PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO KALIMANTAN SELATAN
Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan IV 2025 tetap tumbuh solid sebesar 5,46% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2025 yang tumbuh sebesar 5,20% (yoy). Di sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada triwulan IV 2025 didorong pertumbuhan LU Pertanian dan perbaikan kinerja LU Pertambangan. Peningkatan LU Petanian didorong oleh peningkatan produksi padi yang tercatat tumbuh 36,31% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2025 yang hanya tumbuh 4,09% (yoy), dampak masifnya program swasembada pangan berupa Optimasi Lahan (Oplah) yang berdampak positif pada volume dan jumlah panen padi triwulan IV 2025. Disisi lain, melandainya produksi Tandan Buah Segar (TBS) dan karet alam menjadi penahan peningkatan kinerja LU Pertanian yang lebih tinggi. Hal ini turut berdampak pada terbatasnya bahan baku industri makan-minum (CPO & turunannya), industri kimia (biodiesel) dan industri karet yang selanjutnya menjadi penahan pertumbuhan LU Industri Pengolahan dan LU Perdagangan. Sementara itu, LU Pertambangan mencatatkan perbaikan kinerja, tumbuh lebih tinggi setelah mengalami kontraksi pertumbuhan selama 3 (tiga) triwulan berturut–turut. Perbaikan kinerja sektor pertambangan seiring dengan membaiknya permintaan batu bara di triwulan IV 2025.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan IV 2025 didorong oleh pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga, PMTB dan Ekspor meski tertahan oleh perlambatan kinerja Konsumsi Pemerintah. Peningkatan kinerja Konsumsi Rumah Tangga didorong peningkatan mobilitas dan kegiatan rekreasi masyarakat pada HBKN Nataru dan pelaksanaan peringatan Haul Guru Sekumpul yang didukung pemberian diskon transportasi oleh pemerintah. Kinerja PMTB mengalami peningkatan, utamanya didorong oleh investasi mesin dan peralatan untuk hilirisasi di KI/KEK Kalimantan Selatan sebagai persiapan commissioning produksi di triwulan IV 2025. Sementara itu, peningkatan ekspor yang lebih tinggi didorong oleh peningkatan ekspor komoditas batu bara, olahan bijih besi dan komoditas yang tergabung dalam HS 16 (a.l daging, ikan, krustasea, dan moluska).
KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
Secara agregat, realisasi pendapatan daerah di Kalimantan Selatan hingga triwulan IV 2025 lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Total realisasi pendapatan daerah Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan tercatat sebesar Rp47,02 triliun atau 107,86% dari pagu, lebih rendah dibandingkan realisasi triwulan IV 2024 yang tercatat sebesar Rp47,64 triliun atau 105,94% dari pagu. Penurunan realisasi pendapatan daerah ini bersumber dari penurunan komponen Pendapatan Transfer Pemerintah Pusat ke Daerah yang terkontraksi sebesar 6,47% (yoy) pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, serta penurunan pada komponen Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah di tingkat provinsi.
Dari sisi belanja, realisasi Belanja Daerah Pemerintah Provinsi serta Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan hingga triwulan IV 2025 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Realisasi belanja agregat tercatat sebesar Rp44,44 triliun atau 83,73% dari pagu tahun 2025, lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2024 yang mencapai Rp43,83 triliun atau 87,41% dari pagu. Peningkatan tersebut utamanya didorong oleh komponen Belanja Pegawai yang mengalami peningkatan dari Rp10,78 triliun pada 2024 menjadi Rp11,72 triliun pada 2025 (8,73%, yoy).
PERKEMBANGAN INFLASI
Secara tahunan, inflasi Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 3,66% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan III 2025 sebesar 2,91% (yoy).
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi pada triwulan IV 2025 didorong oleh peningkatan tekanan inflasi pada kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya (andil 1,63%, yoy); kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (andil 1,22%, yoy); kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran Realisasi inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional sebesar 2,92% (yoy) dan lebih tinggi dibandingkan historis inflasi Provinsi Kalimantan Selatan selama tiga tahun terakhir sebesar 3,65% (yoy). Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi pada triwulan IV 2025 terutama didorong oleh kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil sebesar 1,63% (yoy). Selanjutnya kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (andil 1,22%, yoy); kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran (andil 0,27%, yoy); kelompok Pendidikan (andil 0,14%, yoy); kelompok Kesehatan (andil 0,12%, yoy); kelompok Transportasi (andil 0,11%, yoy); dan kelompok Pakaian dan Alas Kaki (andil 0,10%, yoy). Di sisi lain, kelompok Rekreasi, Olahraga, dan Budaya tidak mengalami perubahan inflasi (andil 0,00%, yoy). Sedangkan, kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan tercatat mengalami deflasi dengan andil sebesar -0,03% (yoy).
Pada Februari 2026, inflasi di Provinsi Kalimantan Selatan lebih tinggi dibandingkan dengan Desember 2025. Inflasi di Provinsi Kalimantan Selatan pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,97% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Desember 2025 dengan inflasi sebesar 3,66% (yoy). Dengan perkembangan pada bulan Februari 2026, tekanan inflasi tahunan Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan I 2026 diprakirakan lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan IV 2025. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga diprakirakan meningkat dibandingkan triwulan IV 2025 didorong faktor base effect dampak kebijakan diskon tarif listrik pada tahun 2025. Selanjutnya tekanan inflasi pada kelompok Transportasi diprakirakan meningkat bersumber dari peningkatan permintaan masyarakat seiring momen HBKN Ramadan dan Idul Fitri 1447 H. Memperhatikan perkembangan terkini dan risiko inflasi ke depan, secara keseluruhan inflasi Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2026 diprakirakan tetap berada dalam rentang target inflasi Nasional 2,5±1%
PEMBIAYAAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN & USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM)
Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan IV 2025 yang positif turut didukung peningkatan fungsi intermediasi perbankan yang tumbuh solid, walaupun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Kredit perbankan tumbuh positif sebesar 5,88% (yoy) dengan outstanding Rp108,33 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III 2025 yang tumbuh 13,36% (yoy) dengan outstanding Rp106,43 triliun; serta diikuti dengan kualitas kredit yang baik, tecermin dari NPL yang terjaga pada level 2,14%.
Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan IV 2025 yang positif turut didukung pertumbuhan fungsi intermediasi perbankan yang solid. Kredit perbankan tumbuh positif sebesar 5,88% (yoy) dengan outstanding Rp108,33 triliun, namun lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III 2025 yang tumbuh 13,36% (yoy) dengan outstanding Rp106,43 triliun; serta diikuti dengan kualitas kredit yang baik, tecermin dari NPL yang terjaga pada level 2,14%.
Kredit Konsumsi pada triwulan IV 2025 dengan outstanding sebesar Rp35,69 triliun, tumbuh 5,96% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,01% (yoy) dengan outstanding sebesar Rp35,16 triliun, sejalan dengan Indeks Ekspektasi masih dalam rentang optimis. Berdasarkan distribusinya, Kredit Multiguna memiliki pangsa sebesar 42,93%, kredit kepemilikan rumah (KPR) sebesar 37,86% dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) sebesar 7,03% serta Kredit Konsumsi lainnya meliputi Kredit Ruko/Rukan, Epartemen, dan Elektronik sebesar 12,10%.
Penyaluran Kredit Korporasi pada triwulan IV 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 6,24% (yoy) dengan outstanding senilai Rp53,81 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 21,67% (yoy) dengan outstanding senilai Rp52,13 triliun. Melambatnya pertumbuhan pada Kredit Korporasi terutama bersumber dari melambatnya penyaluran pembiayaan korporasi pada LU Pertambangan (dengan proporsi terbesar mencapai 53,39% dari Kredit Korporasi) yang tumbuh 4,90% (yoy) dengan outstanding senilai Rp29,18 triliun, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 44,89% (yoy) dengan outstanding senilai Rp28,10 triliun.
Pada triwulan IV 2025, Kredit UMKM di Kalimantan Selatan terkontraksi 4,29% (yoy) dengan outstanding senilai Rp22,85 triliun, menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 0,73% (yoy) dengan outstanding senilai Rp23,15 triliun. Pangsa kredit UMKM terhadap total kredit pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 21,09%, lebih rendah dibandingkan dengan pangsa pada triwulan sebelumnya sebesar 21,75%.
PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Transaksi BI-RTGS pada Transaksi BI-RTGS pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp47,27 triliun atau tumbuh 0,39% (yoy), menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 43,01% (yoy) atau sebesar Rp50,02 triliun (Grafik 5.1). Penurunan tersebut sejalan dengan aktivitas perdagangan besar yang menurun tercermin dari LU Perdagangan Besar dan Eceran pada triwulan IV 2025 tumbuh sebesar 7,73% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya 7,98% (yoy). Nominal transaksi SKNBI tercatat sebesar Rp5,21 triliun atau tumbuh sebesar 5,21% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,49% (yoy) atau sebesar Rp4,49 triliun. (Grafik 5.2). Peningkatan SKNBI seiring dengan semakin masifnya transaksi ritel selama HBKN Natal dan Tahun Baru serta Haul Guru Sekumpul sepanjang triwulan IV 2025.
Transaksi belanja menggunakan kartu ATM/debit pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar Rp1,09 triliun atau kontraksi 2,44% (yoy), lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang kontraksi 3,17% (yoy) atau sebesar Rp1,04 triliun. Peningkatan transaksi APMK sejalan dengan peningkatan LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum pada triwulan IV 2025 yang tumbuh 13,83% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 9,69% (yoy) seiring dengan peningkatan konsumsi masyarakat selama HBKN Natal dan Tahun Baru serta Haul Guru Sekumpul.
Dari sisi transaksi tunai, aliran uang kartal melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan mengalami net outflow sebesar Rp2,64 triliun. Kondisi tersebut berbeda dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami net inflow sebesar Rp0,13 triliun (Grafik 5.3). Kondisi net outflow pada triwulan IV 2024 sejalan dengan pola historis kebutuhan uang kartal yang meningkat pada momen HBKN Nataru dan libur akhir tahun serta pergesaran penyelenggaraan Haul Guru Sekumpul yang berlangsung pada Desember 2025.
Perkembangan elektronifikasi dan digitalisasi terus mengalami peningkatan, tecermin dari peningkatan jumlah merchant yang telah memiliki QRIS di Kalimantan Selatan yang tumbuh sebesar 30,01% (yoy) atau mencapai 536,46 ribu merchant. Sementara itu, Kalimantan Selatan mampu mempertahankan pencapaian skor Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (IETPD) pada Semester II 2025 dengan status 100% digital.
KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Kondisi ketenagakerjaan Provinsi Kalimantan Selatan pada semester II 2025 berada pada level yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan semester II 2024. Meskipun demikian Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kalimantan Selatan menurun sejalan dengan peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Berdasarkan lapangan usaha (LU), penyerapan tenaga kerja di Provinsi Kalimantan Selatan pada November 2025 didominasi oleh sektor Pertanian, Perdagangan, Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum, serta Industri Pengolahan. LU Pertanian menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan pangsa 28,77% dengan peningkatan tenaga kerja hingga 39,72 ribu orang dibandingkan Agustus 2025.
Optimisme daya beli masyarakat pada triwulan IV 2025 masih terjaga, meskipun mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini tercermin dari Indeks Penghasilan Konsumen saat ini yang tercatat sebesar 119,44, lebih rendah dibandingkan 125,38 pada triwulan IV 2024. Pada tahun 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Kalimantan Selatan tercatat sebesar 76,10, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 75,19. Peningkatan IPM Kalimantan Selatan bersumber dari peningkatan seluruh dimensi umur panjang dan hidup sehat (UHH), serta pengetahuan yakni Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) serta standar hidup layak (pengeluaran per kapita).
PROSPEK PEREKONOMIAN KALIMANTAN SELATAN
Perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2026 diprakirakan tetap tumbuh positif pada kisaran 5,0% – 5,8% (yoy).
Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi diprakirakan didorong oleh berlanjutnya kinerja positif LU Pertanian, Industri Pengolahan, dan LU Perdagangan,ditopang oleh program swasembada pangan, peningkatan aktivitas investasi dan produksi di KI/KEK serta permintaan domestik yang masih tetap kuat sejalan dengan kenaikan UMP dan program ekonomi kerakyatan (a.l MBG dan KDKMP) yang diprakirakan lebih akseleratif di tahun 2026. Dari sisi pengeluaran, kinerja ekonomi Kalimantan Selatan ditopang oleh peningkatan kinerja Konsumsi Rumah Tangga, PMTB dan Ekspor. Kinerja Konsumsi RT diprakirakan tumbuh positif sejalan dengan daya beli masyarakat yang masih tumbuh kuat seiring program ekonomi kerakyatan (a.l MBG dan KDKMP), stimulus perekonomian dan ketersediaan lapangan pekerjaan yang lebih baik. PMTB diprakirakan tumbuh lebih tinggi seiring dengan aktivitas produksi dan hilirisasi yang diprakirakan meningkat. Hal tersebut diprakirakan turut mendorong peningkatan kinerja Ekspor.
Secara keseluruhan 2026, inflasi Provinsi Kalimantan Selatan diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2025 dan berada dalam rentang sasaran 2,5±1% (yoy). Menurunnya tekanan inflasi pada keseluruhan tahun 2026 dapat dilihat melalui sisi penawaran yang dipengaruhi oleh meningkatnya luasan lahan pertanian seiring implementasi program Optimasi Lahan (Oplah) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR). Selanjutnya, prospek cuaca yang didominasi oleh fase netral juga diprakirakan meningkatkan produksi bahan makanan. Lebih lanjut, pasokan minyak mentah dunia yang dimiliki oleh negara-negara OPEC+ yang mengalami oversupply diprakirakan menurunkan harga bahan bakar.