Prospek perekonomian global dalam tren melambat dengan ketidakpastian yang tetap tinggi. Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diprakirakan melambat dan dibarengi dengan divergensi pertumbuhan antarnegara. Prospek pertumbuhan ekonomi global yang melambat terutama dipengaruhi oleh dampak tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan berlanjutnya tensi geopolitik, kecuali AS yang diprakirakan meningkat dipengaruhi oleh besarnya stimulus fiskal dan tingginya investasi, termasuk investasi terkait artificial intelligence (AI). Ekonomi Eropa dan Jepang diprakirakan melambat dipengaruhi oleh kinerja ekspor yang turun sejalan dengan perlambatan ekonomi global serta permintaan domestik yang belum kuat di tengah pengaruh investasi AI yang meningkat. Ekonomi Tiongkok tetap dalam tren melambat akibat konsumsi rumah tangga yang belum kuat, sementara ekonomi India juga belum kuat dengan menurunnya permintaan domestik dan kinerja sektor eksternal. Dari pasar keuangan global, ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) tetap terbuka seiring pasar tenaga kerja yang masih lemah. Yield UST terutama tenor panjang tetap tinggi sejalan dengan peningkatan risiko fiskal AS. Perkembangan ini mendorong aliran modal ke negara berkembang terjadi secara selektif, terutama ke saham dan obligasi jangka pendek. Indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) melemah di tengah kenaikan permintaan terhadap safe haven assets yang mendorong kenaikan harga emas.
Ditengah kondisi ketidakpastian situasi global, ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi didukung berbagai kebijakan pro growth yang ditempuh Pemerintah. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 5,04% (yoy). Peningkatan ini terutama ditopang oleh permintaan domestik dari konsumsi rumah tangga dan investasi sejalan dengan dampak positif berbagai stimulus kebijakan Pemerintah dan didukung bauran kebijakan Bank Indonesia. Dengan perkembangan ini, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun 2025 sebesar 5,11% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2024 sebesar 5,03% (yoy) dan diikuti dengan perbaikan kualitas ketenagakerjaan. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi diprakirakan berlanjut pada triwulan I 2026. Konsumsi rumah tangga meningkat ditopang berbagai program stimulus Pemerintah, pelonggaran kebijakan moneter, ekspektasi konsumen yang terus membaik serta peningkatan kegiatan ekonomi pada berbagai Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) di triwulan I 2026 seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, dan Idulfitri 1447 H. Investasi juga diprakirakan tumbuh lebih tinggi didorong oleh investasi Pemerintah, termasuk hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA), serta perbaikan keyakinan pelaku usaha yang masih berlanjut.
Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan IV 2025 mencatat akselerasi pertumbuhan sebesar 5,71% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (4,96%, yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan terutama ditopang oleh masih kuatnya kinerja Konsumsi Rumah Tangga dan tingginya pertumbuhan Investasi. Di sisi lain, kinerja Investasi, Ekspor, Impor, dan Konsumsi LNPRT tertahan, meski masih mencatatkan pertumbuhan positif. Dari sisi sektoral atau lapangan usaha, pertumbuhan terutama bersumber dari LU Perdagangan, LU Informasi dan Komunikasi (Infokom), dan LU Jasa Keuangan. LU utama lainnya yaitu LU Konstruksi dan LU Industri Pengolahan juga tetap tumbuh positif. Selain LU utama, LU lainnya seperti LU Jasa Perusahaan, Transportasi dan Pergudangan (Transgud), dan LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (Akamamin) tetap tumbuh tinggi dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta.
Memasuki triwulan I 2026, perekonomian Jakarta diprakirakan tumbuh meningkat dibandingkan triwulan IV 2025, didorong oleh prakiraan meningkatnya Konsumsi RT seiring momentum HBKN Ramadan dan Idul Fitri 2026, meningkatnya kinerja Investasi seiring prakiraan akselerasi penanaman modal guna perluasan program strategis ketahanan pangan dan ekonomi kerakyatan pemerintah, serta kinerja konsumsi pemerintah akibat akselerasi realisasi belanja pegawai seiring pemberian THR dan belanja Bansos. Dari sisi LU utama, sejalan dengan sisi pengeluaran, pertumbuhan LU Perdagangan juga diprakirakan meningkat dari triwulan sebelumnya, sejalan dengan kinerja Konsumsi RT yang diprakirakan tumbuh meningkat.
Dari sisi keuangan daerah, kinerja Pendapatan Daerah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2025 mencapai 94,65% dari pagu, lebih rendah dari capaian tahun sebelumnya yang sebesar 98,28% dari pagu. Hal ini disebabkan oleh penurunan realisasi seluruh komponen, yaitu Pendapatan Asli Daerah, Pendapatan Transfer, dan Lain-Lain PAD yang masing-masing tercatat sebesar 94,33%, 95,53%, dan 42,94% dari pagu APBD-P 2025, lebih rendah dari kinerja tahun sebelumnya. Dari sisi Belanja Daerah, realisasi pada tahun 2025 tercatat sebesar 88,45% dari pagu, lebih rendah dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 89,45% dari pagu. Capaian yang lebih rendah disebabkan oleh realisasi Belanja Modal dan Belanja Transfer yang masing-masing 86,23% dan 102,44% dari pagu, lebih rendah dari kinerja tahun sebelumnya sebesar 90,02% dan 120,64%.
Sementara itu, berdasarkan rilis data oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi DKI Jakarta, kinerja Pendapatan APBN regional DKI Jakarta sampai dengan triwulan IV 2025 mencapai Rp1.816,88 triliun atau 93,89% dari target. Capaian tersebut terutama didukung oleh realisasi kinerja pajak yang meningkat ditopang oleh penerimaan Pajak Dalam Negeri. Dari sisi belanja K/L di Jakarta, secara kumulatif hingga triwulan IV 2025 tercatat realisasi sebesar Rp1.283,92 triliun atau sebesar 92,81% dari pagu.
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Jakarta pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 2,63% (yoy) dan tetap berada dalam rentang sasaran, meskipun meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,40% (yoy). Capaian tersebut juga lebih rendah dibandingkan inflasi nasional. Terkendalinya inflasi Jakarta mencerminkan sinergi dan kolaborasi pengendalian inflasi dalam menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, utamanya melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Berdasarkan komoditasnya, penyumbang inflasi terbesar pada triwulan IV 2025 antara lain emas perhiasan, tarif air minum PAM, daging ayam ras, cabai merah, dan cabai rawit. Memasuki triwulan I 2026, inflasi Jakarta pada Januari 2026 meningkat menjadi 3,96% (yoy). Kenaikan ini terutama dipengaruhi faktor base effect dari rendahnya inflasi Januari 2025 seiring pemberlakuan diskon tarif listrik sebesar 50%. Ke depan, inflasi IHK Jakarta diprakirakan tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1% pada tahun 2026.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 yang meningkat, laju intermediasi perbankan di DKI Jakarta turut menguat dengan profil risiko yang tetap terjaga rendah. Dari sisi penawaran, pertumbuhan kredit didukung oleh kondisi likuiditas perbankan yang memadai, tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang solid serta permodalan bank yang kuat. Ruang ekspansi kredit juga didorong oleh kebijakan makroprudensial Bank Indonesia yang tetap akomodatif guna mendukung pembiayaan sektor riil dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Ketahanan perbankan tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah yang rendah dan berada jauh di bawah threshold 5%, serta rasio permodalan yang tetap kuat.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit pada triwulan laporan terutama ditopang oleh peningkatan kebutuhan pembiayaan sektor korporasi seiring ekspansi usaha dan perbaikan kinerja penjualan. Profitabilitas korporasi non-keuangan meningkat sejalan dengan penguatan aktivitas ekonomi, sehingga mendorong peningkatan permintaan kredit investasi dan modal kerja. Kemampuan bayar korporasi juga tetap kuat, tercermin dari rasio likuiditas yang terjaga dan tingkat Non-Performing Loans (NPL) korporasi yang rendah.
Sejalan dengan penguatan sektor korporasi, kinerja sektor rumah tangga juga menunjukkan perbaikan yang lebih kuat. Hal ini tercermin dari meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen yang berada pada level optimis serta pertumbuhan kredit rumah tangga yang semakin solid. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan kredit konsumsi, termasuk kredit Multiguna, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), seiring meningkatnya daya beli dan mobilitas masyarakat. Risiko kredit rumah tangga tetap terjaga di bawah 3% meskipun perlu terus dimonitor seiring akselerasi pertumbuhan kredit. Kredit sektor UMKM juga tetap tumbuh positif ditengah kuatnya penyaluran kredit bank umum, didukung oleh peningkatan aktivitas usaha dan berbagai program penguatan kapasitas yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta untuk mendorong produktivitas dan daya saing UMKM.
Pada triwulan IV 2025, peredaran uang kartal di DKI Jakarta tercatat mengalami net outflow, sementara transaksi pembayaran nontunai tetap tumbuh kuat, sejalan dengan akselerasi perekonomian DKI Jakarta. Dari sisi Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB), nilai transaksi jual dan beli valuta asing (dalam Rupiah) mengalami pertumbuhan sebesar 26,61% (yoy) pada triwulan IV 2025, melanjutkan tren pertumbuhan positif triwulan sebelumnya sebesar 13,19% (yoy). Dari sisi Penyedia Jasa Pembayaran Layanan Remitansi (PJP LR), tetap mengalami pertumbuhan positif sebesar 21,40% (yoy) meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 42,20% (yoy). Perlambatan pertumbuhan ini disebabkan pertumbuhan nilai transaksi incoming (dari luar ke dalam negeri) yang mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara, transaksi outgoing (dari dalam ke luar negeri) dan domestik (di dalam negeri) tercatat tumbuh meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya.
Sejalan dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi, serapan tenaga kerja di DKI Jakarta periode November 2025 relatif stabil pada level 93,69% meskipun sedikit menurun dibandingkan Agustus 2025 sebesar 93,95%. Berdasarkan status pekerjaan utama, sektor formal masih mendominasi penyerapan tenaga kerja di DKI Jakarta. Dari sisi LU, peningkatan serapan tenaga kerja terutama terjadi pada LU Perdagangan Besar dan Eceran. Kemudian, diikuti oleh LU sektor-sektor utama Jakarta lainnya yaitu penyediaan akomodasi dan makan minum, LU Transportasi dan Pergudangan, LU Industri Pengolahan, LU Jasa Lainnya.
Sementara itu, tingkat kemiskinan di DKI Jakarta juga mengalami penurunan menjadi 4,03% pada September 2025, dibandingkan September 2024 yang sebesar 4,14%. Tingkat kemiskinan di DKI Jakarta juga tercatat lebih rendah dibandingkan Nasional yang pada September 2025 berada pada level 8,25%. Menurunnya tingkat kemiskinan tersebut sejalan dengan upaya dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang secara konsisten terus melakukan program pengentasan kemiskinan dan perlindungan sosial antara lain melalui program pemberian subsidi pangan dan transportasi serta pemberian bantuan sosial bagi warga penerima manfaat.
Pada 2026, perekonomian DKI Jakarta diprakirakan tetap tumbuh kuat pada kisaran 4,9–5,7% (yoy), meskipun terdapat risiko bias bawah seiring dinamika global dan meningkatnya ketidakpastian. Dari sisi pengeluaran, penguatan ekonomi Jakarta terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Konsumsi rumah tangga diprakirakan menguat seiring membaiknya daya beli masyarakat, antara lain didukung kenaikan UMP, serta keberlanjutan dukungan kebijakan Pemerintah melalui berbagai stimulus dan bantuan sosial untuk menjaga daya beli, khususnya pada kelompok rentan. Selain itu, momentum musiman dan meningkatnya mobilitas masyarakat pada periode tertentu juga berpotensi mendorong konsumsi jasa perkotaan seperti perdagangan, transportasi, serta akomodasi dan makan minum. Meningkatnya investasi sejalan dengan berlanjutnya realisasi proyek strategis pemerintah yang bersifat multitahun seperti MRT Fase 2A, LRT Fase 1B, dan dimulainya pembebasan lahan MRT East West Line. Di samping itu, komitmen realisasi investasi swasta tetap terjaga, khususnya pada sektor properti, transportasi, dan jasa perkotaan, meskipun pelaku usaha masih mencermati dinamika ekonomi global. Konsumsi Pemerintah pada 2026 juga diprakirakan tetap tumbuh positif dan cenderung meningkat, didukung oleh keberlanjutan belanja APBD yang difokuskan pada layanan publik/pembangunan meski disertai efisiensi belanja rutin. Selain itu, belanja APBN di DKI diprakirakan lebih akseleratif dan periodisasinya lebih merata sepanjang tahun, sehingga turut memperkuat konsumsi pemerintah. Ekspor diprakirakan tetap tumbuh positif meski diprakirakan tidak setinggi tahun sebelumnya seiring moderasi permintaan global, perlambatan mitra dagang utama, meningkatnya tensi dan perang di kawasan Timur Tengah, serta ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional (termasuk dinamika tarif resiprokal AS).
Dari sisi lapangan usaha (LU) perekonomian DKI Jakarta pada 2026 masih akan ditopang oleh pertumbuhan positif 5 (lima) sektor ekonomi utama yaitu perdagangan, informasi dan komunikasi, konstruksi, jasa perusahaan, dan penyediaan akomodasi dan makan minum. Namun demikian, beberapa risiko yang perlu dicermati yang dapat menahan perbaikan lebih lanjut utamanya yaitu dinamika ekonomi global, berlanjutnya ketegangan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, fragmentasi perdagangan serta dinamika kebijakan AS.
Dari sisi harga, inflasi DKI Jakarta pada 2026 diprakirakan akan tetap terkendali, dengan sasaran inflasi 2,5±1% (yoy). Prakiraan tersebut terutama didukung oleh implementasi berbagai kebijakan Pemerintah dalam rangka mendukung program ketahanan pangan, serta penguatan program pengendalian inflasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).