LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI
Perekonomian Jawa Barat pada triwulan IV 2023 tumbuh positif sebesar 5,15% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan positif tersebut utamanya ditopang oleh permintaan domestik seiring peningkatan mobilitas masyarakat dan kenaikan investasi.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi bersumber dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi. Sementara dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan positif ditopang oleh sektor konstruksi, sektor perdagangan, dan sektor transportasi.
Secara keseluruhan tahun 2023, perekonomian Jawa Barat tumbuh sebesar 5,00% (yoy), melambat dibandingkan tahun 2022 dan sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 5,05% (yoy). Meski demikian, capaian tersebut merupakan angka tertinggi kedua di Pulau Jawa.
KEUANGAN PEMERINTAH
Pada tahun 2023, anggaran pendapatan pemerintah daerah di Jawa Barat mencapai meningkat 7,74% sedangkan anggaran belanja meningkat sebesar 6,62% (yoy) dibandingkan dengan tahun 2022. Realisasi pendapatan maupun belanja baik APBN Jawa Barat, APBD Jawa Barat dan APBD 27 Kab/Kota di tahun 2023 lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2022.
Kinerja positif keuangan daerah di Jawa Barat ditunjukkan oleh pendapatan yang tumbuh kuat seiring dengan optimalisasi belanja yang tetap terjaga. Hal tersebut turut mengonfirmasi momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Barat yang terus berlanjut hingga akhir tahun 2023. Ke depan, optimisme penyerapan fiskal diharapkan dapat menjadi landasan yang kuat untuk mencapai target pembangunan di tahun 2024 yang sekaligus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.
PERKEMBANGAN INFLASI
Inflasi gabungan 7 kota IHK Jawa Barat pada triwulan IV 2023 relatif terjaga dan tercatat sebesar 2,48%, lebih rendah dibandingkan capaian inflasi Pulau Jawa sebesar 2,54% dan inflasi nasional sebesar 2,61%. Komoditas hortikultura dan telur ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi yang sejalan dengan menipisnya neraca komoditas akibat normalisasi masa panen raya serta meningkatnya biaya pakan ternak. Inflasi juga didorong oleh peningkatan biaya rekreasi akibat momentum HBKN Nataru dan libur sekolah.
Pada triwulan I 2024, tekanan inflasi diperkirakan lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya, seiring dengan tingginya permintaan pada momentum HBKN Ramadan ditengah keterbatasan pasokan komoditas pangan karena terdapat pergeseran masa tanam dan masa panen pasca kemarau panjang di tahun 2023.
KONDISI PEMBIAYAAN DAERAH & PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM
Ditengah lingkungan risiko suku bunga global yang tinggi dalam jangka panjang (higher for longer), stabilitas sistem keuangan dilihat dari kinerja perbankan tetap terjaga baik dari sisi perkembangan DPK, penyaluran kredit maupun resiko perbankan.
DPK pada triwulan IV 2023 tercatat sebesar Rp 658,42 triliun atau tumbuh sebesar 4,39% (yoy), didorong oleh pertumbuhan deposito dan giro. Sejalan dengan hal tersebut, pertumbuhan pembiayaan pada periode laporan lebih baik jika dibandingkan dengan periode sebelumnya utamanya didorong kenaikan Kredit Modal Kerja (KMK) dan cukup stabilnya Kredit Konsumsi (KK). Laju pertumbuhan penghimpunan DPK maupun pembiayaan kredit membaik dibandingkan triwulan sebelumnya.
Aset perbankan di Jawa Barat pada triwulan IV 2023 yang meningkat sebesar 3,82% (yoy). DPK perbankan tumbuh sebesar 4,39% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, utamanya didorong oleh pertumbuhan deposito dan giro. Sejalan dengan hal tersebut, pertumbuhan pembiayaan pada periode laporan dilihat dari penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek di Jawa Barat tumbuh sebesar 8,70% (yoy) lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan penyaluran pembiayaan tersebut bersumber dari pertumbuhan kredit modal kerja dan cukup stabilnya kredit konsumsi. Secara sektoral pertumbuhan kredit bersumber dari beberapa sektor unggulan khususnya sub sektor industri pengolahan. Adapun laju pertumbuhan pembiayaan diikuti oleh perbaikan kualitas kredit di Jawa Barat tercermin dari terjaganya Non-Performing Loan (NPL) di 2,99%. Kebijakan BI-Rate pada level 6,00% berdampak pada suku bunga perbankan yang cenderung stabil pada triwulan IV 2023.
PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Sejalan dengan tren peningkatan kondisi perekonomian Jawa Barat, kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital tetap kuat didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar dan andal. Hal ini mengindikasikan preferensi masyarakat Jawa Barat terhadap transaksi non-tunai tetap tinggi. Sejalan dengan hal tersebut, kelancaran dan keandalan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (SPBI) terjaga baik didukung kondisi likuiditas yang memadai. Hal ini tercermin pada peningkatan transaksi pembayaran melalui RTGS, SKNBI, APMK Kartu Kredit, APMK Debit, E-Commerce, dan QRIS pada triwulan IV 2023.
Kondisi arus kas di Jawa Barat menunjukan kondisi net-outflow sebesar Rp2,77 Triliun didorong peningkatan pada aliran uang keluar (outflow) pada periode triwulan IV 2023. Hal ini terjadi seiring dengan peningkatan pola konsumsi masyarakat Jawa Barat pada perayaan HKBN Natal dan Tahun Baru.
Di sisi lain, transaksi menggunakan Uang Elektronik melambat sejalan dengan semakin banyak alternatif channel pembayaran lainnya yang menjadi pilihan masyarakat dalam melakukan transaksi salah satunya menggunakan QRIS. Hal ini terkonfirmasi dari pertumbuhan nominal QRIS yang meningkat pada triwulan IV 2023 baik dari sisi nominal maupun volume.
PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan IV 2023 berdampak pada penurunan prosentase penduduk miskin karena didukung pula oleh peningkatan jumlah lapangan pekerjaan di sektor informal. Indikasi positif lain adalah terjadinya peningkatan TPAK, penurunan TPT, dan peningkatan Tingkat Kesejahteraan Petani yang tercermin dari NTP.
Berdasarkan data BPS, persentase penduduk miskin pada periode Maret 2023 pada periode Maret 2023 sebesar 7,62%, turun sebanyak 165,02 ribu orang dibandingkan periode September 2022. Peningkatan penyerapan tenaga kerja Jawa Barat pada Agustus 2023 diikuti dengan penurunan Tingkat pengangguran terbuka yang pada Agustus 2023 tercatat sebesar 7,44%, turun 0,87 poin dibandingkan Agustus 2022. Optimisme Tingkat Kesejahteraan Petani tercermin dari peningkatan NTP yang berada pada level 112,70 meningkat 78 poin dibandingkan triwulan sebelumnya.
PRAKIRAAN PEREKONOMIAN KE DEPAN
Dalam World Economic Outlook (WEO) Januari 2024, IMF merevisi pertumbuhan ekonomi global yang semula sebesar 2,9% pada WEO Oktober 2023 menjadi 3,1%. Optimisme tersebut didorong oleh perbaikan ekonomi China, Amerika Serikat, dan negara berkembang besar lainnya yang lebih baik dari perkiraan. Perbaikan kinerja ekonomi global diperkirakan akan memberikan dampak positif pada permintaan ekspor dari Indonesia. Sementara itu dari sisi domestik, pertumbuhan nasional diperkirakan masih didukung oleh peningkatan konsumsi tangga dan investasi. Dengan pertimbangan tersebut, perekonomian nasional pada tahun 2024 diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,7% - 5,5%.
Dengan memperhatikan kondisi ekonomi global dan dinamika perekonomian domestik, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada tahun 2024 diperkirakan tetap tumbuh dalam kisaran 4,9%-5,7%. Perekonomian Jawa Barat pada tahun 2024 masih akan ditopang oleh permintaan domestik serta kinerja beberapa lapangan usaha yang membaik dibandingkan tahun 2023. Sementara itu inflasi gabungan kota di Provinsi Jawa Barat tahun 2024 diperkirakan tetap berada dalam rentang sasaran nasional 2,5±1%. Pemerintah, Bank Indonesia dan seluruh stakeholder akan terus memperkuat sinergi dalam menjalankan program pengendalian inflasi di dalam wadah TPID.