EKONOMI MAKRO REGIONAL
Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT pada triwulan IV 2022 tercatat tumbuh sebesar 3,45% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan III 2022 sebesar 3,51% (yoy) dan lebih rendah dibandingkan dengan nasional yang tumbuh sebesar 5,02% (yoy). Deselerasi kinerja perekonomian NTT terutama disebabkan perlambatan konsumsi rumah tangga, kontraksi ekspor dan konsumsi Pemerintah. Dari sisi lapangan usaha (LU), kinerja perekonomian Provinsi NTT pada triwulan IV 2022 bersumber dari lapangan usaha utama yakni LU Pertanian, LU Perdagangan Besar dan Eceran, dan LU Administrasi Pemerintahan. Secara tahunan, perekonomian Provinsi NTT tahun 2022 mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,05% (yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 yang tumbuh sebesar 2,52% (yoy). Dari sisi ekspor, peningkatan yang terjadi sejalan dengan perluasan pembukaan pintu kedatangan internasional melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Di samping itu, meningkatnya aktivitas masyarakat sejalan dengan semakin terkendalinya kasus COVID-19 di Provinsi NTT menjadi faktor pendorong kinerja konsumsi rumah tangga secara keseluruhan. Sementara dari sisi LU, perbaikan kinerja ekonomi bersumber dari LU Pertanian, LU Perdagangan, dan LU Konstruksi. Pencabutan kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat, vaksinasi booster, percepatan pembangunan infrastruktur, serta curah hujan yang kondusif berdampak positif terhadap peningkatan kinerja LU secara keseluruhan.
KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
Realisasi total belanja pemerintah (APBD dan APBN) di Provinsi NTT pada tahun 2022 mencapai Rp45,55 Triliun, atau tumbuh 2,36% (yoy). Dibandingkan dengan target anggaran, nominal realisasi belanja tersebut mencapai 88,85%, atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar 86,60%. Peningkatan belanja tersebut terutama terjadi pada belanja APBN dan belanja APBD kabupaten/kota. Kemudian, realisasi pendapatan pemerintah sampai pada tahun 2022 juga tercatat tumbuh sebesar 0,82% (yoy). Realisasi anggaran pemerintah menjadi salah satu penopang perekonomian Provinsi NTT, sehingga dapat mendorong akselerasi pemulihan ekonomi.
PERKEMBANGAN INFLASI
Inflasi gabungan 3 kota IHK di Provinsi NTT pada triwulan IV 2022 tercatat sebesar 6,65% (yoy), melandai dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 6,97% (yoy), namun masih lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi Nasional sebesar 5,51% (yoy). Penurunan tekanan inflasi terutama didorong oleh penurunan inflasi pada kelompok komoditas transportasi, sebaliknya kenaikan harga pada kelompok komoditas makanan, minuman dan tembakau menjadi faktor pendorong tekanan inflasi di NTT.
Secara keseluruhan tahun 2022, inflasi gabungan Provinsi NTT tercatat meningkat dibandingkan dengan inflasi tahun 2021. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya tekanan inflasi pada kelompok komoditas transportasi dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Tingginya tekanan inflasi sepanjang tahun 2022 turut dipengaruhi oleh konflik geopolitik yang terjadi secara global sehingga menyebabkan disrupsi pada rantai pasok komoditas makanan dan energi. Lebih lanjut, inflasi Provinsi NTT pada triwulan I 2023 diprakirakan melandai dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, terutama disebabkan oleh normalisasi harga komoditas pasca kenaikan harga BBM. Meskipun demikian, kenaikan permintaan dan ekspektasi harga menjelang bulan Ramadhan dapat menjadi faktor pendorong inflasi.
STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAERAH
Secara umum, stabilitas sistem keuangan di Provinsi NTT pada tahun 2022 masih tetap terjaga. Hal ini tercermin dari kinerja fungsi intermediasi perbankan yang tetap tinggi, tercermin dari LDR yang mencapai 126,89%. DPK tercatat tumbuh sebesar 1,63% (yoy), didorong oleh perbaikan kinerja simpanan jenis tabungan dan deposito. Sementara itu, penyaluran kredit tumbuh sebesar 21,60% (yoy), terutama didorong oleh perbaikan kinerja kredit modal kerja yang tumbuh sebesar 44,28% (yoy). Tingkat risiko kredit masih terjaga, dengan NPL (gross) yang tercatat sebesar 1,21% atau berada di bawah level 5%. Perbaikan kinerja stabilitas sistem keuangan Provinsi NTT secara keseluruhan sejalan dengan pemulihan aktivitas ekonomi akibat pelonggaran kebijakan pembatasan oleh Pemerintah.
PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Indikator sistem pembayaran nontunai dan tunai terkontraksi pada triwulan IV 2022. Pada sistem pembayaran nontunai, transaksi BI-RTGS dan SKNBI mengalami kontraksi lebih dalam dibandingkan triwulan III 2022. Di sisi sistem pembayaran tunai, inflow dan outflow mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara keseluruhan tahun 2022, kinerja sistem pembayaran nontunai mengalami penurunan sementara sistem pembayaran tunai mengalami perbaikan. Perubahan sistem pembayaran nontunai tercermin dari nominal transaksi RTGS dan SKNBI yang terkontraksi. Dari sisi sistem pembayaran tunai, inflow dan outflow mengalami perbaikan dibandingkan tahun 2021.
KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Pada Agustus 2022, jumlah angkatan kerja di Provinsi NTT meningkat sebesar 3,42% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 3,02 juta orang, sedangkan pertumbuhan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun hingga 3,54%. Kondisi ketenagakerjaan terindikasi membaik, tercermin dari jumlah pekerja terdampak COVID-19 yang menurun dibandingkan periode Agustus 2021. Sementara itu, rasio kemiskinan di Provinsi NTT pada September 2022 juga tercatat sebesar 20,23%, menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selanjutnya, nilai tukar petani (NTP) pada triwulan IV 2022 tercatat masih rendah sebesar 95,81.
PROSPEK PEREKONOMIAN
Perekonomian Provinsi NTT pada keseluruhan tahun 2023 diprakirakan tumbuh pada kisaran 3,40% – 4,80% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2022. Dari sisi pengeluaran, akselerasi perekonomian Provinsi NTT ditopang oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga dan investasi, seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi pasca pencabutan kebijakan pembatasan, serta ditopang oleh berlanjutnya program vaksinasi. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan diperkirakan ditopang oleh perluasan program pemerintah yang mendorong kinerja LU Pertanian dan LU Perdagangan Besar dan Eceran sejalan dengan semakin terkendalinya laju penambahan kasus COVID-19. Namun demikian, pertumbuhan yang lebih tinggi sedikit tertahan akibat efek cuaca ekstrem yang melanda sejumlah kabupaten di Provinsi NTT yang berimbas pada terganggunya lalu lintas logistik. Selain itu, ancaman wabah virus African Swine Fever (ASF) yang menjangkiti ternak babi, juga dapat menjadi faktor penahan pertumbuhan yang lebih tinggi. Pertumbuhan ekonomi pada keseluruhan tahun 2023 diprakirakan terus meningkat terutama bersumber dari meningkatnya optimisme masyarakat, akselerasi investasi dan akmamin di tengah penyelenggaraan ASEAN Summit 2023 di Labuan Bajo, dan persiapan menyongsong tahun politik.
Tekanan inflasi Provinsi NTT pada tahun 2023 diprakirakan melandai dibandingkan dengan inflasi tahun dan diprakirakan kembali pada sasaran inflasi 3%±1% (yoy). Normalisasi inflasi tarif angkutan udara dan BBM setelah high-base effect di tahun 2022, serta harga Crude Palm Oil (CPO) maupun komoditas global lainnya yang mulai melandai menjadi faktor penahan laju inflasi. Selain itu, perluasan Kerja sama Antara Daerah (KAD), pengembangan Food Estate pada 3 lokasi di Provinsi NTT (Sumba Tengah, Belu, dan TTS), kemudian penguatan sinergi dan koordinasi kebijakan yang erat, melalui TPIP-TPID dalam pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) untuk menurunkan tekanan inflasi pada komoditas volatile food. Di sisi lain, pemulihan aktivitas dan permintaan masyarakat seiring dengan pandemi yang semakin terkendali dapat menjadi faktor pendorong inflasi pada tahun 2023.