Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Kinerja ekonomi Jawa Timur pada triwulan IV 2025 tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, kinerja ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,85% (yoy), setelah pada triwulan III 2025 tumbuh sebesar 5,22% (yoy). Lebih tingginya perekonomian Jawa Timur didorong oleh akselerasi konsumsi rumah tangga dan ekspor, serta membaiknya konsumsi pemerintah. Kenaikan konsumsi rumah tangga pada triwulan laporan disokong oleh pertumbuhan pada komponen makanan minuman, dan barang budaya serta rekreasi seiring dengan hari besar keagamaan nasional (HBKN) Natal dan Tahun baru (Nataru) pada periode laporan. Selain itu, peningkatan transaksi nontunai dan perdagangan melalui platform e-commerce juga memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Sementara itu, kenaikan belanja Pemerintah didorong oleh realisasi belanja pegawai APBN di Jawa Timur, belanja barang jasa APBD se – Jawa Timur, dan belanja bansos. Lebih lanjut, akselerasi perdagangan antardaerah serta peningkatan ekspor luar negeri (LN) beberapa komoditas utama merefleksikan perbaikan kinerja ekspor triwulan IV 2025, di tengah perlambatan impor. Peningkatan konsumsi rumah tangga, net ekspor, dan konsumsi pemerintah didukung oleh peningkatan kinerja lapangan usaha (LU) Industri Pengolahan, Perdagangan, Pertanian dan Akomodasi Makan Minum.
Pertumbuhan lebih tinggi tertahan terutama disebabkan oleh kinerja investasi yang melandai. Perlambatan investasi utamanya pada komponen bangunan seiring sejumlah proyek strategis yang telah memasuki tahap finalisasi. Dari sisi LU, perlambatan juga tecermin pada kinerja LU Konstruksi, yang turut menunjukkan moderasi sejalan dengan melambatnya aktivitas investasi pada periode tersebut.
Kinerja perekonomian Jawa Timur yang membaik pada triwulan IV tahun 2025 mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur keseluruhan tahun 2025 lebih tinggi. Ekonomi Jawa Timur pada tahun 2025 tumbuh 5,33% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 sebesar 4,93% (yoy). Akselerasi ekonomi Jawa Timur ditunjang oleh peningkatan kinerja konsumsi rumah tangga, investasi, dan net ekspor. Dari sisi penawaran, percepatan kinerja ekonomi Jawa Timur pada tahun 2025 terutama ditopang oleh kinerja LU Industri Pengolahan, LU Pertanian, dan LU Penyediaan Akomodasi Makan Minum sejalan dengan akselerasi konsumsi rumah tangga dan net ekspor. Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2025 yang lebih tinggi tertahan oleh perlambatan konsumsi pemerintah seiring pembatasan belanja daerah. Hal ini berimplikasi terhadap perlambatan beberapa LU utama khususnya LU Perdagangan dan LU Konstruksi.
Asesmen Keuangan Pemerintah Daerah
Pendapatan APBD Jawa Timur secara agregat tahun 2025 mengalami kontraksi akibat penurunan Pendapatan Transfer yang dampaknya signifikan karena mendominasi 63,33% struktur pendapatan daerah. Meski Pendapatan Asli Daerah (PAD) tumbuh melalui implementasi skema opsen pajak dan penguatan digitalisasi fiskal (ETPD), peningkatan ini cenderung bersifat reposisi anggaran ke tingkat kabupaten/kota yang belum menjamin pemerataan kapasitas fiskal antarwilayah. Di tengah tantangan kepatuhan wajib pajak dan dinamika daya beli, optimalisasi basis penerimaan baru melalui kinerja BUMD/BLUD dan potensi pajak kendaraan listrik menjadi strategi untuk memitigasi ketergantungan pada pajak kendaraan konvensional serta menjaga resiliensi fiskal daerah secara berkelanjutan.
Realisasi belanja Pemerintah di Jawa Timur tahun 2025 ditopang oleh pertumbuhan positif Belanja Pegawai. Belanja Pegawai mendominasi struktur belanja sebesar 48,40% yang digunakan untuk pembayaran THR, gaji ke-13, serta penambahan personel Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga. Namun, secara agregat belanja mengalami kontraksi akibat penurunan Belanja Barang (36,97%) dan Belanja Modal (14,00%) sebagai dampak base effect pasca-Pemilu 2024 serta kebijakan efisiensi anggaran. Meskipun terjadi penurunan nominal pada level APBN dan APBD kabupaten/kota, kualitas belanja tetap terjaga melalui penguatan jaring pengaman sosial dan capaian program strategis nasional seperti Program Kesehatan Gratis (PKG) dan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menempati posisi tiga besar nasional. Akselerasi penyerapan anggaran yang terkonsentrasi pada semester II, didukung oleh relaksasi fiskal dan kebijakan pembukaan blokir anggaran, memastikan belanja Pemerintah tetap menjadi penopang solid bagi pertumbuhan ekonomi daerah di tengah tantangan efisiensi fiskal.
Asesmen Inflasi Daerah
Inflasi Provinsi Jawa Timur pada akhir triwulan IV 2025 tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan III 2025, namun masih terjaga dalam rentang sasaran nasional 2,5 ± 1,0% (yoy). Inflasi pada triwulan laporan sebesar 2,93% (yoy) atau meningkat dari triwulan sebelumnya yang tercatat 2,53% (yoy). Tekanan inflasi dipengaruhi oleh (i) kenaikan harga komoditas hortikultura akibat terbatasnya pasokan dari wilayah sentra produksi pangan strategis, (ii) kenaikan permintaan bahan pokok strategis di tengah masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, (iii) dinamika curah hujan yang tinggi pada periode November dan Desember mengganggu hasil panen (iv) Harga Emas pada akhir triwulan IV tercatat mencapai level tertinggi sepanjang tahun 2025 seiring dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global dan motif berjaga-jaga sebagian masyarakat. Berdasarkan kelompok pengeluaran, meningkatnya tekanan inflasi Jawa Timur pada periode laporan didorong oleh (i) kelompok makanan, minuman, dan tembakau; (ii) kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya; (iii) kelompok transportasi; serta (iv) kelompok kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Adapun, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menjadi kelompok penahan inflasi pada triwulan IV 2025. Selain itu, stimulus ekonomi Pemerintah melalui program diskon tiket transportasi pada masa libur Natal dan Tahun Baru 2026 juga dapat menekan lonjakan tarif angkutan udara pada triwulan IV 2025.
Inflasi Provinsi Jawa Timur pada triwulan I 2026 diprakirakan lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan IV 2025 serta akan tetap dalam rentang sasaran target inflasi nasional 2,5 ± 1% (yoy). Prakiraan meningkatnya inflasi pada triwulan I 2026 didorong oleh momen Ramadhan, Imlek, dan Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri 1447 Hijriah. Peningkatan permintaan terhadap bahan pokok strategis akan meningkat seiring dengan kebutuhan masyarakat dalam menyambut Idulfitri, namun di sisi lain risiko gagal panen yang diakibatkan oleh curah hujan akan berdampak pada tekanan harga yang lebih tinggi. Lebih lanjut, penyesuaian tarif diskon listrik juga akan berdampak terhadap tingkat inflasi sepanjang triwulan I, khususnya pada kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga. Harga emas dunia diprakirakan masih dalam tren peningkatan seiring eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mempengaruhi sentimen investor. Namun, stimulus ekonomi yang diterapkan oleh Pemerintah berupa tarif diskon moda transportasi serta PPN DTP, diprakirakan dapat menjaga inflasi kelompok transportasi tetap stabil.
Di sisi lain, TPID Jawa Timur terus mengimplementasikan strategi 4K TPIP secara konsisten. Dari aspek keterjangkauan harga, upaya dilakukan melalui optimalisasi Etalase Pengendalian Inflasi Kabupaten/Kota (EPIK) di Jawa Timur, penyelenggaraan pasar murah, serta penyaluran beras dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebagai komoditas utama yang dibutuhkan masyarakat agar tetap dapat diakses dengan harga terjangkau. Dari sisi ketersediaan pasokan, penguatan dilakukan melalui pemanfaatan Cadangan Beras Pemerintah, program peningkatan produktivitas pertanian baik on-farm maupun off-farm, penguatan kelembagaan melalui korporasi petani, serta dukungan sarana dan prasarana ketahanan pangan oleh Bank Indonesia Jawa Timur. Selanjutnya, kelancaran distribusi dijaga melalui kerja sama intra dan antarprovinsi serta pemanfaatan truk EPIK Mobile untuk mendistribusikan beras Jatim Cettar ke Toko EPIK Surabaya dan beberapa kota lain di Jawa Timur. Sementara itu, aspek komunikasi efektif antar pemangku kepentingan di Jawa Timur diwujudkan melalui penyelenggaraan High Level Meeting (HLM) dan digitalisasi monitoring harga sebagai langkah menjaga stabilitas harga di daerah.
Pembiayaan Daerah dan Pengembangan UMKM
Kinerja intermediasi perbankan pada triwulan IV 2025 tetap solid, ditopang oleh pertumbuhan kredit yang berlanjut dengan risiko kredit yang terkendali. Penghimpunan DPK tetap mencatatkan pertumbuhan, meskipun dengan laju yang lebih moderat dibandingkan triwulan sebelumnya, sejalan dengan kecenderungan korporasi menahan likuiditas untuk memperkuat buffer likuiditas akibat ketidakpastian global yang berlanjut, di tengah kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga kecukupan likuiditas perbankan. Di sisi lain, DPK Rumah Tangga tetap tumbuh positif, terutama ditopang oleh peningkatan komponen tabungan. Penyaluran kredit tetap mencatatkan pertumbuhan positif seiring terjaganya likuiditas perbankan kendati dalam tren melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, baik pada segmen korporasi maupun rumah tangga. Pertumbuhan penyaluran kredit korporasi terkontraksi seiring masih berlangsungnya preferensi internal financing bagi korporasi di tengah melambatnya kinerja kredit industri pengolahan dan perdagangan, kendati suku bunga kredit yang terus menunjukkan penurunan secara gradual. Sementara itu, pada momentum HBKN libur Natal-Tahun Baru penyaluran kredit rumah tangga tetap tumbuh positif meskipun melambat. Hal ini seiring adanya preferensi masyarakat menggunakan dana pribadi untuk konsumsi jangka pendek dan menurunnya minat pada barang tahan lama, tecermin dari penurunan KPR, KPA, dan KKB, di tengah suku bunga stabil meskipun BI Rate berada dalam tren penurunan. Lebih lanjut, tingkat intermediasi perbankan pada triwulan laporan terpantau optimal, tecermin dari rasio LDR bank umum sebesar 91,08% yang sejalan dengan acuan rentang intermediasi optimal 84%-94% dalam ketentuan Rasio Intermediasi Makroprudensial Bank Indonesia.
Ketahanan perbankan di Jawa Timur tetap terjaga, tecermin dari menurunnya risiko kredit dan likuiditas yang masih berada dalam batas aman. Secara agregat, risiko kredit di Jawa Timur pada triwulan laporan masih terjaga dalam batas aman yang tecermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 3,23%, turun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,37%. Sementara itu, dari sisi permodalan, CAR terpantau meningkat ke level 31,38% pada triwulan IV 2025, jauh di atas ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan minimum sebesar 8%, menunjukkan bahwa bank memiliki ketahanan yang baik dalam menghadapi potensi risiko ke depan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Asesmen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran
Kinerja sistem pembayaran di Jawa Timur pada triwulan IV 2025 meningkat signifikan, didorong oleh lonjakan aktivitas konsumsi, industri, dan perdagangan selama periode Natal dan Tahun Baru. Kebutuhan uang tunai tercatat net-outflow, khususnya di pusat ekonomi seperti Surabaya dan Malang. Transaksi transfer dana besar melalui RTGS, SKNBI, BI-FAST, APMK, serta UE meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, aktivitas pembayaran dan belanja menggunakan QRIS dan APMK juga meningkat sejalan dengan peningkatan aktivitas konsumsi rumah tangga. Transaksi perdagangan valuta asing di Jawa Timur juga tercatat meningkat, didorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara selama libur akhir tahun dan banyaknya masyarakat Jawa Timur yang melakukan perjalanan ke luar negeri. Lebih lanjut, rata-rata nilai per transaksi pada mayoritas instrumen pembayaran nontunai meningkat pada triwulan IV 2025, menjadi indikasi bahwa sistem pembayaran di Jawa Timur tetap stabil dan terpelihara.
Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur terus didukung melalui akselerasi digitalisasi pembayaran, penguatan kampanye Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah, serta pemenuhan ULE hingga ke wilayah terpencil. Transformasi digital diakselerasi melalui perluasan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) serta inovasi layanan nontunai yang lebih efisien di seluruh wilayah. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia konsisten meningkatkan literasi masyarakat melalui kampanye nasional CBP Rupiah dan memperkuat integritas mata uang dengan langkah preventif, preemtif, serta represif dalam menekan peredaran uang palsu melalui kolaborasi lintas instansi. Guna menjaga kedaulatan rupiah di wilayah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T), program Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) terus dijalankan untuk menjamin ketersediaan ULE. Melalui berbagai inisiatif strategis ini, Bank Indonesia berkomitmen mewujudkan sistem pembayaran yang efisien, inklusif, dan aman, guna mendukung stabilitas sektor keuangan serta pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang berkelanjutan.
Asesmen Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Masyarakat
Ketenagakerjaan Jawa Timur pada November 2025 secara struktural mengalami peningkatan dibandingkan Agustus 2025. Peningkatan kondisi ketenagakerjaan tersebut tecermin dari penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) disertai peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Perbaikan tersebut secara umum ditopang oleh peningkatan tenaga kerja bekerja sejalan dengan peningkatan jumlah tenaga kerja formal maupun informal, serta peningkatan penyerapan tenaga kerja pada LU Pertanian, Perdagangan, Industri Pengolahan, dan Akomodasi Makan Minum seiring tumbuhnya aktivitas ekonomi pada sektor tersebut. Jumlah tenaga kerja berpendidikan rendah hingga menengah meningkat, namun sebagian disertai kenaikan TPT, menunjukkan daya serap yang belum optimal. Sebaliknya, tenaga kerja berpendidikan tinggi menurun seiring turunnya tingkat penganggurannya, antara lain karena bukan periode kelulusan dan relatif lebih baiknya penyerapan tenaga kerja terdidik.
Kesejahteraan masyarakat Jawa Timur pada September 2025 terpantau meningkat. Peningkatan kesejahteraan masyarakat tecermin dari penurunan jumlah penduduk pra-sejahtera di Jawa Timur pada September 2025 dibandingkan Maret 2025 dan September 2024 yang diiringi dengan penurunan tingkat kesenjangan ekonomi. Perbaikan tingkat kesejahteraan didukung oleh pertumbuhan ekonomi Jawa Timur hingga triwulan III 2025 yang tumbuh positif, penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2025 dibandingkan Agustus 2024, konsumsi rumah tangga yang tumbuh meningkat pada triwulan III 2025,iInflasi IHK Jawa Timur yang terjaga di sasaran inflasi nasional 2,5%±1%, serta peningkatan NTP pada triwulan III 2025. Lebih lanjut, perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat di Jawa Timur turut didukung oleh adanya program peningkatan kesejahteraan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Kesejahteraaan masyarakat pedesaan mengalami perbaikan seiring dengan kenaikan harga komoditas hortikultura, hasil ternak, dan perikanan. NTP meningkat dari 115,05 pada triwulan III 2025 menjadi 118,96 pada triwulan IV 2025. Hal tersebut ditopang oleh peningkatan harga sayuran, seperti selada dan tomat, cabai rawit, dan bawang merah seiring penurunan volume produksi. Lebih lanjut, peningkatan permintaan komoditas hasil ternak, seperti daging dan telur, serta komoditas perikanan sejalan dengan peningkatan produksi dan peningkatan permintaan pada momen Nataru dan untuk memenuhi kebutuhan program MBG memicu peningkatan NTP pada triwulan laporan.
Prospek Ekonomi dan Inflasi Tahun 2026
Kinerja ekonomi Jawa Timur pada tahun 2026 diprakirakan mengalami perbaikan dibandingkan tahun 2025 ditopang oleh permintaan domestik dan eksternal, dengan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran. Kinerja ekonomi Jawa Timur pada tahun 2026 diprakirakan berada di kisaran 4,9%-5,7% (yoy), meningkat dibandingkan tahun 2025. Dari sisi permintaan, solidnya kinerja ekonomi Jawa Timur diprakirakan didukung oleh prakiraan perbaikan konsumsi swasta, investasi, serta ekspor. Dari sisi penawaran, sejalan dengan prospek perbaikan konsumsi swasta dan investasi, kinerja LU Perdagangan dan LU Industri Pengolahan di Jawa Timur pada tahun 2026 diprakirakan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sisi eksternal, prospek perekonomian global masih kondusif khususnya prospek peningkatan permintaan beberapa mitra dagang utama Jawa Timur tersebut diprakirakan mengakselerasi kinerja ekspor LN dan investasi nonbangunan pada tahun 2026. Lebih lanjut, kinerja LU Konstruksi pada tahun 2026 diprakirakan lebih tinggi dibandingkan tahun 2025 sejalan dengan berlanjutnya realisasi proyek infrastruktur Pemerintah dan swasta, akselerasi pembangunan kawasan industri (KI) dan kawasan ekonomi khusus (KEK), serta dampak lanjutan berbagai kebijakan dan program strategis Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah tahun 2025 yang mulai sepenuhnya terealisasi pada 2026.
Inflasi Jawa Timur pada 2026 diprakirakan berada dalam rentang sasaran inflasi nasional yaitu sebesar 2,5%±1% (yoy). Inflasi yang terkendali ditopang oleh tetap tingginya ketersediaan pasokan di Jawa Timur, khususnya bahan pokok strategis seperti beras, bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit seiring dengan prakiraan cuaca yang mendukung proses produksi. Selanjutnya, dukungan program strategis Pemerintah yang berfokus pada penguatan ketahanan pangan nasional dalam bentuk kebijakan dan/atau stimulus juga akan mendorong terjaganya inflasi daerah. Komunikasi efektif melalui penguatan serta akselerasi kebijakan dan program pengendalian inflasi yang dilakukan oleh TPIP dan TPID akan tetap berlanjut untuk mendukung sasaran inflasi berada dalam rentang 2,5%±1% (yoy).