Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Kinerja ekonomi Jawa Timur pada triwulan I 2022 mengalami perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya, sejalan dengan tren perkembangan perekonomian di wilayah Jawa. Pada triwulan laporan, kinerja ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,20% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 4,59% (yoy). Perbaikan kinerja dari sisi permintaan didorong oleh lebih tingginya pertumbuhan konsumsi Rumah Tangga (RT), konsumsi pemerintah, serta ekspor luar negeri. Secara umum, pelonggaran kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagai implikasi percepatan vaksinasi Covid-19 dan penurunan laju penyebaran COVID-19 varian Omicron pada akhir triwulan I 2022, mendorong perbaikan aktivitas ekonomi masyakarat dan aktivitas sektor ekonomi produktif di Jawa Timur. Hal tersebut pada gilirannya turut meningkatkan permintaan domestik yang tercermin dari lebih tingginya pertumbuhan konsumsi RT pada triwulan I 2022 dibandingkan triwulan IV 202. Kenaikan permintaan domestik dan global sebagai implikasi dari dibukanya kembali sektor-sektor ekonomi produktif sejalan dengan percepatan vaksinasi Covid-19, penurunan kasus Covid-19 varian Omicron pada akhir triwulan I 2022 serta pelonggaran kebijakan PPKM menjadi faktor pendorong utama perbaikan kinerja LU.
Dari sisi penawaran, mayoritas Lapangan Usaha (LU) di Jawa Timur, termasuk LU Industri Pengolahan, LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, serta LU Transportasi dan Pergudangan, mengalami perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Kinerja pertumbuhan LU utama Industri Pengolahan dan LU Penyediaan Akomodasi dan Makanan Minuman mengalami kenaikan dibandingkan triwulan IV 2021, sementara kinerja pertumbuhan LU Perdagangan, LU Pertanian, dan LU Konstruksi melambat pada triwulan I 2022. Lebih lanjut, LU Transportasi dan Pergudangan mengalami peningkatan yang signifikan pada triwulan laporan dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan pertumbuhan pada mayoritas LU di Jawa Timur didorong oleh berlanjutnya aktivitas sektor-sektor ekonomi yang semakin membaik. Percepatan vaksinasi Covid-19 serta masih berlanjutnya stimulus kebijakan seperti insentif pembiayaan pada UMKM dan korporasi, serta fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) yang dapat meringankan pembiayaan bagi pelaku industri turut mendorong perbaikan kinerja LU utama di Jawa Timur.
Asesmen Inflasi Daerah
Inflasi IHK Jawa Timur pada triwulan I 2022 tercatat sebesar 3,04% (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2021 yang tercatat 2,45% (yoy). Kenaikan inflasi ini sejalan dengan kinerja ekonomi Jawa Timur pada triwulan I 2022 yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan inflasi tahunan Jawa Timur pada triwulan laporan terutama didorong oleh kenaikan harga kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau; Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya; Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran; Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga; Transportasi; dan Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga. Lebih tingginya inflasi kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga bahan pokok, diantaranya cabai rawit, cabai merah, minyak goreng, dan telur ayam ras. Peningkatan harga cabai rawit dan cabai merah terutama disebabkan oleh penurunan kuantitas dan kualitas panen akibat tingginya intensitas hujan di daerah sentra produksi pada triwulan laporan.
Pada triwulan II 2022, inflasi IHK Jawa Timur diperkirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2022 dan diperkirakan berada di atas sasaran inflasi 3,0%±1% (yoy). Kenaikan tekanan inflasi ini diperkirakan bersumber dari dampak normalisasi kebijakan moneter akomodatif yang lebih cepat di beberapa negara maju yang meningkatkan risiko nilai tukar dan potensi imported inflation, eskalasi konflik geopolitik antar Rusia – Ukraina yang turut memicu kenaikan harga komoditas energi dan pangan dunia, serta penyesuaian tarif energi domestik salah satunya Pertamax serta tariff PPN 11% yang berlaku sejak April 2022.
Asesmen Keuangan Pemerintah Daerah
Anggaran Belanja Pemerintah Daerah secara agregat di Jawa Timur tahun 2022 mencapai Rp134,26 triliun, dengan realisasi sampai dengan triwulan I 2022 sebesar 9,28% terhadap pagu anggaran. Anggaran Belanja tersebut menurun -5,36% (yoy) dibandingkan anggaran pasca perubahan tahun 2021. Dari nominal tersebut, 78,06% atau Rp104,81 triliun merupakan APBD Kabupaten/Kota dan sisanya 21,94% atau Rp Rp29,46 triliun merupakan APBD Provinsi Jawa Timur.
Sampai dengan triwulan I 2022 total realisasi belanja daerah mencapai 9,28% dari pagu anggaran atau lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2021 (7,93%). Realisasi ini tercatat baik pada belanja APBD provinsi maupun pada APBD Kabupaten/ Kota. Namun demikian, realisasi pada APBD Provinsi tercatat 9,43%, lebih tinggi dibandingkan realisasi APBD Kabupaten/Kota yang sebesar 9,24% dari pagu anggaran.
Pembiayaan Daerah dan Pengembangan UMKM
Ketahanan sektor korporasi dan rumah tangga Jawa Timur masih terjaga sejalan dengan perbaikan kinerja ekonomi dan pembiayaan LU utama di Jawa Timur pada triwulan I 2022. Kinerja sektor korporasi dan rumah tangga terpantau meningkat sejalan dengan akselerasi di hampir seluruh LU utama di Jawa Timur. Pertumbuhan kredit korporasi terpantau meningkat pada periode laporan didorong oleh peningkatan kebutuhan pembiayaan korporasi sejalan dengan membaiknya permintaan domestik dan global. Akselerasi vaksinasi Covid-19 berimplikasi pada pembukaan sektor-sektor industri produktif sehingga kegiatan ekonomi mengalami normalisasi dan konsumsi meningkat. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan ekspor LN dan akselerasi pertumbuhan Konsumsi RT Jawa Timur pada triwulan I 2022 yang lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2021. Perbaikan kinerja ekonomi juga didukung oleh peningkatan penyaluran kredit di Jawa Timur pada triwulan laporan dibandingkan triwulan sebelumnya, baik kepada korporasi maupun RT. Sementara itu, pertumbuhan DPK Korporasi RT mengalami penurunan. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan kegiatan operasional usaha dan konsumsi rumah tangga. Lebih lanjut, masuknya momen HBKN Ramadhan dan Idul Fitri pada triwulan II 2022 juga mendorong terjadinya peningkatan konsumsi RT. Kondisi pertumbuhan kredit yang lebih akseleratif dibandingkan dengan pertumbuhan DPK berimplikasi pada meningkatnya intermediasi perbankan di Jawa Timur. Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan di Jawa Timur pada triwulan I 2022 tercatat 86,39%, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 85,08%.
Risiko kredit perbankan di Jawa Timur pada triwulan I 2022 masih berada dalam batas aman dan terpantau melanjutkan tren perbaikan. Risiko kredit perbankan di Jawa Timur sebagaimana tercermin dari Non Performing Loan (NPL) terpantau menurun dari 3,89% menjadi 3,82% (berdasarkan lokasi proyek) dan menurun dari 4,05% menjadi 3,85% (berdasarkan lokasi bank) dengan dukungan risiko likuiditas yang cenderung rendah.
Asesmen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran
Pada triwulan I 2022, pergerakan inflow (uang masuk) dan outflow (uang keluar) di Jawa Timur dalam posisi net-inflow sebesar Rp7,28 triliun, mengalami penurunan net-inflow dibandingkan triwulan I 2021, sementara pada triwulan IV 2021 mengalami net-outflow. Hal ini sejalan dengan adanya peningkatan inflow serta penurunan outflow pada triwulan I 2022 dibandingkan triwulan sebelumnya. Masyarakat cenderung untuk menyimpan uangnya di bank, yang terkonfirmasi dengan peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) Rumah Tangga (RT) yang mengalami peningkatan dari 4,15% (yoy) menjadi 4,37% (yoy) pada triwulan laporan, terutama pada komponen Tabungan yang mengalami peningkatan dari 9,75% (yoy) menjadi 10,67%(yoy) pada triwulan laporan.
Transaksi nontunai melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan pembayaran menggunakan kredit tanpa kartu menurun pada triwulan I 2022. Transaksi pembayaran melalui BI-RTGS menurun dibandingkan triwulan sebelumnya, sejalan dengan preferensi masyarakat yang cenderung menyimpan dananya, pasca peningkatan penggunaan di akhir tahun yang bertepatan dengan momen HBKN Natal dan Tahun Baru. Di sisi lain, transaksi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKN-BI) juga menunjukkan penurunan sebesar -14,38% (qtq) menjadi Rp69,00 triliun, sementara nominal transaksi pembayaran menggunakan kartu (Kartu debit, ATM, dan Kartu Kredit) meningkat sebesar 67,91% (qtq) menjadi Rp246,13 triliun. Begitu pula halnya dengan Layanan Pembayaran secara nontunai atas transaksi e-commerce yang turut meningkat dibandingkan triwulan IV 2021 yang sebagian besar pembayarannya dilakukan melalui transfer bank. Hal ini mengindikasikan meningkatnya preferensi masyarakat dalam bertransaksi secara nontunai di masa pemulihan pasca pandemi.
Asesmen Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Masyarakat
Secara umum, kondisi kesejahteraan Jawa Timur pada triwulan I 2022 menunjukkan peningkatan terbatas dibandingkan triwulan IV 2021 tercermin dari peningkatan kesejahteraan petani dan penurunan jumlah penduduk pra-sejahtera sejalan dengan perbaikan ekonomi Jawa Timur pada periode laporan. Kondisi ketenagakerjaan Jawa Timur pada Februari 2022 juga menunjukkan peningkatan dibandingkan Agustus 2021 yang tercermin dari penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Peningkatan tersebut ditopang oleh perbaikan ekonomi Jawa Timur seiring percepatan vaksinasi Covid-19 dan aktivitas sektor ekonomi produktif yang melanjutkan perbaikan di triwulan I 2022. Pada triwulan I 2022, berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, serapan tenaga kerja terindikasi mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya sejalan dengan peningkatan kinerja ekonomi Jawa Timur.
Kondisi ketenagakerjaan pada Februari 2022 meningkat dibandingkan Agustus 2021 ditopang oleh perbaikan ekonomi Jawa Timur seiring percepatan vaksinasi Covid-19 dan aktivitas sektor ekonomi produktif yang melanjutkan perbaikan di triwulan I 2022. Peningkatan kondisi ketenagakerjaan tersebut tercermin dari penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari 5,73% pada Agustus 2021 menjadi 4,82%, dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) meningkat dari 69,99% menjadi 70,98%. Berdasarkan tingkat pendidikannya, terdapat peningkatan jumlah tenaga kerja pada tingkat pendidikan yang ditamatkan mulai dari SD, SMP, dan Universitas, sementara tingkat pendidikan yang ditamatkan SMK dan Diploma I/II/III cenderung stabil, serta tingkat pendidikan yang ditamatkan SMA mengalami penurunan tenaga kerja dibandingkan Agustus 2021.
Prospek Ekonomi dan Inflasi Tahun 2021 dan 2022
Perekonomian Jawa Timur pada tahun 2022 diprakirakan terakselerasi dibandingkan tahun 2021, sejalan dengan tren perbaikan ekonomi global dan domestik. Kinerja ekonomi Jawa Timur pada tahun 2022 diprakirakan berada di kisaran 5,0% - 5,8% (yoy), meningkat dibandingkan tahun 2021 yang tumbuh sebesar 3,6% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada 2022 diprakirakan membaik didorong oleh mobilitas yang terus meningkat sejalan akselerasi vaksinasi Covid-19, pelonggaran kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat sejalan dengan penurunan kasus Covid-19 di Jawa Timur, kinerja ekspor yang masih tetap kuat, pembukaan sektor-sektor prioritas yang semakin luas, stimulus kebijakan yang berlanjut, serta percepatan penyelesaian proyek-proyek yang terdapat dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Peraturan Presiden No.80 Tahun 2019. Tren penurunan kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia termasuk Jawa Timur pada Februari 2022 dapat mendorong pelonggaran pembatasan mobilitas masyarakat sehingga dapat mendukung laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2022. Pemerintah memberikan pelonggaran pembatasan mobilitas kepada masyarakat untuk melaksanakan mudik Idul Fitri, yang berpotensi meningkatkan kepercayaan masyarakat dan perbaikan ekonomi ke depan.
Inflasi IHK Jawa Timur pada tahun 2022 diprakirakan meningkat dibandingkan tahun 2021, dan diprakirakan berada di atas kisaran sasaran inflasi 3,0%+1% (yoy). Prakiraan ini sejalan dengan potensi berlanjutnya pemulihan permintaan domestik yang ditopang oleh akselerasi herd immunity Jawa Timur yang telah mencapai 76,88% per April 2022, sehingga mendorong kenaikan mobilitas masyarakat dan semakin luasnya pembukaan sektor-sektor ekonomi produktif yang berimplikasi mendorong peningkatan permintaan. Lebih lanjut, semakin luasnya pembukaan sektor-sektor ekonomi produktif diprakirakan turut mendorong kenaikan pendapatan masyarakat sehingga berpotensi meningkatkan konsumsi kebutuhan sekunder dan tersier. Hal tersebut diprakirakan berdampak pada peningkatan inflasi IHK Jawa Timur, khususnya untuk kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau, kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran, kelompok Pakaian dan Alas Kaki, Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar serta kelompok Transportasi.