Ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 tumbuh sebesar 9,43% (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 7,79% (yoy). Peningkatan tersebut mencerminkan akselerasi pada sejumlah Lapangan Usaha (LU), khususnya LU Industri Pengolahan dan LU Pertambangan dan Penggalian yang mencatat pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 utamanya ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan kinerja ekspor barang dan jasa yang meningkat dari triwulan sebelumnya.
Ekonomi Sulawesi Tengah secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh sebesar 8,47% (yoy), melambat dibandingkan capaian tahun 2024 yang sebesar 9,89% (yoy). Perlambatan pertumbuhan tersebut mencerminkan normalisasi pertumbuhan pada sejumlah LU setelah ekspansi yang tinggi pada tahun sebelumnya. LU Industri Pengolahan tetap menjadi penopang utama perekonomian meskipun tumbuh lebih rendah dibandingkan tahun 2024, seiring melandainya kapasitas produksi dan normalisasi kinerja hilirisasi nikel. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah tahun 2025 terutama ditopang oleh kinerja ekspor serta konsumsi rumah tangga yang tetap tumbuh positif. Namun demikian, pertumbuhan tertahan oleh kontraksi konsumsi Pemerintah akibat kebijakan efisiensi dan realokasi anggaran, serta melambatnya Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) seiring berkurangnya penambahan kapasitas industri logam dasar sepanjang tahun 2025.
Secara keseluruhan, kinerja fiskal Sulawesi Tengah hingga Triwulan IV 2025 menunjukkan tantangan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi pendapatan, realisasi APBN di Sulawesi Tengah tercatat dengan capaian 109,56%, dilanjutkan realisasi APBD Provinsi dan APBD 13 kabupaten/kota tertahan pada level 79,25% dan 75,31%, mencerminkan terbatasnya ruang fiskal daerah. Sementara itu, dari sisi belanja, realisasi APBN tercatat sebesar 94,06%, belanja APBD Provinsi dan 13 Kab/kota yang masing-masing baru mencapai 63,68% dan 70,70%. Kondisi ini mengindikasikan adanya kehati-hatian pemerintah daerah dalam merealisasikan belanja, khususnya belanja non-rutin, seiring dengan upaya menjaga stabilitas fiskal di tengah tekanan pendapatan daerah.
Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Sulawesi Tengah pada Triwulan IV 2025 mengalami inflasi sebesar 3,31% (yoy), lebih rendah dibandingkan Triwulan III 2025 yang sebesar 3,88% (yoy), terkendali pada kisaran sasarannya yang sebesar 2,5±1%. Penurunan inflasi pada triwulan IV 2025 tersebut terutama bersumber dari penurunan harga tomat, cabai rawit, dan bawang putih. Dari sisi permintaan, inflasi masih didominasi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 1,74%, melandai jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,54%. Tekanan pada kelompok ini terutama dipengaruhi oleh komoditas pangan strategis seperti beras dan aneka ikan yang masih mengalami kenaikan harga secara tahunan. Lebih lanjut, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya merupakan kontributor terbesar kedua dengan andil 0,88%, didorong oleh lonjakan harga emas perhiasan seiring tren kenaikan harga emas global.
Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 tetap terjaga, meskipun pertumbuhan kredit melambat. Total kredit hanya tumbuh sekitar 0,61% (yoy), namun kondisi perbankan masih sehat dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 1,77% atau masih jauh di bawah batas aman 5%. Dana pihak ketiga (DPK) juga tetap tumbuh dan semakin didominasi tabungan, sehingga likuiditas bank tetap kuat. Secara sektoral, kredit konsumsi dan industri masih menopang pertumbuhan, sementara sektor pertambangan dan konstruksi menunjukkan tekanan. Dari sisi wilayah, kontraksi kredit di Kota Palu cukup memengaruhi kinerja agregat, meskipun beberapa daerah seperti Banggai masih tumbuh baik.
Sektor UMKM dan rumah tangga masih cukup tahan, namun perlu perhatian. Kredit UMKM terkontraksi -9,44% (yoy), walaupun secara umum NPL UMKM masih terkendali di 1,70%. Beberapa daerah seperti Donggala, Banggai Kepulauan, dan Morowali Utara masih memiliki tingkat kredit bermasalah yang tinggi sehingga perlu pengawasan lebih ketat. Di sisi lain, optimisme masyarakat kembali meningkat, terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang naik ke level 135,19 dan berada di zona optimis. Perbankan syariah juga mencatat pertumbuhan yang kuat, baik dari sisi aset maupun pembiayaan. Secara keseluruhan, kondisi sistem keuangan Sulawesi Tengah tetap stabil, namun kewaspadaan tetap diperlukan terutama pada sektor dan wilayah dengan risiko kredit yang lebih tinggi.
Sistem Pembayaran di Provinsi Sulawesi Tengah mengalami net outflow di triwulan laporan sesuai dengan siklus tahunannya. Total uang kartal yang diedarkan mencapai Rp 2,59 triliun, seiring dengan tetap tingginya pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 secara year-on-year. Di sisi QRIS, jumlah merchant yang mengadopsi QRIS juga mengalami peningkatan signifikan hingga 37,38% (yoy). Dari sisi jumlah pengguna QRIS, juga memperlihatkan peningkatan yang sangat signifikan, yaitu mencapai 367.697 pengguna atau meningkat sebesar 10,05% (yoy). Total volume transaksi QRIS di akhir 2025 mencapai 37,8 juta transaksi, meningkat sebesar 133% (yoy). Di sisi pembayaran non-tunai, terjadi peningkatan yang pesat pada pembayaran menggunakan APMK baik dari sisi volume maupun transaksi, khususnya yang terjadi pada kartu kredit. Volume transaksi kartu kredit pada triwulan IV 2025 mengalami peningkatan sebesar 35,22% dibandingkan pada periode yang sama pada tahun sebelumnya
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sulawesi Tengah pada November 2025 tercatat sebesar 2,89%, menurun dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 2,92%. Penurunan sebesar 0,03 poin persentase ini menunjukkan perbaikan kondisi pasar tenaga kerja pada akhir tahun. Persentase penduduk miskin pada September 2025 tercatat sebesar 10,52% atau sekitar 345,38 ribu jiwa, lebih rendah dibandingkan September 2024 yang sebesar 11,04% atau 358,33 ribu jiwa. Secara tahunan, terjadi penurunan 0,52 poin persentase yang mencerminkan perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Rasio Gini Sulawesi Tengah pada September 2025 sebesar 0,277, menurun dibandingkan September 2024 yang sebesar 0,309. Penurunan ini mengindikasikan distribusi pengeluaran yang semakin merata secara tahunan. Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan IV 2025 berada pada level 101,6, lebih rendah dibandingkan triwulan III 2025 yang sebesar 109,8. Meskipun mengalami penurunan, NTP masih berada di atas 100 yang menunjukkan daya beli petani secara agregat tetap
Pada tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah diprakirakan berada pada kisaran 7,45–9,05% (yoy). Kinerja tersebut masih ditopang oleh dominannya peran LU Industri Pengolahan berbasis nikel dan LU Pertambangan dan Penggalian dalam struktur ekonomi daerah. Namun demikian, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, terutama perlambatan ekonomi Tiongkok sesuai proyeksi IMF yang berpotensi memengaruhi permintaan global terhadap produk berbasis nikel.
Inflasi Sulawesi Tengah pada triwulan I 2026 diprakirakan tetap terjaga pada batas atas sasaran inflasi nasional sebesar 2,50%–3,50% (yoy). Secara triwulanan, tekanan harga meningkat dibandingkan akhir 2025 seiring faktor musiman dan peningkatan aktivitas ekonomi awal tahun. Pada komponen Volatile Food (VF), tekanan inflasi diprakirakan meningkat terutama pada bulan Maret 2026 sejalan dengan kenaikan permintaan menjelang Ramadhan dan HBKN Idulfitri. Administered Prices (AP), inflasi Triwulan I 2026 diprakirakan meningkat secara tahunan terutama akibat faktor low base effect kebijakan diskon tarif listrik pada awal 2025 Sementara itu, Core Inflation (CI) diprakirakan meningkat secara moderat dan relatif stabil.