Perkembangan Ekonomi Makro Daerah
Perekonomian Provinsi Lampung pada triwulan IV 2025 tumbuh meningkat sebesar 5,54% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (5,04% yoy), serta melampaui pertumbuhan Sumatera (4,54% yoy) dan nasional (5,39% yoy). Secara nominal, PDRB Lampung tercatat sebesar Rp131,95 triliun (ADHB) dan Rp74,24 triliun (ADHK 2010). Dari sisi permintaan, pertumbuhan terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang menguat seiring optimisme konsumen dan daya beli yang terjaga, serta investasi yang tetap tumbuh positif meski melambat akibat moderasi investasi nonbangunan. Konsumsi pemerintah terkontraksi sejalan dengan melambatnya realisasi pendapatan daerah. Dari sisi eksternal, kinerja net ekspor membaik meski masih dalam fase kontraksi, didorong peningkatan ekspor nonmigas pada beberapa komoditas olahan dan kontraksi impor terutama pada barang modal. Dari sisi sektoral, pertumbuhan didorong oleh penguatan LU Industri Pengolahan yang tumbuh 6,54% (yoy) serta LU Perdagangan Besar dan Eceran yang tumbuh 3,97% (yoy) didukung momentum HBKN Natal dan Tahun Baru. Sementara itu, LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tumbuh melambat menjadi 5,65% (yoy) seiring pergeseran musim tanam dan panen serta moderasi kinerja beberapa komoditas utama, meskipun tetap menjadi salah satu kontributor utama PDRB Lampung bersama Industri Pengolahan dan Perdagangan.
Keuangan Pemerintah
Realisasi Pendapatan Daerah pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar Rp28.515,08 miliar, menurun dibandingkan Rp30.914,82 miliar pada periode yang sama tahun 2024 atau terkontraksi 7,76% (yoy), terutama dipengaruhi perlambatan pada komponen transfer. Realisasi Belanja Daerah juga menurun menjadi Rp27.279,53 miliar dari Rp30.620,21 miliar pada triwulan IV 2024 atau terkontraksi 10,91% (yoy). Sementara itu, Penerimaan Pembiayaan Daerah meningkat 13,69% (yoy) menjadi Rp843,24 miliar, terutama didorong realisasi SiLPA sebesar Rp750,56 miliar. Di sisi lain, Pengeluaran Pembiayaan Daerah menurun 34,66% (yoy) menjadi Rp162,37 miliar seiring lebih rendahnya realisasi penyertaan modal daerah dan pembayaran cicilan pokok utang. Dari sisi APBN regional Lampung, realisasi Pendapatan Negara TA 2025 mencapai Rp11.872,59 miliar atau 107,98% dari target, tumbuh 6,85% (yoy), ditopang penerimaan perpajakan sebesar Rp10.297,78 miliar serta PNBP sebesar Rp1.574,81 miliar. Realisasi Belanja Negara tercatat Rp31.702,39 miliar atau 96,84% dari pagu, terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp9.507,73 miliar dan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp22.194,67 miliar.
Perkembangan Inflasi
Inflasi Provinsi Lampung pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 1,25% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (1,17% yoy) namun tetap lebih rendah dari nasional (2,92% yoy). Tekanan inflasi terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan dan komoditas hortikultura, sementara deflasi pada kelompok Pendidikan menahan kenaikan inflasi lebih lanjut. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 1,36% (yoy). Secara spasial, inflasi kabupaten/kota di Provinsi Lampung relatif lebih terkendali dibandingkan wilayah lain di Sumatera, dengan seluruh daerah sampel IHK mencatat inflasi di bawah tingkat nasional dan termasuk dalam kelompok inflasi terendah di Sumatera. Ke depan, inflasi pada triwulan I 2026 diprakirakan tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1%, meskipun berpotensi meningkat seiring normalisasi kebijakan yang sebelumnya menahan harga dan peningkatan permintaan pada periode HBKN, namun tetap terkendali didukung prospek panen hortikultura dan panen raya padi serta ekspektasi harga pelaku usaha yang menunjukkan moderasi.
Pembiayaan Daerah dan Pengembangan Akses Keuangan, serta UMKM
Kinerja pembiayaan pada triwulan IV 2025 tetap positif didukung oleh kuatnya sektor rumah tangga dan meningkatnya penyaluran kredit. Kredit konsumsi rumah tangga tumbuh 5,10% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (4,94% yoy), sejalan dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) rumah tangga yang mencapai Rp48,53 triliun atau 76,71% dari total DPK. Penyaluran kredit kepada sektor korporasi juga menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan 2,51% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (1,30% yoy). Sementara itu, kredit UMKM tetap tumbuh positif sebesar 1,47% (yoy) menjadi Rp32,58 triliun, meningkat dari triwulan III 2025 yang tumbuh 0,72% (yoy). Berdasarkan skala usaha, pertumbuhan kredit UMKM terjadi pada seluruh segmen mikro, kecil, dan menengah, dengan kredit UMKM kecil mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 16,19% (yoy), meski sedikit melandai dibandingkan triwulan sebelumnya.
Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Aliran uang kartal di Provinsi Lampung pada triwulan IV 2025 mencatat net outflow sebesar Rp0,93 triliun, sejalan dengan aktivitas ekonomi yang dinamis. Secara tahunan, outflow menurun 22,31% (yoy), lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat turun 2,64% (yoy). Dari sisi transaksi sistem pembayaran, transaksi melalui BI-RTGS terkontraksi 4,14% (yoy), sementara transaksi SKNBI juga mengalami kontraksi sebesar 9,31% (yoy). Di sisi lain, transaksi kartu ATM/Debit tetap tumbuh kuat sebesar 25,85% (yoy), meski lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya. Hingga Desember 2025, jumlah merchant QRIS di Provinsi Lampung mencapai 799.379 merchant dengan jumlah pengguna sebanyak 1.427.760, meningkat sejalan dengan perluasan digitalisasi sistem pembayaran di wilayah Lampung.
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Kondisi ketenagakerjaan Provinsi Lampung pada Semester II 2025 menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tercermin dari peningkatan jumlah penduduk bekerja menjadi 4,85 juta jiwa atau bertambah 65,79 ribu jiwa (1,37% yoy). Struktur ketenagakerjaan masih didominasi sektor informal sebesar 64,72%, sementara pekerja sektor formal tercatat 35,28% dan meningkat 4,42 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,21%, naik tipis 0,02 poin dibandingkan Semester II 2024. Di sisi kesejahteraan, rata-rata Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan IV 2025 meningkat menjadi 137,61 dari 129,96 pada triwulan sebelumnya dan 128,04 pada triwulan IV 2024. Sementara itu, jumlah penduduk miskin menurun 8,43% (yoy) menjadi 860,13 ribu jiwa dari 939,31 ribu jiwa pada Semester II 2024, dengan sebagian besar penduduk miskin masih berada di wilayah perdesaan.
Prospek Perekonomian
Prospek perekonomian global pada 2026–2027 diprakirakan tetap tumbuh moderat di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Berdasarkan World Economic Outlook (WEO) IMF Update Januari 2026, ekonomi global diprakirakan tumbuh 3,3% pada 2026 dan sedikit melambat menjadi 3,2% pada 2027. Sejalan dengan perkembangan tersebut, perekonomian Indonesia diprakirakan tetap terjaga dengan pertumbuhan sebesar 5,1% pada 2026 dan 2027. Di tingkat regional, perekonomian Provinsi Lampung pada 2026 diprakirakan tumbuh dalam kisaran 5,0–5,6% dan meningkat pada 2027 dalam kisaran 5,1–5,7%, didukung kinerja lapangan usaha utama serta penguatan permintaan domestik. Dari sisi sektoral, LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan diprakirakan tetap menjadi salah satu pendorong utama sejalan dengan program swasembada pangan dan peningkatan produktivitas. Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga dan investasi diperkirakan tetap kuat didukung terjaganya daya beli, kenaikan upah minimum, serta berlanjutnya pembangunan infrastruktur. Sementara itu, inflasi gabungan empat kabupaten/kota di Provinsi Lampung pada 2026–2027 diprakirakan tetap berada dalam sasaran 2,5±1%, didukung penguatan koordinasi TPIP–TPID dalam menjaga keterjangkauan harga dan ketersediaan pasokan melalui berbagai program pengendalian inflasi daerah.