Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur​​

12/3/2021 12:00 AM
Hits: 875

Laporan Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur November 2021

Nusa Tenggara Timur
Triwulan

EKONOMI MAKRO REGIONAL

Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT pada triwulan III tumbuh sebesar 2,37% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,33% (yoy). Deselerasi kinerja pemulihan ekonomi terutama terjadi pada LU Perdagangan, Transportasi, dan Akomodasi, yang disebabkan oleh kebijakan pembatasan melalui penerapan PPKM guna membatasi aktivitas masyarakat dan meminimalisir penyebaran COVID-19. Sementara itu, penurunan dari sisi pengeluaran terutama bersumber dari konsumsi pemerintah yang terkontraksi akibat penurunan realisasi belanja pegawai ASN. 

KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
Realisasi total belanja pemerintah (APBD dan APBN) di Provinsi NTT pada triwulan III 2021 menurun dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hal ini terutama dipengaruhi oleh menurunnya pendapatan transfer dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah sehingga menghambat kinerja belanja daerah. Selain itu, refocusing APBN pemerintah pusat serta perubahan regulasi dan mekanisme penyaluran dana TKDD juga turut mempengaruhi kinerja pendapatan dan belanja daerah. Selanjutnya, implementasi SIPD yang belum optimal juga turut menjadi faktor penghambat realisasi belanja daerah.  

PERKEMBANGAN INFLASI
Inflasi Provinsi NTT pada triwulan III 2021 tercatat sebesar 1,74% (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya yaitu sebesar 1,35% (yoy). Inflasi tersebut lebih   tinggi dibandingkan dengan inflasi Nasional yang sebesar 1,60% (yoy). Kenaikan tekanan inflasi terutama didorong oleh peningkatan harga komoditas makanan, minuman, & tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,45% (yoy).  

STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAERAH
Secara umum, stabilitas sistem keuangan di Provinsi NTT pada triwulan III 2021 masih terjaga. Hal ini tercermin dari ROA sebesar 3,81, tidak berubah dibandingkan triwulan sebelumnya. DPK terkontraksi sebesar 5,10% (yoy), terutama disebabkan penurunan giro pemerintah di tengah kinerja fiskal yang melemah, serta penurunan deposito rumah tangga. Penyaluran kredit tercatat tumbuh 9,14% (yoy), didorong oleh kinerja kredit modal kerja dan konsumsi yang kuat. Kredit investasi juga akhirnya mencatatkan pertumbuhan, setelah terus mengalami kontraksi di periode-periode sebelumnya. Tingkat risiko kredit masih terjaga, dengan NPL (gross) yang tercatat sebesar 1,69%.

PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Indikator sistem pembayaran di Provinsi NTT baik tunai maupun nontunai pada triwulan III 2021 secara umum menunjukkan adanya perbaikan, sejalan dengan pemulihan ekonomi dengan kebijakan adaptasi kebiasaan baru. transaksi tunai inflow dan outflow relatif menurun dengan inflow sebesar Rp1,09 triliun atau terkontraksi sebesar 16,78% (yoy) dan outflow sebesar Rp1,53 triliun atau terkontraksi sebesar 23,97% (yoy) sehingga menghasilkan kondisi net outflow sebesar Rp437.33 miliar. Secara umum, transaksi nontunai juga menunjukkan peningkatan, tercermin dari perbaikan kinerja pada transaksi SKNBI, RTGS, kartu ATM/Debit, kartu kredit dan maupun uang elektronik. Masa pandemi mendorong peningkatan transaksi secara elektronik di triwulan III yang tercatat sebesar Rp77,86 miliar atau tumbuh sebesar 599% (yoy).

KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Tingkat pengangguran terbuka di Provinsi NTT pada Agustus 2021 tercatat sebesar 3,77%, membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun demikian, terdapat 366 ribu pekerja yang masih terdampak oleh COVID-19. Nilai tukar petani (NTP) pada triwulan III 2021 tercatat masih rendah sebesar 95,34. Sementara itu, rasio kemiskinan di Provinsi NTT pada Maret 2021 tercatat sebesar 20,99%, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.


PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT pada tahun 2021 diperkirakan tumbuh positif dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2020. Kinerja Perekonomian Provinsi NTT pada tahun 2021 ditopang oleh peningkatan investasi dan perbaikan kinerja konsumsi masyarakat. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan diperkirakan didorong oleh akselerasi LU Perdagangan Besar dan Eceran seiring meningkatnya mobilitas masyarakat sampai dengan triwulan III 2021, meningkatnya kinerja LU Kontruksi sejalan dengan berlanjutnya proyek pemerintah, dan curah hujan yang lebih tinggi di tahun 2021 yang mendorong kinerja LU Pertanian. Pertumbuhan ekonomi pada keseluruhan tahun 2022 diprakirakan meningkat terutama bersumber dari meningkatnya optimisme masyarakat, meningkatnya kapasitas fiskal, dan akselerasi investasi

Inflasi Provinsi NTT pada tahun 2021 diperkirakan meningkat dibandingkan dengan dengan inflasi tahun sebelumnya. Inflasi Provinsi NTT diperkirakan meningkat terutama didorong oleh membaiknya permintaan domestik seiring dampak kebijakan PEN, peningkatan aktivitas ekonomi pasca vaksinasi, kenaikan tarif cukai rokok, wabah African Swine Flu, serta mobilitas yang meningkat. Tekanan Inflasi Provinsi NTT pada tahun 2022 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi NTT tahun 2021, terutama dipengaruhi oleh membaiknya permintaan domestik seiring peningkatan aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat, namun masih tetap berada dalam sasaran 3±1% (yoy).​



Lampiran
Kontak
​Contact Center BICARA: (62 21) 131, e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan BI Provinsi Nusa Tenggara Timur
Halaman ini terakhir diperbarui 12/6/2021 9:58 AM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga