Ekonomi Makro Regional
Perekonomian DKI Jakarta terus membaik dan tumbuh lebih tinggi. Pada triwulan IV 2021, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta tercatat sebesar 3,64% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya (2,43%, yoy). Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan mobilitas masyarakat seiring dengan pelonggaran status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga ke level 1, serta momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pada periode pelonggaran tersebut, berbagai sektor ekonomi telah dibuka kembali dengan tingkat maksimum kapasitas yang lebih longgar, namun dengan penerapan prokes yang tetap ketat, yaitu menggunakan aplikasi PeduliLindungi.
Dari sisi pengeluaran, Konsumsi Rumah Tangga (RT) memberikan kontribusi terbesar terhadap perekonomian DKI Jakarta pada triwulan laporan dengan tumbuh sebesar 3,65% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Adapun kinerja pertumbuhan Konsumsi RT yang positif sejalan dengan meningkatnya permintaan domestik seiring dengan optimisme masyarakat yang semakin tinggi di tengah kasus COVID-19 yang terkendali dan vaksinasi dosis 1 yang telah melampaui target DKI Jakarta. Investasi menjadi kontributor kedua terbesar seiring dengan terus berjalannya proyek Proyek Strategis Nasional (PSN) dan optimisme investasi korporasi yang meningkat. Pertumbuhan positif juga terjadi pada Ekspor dan Impor seiring dengan masih berlanjutnya permintaan domestik dan global. Sebaliknya, Konsumsi Pemerintah tercatat mengalami kontraksi terutama berasal dari peningkatan pendapatan daerah yang menjadi faktor pengurang kinerja, di tengah adanya pertumbuhan realisasi belanja dari belanja K/L APBN dan APBD DKI Jakarta.
Dari sisi LU, hampir seluruh LU mengalami akselerasi pertumbuhan pada triwulan IV 2021 yang terjadi seiring dengan peningkatan permintaan domestik dan mobilitas masyarakat. Adapun LU dengan pangsa terbesar seperti LU Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, LU Industri Pengolahan, dan LU Konstruksi mencatatkan pertumbuhan yang positif, kecuali LU Jasa Keuangan yang mengalami kontraksi pada triwulan IV 2021. Akselerasi pertumbuhan juga terjadi di berbagai LU lainnya di DKI Jakarta yaitu LU Akomodasi dan mamin dan LU Transportasi dan Pergudangan seiring dengan pelonggaran status PPKM. Selanjutnya, LU yang terimbas positif sepanjang pandemi Covid-19 seperti LU Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial dan LU Informasi dan Komunikasi (Infokom) masih terus melanjutkan kinerja pertumbuhan yang positif seiring dengan masih berlangsungnya kegiatan penanganan terkait Covid-19 dan vaksinasi, serta berlanjutnya kegiatan work from home (WFH) dan school from home (SFH).
Secara keseluruhan tahun 2021, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta tercatat tumbuh sebesar 3,56% (yoy), berbalik arah dibandingkan tahun sebelumnya yang mengalami kontraksi (-2,39%, yoy). Kinerja pertumbuhan yang positif sejalan dengan pemulihan ekonomi yang terus berlanjut sejalan dengan perekonomian nasional. Namun demikian, pertumbuhan DKI Jakarta pada tahun 2021 lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional (3,69%, yoy).
Keuangan Pemerintah
Pada triwulan IV 2021, kinerja Pendapatan Daerah di DKI Jakarta mencatatkan pertumbuhan positif, didorong oleh peningkatan realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Pendapatan Transfer. Dari sisi Belanja Daerah, realisasi pada triwulan laporan juga mengalami pertumbuhan yang positif didorong oleh kenaikan Belanja Operasi dan Belanja Modal, di tengah penurunan realisasi Belanja Transfer. Pada Pembiayaan Daerah, realisasi pada triwulan laporan tumbuh positif baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran pembiayaan. Sementara itu, kinerja penerimaan Pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di DKI Jakarta pada triwulan IV 2021 tercatat tumbuh positif seiring dengan perbaikan aktivitas ekonomi. Pada triwulan IV 2021, pertumbuhan realisasi Belanja K/L di DKI Jakarta terakselerasi, seiring dengan peningkatan realisasi Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Belanja Bantuan Sosial (Bansos), di tengah penurunan realisasi Belanja Modal. Adapun secara keseluruhan tahun 2021 capaian realisasi pagu maupun nominal realisasi total belanja K/L di DKI Jakarta mencatatkan peningkatan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Inflasi
Seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi, Inflasi IHK Provinsi DKI Jakarta pada triwulan IV 2021 melanjutkan peningkatan, meskipun masih rendah. Pada periode ini, inflasi Provinsi DKI Jakarta tercatat rendah sebesar 1,53% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 1,14% (yoy). Peningkatan harga pada periode laporan terutama didorong oleh kenaikan harga minyak goreng sejalan dengan peningkatan harga CPO global yang masih berlangsung. Untuk keseluruhan tahun 2021, tekanan inflasi di Provinsi DKI Jakarta sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Inflasi IHK DKI Jakarta pada tahun 2021 tercatat sebesar 1,53% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada tahun 2020 sebesar 1,59% (yoy). Adapun sama seperti tahun 2020, tekanan inflasi tersebut berada di bawah sasaran inflasi nasional sebesar 3,0% ± 1%. Adapun inflasi yang tetap rendah didukung terkendalinya harga-harga komoditas yang diatur pemerintah atau administered price (AP), seperti tarif energi, semakin efektifnya program pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta, serta konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter.
Pembiayaan Daerah
Secara umum, intermediasi perbankan pada triwulan IV 2021 melanjutkan pertumbuhan yang positif, namun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Kredit perbankan tumbuh positif sebesar 1,63% (yoy) pada triwulan laporan, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (2,40%, yoy). Melambatnya penyaluran kredit tersebut dipengaruhi oleh demand kredit investasi yang belum tumbuh tinggi terutama dari sektor korporasi. Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mengalami peningkatan, terutama didorong oleh peningkatan giro dan deposito. Meskipun demikian, kondisi stabilitas keuangan di DKI Jakarta tetap terjaga yang antara lain ditunjukkan oleh penurunan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) berdasarkan lokasi proyek sebesar 1,97% turun dibandingkan posisi triwulan sebelumnya (2,19%). Sejalan dengan itu, rasio NPL berdasarkan lokasi bank juga menurun dari 3,06% pada triwulan III 2021 menjadi 2,93% pada triwulan IV 2021.
Sistem Pembayaran
Perkembangan transaksi sistem pembayaran tunai dan nontunai mengonfirmasi berlanjutnya pemulihan ekonomi di triwulan IV 2021. Pada periode laporan, arus kas tercatat net outflow dengan posisi yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sejalan dengan peningkatan permintaan uang kartal di tengah mobilitas masyarakat yang meningkat akibat pelonggaran PPKM dan menjelang HBKN Natal dan Tahun Baru. Transaksi nontunai juga mengalami peningkatan baik pada Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) maupun sektor ritel seperti transaksi Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK).
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Seriring dengan pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut, tingkat kesejahteraan di DKI Jakarta berdasarkan indikator-indikator terkini yang tersedia menunjukkan perbaikan. Jumlah tenaga kerja menunjukkan peningkatan dan jumlah pengangguran mengalami penurunan pada periode pencatatan Agustus 2021. Peningkatan tenaga kerja bersumber dari penyerapan di sektor formal maupun informal. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), beberapa LU utama seperti LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan, serta LU Transportasi dan Pergudangan menunjukkan kinerja penyerapan tenaga kerja yang positif. Pada periode pencatatan September 2021, tingkat kemiskinan di DKI Jakarta mengalami penurunan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Namun demikian, angka Garis Kemiskinan (GK) tumbuh meningkat sejalan dengan peningkatan inflasi pada April sampai dengan September 2021. Di tengah penurunan kemiskinan, ketimpangan di DKI Jakarta pada periode September 2021 mengalami peningkatan, tercermin dari peningkatan indeks rasio gini. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus menggencarkan berbagai program perlindungan sosial untuk menjaga kesejahteraan masyarakat di tengah pandemi. Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DKI Jakarta pada tahun 2021 juga mengalami peningkatan.
Prospek Perekonomian
Perekonomian DKI Jakarta diprakirakan melanjutkan pemulihan yang lebih tinggi pada triwulan I 2022. Selain karena faktor base effect pada tahun sebelumnya yang masih mencatatkan kontraksi, pertumbuhan ekonomi secara tahunan juga didukung oleh lebih longgarnya kebijakan PPKM level 3 yang berlaku sejak 8 Februari 2021 dibandingkan PPKM Makro-Mikro yang berlaku pada triwulan I 2021. Adapun peningkatan status PPKM sudah mulai terjadi di awal tahun 2022, yaitu melalui peningkatan status ke level 2 yang berlaku sejak tanggal 4 Januari 2022 sebagai respons dari Pemerintah untuk menahan lonjakan kasus COVID-19 varian Omicron yang mulai meningkat di awal tahun 2022. Dengan perkembangan tersebut, perekonomian dari sisi pengeluaran masih akan ditopang oleh Konsumsi RT dan pertumbuhan yang positif dari seluruh komponen. Dari sisi LU, seluruh LU utama diperkirakan akan tumbuh positif seiring dengan masih cukup tingginya aktivitas ekonomi masyarakat pada saat pelonggaran aktivitas. Secara triwulanan, kinerja perekonomian DKI Jakarta pada triwulan I 2022 diprakirakan akan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan IV 2021, seiring dengan optimisme masyarkat yang masih tinggi di tengah lonjakan kasus COVID-19 yang lebih terkendali.
Pada triwulan II 2022, perekonomian DKI Jakarta diproyeksikan masih akan terus melanjutkan pemulihan sejalan dengan prakiraan membaiknya pertumbuhan ekonomi global dan domestik serta meningkatnya harga komoditas dan volume perdagangan dunia. Perbaikan ekonomi DKI Jakarta pada triwulan II 2022 juga akan didorong oleh beberapa faktor yaitu relatif terkendalinya kasus COVID-19 sehingga diperkirakan akan berdampak pada pelonggaran level PPKM, akselerasi program vaksinasi ketiga (booster) di DKI Jakarta, serta pelaksanaan Ramadhan dan HBKN Idul Fitri. Dari sisi pengeluaran, motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta pada triwulan II 2022 masih bersumber dari konsumsi rumah tangga. Sementara itu, dari sisi lapangan usaha (LU) perekonomian DKI Jakarta pada triwulan II 2022 masih akan ditopang oleh pertumbuhan beberapa LU utama yaitu industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran dan reparasi kendaraan bermotor, konstruksi, serta informasi dan komunikasi. Berdasarkan perkembangan tersebut, perekonomian Jakarta pada tahun 2022 diprakirakan tumbuh lebih tinggi yaitu pada kisaran 5,3-6,1% (yoy) dibandingkan tahun 2021.
Dari sisi harga, inflasi diprakirakan masih rendah, meski melanjutkan peningkatan pada triwulan I 2022. Inflasi yang meningkat seiring dengan berlanjutnya aktivitas dan konsumsi masyarakat, serta adanya kenaikan beberapa tarif yang diatur pemerintah seperti harga gas elpiji dan cukai rokok. Meskipun demikian, meningkatnya kasus COVID-19 dan adanya peningkatan status PPKM hingga ke level 3 di triwulan berjalan, berpotensi menahan konsumsi masyarakat. Dari sisi komoditas makanan, adanya panen besar di bulan Februari – April 2022 berdampak terhadap peningkatan pasokan bahan pangan sehingga turut menjaga inflasi tetap rendah. Inflasi pada triwulan II 2022 diprakirakan masih akan tetap terjaga di kisaran target inflasi nasional yaitu 3 ± 1% (yoy) meskipun akan sedikit lebih tinggi dari triwulan sebelumnya. Tekanan inflasi utamanya bersumber dari meningkatnya permintaan masyarakat pada bulan Ramadhan dan HBKN. Disamping itu, tekanan inflasi juga bersumber dari kenaikan harga komoditas global, kondisi cuaca serta peningkatan tensi geopolitik. Pada 2022, inflasi Jakarta diprakirakan lebih tinggi didorong oleh pemulihan ekonomi dan peningkatan daya beli masyarakat, namun masih terkendali di kisaran 3,0 ± 1,0% (yoy).