Asesmen Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Masyarakat Secara umum, kondisi ketenagakerjaan pada Agustus 2021 relatif menurun dibandingkan Februari 2021 tercermin dari peningkatan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari 5,18% pada Februari 2021 menjadi 5,73%, meskipun Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) meningkat dari 69,75% menjadi 70,00%. Berdasarkan tingkat pendidikan, terdapat penurunan tenaga kerja pada tingkat pendidikan yang ditamatkan mulai dari SD, SMP, dan Diploma I/II/III, sementara tingkat pendidikan yang ditamatkan SMA, SMK, dan Universitas mengalami peningkatan tenaga kerja. Meskipun demikian, pada triwulan IV 2021, berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, kondisi penyerapan tenaga kerja terindikasi mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya sejalan dengan perbaikan ekonomi Jawa Timur pada triwulan laporan. Pada September 2021, jumlah penduduk pra-sejahtera Jawa Timur menurun, dengan tingkat kemiskinan 10,59%, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 11,46%. Penurunan jumlah penduduk pra-sejahtera di Jawa Timur secara umum dipengaruhi oleh semakin terkendalinya kasus Covid-19 dan akselerasi vaksinasi Covid-19 di Jawa Timur pada tahun 2021 dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, kesejahteraaan masyarakat pedesaan yang direpresentasikan dengan Nilai Tukar Petani (NTP) meningkat pada triwulan IV 2021. NTP meningkat dari 100,58 pada triwulan III 2021 menjadi 101,22 pada triwulan IV 2021, didorong oleh subsektor tanaman pangan, tanaman hortikultura, peternakan, dan perikanan. Perkembangan tersebut sejalan dengan peningkatan kinerja LU Pertanian di Jawa Timur. Sementara itu, kesejahteraan kelompok nelayan yang tercermin dari Nilai Tukar Nelayan (NTN) menurun dari 104,15 pada triwulan III 2021 menjadi 102,61 pada triwulan IV 2021 akibat penurunan hasil tangkapan ikan yang disebabkan oleh faktor cuaca yang kurang mendukung. Prospek Ekonomi dan Inflasi Tahun 2021 dan 2022 Perekonomian Jawa Timur pada tahun 2022 diprakirakan mengalami akselerasi dibandingkan tahun 2021 sejalan dengan tren perbaikan ekonomi global dan domestik. Kinerja ekonomi Jawa Timur pada tahun 2022 diprakirakan berada di kisaran 5,0% - 5,8% (yoy), meningkat dibandingkan tahun 2021 yang tumbuh sebesar 3,6% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada 2022 diprakirakan membaik didorong oleh mobilitas yang terus meningkat sejalan dengan akselerasi vaksinasi Covid-19, kinerja ekspor yang tetap kuat, pembukaan sektor-sektor prioritas yang semakin luas, stimulus kebijakan yang berlanjut, serta masih berlanjutnya penyelesaian proyek-proyek yang terdapat dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Peraturan Presiden No.80 Tahun 2019. Tren peningkatan kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia pada Februari 2022, termasuk di Jawa Timur, yang berdampak pada reaktivasi pembatasan mobilitas masyarakat berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2022. Meskipun demikian, langkah cepat Pemerintah Pusat dan Daerah dalam menangani hal tersebut, terutama melalui sosialisasi upaya preventif dan kuratif Covid-19 serta sosialisasi kebijakan pembatasan mobilitas yang terstruktur berdasarkan indikator kesehatan dan ekonomi diprakirakan mampu menekan dampak negatif peningkatan kasus Covid-19 terhadap perekonomian domestik. Sementara itu, Inflasi IHK Jawa Timur diprakirakan kembali meningkat pada tahun 2022 dibandingkan tahun 2021 sejalan dengan potensi berlanjutnya perbaikan permintaan domestik yang ditopang oleh akselerasi vaksinasi Covid-19 yang mendorong semakin luasnya pembukaan sektor-sektor ekonomi produktif. Hal tersebut berimplikasi pada kenaikan mobilitas masyarakat dan mendorong peningkatan permintaan, khususnya untuk kebutuhan sekunder dan tersier. Kondisi tersebut diprakirakan berdampak pada peningkatan inflasi IHK Jawa Timur, khususnya untuk kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau; Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran; Pakaian dan Alas Kaki; Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar; Transportasi; dan Pendidikan. Meskipun demikian dengan koordinasi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah, inflasi diprakirakan tetap terjaga di sasaran inflasi nasional 3,0%±1% (yoy). |