang ditunjukkan oleh peningkatan pengguna dan volume QRIS maupun perluasan akusisi merchant

Transaksi pembelian dan penjualan pada Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) di triwulan II 2026 juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025. Lebih lanjut, valas yang paling banyak ditransaksikan oleh masyarakat Provinsi Bengkulu berturut-turut adalah Dollar Amerika Serikat (USD), Malaysian Ringgit (MYR) dan Euro (EUR) dari total mata uang yang diperjualbelikan.   

KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan di Provinsi Bengkulu secara umum relatif terjaga. Hal tersebut tercermin dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang tetap rendah, Nilai Tukar Petani (NTP) yang masih berada pada level tinggi, serta tingkat kemiskinan yang menurun dibandingkan tahun sebelumnya. TPT Provinsi Bengkulu pada Februari 2026 tercatat sebesar 3,23%, sedikit menurun dari 3,24% pada Februari 2025, meskipun penurunan tersebut lebih dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah angkatan kerja. Sementara itu, meningkatnya proporsi pekerja tidak penuh mengindikasikan bahwa penurunan tingkat pengangguran belum sepenuhnya mencerminkan penguatan penyerapan dan kualitas tenaga kerja. Sementara itu, NTP pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 200,27, menurun dari 204,50 pada triwulan sebelumnya, namun masih menunjukkan daya beli petani yang relatif terjaga. Tingkat kemiskinan pada Maret 2026 juga membaik menjadi 11,83%, dari 12,08% pada Maret 2025.

PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu sepanjang tahun 2026 diprakirakan tetap tumbuh positif pada rentang 4,68 – 5,28% (yoy), didukung oleh terjaganya Konsumsi Rumah Tangga (RT), penguatan Konsumsi Pemerintah, serta peningkatan PMTB/Investasi.

  • Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu pada tahun 2026 diprakirakan ditopang oleh terjaganya konsumsi rumah tangga, akselerasi konsumsi pemerintah, penguatan PMTB/investasi, serta perbaikan ekspor. Konsumsi rumah tangga tetap tumbuh positif didukung kenaikan pendapatan, THR dan gaji ke-13, TPG, bantuan sosial, serta berbagai momentum HBKN dan event daerah. Konsumsi pemerintah menguat seiring peningkatan realisasi belanja dan pelaksanaan program prioritas seperti MBG dan KDKMP, ditengah ruang fiskal terbatas akibat penyesuaian TKD dan refocusing anggaran. PMTB/investasi diprakirakan meningkat didukung pembangunan infrastruktur, KDKMP, Sekolah Rakyat, penataan Danau Dendam Tak Sudah, serta realisasi DAK Fisik. Sementara itu, ekspor diprakirakan membaik seiring peningkatan pengiriman produk turunan kelapa sawit dan komoditas nonbatubara serta semakin lancarnya aktivitas Pelabuhan Pulau Baai, meskipun masih tertahan keterbatasan produksi batu bara dan karet serta ketidakpastian perdagangan global.
  • Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu pada tahun 2026 diprakirakan terutama ditopang oleh akselerasi LU Pertanian, Perdagangan, serta Transportasi dan Pergudangan. LU Pertanian didukung peningkatan produksi tanaman pangan dan perkebunan, perluasan program SaDeSaHe, mulai produktifnya tanaman hasil replanting, serta perbaikan harga komoditas, meskipun masih menghadapi risiko cuaca dan kesinambungan produksi. LU Perdagangan serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum turut menguat seiring terjaganya konsumsi, mobilitas masyarakat, pariwisata, dan berbagai event daerah, sementara LU Transportasi dan Pergudangan ditopang meningkatnya distribusi barang dan aktivitas logistik melalui Pelabuhan Pulau Baai. Di sisi lain, LU Industri Pengolahan diprakirakan tumbuh lebih terbatas akibat keterbatasan pasokan TBS dan produktivitas kebun sawit rakyat, meskipun mulai produktifnya tanaman hasil replanting serta bertambahnya kapasitas pengolahan melalui dua pabrik baru di Seluma berpotensi menahan perlambatan.

Dari sisi tekanan harga, inflasi di Provinsi Bengkulu pada 2025 diprakirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya namun masih dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Inflasi diprakirakan dipengaruhi oleh pola musiman konsumsi pada paruh kedua tahun dan risiko pasokan hrotikultura selama fase tanam, Sementara itu, berbagai upaya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) diprakiran mampu menjaga inflasi dalam sasarana nasional.

Secara tahunan, inflasi Provinsi Bengkulu tahun 2026 diprakirakan menurun dibandingkan 2025 namun tetap berada dalam sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Penurunan terutama dipengaruhi oleh pola musiman konsumsi pada paruh kedua tahun dan risiko pasokan hortikultura selama fase tanam. Sementara itu, berbagai upaya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) diprakirakan mampu menjaga inflasi dalam sasaran nasional.



Lampiran
Kontak

​​Contact Center BICARA: <strong>(62 21) 131</strong>, e-mail : <a href=mailto:bicara@bi.go.id>bicara@bi.go.id</a><br>
Jam
operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB <br><a class="btn btn-primary" href=“https://www.bi.go.id/id/tentang-bi/profil/organisasi/Pages/Kantor-Perwakilan-Provinsi-Bengkulu.aspx“>

Informasi Kantor Perwakilan BI ​​Provinsi Bengkulu</a>



Halaman ini terakhir diperbarui 9/14/2026 9:21 PM

Baca Juga