Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

​​Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat

6/18/2026 6:00 PM
Hits: 21

Laporan Perekonomian Provinsi Sulawesi Barat Mei 2026

Sulawesi Barat
Triwulan

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH

Perekonomian Sulawesi Barat pada triwulan I 2026 tercatat tumbuh sebesar 5,33% (yoy), menurun dari triwulan sebelumnya sebesar 6,55% (yoy). Perekonomian Sulawesi Barat pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,33% (yoy), melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,55% (yoy). Berdasarkan sisi pengeluaran, perlambatan pertumbuhan terutama dipengaruhi oleh melandainya kinerja ekspor seiring perlambatan produksi Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya akibat normalisasi permintaan dari negara tujuan ekspor utama. Namun demikian, perlambatan yang lebih dalam tertahan oleh akselerasi konsumsi rumah tangga selama periode Ramadan dan Idulfitri yang didukung hari libur lebih panjang, serta peningkatan pendapatan rumah tangga pertanian. Selain itu, pertumbuhan juga didukung oleh peningkatan investasi pemerintah dan swasta, khususnya pada proyek jalan dan jembatan, serta aktivitas peremajaan dan replanting tanaman perkebunan tahunan yang mendorong Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) nonbangunan. Dari sisi konsumsi pemerintah, peningkatan Social Transfer in Kind (STIK) untuk Program Makan Bergizi Gratis seiring bertambahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sulawesi Barat turut menjadi faktor pertumbuhan positif.
Berdasarkan sisi Lapangan Usaha (LU), perlambatan ekonomi terutama dipengaruhi oleh melambatnya kinerja LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; LU Industri Pengolahan; LU Perdagangan Besar dan Eceran; serta LU Administrasi Pemerintahan, meskipun LU Konstruksi mengalami akselerasi pertumbuhan. Pada LU Pertanian, perlambatan dipengaruhi oleh melambatnya subsektor Perkebunan akibat proses replanting kelapa sawit yang masih berlangsung dan penurunan produksi kakao, serta kontraksi subsektor perikanan akibat cuaca buruk pada Januari–Februari yang membatasi aktivitas melaut nelayan. Selanjutnya, perlambatan LU Industri Pengolahan dipengaruhi oleh melandainya produksi CPO dan produk turunannya sejalan dengan perlambatan pasokan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. Perlambatan distribusi komoditas pertanian dan penurunan penjualan kendaraan bermotor roda dua juga menahan pertumbuhan LU Perdagangan Besar dan Eceran. Sementara itu, penyesuaian kebijakan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan Tambahan Penghasilan Pegawai Aparatur Sipil Negara (TPP ASN) daerah turut memengaruhi perlambatan pertumbuhan LU Administrasi Pemerintahan.
Dari perspektif regional Pulau Sulawesi, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat pada Triwulan I 2026 tercatat berada pada peringkat enam dibandingkan provinsi lainnya di Sulawesi. Secara umum, seluruh provinsi di Pulau Sulawesi mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi, dengan Sulawesi Tengah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,32% (yoy). Sejalan dengan hal tersebut, ekonomi Pulau Sulawesi secara agregat tumbuh meningkat dari 6,83% (yoy) pada Triwulan IV 2025 menjadi 6,95% (yoy) pada Triwulan I 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61% (yoy).

PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
Inflasi tahunan Provinsi Sulawesi Barat pada periode laporan tercatat sebesar 2,94% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 2,48% (yoy). Peningkatan inflasi pada komoditas tarif listrik menjadi salah satu faktor utama penyebab meningkatnya tekanan inflasi di Provinsi Sulawesi Barat.
Inflasi tahunan Provinsi Sulawesi Barat pada Triwulan I 2026 tercatat sebesar 2,94% (yoy), meningkat dibandingkan Triwulan IV 2025 sebesar 2,48% (yoy). Peningkatan inflasi dipengaruhi oleh base effect normalisasi tarif listrik pasca diskon tarif listrik 50% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, tingginya harga emas dunia di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya permintaan aset safe haven turut mendorong inflasi komoditas emas perhiasan. Dari kelompok transportasi, meningkatnya kebutuhan perjalanan mudik selama Hari Besar Keagamaan Negara (HBKN) Idulfitri juga mendorong kenaikan harga komoditas pemeliharaan/service kendaraan, sepeda motor, dan pelumas/oli mesin.
Namun demikian, tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh melandainya inflasi Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, khususnya pada komoditas tomat, cabai merah, cabai rawit, bawang putih, dan beras seiring meningkatnya pasokan dan berlangsungnya panen raya gelombang I. Selain itu, pemberian diskon pakaian selama HBKN Idulfitri turut menahan kenaikan harga pada beberapa komoditas sandang. Berdasarkan kelompok pengeluaran, peningkatan tekanan inflasi terutama terjadi pada Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga, sementara tekanan inflasi pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau serta Kelompok Pakaian dan Alas Kaki terpantau melandai. 

PEMBIAYAAN DAERAH
Stabilitas keuangan daerah Sulawesi Barat terjaga stabil yang tecermin dari rasio kredit bermasalah/Non Performing Loan (NPL) di bawah batas 5%. Stabilitas keuangan sektor rumah tangga di Sulawesi Barat pada Triwulan I 2026 secara umum masih terjaga meskipun aktivitas konsumsi mengalami moderasi pada awal tahun. Hal ini tecermin dari likuiditas rumah tangga yang tetap baik, dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) perseorangan masih menjadi sumber utama penghimpunan dana perbankan daerah. Dominasi instrumen Tabungan juga menunjukkan preferensi masyarakat untuk menjaga likuiditas di tengah normalisasi konsumsi pasca periode akhir tahun dan berlanjutnya efisiensi belanja. Dari sisi pembiayaan rumah tangga, kredit konsumsi masih tumbuh positif meskipun melambat seiring normalisasi pola konsumsi dan meningkatnya kehati-hatian masyarakat dalam mengambil pembiayaan jangka panjang. Namun demikian, pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Multiguna (KMG), dan perbaikan kualitas Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) menunjukkan bahwa permintaan pembiayaan rumah tangga tetap terjaga dengan risiko kredit yang masih berada pada level aman.
Pada sektor korporasi, intermediasi perbankan mengalami moderasi yang terutama dipengaruhi perlambatan pembiayaan pada sektor Pertanian, Perikanan, dan Industri Pengolahan, serta kontraksi pada sektor Perdagangan dan Akomodasi Makan Minum. Meski demikian, kredit korporasi secara agregat masih tumbuh positif dan ditopang oleh sektor primer. Ke depan, perbaikan pembiayaan diprakirakan didukung pemulihan aktivitas usaha, peningkatan permintaan domestik, dan percepatan realisasi belanja pemerintah. 
Secara keseluruhan, likuiditas perbankan Sulawesi Barat pada Triwulan I 2026 masih terjaga di Tengah moderasi fungsi intermediasi. DPK dan aset perbankan tetap meningkat, sementara kualitas kredit secara umum masih terkendali dengan NPL di sebagian besar wilayah berada di bawah ambang batas 5%. Di sisi lain, pembiayaan UMKM dan akses keuangan mengalami moderasi, meskipun akses masyarakat terhadap pembiayaan formal masih terus berlanjut.

PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

Net outflow yang tetap terjaga mencerminkan aktivitas perekonomian Sulawesi Barat yang masih berlangsung dengan baik. Selain itu, perkembangan transaksi sistem pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) juga terus menunjukkan tren peningkatan.
Perkembangan sistem pembayaran tunai di Provinsi Sulawesi Barat pada Triwulan I 2026 mencatatkan kondisi net outflow sebesar Rp400 miliar, yang menunjukkan bahwa penarikan uang oleh perbankan lebih besar dibandingkan setoran uang ke Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat. Dari sisi perputaran uang kartal, pertumbuhan outflow mengalami perlambatan dibandingkan Triwulan IV 2025 seiring normalisasi konsumsi masyarakat pasca HBKN Natal dan Tahun Baru serta menurunnya realisasi belanja pemerintah daerah pada awal tahun anggaran. Sementara itu, pertumbuhan inflow tercatat meningkat signifikan secara triwulanan.
Pada sistem pembayaran non tunai, transaksi melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dan Bank Indonesia-Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) di Sulawesi Barat pada Triwulan I 2026 mengalami moderasi dibandingkan triwulan sebelumnya. Penurunan nominal dan volume transaksi terjadi baik pada transaksi kliring kredit dan debit maupun transaksi BI-RTGS. Kondisi tersebut mencerminkan moderasi aktivitas transaksi pembayaran, khususnya transaksi bernilai besar dan mendesak pada awal tahun 2026.
Sementara itu, perkembangan digitalisasi sistem pembayaran menunjukkan penggunaan QRIS yang terus meluas di Sulawesi Barat, tecermin dari peningkatan jumlah merchant dan pengguna baru QRIS. Meskipun nominal dan volume transaksi QRIS mengalami moderasi secara triwulanan, transaksi non tunai tetap didukung oleh tingginya penggunaan kartu ATM/debit dan meningkatnya transaksi uang elektronik. Di sisi lain, transaksi kartu kredit mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya seiring normalisasi aktivitas konsumsi masyarakat pada awal tahun.

KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Ketersediaan lapangan kerja di Sulawesi Barat mengalami moderasi pada triwulan I 2026. Sejalan dengan hal tersebut, ekspektasi ketersediaan lapangan kerja turut menurun pada triwulan laporan.
Kondisi ketenagakerjaan dan keyakinan konsumen di Sulawesi Barat pada Triwulan I 2026 menunjukkan moderasi pada kondisi saat ini, tecermin dari menurunnya persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja dan penghasilan masyarakat seiring perlambatan aktivitas ekonomi pasca periode akhir tahun. Namun demikian, ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan tetap meningkat, didorong optimisme terhadap perbaikan aktivitas usaha, investasi, dan penciptaan lapangan kerja. Dari sisi ketenagakerjaan, jumlah penduduk usia kerja dan angkatan kerja terus meningkat dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang menurun menjadi 2,93%. Penyerapan tenaga kerja meningkat terutama pada sektor industri dan jasa, sementara sektor pertanian dan perdagangan mengalami perlambatan. Selain itu, tenaga kerja formal menunjukkan peningkatan meskipun struktur ketenagakerjaan Sulawesi Barat masih didominasi sektor informal.
Kesejahteraan petani di Sulawesi Barat pada Triwulan I 2026 mengalami penurunan, tecermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh melambatnya Indeks Harga Diterima petani di tengah meningkatnya Indeks Harga Dibayar petani, terutama pada subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat akibat penurunan harga komoditas kakao, lada, kelapa, dan cengkeh. Selain itu, subsektor hortikultura dan tanaman pangan juga turut menahan peningkatan kesejahteraan petani. Namun demikian, subsector perikanan mencatat peningkatan kesejahteraan seiring kenaikan harga yang diterima nelayan dan pembudidaya ikan yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya yang dibayarkan.
Tingkat kemiskinan di Sulawesi Barat pada September 2025 tercatat menurun menjadi 10,18% dibandingkan September 2024 sebesar 10,71%, didorong oleh penurunan kemiskinan di wilayah pedesaan maupun perkotaan seiring membaiknya penghasilan masyarakat dan kondisi lapangan kerja. Penurunan tersebut juga tecermin dari berkurangnya jumlah penduduk miskin secara tahunan. Namun demikian, garis kemiskinan di perkotaan dan pedesaan mengalami peningkatan akibat naiknya kebutuhan konsumsi makanan dan nonmakanan. Di sisi lain, indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan tercatat meningkat, yang mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin masih semakin jauh dari garis kemiskinan dan ketimpangan antarpenduduk miskin masih melebar.

PROSPEK EKONOMI DAERAH
Perekonomian Sulawesi Barat pada tahun 2026 diprakirakan tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, didukung oleh kinerja sektor-sektor utama yang tetap terjaga stabil. Sementara, Inflasi Sulawesi Barat diperkirakan tetap berada dalam rentang target 2,5±1% dengan kecenderungan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat pada tahun 2026 diproyeksikan tumbuh 4,9%-5,9% (yoy) dengan kecenderungan meningkat dari tahun 2025 yang tumbuh 5,36% (yoy). Dari sisi permintaan, kinerja perekonomian Sulawesi Barat diprakirakan tumbuh meningkat akibat akselerasi kinerja Konsumsi Rumah Tangga, Konsumsi Pemerintah, Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB) dan Net Ekspor Antardaerah. Sementara komponen lain seperti Ekspor Luar Negeri dan Impor Luar Negeri diprakirakan sama atau relatif melambat secara tahunan.
Dari sisi penawaran, Secara umum Lapangan Usaha (LU) yang diprakirakan mengalami pertumbuhan deseleratif yaitu LU Industri Pengolahan, LU Konstruksi, dan LU Adm. Pemerintahan. Sementara LU yang diproyeksikan mengalami akseleratif pertumbuhan yaitu LU Pertanian dan LU Perdagangan.
Inflasi Sulawesi Barat tahun 2026 diprakirakan tetap berada dalam rentang target 2,5±1% dengan kecenderungan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, dipengaruhi oleh dinamika global, potensi gangguan pasokan pangan, peningkatan mobilitas masyarakat saat HBKN, serta risiko cuaca dan bencana alam yang dapat mengganggu produksi dan distribusi pangan. Namun demikian, tekanan inflasi diprakirakan tetap terkendali didukung kebijakan moneter yang preemptive, optimalisasi penyaluran beras SPHP, prospek produksi pertanian yang tetap positif, serta kondisi cuaca yang lebih kondusif, sehingga inflasi Sulawesi Barat tahun 2026 diprakirakan berada pada kisaran 1,8%–3,2%.

Lampiran
Kontak
​Contact Center BICARA: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Barat
Halaman ini terakhir diperbarui 6/19/2026 7:21 AM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga