Perekonomian dunia masih dalam tren melambat sebagai dampak kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) yang masih menimbulkan tingginya ketidakpastian. Di pasar keuangan global, probabilitas penurunan kembali Fed Funds Rate (FFR) semakin besar sejalan dengan kondisi ketenagakerjaan di AS yang lemah. Sejalan dengan itu, yield US Treasury jangka pendek kembali menurun dan indeks mata uang dolar AS (DXY) cenderung melemah. Aliran modal ke emerging market (EM) masih berfluktuasi seiring dengan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Secara global, berbagai indikator menunjukkan kebijakan tarif AS memperlemah kinerja perdagangan global, tecermin dari melambatnya ekspor dan impor di sebagian besar negara. AS sendiri kembali mengenakan tambahan tarif kepada sektor farmasi, mebel, dan otomotif sejak 1 Oktober 2025 serta mengumumkan rencana pengenaan tarif tambahan sebesar 100% terhadap produk asal Tiongkok. Di AS, pertumbuhan ekonomi masih lemah sehingga mendorong berlanjutnya penurunan kondisi ketenagakerjaan. Sementara itu, ekonomi Jepang, Eropa, dan Tiongkok belum kuat dipengaruhi oleh belum kuatnya konsumsi rumah tangga, di tengah stimulus fiskal-moneter yang telah dilakukan Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia 2025 sebesar 3,1%, sedikit di atas prakiraan sebelumnya 3,0%. Namun, perkembangan ini menuntut kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak rambatan ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global yang masih tinggi tersebut terhadap perekonomian domestik.
Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan perlu terus didorong agar sesuai dengan kapasitas perekonomian. Pada triwulan III 2025, laju pertumbuhan tercatat 5,04 % (yoy), sedikit dibawah pertumbuhan di triwulan II 2025 sebesar 5,12 % (yoy). Dari domestik, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan melalui penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi dengan kebijakan Pemerintah, berupa stimulus fiskal dan sektor riil untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Adapun pertumbuhan kredit 2025, diperkirakan berada pada batas bawah kisaran 8-11% dengan potensi meningkat pada 2026.
Pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2025 diprakirakan berada sedikit di atas titik tengah kisaran 4,6-5,4% dan meningkat pada 2026. Ketahanan eksternal ekonomi Indonesia juga diprakirakan tetap stabil didukung komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai Rupiah, imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Inflasi tahun 2025 dan 2026 tetap terjaga dalam sasaran 2,5 ± 1%.
Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan III 2025 tumbuh positif dengan pertumbuhan sebesar 4,96% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (5,18%, yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan terutama ditopang oleh masih positifnya kinerja Konsumsi Rumah Tangga dan tingginya pertumbuhan Konsumsi Pemerintah. Di sisi lain, kinerja Investasi, Ekspor, Impor, dan Konsumsi LNPRT tertahan, meski masih mencatatkan pertumbuhan positif. Dari sisi sektoral atau lapangan usaha, pertumbuhan terutama bersumber dari LU Informasi dan Komunikasi (Infokom), LU Perdagangan, dan LU Jasa Perusahaan. LU utama lainnya yaitu LU Konstruksi dan LU Industri Pengolahan juga tetap tumbuh positif, sementara LU Jasa Keuangan terkontraksi. Selain LU utama, LU lainnya seperti LU Transportasi dan Pergudangan (Transgud), dan LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (Akamamin) tetap tumbuh tinggi dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta.
Memasuki triwulan IV 2025, perekonomian Jakarta diprakirakan tumbuh meningkat dibandingkan triwulan III 2025, didorong oleh prakiraan meningkatnya kinerja Konsumsi RT seiring momentum HBKN Natal dan Tahun baru 2026, meningkatnya kinerja Konsumsi Pemerintah seiring prakiraan akselerasi fiskal dalam pemenuhan realisasi APBD dan APBN bagi Kementerian dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta kinerja investasi seiring perilaku front loading akselerasi penyelesaian proyek menjelang tutup buku akhir tahun dan masih berlanjutnya investasi untuk proyek-proyek strategis Pemerintah dan swasta yang bersifat multitahun. Dari sisi LU utama, sejalan dengan sisi pengeluaran, pertumbuhan LU Perdagangan juga diprakirakan meningkat dari triwulan sebelumnya, sejalan dengan kinerja Konsumsi RT yang diprakirakan tumbuh meningkat.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta telah mengesahkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2025. APBD-P tahun 2025 mengalami peningkatan dari APBD murni menjadi sekitar Rp91,86 triliun, atau lebih tinggi 10,81% dari APBD-P tahun sebelumnya. Anggaran tersebut terdiri dari Pendapatan Daerah Rp84,45 triliun dan Pembiayaan Daerah Rp7,40 triliun. Pembiayaan Daerah sebesar Rp7,40 triliun tersebut secara rinci terdiri dari Sisa Lebih Perhitungan sebesar Rp4,43 triliun dan Penerimaan Pinjaman Daerah sebesar Rp2,97 triliun.
Sampai dengan triwulan III 2025, secara kumulatif capaian realisasi Pendapatan Daerah Provinsi DKI Jakarta tercatat sebesar 69,91% dari pagu APBD-P 2025, lebih tinggi dibandingkan capaian pada tahun sebelumnya yang sebesar 67,44% dari pagu APBD-P 2024. Capaian realisasi pendapatan yang lebih tinggi pada periode laporan jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya didukung oleh realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Pendapatan Transfer yang masing-masing sebesar 72,69% dan 65,31% dari pagu APBD-P2025.
Dari sisi Belanja Daerah, capaian realisasi pada triwulan III 2025 tercatat sebesar 49,43% dari pagu APBD-P 2025, lebih rendah dari capaian triwulan sama tahun sebelumnya yang sebesar 52,53% dari pagu APBD-P 2024. Realiasasi capaian yang lebih rendah disebabkan oleh realisasi Belanja Operasi dan Belanja Modal yang masing-masing sebesar 57,92% dan 20,31% dari pagu APBD-P 2025, lebih rendah dari capaian realisasi pada triwulan sama tahun sebelumnya.
Sementara itu berdasarkan rilis data oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi DKI Jakarta, kinerja APBN regional DKI Jakarta sampai dengan triwulan III 2025 mencapai Rp1.299,89 triliun atau 71,64% dari target. Adapun, capaian tersebut terdiri dari realisasi kinerja Pajak yang menunjukkan tren positif, ditopang oleh PPN Impor. Dari sisi belanja K/L di Jakarta, pada triwulan III 2025 terdapat realisasi sebesar Rp208,68 triliun atau sebesar 28,67% dari pagu, atau secara kumulatif telah mencapai 112,74% dari pagu. Beberapa highlight belanja terbesar menurut kementerian dan lembaga diantaranya adalah (1) Kementerian Pertahanan sebesar Rp21,63 triliun, mayoritas untuk Belanja Modal Peralatan dan Mesin, (2) Badan Gizi Nasional Rp9,07 triliun, mayoritas untuk Kegiatan MBG, (3) Polri sebesar Rp7,78 triliun, mayoritas untuk Belanja Modal Peralatan dan Mesin, dan (4) Kementerian Kesehatan sebesar Rp6,88 triliun, mayoritas untuk Jaminan Sosial Kesehatan. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Jakarta pada triwulan III 2025 tercatat sebesar 2,40% (yoy). Inflasi Jakarta tetap terkendali dalam rentang sasaran meskipun lebih tinggi dibandingkan inflasi pada triwulan sebelumnya yang sebesar 2,07% (yoy). Capain inflasi ini tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi nasional. Terkendalinya inflasi Jakarta merupakan sinergi dan kolaborasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, utamanya melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Berdasarkan komoditasnya, penyumbang inflasi terbesar pada triwulan III 2025 yaitu tarif air minum PAM, emas perhiasan, daging ayam ras, beras, dan bawang merah. Memasuki triwulan IV 2025, perkembangan inflasi Jakarta pada Oktober 2025 tercatat mengalami peningkatan menjadi sebesar 2,69% (yoy). Ke depan, inflasi IHK Jakarta diprakirakan tetap terkendali berada sedikit di atas titik tengah sasaran 2,5±1% pada 2025.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi triwulan laporan yang mengalami perlambatan, laju intermediasi perbankan di DKI Jakarta agak tertahan dengan profil risiko yang tetap terjaga. Dari sisi penawaran, pertumbuhan kredit ditopang oleh kondisi likuiditas bank yang memadai seiring permodalan yang solid serta masih kuatnya pertumbuhan DPK. Bank Indonesia terus menerapkan kebijakan makroprudensial longgar dan akomodatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Ketahanan bank tetap kuat, ditunjukkan oleh rasio kredit bermasalah yang rendah jauh di bawah threshold 5%.
Dari sisi permintaan, sektor korporasi masih menjadi penopang pertumbuhan kredit di triwulan laporan meskipun pertumbuhannya lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Profitabilitas korporasi non-keuangan juga masih pada level tinggi meskipun tidak setinggi triwulan sebelumnya. Kemampuan membayar korporasi tetap kuat tercermin dari meningkatnya current ratio dan rendahnya rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loans) korporasi.
Sejalan dengan terjaganya kinerja sektor korporasi, secara umum kinerja sektor rumah tangga juga membaik meskipun terbatas. Kinerja sektor rumah tangga yang masih berdaya tahan tercermin dari meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen pada level optimis. Kredit sektor rumah tangga tumbuh positif setelah mengalami pertumbuhan negatif sejak akhir tahun 2024. Kenaikan kredit rumah tangga tersebut dipengaruhi oleh kenaikan kredit konsumsi rumah tangga ditopang oleh peningkatan kredit Multiguna, KPR, dan KKB. Risiko kredit rumah tangga masih terjaga dibawah 3% namun perlu menjadi perhatian karena menunjukkan peningkatan. Kredit sektor UMKM meningkat namun dengan risiko kredit yang cenderung meningkat. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta terus melakukan berbagai program untuk mendukung perbaikan produktivitas serta peningkatan kapasitas UMKM baik dari sisi SDM maupun pengembangan usaha.
Pada triwulan III 2025, peredaran uang kartal di DKI Jakarta tercatat mengalami net outflow, sementara transaksi pembayaran nontunai terus menguat sejalan dengan perekonomian Jakarta yang tetap tumbuh kuat. Perkembangan nilai transaksi sistem pembayaran pada triwulan III 2025 mengonfirmasi masih kuatnya pertumbuhan ekonomi Jakarta. Hal ini terindikasi dari arus kas yang mencatat net outflow dan transaksi nontunai BI-RTGS yang tumbuh meningkat. Selain itu, tren transaksi digital semakin berkembang, seiring peningkatan transaksi QRIS. Sementara transaksi kartu kredit dan kartu debet menurun. Dari sisi Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB), nilai transaksi jual dan beli valuta asing (dalam Rupiah) mengalami pertumbuhan sebesar 13,19% (yoy) pada triwulan III 2025, melanjutkan tren pertumbuhan positif triwulan sebelumnya sebesar 11,98% (yoy). Dari sisi Penyedia Jasa Pembayaran Layanan Remitansi (PJP LR), tetap mengalami pertumbuhan positif sebesar 7,30% (yoy) meskipun sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebsar 15,77% (yoy). Perlambatan pertumbuhan ini disebabkan pertumbuhan nilai transaksi outgoing (dari DKI Jakarta ke luar negeri) dan domestik (di wilayah DKI Jakarta) yang tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara, transaksi incoming (dari luar negeri ke DKI Jakarta) tercatat mengalami perbaikan pertumbuhan meskipun tetap terkontraksi.
Ditengah kinerja ekonomi yang tertahan, serapan tenaga kerja di DKI Jakarta periode Agustus 2025 masih mencatat kenaikan, yang diikuti dengan penurunan tingkat pengangguran. Berdasarkan status pekerjaan utama, sektor formal masih mendominasi penyerapan tenaga kerja di DKI Jakarta. Dari sisi LU, peningkatan serapan tenaga kerja terutama terjadi pada LU Perdagangan Besar dan Eceran. Kemudian, diikuti oleh LU sektor-sektor utama Jakarta lainnya yaitu penyediaan akomodasi dan makan minum, LU Transportasi dan Pergudangan, LU Industri Pengolahan, LU Jasa Lainnya.
Sementara itu, tingkat kemiskinan di DKI Jakarta juga mengalami penurunan menjadi 4,28% pada Maret 2025, dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 4,30%. Tingkat kemiskinan di DKI Jakarta juga tercatat lebih rendah dibandingkan Nasional yang pada September 2024 berada pada level 8,47%. Menurunnya tingkat kemiskinan tersebut sejalan dengan upaya dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang secara konsisten terus melakukan program pengentasan kemiskinan dan perlindungan sosial antara lain melalui program pemberian subsidi pangan dan transportasi serta pemberian bantuan sosial bagi warga penerima manfaat.
Pada 2025, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta diprakirakan masih tetap tumbuh kuat pada kisaran titik tengah 4,6-5,4% (yoy). Dari sisi pengeluaran, meningkatnya perekonomian Jakarta pada 2025 terutama ditopang oleh investasi khususnya investasi bangunan sejalan dengan masih berlangsungnya pembangunan proyek strategis baik Pemerintah maupun swasta yang sudah berjalan dan bersifat multitahun seperti LRT dan MRT. Selain itu, realisasi investasi juga didorong oleh meningkatnya target pencapaian investasi Jakarta pada 2025 yaitu sebesar 13,38% dari target nasional, meningkat dibandingkan tahun lalu (12,00%). Konsumsi Pemerintah pada 2025 juga diprakirakan tumbuh lebih baik didorong oleh penyaluran berbagai stimulus dan bantuan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat. Ekspor diprakirakan tumbuh meningkat sejalan dengan diversifikasi negara tujuan ekspor Jakarta seperti ke Amerika Latin dan Timur Tengah untuk komoditas otomotif, serta meningkatnya ekspor komoditas utama Jakarta lainnya seperti alas kaki dan perhiasan/permata didorong oleh meningkatnya permintaan. Adapun pertumbuhan komponen lainnya seperti konsumsi RT tetap tumbuh positif meski diprakirakan tidak setinggi tahun sebelumnya. Tetap positifnya pertumbuhan konsumsi RT sejalan dengan adanya beberapa insentif fiskal yang diberikan oleh Pemerintah yaitu antara lain berupa diskon tarif listrik, diskon pajak, dan bantuan pangan. Dari sisi lapangan usaha (LU) perekonomian DKI Jakarta pada 2025 masih akan ditopang oleh pertumbuhan positif 5 (lima) sektor ekonomi utama yaitu perdagangan, konstruksi, industri pengolahan, informasi dan komunikasi, serta jasa keuangan. Namun demikian, beberapa risiko yang perlu dicermati yang dapat menahan perbaikan lebih lanjut utamanya yaitu perlambatan ekonomi global, berlanjutnya ketegangan tensi geopolitik, fragmentasi perdagangan serta dinamika kebijakan AS.
Dari sisi harga, inflasi DKI Jakarta pada 2025 diprakirakan akan tetap terkendali pada kisaran titik tengah 2,5±1% (yoy). Prakiraan tersebut terutama didukung oleh implementasi berbagai kebijakan Pemerintah dalam rangka mendukung program ketahanan pangan, serta penguatan program pengendalian inflasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).