Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

​​​​​Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta​​​

6/18/2026 6:00 PM
Hits: 500

Laporan Perekonomian Provinsi DKI Jakarta Mei 2026

DKI Jakarta
Triwulan

Gejolak global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama potensi gangguan Selat Hormuz, meningkatkan tekanan terhadap prospek perekonomian dunia melalui kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok, peningkatan harga komoditas, serta pengetatan kondisi keuangan global. Kondisi tersebut mendorong respons kebijakan moneter global yang lebih ketat, termasuk ekspektasi Fed Funds Rate yang belum turun hingga akhir 2026, kenaikan yield US Treasury, penguatan dolar AS, serta berlanjutnya aliran modal keluar dari emerging markets menuju aset safe haven. Perkembangan ini berpotensi menekan nilai tukar, meningkatkan imported inflation, dan menahan pertumbuhan ekonomi global.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, perekonomian Indonesia masih menunjukkan kinerja yang kuat. Pada triwulan I 2026, ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,61% (yoy), meningkat dari 5,39% (yoy) pada triwulan IV 2025. Pertumbuhan terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat seiring periode HBKN dan stimulus pemerintah, konsumsi pemerintah melalui program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembayaran THR/gaji ke-14, dan investasi bangunan yang didukung Program Kerja Prioritas Nasional. Namun demikian, kinerja ekspor tertahan akibat perlambatan ekonomi global.

Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan I 2026 tumbuh positif sebesar 5,59% (yoy), meskipun sedikit melambat dari triwulan sebelumnya sebesar 5,71% (yoy). Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga serta kinerja ekspor-impor yang masih tinggi, sementara investasi dan konsumsi pemerintah tetap tumbuh namun relatif tertahan. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan didukung oleh LU Perdagangan, Informasi dan Komunikasi, Jasa Keuangan, Konstruksi, dan Industri Pengolahan, serta diperkuat oleh sektor jasa perusahaan, transportasi dan pergudangan, serta akomodasi dan makan minum.

Memasuki triwulan II 2026, ekonomi Jakarta diprakirakan tetap kuat, ditopang oleh konsumsi rumah tangga seiring momentum Iduladha, hari libur nasional, cuti bersama, dan libur sekolah. Investasi juga diprakirakan tetap terjaga seiring akselerasi penanaman modal pada program strategis pemerintah, termasuk ketahanan pangan dan ekonomi kerakyatan. Konsumsi pemerintah diperkirakan meningkat melalui akselerasi realisasi belanja pegawai, belanja modal, dan belanja bansos. Sejalan dengan itu, LU Perdagangan diprakirakan tetap kuat mengikuti kinerja konsumsi rumah tangga.

Dari sisi harga, inflasi IHK Jakarta pada triwulan I 2026 tercatat 3,37% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya dan berada di atas sasaran inflasi, terutama akibat base effect dari diskon tarif listrik tahun 2025 yang bersifat temporer. Dengan mengecualikan komponen tarif listrik, inflasi Jakarta masih terkendali dalam rentang sasaran. Komoditas lain yang mendorong inflasi antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, dan beras seiring tingginya permintaan pada periode HBKN. Pada April 2026, inflasi Jakarta melandai menjadi 2,12% (yoy), meskipun tekanan dari komoditas yang diatur pemerintah perlu dicermati akibat kenaikan harga minyak dan energi global. Ke depan, inflasi diprakirakan tetap terkendali melalui penguatan sinergi pengendalian inflasi, termasuk melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Intermediasi perbankan di DKI Jakarta pada triwulan I 2026 tetap solid dengan profil risiko yang terjaga. Penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek tetap tumbuh meskipun sedikit melambat, didukung oleh likuiditas perbankan yang memadai dan pertumbuhan DPK yang masih tinggi. Risiko kredit tetap terkendali, tecermin dari NPL yang rendah dan jauh di bawah threshold 5%, serta permodalan yang kuat. Dari sisi permintaan, kredit terutama didorong oleh kebutuhan pembiayaan korporasi untuk ekspansi usaha, khususnya pada sektor konstruksi, transportasi dan pergudangan, serta industri pengolahan. Kredit rumah tangga dan UMKM juga tumbuh positif, didukung oleh terjaganya daya beli, optimisme konsumen, peningkatan aktivitas usaha, serta program penguatan kapasitas UMKM.

Kinerja sistem pembayaran turut mendukung aktivitas ekonomi Jakarta. Pada triwulan I 2026, peredaran uang kartal mencatat net outflow, sementara transaksi nontunai terus tumbuh sejalan dengan perluasan akseptasi QRIS. Transaksi KUPVA BB tumbuh positif sebesar 30,78% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya, sedangkan transaksi PJP Layanan Remitansi tumbuh 15,44% (yoy) meskipun melambat dari triwulan sebelumnya sebesar 21,28% (yoy). Perlambatan remitansi terutama disebabkan oleh penurunan transaksi outgoing dan domestik, sementara transaksi incoming menunjukkan perbaikan kontraksi.

Dari sisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan, serapan tenaga kerja DKI Jakarta pada November 2025 relatif stabil sebesar 93,69%, sedikit menurun dari Agustus 2025 sebesar 93,95%. Sektor formal masih mendominasi penyerapan tenaga kerja, dengan peningkatan terutama terjadi pada LU Perdagangan Besar dan Eceran, Akomodasi dan Makan Minum, Transportasi dan Pergudangan, Industri Pengolahan, serta Jasa Lainnya. Sementara itu, tingkat kemiskinan DKI Jakarta turun menjadi 4,03% pada September 2025 dari 4,14% pada September 2024, dan tetap jauh lebih rendah dibandingkan tingkat kemiskinan nasional sebesar 8,25%. Penurunan ini sejalan dengan program perlindungan sosial Pemprov DKI Jakarta, termasuk subsidi pangan, transportasi, dan bantuan sosial.

​Secara keseluruhan, perekonomian DKI Jakarta pada 2026 diprakirakan tetap tumbuh kuat pada kisaran 4,9–5,7% (yoy), ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah. Konsumsi rumah tangga diperkirakan menguat seiring peningkatan daya beli, kenaikan UMP 6,17%, stimulus dan bansos, serta peningkatan mobilitas masyarakat. Investasi didukung oleh proyek strategis multitahun seperti MRT Fase 2A, LRT Jakarta Fase 1B, pengembangan kawasan TOD, dan proyek infrastruktur perkotaan lainnya, sementara investasi swasta diprakirakan tetap berlanjut terutama pada sektor properti, transportasi, dan jasa perkotaan. Dari sisi sektoral, pertumbuhan akan ditopang oleh LU Perdagangan, Informasi dan Komunikasi, Jasa Perusahaan, Jasa Keuangan, Konstruksi, Akomodasi dan Makan Minum, serta Transportasi dan Pergudangan. Namun demikian, risiko terhadap prospek ekonomi meningkat akibat ketidakpastian global, eskalasi konflik Timur Tengah, fragmentasi perdagangan, volatilitas nilai tukar Rupiah, dan perlambatan permintaan global.​

Lampiran
Kontak
​Contact Center BICARA: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta
Halaman ini terakhir diperbarui 6/19/2026 6:52 AM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga