Perkembangan Ekonomi Makro Daerah Ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) pada triwulan IV 2025 tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, sejalan dengan kinerja ekonomi nasional dan regional Kalimantan. Pertumbuhan ekonomi Kaltim tercatat sebesar 5,04% (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencatatkan realisasi sebesar 4,26% (yoy). Peningkatan pertumbuhan ekonomi Kaltim pada periode pelaporan didorong oleh menguatnya kinerja Lapangan Usaha (LU) Industri Pengolahan, Perdagangan, dan Pertambangan. Kinerja LU Industri Pengolahan tumbuh lebih tinggi, ditopang oleh peningkatan kapasitas produksi seiring beroperasinya sejumlah pabrik pengolahan baru di tahun 2025. LU Perdagangan juga menguat sejalan dengan meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru), didukung oleh meningkatnya aktivitas perdagangan, mobilitas masyarakat, dan kunjungan wisata. Sementara itu, LU Pertambangan mengalami peningkatan disebabkan oleh peningkatan kebutuhan energi dari negara mitra dagang seiring kondisi musim dingin yang terjadi. Di sisi lain, LU Konstruksi termoderasi seiring normalisasi progres pembangunan IKN pasca percepatan pada tahun sebelumnya. LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tetap tumbuh namun sedikit termoderasi, sejalan dengan melambatnya ekspor komoditas perkebunan dan perikanan pada periode pelaporan. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Kaltim ditopang oleh kinerja ekspor yang membaik serta konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga. Di sisi lain, pertumbuhan komponen pengeluaran pemerintah cenderung termoderasi seiring normalisasi belanja. Secara keseluruhan, penguatan sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertambangan mendorong pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan IV 2025 lebih kuat.
Keuangan Pemerintah di Daerah Kinerja fiskal Kaltim pada triwulan IV 2025 termoderasi dari sisi belanja, tercermin dari realisasi belanja pemerintah (APBN, APBD provinsi, dan APBD kabupaten/kota) yang secara tahunan terkontraksi sebesar 24,37% (yoy), dibandingkan dengan triwulan III 2025 yang terkontraksi sebesar 9,86% (yoy). Perkembangan belanja terutama dipengaruhi oleh dinamika realisasi pada APBN dan APBD kabupaten/kota. Sementara itu, APBD provinsi menunjukkan perbaikan yang ditopang oleh peningkatan komponen transfer dan belanja modal. Dari sisi pendapatan, realisasi pendapatan pemerintah pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 82,37% dari pagu, termoderasi dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024 yang mencapai pagu sebesar 95,87%. Secara struktur, belanja pemerintah di Kaltim masih didominasi oleh APBN, diikuti APBD kabupaten/kota dan APBD provinsi, sementara struktur pendapatan masih didominasi oleh pendapatan kabupaten/kota, diikuti APBN dan APBD provinsi.
Perkembangan Inflasi Daerah Inflasi Kaltim meningkat dibandingkan dengan realisasi triwulan sebelumnya namun masih terjaga dalam rentang target inflasi nasional. Inflasi Kaltim pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 2,68% (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan III 2025 yang sebesar 1,77% (yoy). Kondisi ini terjadi disebabkan oleh peningkatan tekanan harga komoditas bahan makanan serta harga emas perhiasan pada periode laporan. kondisi anomali cuaca berpengaruh terhadap penurunan produktivitas dan kelancaran distribusi beberapa komoditas pangan yang pada akhirnya mendorong tekanan harga kelompok ini. Namun demikian, laju inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan kelompok pakaian dan alas kaki. Secara spasial, kota sampel IHK Kaltim tertinggi terjadi di Kabupaten Ber au dengan realisasi sebesar 2,82% (yoy), serta terendah tercatat di Kabupaten Penajam Paser Utara sebesar 2,08% (yoy). Tren laju inflasi di seluruh Kabupaten/Kota tercatat meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya terkecuali Kabupaten Penajam Paser Utara.
Pembiayaan di Daerah serta Pengembangan Akses Keuangan dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kinerja fungsi intermediasi perbankan di Kaltim melanjutkan pertumbuhan positif dan meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Penyaluran kredit Kaltim pada triwulan IV 2025 tercatat tumbuh positif dan meningkat sebesar 3,39% (yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 2,37% (yoy). Perkembangan ini sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Kaltim, yang mengindikasikan bahwa penguatan pembiayaan perbankan turut mendukung peningkatan aktivitas usaha di daerah. Penyaluran kredit yang tumbuh positif turut didukung oleh risiko kredit yang terjaga rendah, tercermin dari rasio non performing loan (NPL) yang berada di bawah threshold 5%. Di tengah peningkatan pertumbuhan kredit secara umum, DPK Kaltim mengalami kontraksi yang mengindikasikan bahwa likuiditas perbankan cenderung lebih ketat di tengah meningkatnya penyaluran pembiayaan. Adapun inklusivitas keuangan Kaltim cenderung stabil, tercermin dari kredit UMKM yang mengalami perbaikan dan pembiayaan syariah melambat namun tetap berada pada tingkat risiko yang rendah.
Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah Transaksi sistem pembayaran di Kaltim melanjutkan tren peningkatan pada triwulan IV 2025, didorong oleh aktivitas ekonomi masyarakat yang masih terjaga. Hal ini tercermin dari pertumbuhan nominal transaksi yang melalui infrastruktur Bank Indonesia sebesar 15,04% (yoy) atau menjadi Rp121,14 triliun dan volume sebesar 6,14% (yoy) atau mencapai 26,93 juta transaksi. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh BI-FAST yang berkontribusi sekitar 53% terhadap total nominal transaksi dan tumbuh 1,52% (yoy). Kondisi inin menunjukkan peran yang semakin besar dalam transaksi ritel antarbank. Sementara itu, transaksi RTGS dan SKNBI secara nominal masing-masing terkontraksi 29,8% (yoy) dan 20,10% (yoy), mencerminkan penyesuaian komposisi penggunaan instrumen pembayaran. Pada instrumen ritel, QRIS mencatat pertumbuhan signifikan dengan kenaikan nominal 88% (yoy) dan volume 108% (yoy), menandakan perluasan akseptasi khususnya di sektor UMKM, sementara APMK tetap tumbuh 7,28% (yoy) dari sisi nominal dengan volume relatif stabil. Dari sisi transaksi tunai, aliran uang kartal pada triwulan IV 2025 berada pada posisi net outflow sebesar Rp5,23 triliun, dengan inflow Rp1,96 triliun dan outflow Rp7,18 triliun, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan uang tunai masyarakat di tengah aktivitas ekonomi yang tetap berlangsung.
Ketenagakerjaan dan kesejahteraan Kondisi ketenagakerjaan Kaltim termoderasi di tengah peningkatan pertumbuhan ekonomi di triwulan IV 2025. Meskipun pertumbuhan ekonomi di triwulan IV mengalami peningkatan, utamanya dari sektor industri pengolahan, hal belum berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja di Kaltim. Kondisi ini tercermin dari penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) serta peningkatan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Namun demikian, kondisi kesejahteraan masyarakat menunjukkan indikator lebih baik, terindikasi dari penurunan tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan.
Prospek Perekonomian Daerah Dinamika perekonomian global dan domestik masih diwarnai ketidakpastian pasar keuangan serta moderasi permintaan eksternal, khususnya komoditas batu bara. Di tengah tantangan tersebut, perekonomian Provinsi Kaltim pada 2026 diprakirakan tetap tumbuh dalam kisaran 4,50–5,30% (yoy), didorong oleh akselerasi pembangunan proyek pemerintah dan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta penguatan kinerja industri pengolahan. Namun demikian, pertumbuhan tertahan oleh perlambatan Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian seiring penurunan kuota produksi dan lemahnya permintaan ekspor dari negara mitra. Di sisi harga, inflasi tahunan Kaltim pada 2026 diprakirakan tetap berada dalam koridor target 2,5±1% (yoy), didukung stabilitas nilai tukar, terkendalinya tekanan inflasi global, serta penguatan sinergi pengendalian inflasi melalui TPID guna menjaga stabilitas harga komoditas utama di daerah.
|