Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Kinerja ekonomi Jawa Timur pada triwulan II 2025 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,23% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2025 yang tumbuh sebesar 5,00% (yoy). Akselerasi kinerja ekonomi Jawa Timur terutama ditopang oleh peningkatan investasi dan ekspor pada periode laporan. Lebih tingginya investasi pada triwulan laporan ditopang oleh komponen nonbangunan, maupun bangunan. Kenaikan investasi komponen nonbangunan tecermin dari perbaikan pertumbuhan impor barang modal, khususnya pada komoditas mesin dan peralatan. Sementara, peningkatan investasi komponen bangunan didorong oleh berlanjutnya pembangunan proyek strategis pemerintah dan swasta. Lebih lanjut, kenaikan kinerja ekspor disokong oleh ekspor luar negeri (LN), khususnya komoditas logam mulia dan perhiasan, lemak minyak, kayu, serta produk kimia. Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang meningkat juga disumbang oleh konsumsi rumah tangga (RT) dan konsumsi pemerintah, meskipun keduanya tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan I 2025. Moderasi konsumsi RT pada triwulan laporan disebabkan oleh normalisasi permintaan masyarakat pasca momen Imlek, Ramadhan, dan Idulfitri sehingga menahan pembelian barang tahan lama. Sementara itu, penurunan konsumsi pemerintah utamanya dipengaruhi oleh terkontraksinya realisasi belanja operasi K/L APBN di Jawa Timur, serta lebih rendahnya belanja operasi APBD Provinsi, belanja operasi APBD Kabupaten/Kota Jawa Timur, belanja bantuan sosial APBN di Jawa Timur, dan belanja bantuan sosial APBD Provinsi Jawa Timur pada triwulan II 2025
Dari sisi lapangan usaha (LU), lebih tingginya kinerja perekonomian terutama didukung oleh peningkatan LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan, LU Konstruksi, serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum. Kenaikan investasi dan ekspor pada triwulan laporan berdampak pada lebih tingginya kinerja LU Konstruksi dan LU Industri Pengolahan. Lebih tingginya kinerja ekspor dan penjualan eceran turut menyokong perbaikan kinerja LU Perdagangan pada triwulan II 2025. Sementara, kenaikan pertumbuhan LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum seiring dengan peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), kembali normalnya tingkat penghunian kamar hotel berbintang, serta penjualan eceran komponen makanan minuman yang meningkat. Sementara itu, LU Pertanian tumbuh melambat seiring berakhirnya panen raya padi dan perlambatan kinerja produksi cabai merah pada triwulan II 2025.
Asesmen Keuangan Pemerintah Daerah
Total realisasi Pendapatan APBD Jawa Timur hingga triwulan II 2025 mengalami penurunan terutama didorong oleh penurunan PAD pada APBD Provinsi Jawa Timur. Total realisasi pendapatan daerah Provinsi Jawa Timur triwulan II 2025 mencapai Rp62,97 triliun, turun 1,70% (yoy) dibandingkan dengan realisasi triwulan II 2024 yang tercatat sebesar Rp64,05 triliun. Untuk mendorong pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mengoptimalkan penerimaan dari sektor pajak maupun non-pajak. Pada sektor pajak, upaya yang ditempuh meliputi penguatan sinergi antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota se-Jawa Timur dalam penyiapan opsen pajak, perluasan digitalisasi transaksi penerimaan daerah, peningkatan sosialisasi kepatuhan pajak, pemberian relaksasi berupa pembebasan denda terutama menjelang akhir tahun, serta pemanfaatan teknologi untuk mengidentifikasi potensi pajak baru. Sementara itu, pada sektor non-pajak, optimalisasi terus dilakukan melalui peningkatan kontribusi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan pemanfaatan idle asset menjadi aset produktif. Ke depan, implementasi kebijakan insentif berupa pembebasan sanksi administrasi dan pajak kendaraan bermotor, sesuai Keputusan Gubernur No.100.3.3.1/400/013/2025 yang memperpanjang keringanan dasar pengenaan PKB dan BBNKB, diprakirakan menjadi akselerator pendapatan daerah Provinsi Jawa Timur pada Triwulan III 2025.
Kinerja belanja pemerintah menunjukkan penurunan sejalan dengan penurunan pada seluruh komponen belanja. Realisasi belanja pemerintah di Provinsi Jawa Timur hingga triwulan II 2025 tercatat sebesar Rp127,78 triliun, kontraksi 12,43% dibandingkan realisasi triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp145,92 triliun. Penurunan realisasi belanja terutama disebabkan oleh penurunan pada seluruh komponen belanja, meliputi belanja daerah, belanja operasi, dan belanja modal. Meskipun proses lelang dan kontrak untuk belanja modal pada bidang jalan, irigasi, dan jaringan yang mendukung program swasembada pangan pemerintah telah selesai, realisasi fisik dan pencairan dana pada periode ini masih belum optimal. Selain itu, penyaluran Dana Bagi Hasil, DAU, dan DAK Non Fisik dari pemerintah pusat meningkat, namun belum seluruhnya terealisasi menjadi belanja. Lebih lanjut, pemerintah daerah terus melaksanakan upaya untuk meningkatkan realisasi belanja, antara lain melalui pembayaran gaji ke-13 kepada 1.257 satuan kerja, termasuk adanya kenaikan tunjangan kinerja, pembayaran tunjangan pendidik Non PNS dan pembayaran gaji dan tunjangan PPPK, yang turut memberikan kontribusi signifikan terhadap realisasi belanja pegawai
Asesmen Inflasi Daerah
Inflasi Provinsi Jawa Timur pada akhir triwulan II 2025 tercatat sebesar 2,02% (yoy), mengalami kenaikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,77% (yoy). Kenaikan inflasi ini didorong oleh (i) kenaikan harga emas dunia seiring masih tingginya ketidakpastian perekonomian global yang tertransmisi pada harga emas perhiasan domestik; (ii) dinamika pasokan komoditas bahan pangan seiring berakhirnya periode panen raya untuk komoditas padi serta pengaruh bergesernya pola tanam dan kondisi musim kemarau basah untuk komoditas hortikultura, khususnya cabai rawit; serta (iii) transmisi kenaikan harga jual eceran berbagai macam sigaret atas dasar PMK Nomor 96 dan 97 Tahun 2024 yang berlaku per 1 Januari 2025. Meskipun demikian, kenaikan inflasi ini masih ditahan oleh beberapa hal antara lain (i) penurunan beberapa harga komoditas strategis seiring penurunan harga input seperti daging ayam ras seiring penurunan harga jagung dunia dan peningkatan pasokan seiring realisasi impor seperti bawang putih; (ii) penurunan harga BBM non-subsidi domestik seiring penurunan harga minyak dunia; (iii) upaya pengendalian inflasi yang merupakan bentuk sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) seluruh Jawa Timur melalui implementasi program pada pilar 4K yang terintegrasi. Berdasarkan kelompok pengeluaran, meningkatnya tekanan inflasi Jawa Timur pada triwulan II 2025 didorong oleh inflasi pada (i) kelompok makanan, minuman, dan tembakau; (ii) kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, (iii) kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; dan (iv) kelompok transportasi. Adapun peningkatan inflasi lebih lanjut pada triwulan ini ditahan oleh kelompok informasi komunikasi dan jasa keuangan.
Inflasi Provinsi Jawa Timur pada triwulan III 2025 diprakirakan meningkat dibandingkan triwulan II 2025, namun masih dalam rentang sasaran nasional 2,5± 1%. Potensi meningkatnya tekanan inflasi pada triwulan III 2025 sejalan dengan (i) prakiraan kenaikan harga komoditas global non-energi, khususnya emas; (ii) kenaikan harga beras seiring meningkatnya harga gabah di penggilingan; (iii) dimulainya tahun ajar baru 2025/2026 yang mendorong kenaikan biaya sekolah; dan (iv) normalisasi tarif komoditas angkutan (kereta, pesawat, dan kapal) pasca penerapan kebijakan stimulus ekonomi pada bulan Juni - Juli 2025. Upaya pengendalian inflasi di Jawa Timur akan terus diperkuat didukung oleh sinergi program pengendalian inflasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) seluruh Jawa Timur dan koordinasi erat dengan tim pengendalian inflasi pusat (TPIP) termasuk implementasi program Gerakan Nasional Inflasi Pangan (GNPIP).
Pembiayaan Daerah dan Pengembangan UMKM
Kinerja intermediasi perbankan tetap solid di triwulan II 2025, tecermin dari kinerja penyaluran kredit yang tumbuh positif disertai dengan kualitas kredit yang terjaga. Kinerja penghimpunan DPK juga terpantau tumbuh meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya didorong oleh sektor korporasi seiring meningkatnya arus kas dari kinerja ekspor yang kuat, serta preferensi korporasi dalam membangun buffer likuiditas di tengah ketidakpastian global. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) Rumah Tangga (RT) tumbuh melambat seiring penggunaan dana untuk kebutuhan harian dan pergeseran preferensi investasi masyarakat ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi di tengah tren penurunan suku bunga. Sejalan dengan terjaganya likuiditas perbankan, kinerja penyaluran kredit terpantau masih tumbuh positif kendati melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, baik di sektor korporasi maupun RT. Perlambatan kredit korporasi dipengaruhi oleh perbaikan arus kas yang mengurangi kebutuhan Kredit Modal Kerja (KMK), serta strategi manajemen risiko yang lebih konservatif di tengah eskalasi ketidakpastian global. Sementara itu, perlambatan kredit RT seiring dengan normalisasi pola konsumsi pasca HBKN Idulfitri, preferensi masyarakat untuk memanfaatkan dana sendiri termasuk sisa THR untuk konsumsi jangka pendek, serta lebih rendahnya minat terhadap barang tahan lama yang tecermin pada penurunan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). Lebih lanjut, tingkat intermediasi perbankan pada triwulan laporan terpantau optimal, tecermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 91,75% yang sejalan dengan acuan rentang intermediasi optimal 84% - 94% dalam ketentuan Rasio Intermediasi Makroprudensial Bank Indonesia.
Ketahanan perbankan di Jawa Timur terjaga, terindikasi dari risiko kredit dan likuiditas yang masih berada dalam batas aman. Secara agregat, risiko kredit di Jawa Timur pada triwulan II 2025 masih terjaga dalam batas aman yang tecermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 3,26%, kendati meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,02%. Sementara itu, dari sisi permodalan, CAR terpantau meningkat ke level 29,12% pada triwulan II 2025, jauh di atas ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan minimum sebesar 8%, menunjukkan bahwa bank memiliki ketahanan yang baik dalam menghadapi potensi risiko ke depan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Asesmen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran
Pada triwulan II 2025, aktivitas sistem pembayaran termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya seiring normalisasi konsumsi pasca momen Imlek, Nyepi, Ramadhan, dan HBKN Idulfitri. Permintaan uang tunai menurun, tecermin dari pergeseran posisi dari net-outflow pada triwulan sebelumnya menjadi net-inflow. Selaras dengan perlambatan konsumsi rumah tangga, transaksi tunai maupun nontunai mengalami penurunan, termasuk penggunaan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) dan Uang Elektronik (UE), serta transaksi e-commerce yang melambat. Meskipun demikian, penggunaan kartu kredit dalam APMK yang meningkat di tengah pertumbuhan kredit yang melambat pada triwulan laporan.
Sementara itu, di tengah kinerja sistem pembayaran melalui transfer RTGS dan BI-FAST secara nominal mengalami kontraksi, rata-rata nilai per transaksinya meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Kondisi ini sejalan dengan akselerasi aktivitas ekonomi pada sektor utama, khususnya LU Industri Pengolahan dan Perdagangan. Transaksi perdagangan valuta asing di Jawa Timur tercatat mengalami peningkatan seiring perbaikan kinerja LU Akomodasi serta Makan dan Minum yang didorong oleh lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara pada musim liburan dan penyelenggaraan sejumlah event berskala nasional dan internasional di Jawa Timur pada periode laporan, antara lain Traditional Music International Festival, Malang Flower Carnival, Festival Nasional Reog, dan Eksotika Bromo, yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan mancanegara. Selain itu, volume transaksi QRIS di Jawa Timur tercatat meningkat signifikan pada periode laporan, mencerminkan percepatan adopsi pembayaran digital di masyarakat, baik oleh pelaku usaha maupun konsumen. Peningkatan ini didorong oleh kemudahan transaksi, perluasan jaringan merchant, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap sistem pembayaran nontunai, dan selaras dengan akselerasi aktivitas ekonomi, khususnya di sektor perdagangan, jasa, dan UMKM.
Bank Indonesia terus berinovasi dalam mengadaptasi teknologi untuk layanan keuangan, salah satunya melalui pengembangan QRIS Tap dan perluasan ETPD melalui Elektronifikasi Bantuan Sosial Nontunai (BSNT). Pada triwulan II 2025, proses penyaluran BSNT tumbuh melambat akibat peralihan skema dari tunai menjadi nontunai yang memerlukan waktu. Meski demikian, proporsi penyaluran nontunai tetap mendominasi, sejalan dengan kebijakan elektronifikasi bantuan sosial yang terus didorong pemerintah. Ke depan, jika seluruh penerima telah memiliki rekening nontunai, penyaluran bantuan akan semakin mudah, sehingga komitmen pemerintah untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan inklusi keuangan dapat lebih optimal terwujud. Lebih lanjut, Bank Indonesia juga selalu menggalakkan kampanye nasional Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah yang disinergikan dengan berbagai mitra strategis untuk menjaga integritas Rupiah.
Asesmen Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Masyarakat
Kesejahteraan masyarakat Jawa Timur pada Maret 2025 terpantau meningkat dibandingkan September 2024 dan Maret 2024. Peningkatan kesejahteraan masyarakat tecermin dari penurunan jumlah penduduk pra-sejahtera di Jawa Timur pada Maret 2025 dibandingkan September 2024 dan Maret 2024 yang diiringi dengan penurunan tingkat kesenjangan ekonomi. Perbaikan tingkat kesejahteraan didukung oleh pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang tumbuh positif, penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), konsumsi rumah tangga yang tumbuh, inflasi yang terjaga di sasaran, serta adanya program peningkatan kesejahteraan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Kesejahteraaan masyarakat pedesaan mengalami perbaikan seiring dengan kenaikan harga gabah, peningkatan produksi tebu di tengah peningkatan harga gula, peningkatan permintaan kopi, serta kenaikan penerimaan ternak besar dan kecil. NTP meningkat dari 111,61 pada triwulan I 2025 menjadi 112,39 pada triwulan II 2025. Hal tersebut ditopang oleh peningkatan harga gabah di tingkat petani seiring mulai berkurangnya produksi pasca panen raya di triwulan I 2025 dan April 2025. Lebih lanjut, peningkatan produksi tebu yang diiringi kenaikan rata – rata harga gula, peningkatan permintaan kopi, serta peningkatan indeks harga yang diterima ternak besar dan kecil memicu peningkatan NTP pada triwulan laporan.
Pada triwulan II 2025, kondisi ketenagakerjaan di Jawa Timur terpantau tetap kuat, terutama pada LU Konstruksi, Transportasi Pergudangan, Informasi Komunikasi, dan Real Estate. Berdasarkan Survei Kondisi Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia Jawa Timur, penyerapan tenaga kerja meningkat di sektor Konstruksi, Transportasi dan Pergudangan, Informasi dan Komunikasi, serta Real Estate. Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan positif PDRB di sektor-sektor tersebut pada triwulan II 2025.
Prospek Ekonomi dan Inflasi Tahun 2025
Sejalan dengan ekonomi nasional, perekonomian Jawa Timur pada tahun 2025 diprakirakan tetap tumbuh positif yang ditopang oleh permintaan domestik dan eksternal, dengan tingkat inflasi yang terkendali pada kisaran target. Kinerja ekonomi Jawa Timur pada tahun 2025 diprakirakan tumbuh pada kisaran 4,7% - 5,5% (yoy). Dari sisi pengeluaran, kinerja ekonomi Jawa Timur diprakirakan didukung oleh tetap terjaganya konsumsi RT, dan pertumbuhan investasi, serta ekspor yang lebih solid. Dari sisi LU, kinerja LU Pertanian pada tahun 2025 diprakirakan akan lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 sejalan dengan prospek cuaca yang lebih mendukung produksi pangan. Lebih lanjut, kinerja LU Industri Pengolahan dan LU Perdagangan di Jawa Timur pada tahun 2025 diprakirakan tetap tumbuh positif. Dari sisi eksternal, prospek perbaikan perekonomian beberapa mitra dagang utama Jawa Timur, khususnya Kawasan Eropa dan Jepang, diperkirakan juga dapat mendukung kinerja ekspor Jawa Timur dan menjaga tingkat optimisme dunia usaha terhadap perekonomian di Jawa Timur. Hal tersebut diprakirakan selain menjadi faktor pendorong kinerja ekspor LN, juga akan mendorong investasi nonbangunan di Jawa Timur pada tahun 2025.
Inflasi Jawa Timur pada tahun 2025 diprakirakan berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5%±1% (yoy). Prospek tersebut ditopang oleh prakiraan cuaca yang lebih kondusif sehingga mendukung penguatan produktivitas komoditas pangan, dukungan program prioritas Pemerintah yang berfokus pada ketahanan pangan, serta terjangkaunya harga komoditas energi domestik seiring prakiraan harga komoditas energi global yang stabil cenderung melandai. Lebih lanjut, berbagai kebijakan pengendalian inflasi yang dilakukan oleh TPIP dan TPID, termasuk program GNPIP, diprakirakan turut mendukung tingkat inflasi IHK Jawa Timur di kisaran sasaran inflasi 2,5%±1% (yoy).