Pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan IV 2024 tercatat sebesar 5,07% (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,05% (yoy). Beberapa faktor pendorong pertumbuhan tersebut antara lain: 1) Peningkatan mobilitas penduduk pada akhir tahun 2024, termasuk momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta Pemilihan Umum (Pemilu); 2) Berlanjutnya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan proyek strategis daerah lainnya, seperti jalan tol Jogja-Solo, jalur alternatif Sleman-Gunungkidul, Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS); 3) Peningkatan konsumsi rumah tangga sejalan dengan momen libur panjang dan cuti bersama; serta 4) Peningkatan konsumsi pemerintah yang didorong oleh belanja Pemilu. Berdasarkan hal tersebut ekonomi DIY menjadi yang tertinggi di wilayah Jawa dan lebih tinggi dari Nasional yang masing-masing tumbuh 5,01% (yoy) dan 5,02% (yoy).
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi DIY ditopang oleh kinerja ekspor barang dan jasa serta Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Kinerja ekspor barang dan jasa tumbuh meningkat sejalan dengan meningkatnya permintaan produk ekspor ke negara tujuan ekspor. Lebih lanjut, kinerja investasi tumbuh meningkat sejalan dengan masih berlanjutnya Proyek Strategis Nasional (PSN) di wilayah DIY dan proyek strategis daerah lainnya sehingga mendorong besarnya investasi fisik di DIY, seperti pembangunan jalan tol Jogja-Solo, jalur alternatif Sleman-Gunungkidul, Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Komponen Konsumsi Rumah Tangga tetap positif sejalan dengan peningkatan periode kunjungan wisatawan pada periode liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Selain itu, Konsumsi Pemerintah juga mengalami peningkatan seiring dengan mulai memasukinya periode Pemilu serta meningkatnya belanja bantuan sosial di triwulan IV 2024.
Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan didorong oleh LU akomodasi makan minum, konstruksi, transportasi dan pergudangan, dan pertambangan. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke DIY seiring dengan periode libur sekolah dan pelaksanaan pilkada menjadi faktor pendorong pertumbuhan LU akomodasi makan minum yang lebih tinggi, serta turut mendorong tumbuh positifnya LU industri pengolahan. Sementara LU konstruksi tumbuh sejalan dengan masih berlangsungnya Pembangunan proyek PSN tol Jogja-Solo, jalur alternatif Sleman-Gunungkidul, Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Hal ini juga turut mendorong sektor LU pertambangan dan penggalian, utamanya untuk komoditas penggalian nonlogam. Selanjutnya, sektor transportasi dan pergudangan juga tumbuh positif didorong oleh peningkatan jumlah penumpang dan barang karena mobilitas masyarakat dan peningkatan kegiatan ekonomi lainnya yang sejalan dengan kegiatan pariwisata dan pilkada.
Kinerja realisasi pendapatan dan belanja Pemda se-DIY pada triwulan IV terus melanjutkan pertumbuhan positif pada triwulan IV 2024. Realisasi pendapatan Pemda se-DIY pada triwulan IV 2024 menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 4,68% (yoy) dengan total pendapatan mencapai Rp17,824 triliun dan serapan realisasi sebesar 101,21% terhadap pagu. Pertumbuhan realisasi pendapatan Pemda se-DIY pada triwulan IV 2024 didorong oleh pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Pendapatan Transfer yang bertumbuh secara positif. Secara keseluruhan, kemandirian fiskal se-DIY pada triwulan IV 2024 relatif mengalami kenaikan dibandingkan triwulan yang sama di tahun lalu, tercermin dari rasio PAD terhadap total pendapatan dari 32,25% menjadi 32,64%. Sejalan dengan realisasi pendapatan, realisasi belanja Pemda se-DIY pada triwulan IV 2024 menunjukkan pertumbuhan positif sebesar Rp17,561 triliun dengan capaian realisasi 95,12%. Kinerja positif pos belanja APBD secara umum ditopang oleh pertumbuhan belanja operasional yang memiliki kontribusi sebesar 73,28% dari total belanja. Selain itu, kinerja APBN di DIY telah terealisasi sebesar Rp23,64 triliun dengan capaian 95,35% terhadap pagu tahun 2024 atau tumbuh 3,83% (yoy) seiring kinerja positif di kedua komponen yakni Penerimaan Perpajakan dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Sejalan dengan pertumbuhan belanja pemerintah daerah, realisasi belanja APBN di DIY juga terealisasi sebesar Rp23,64 triliun atau 95,35% terhadap pagu.
Realisasi inflasi gabungan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunungkidul sebagai kota IHK yang mewakili DIY pada triwulan IV 2024 terkendali dalam rentang sasaran nasional. Inflasi gabungan kota IHK di DIY pada triwulan IV 2024 tercatat sebesar 1,28% (yoy), lebih rendah dari realisasi triwulan yang sama tahun 2023 dan inflasi triwulan III 2024 yang masing-masing sebesar 3,17% (yoy) dan 1,85% (yoy). Realisasi tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan inflasi gabungan 38 Kabupaten/Kota IHK di Jawa dan inflasi nasional yang keduanya tercatat sebesar 1,58% (yoy) dan 1,57% (yoy) pada triwulan IV 2024. Ditinjau berdasarkan kelompok pengeluaran, melandainya inflasi pada triwulan IV 2024 disebabkan oleh: 1) kelompok makanan, minuman, dan tembakau, 2) kelompok transportasi, 3) kelompok kesehatan, 4) kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, serta 5) pendidikan. Terkendalinya inflasi tahunan pada triwulan IV 2024 didukung oleh melimpahnya pasokan sejumlah komoditas pangan utamanya pada kelompok aneka cabai seiring berlanjutnya panen raya di tengah kondisi cuaca yang kondusif serta terkendalinya ekspektasi masyarakat didukung oleh inovasi pengendalian inflasi yang dikembangkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY.
Kinerja bank umum di DIY pada triwulan IV 2024 tetap kuat. Kinerja penghimpunan DPK perbankan umum di DIY pada triwulan IV 2024 tumbuh positif, meskipun termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan IV 2024, pertumbuhan DPK tercatat sebesar 4,60% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,55% (yoy). Pada triwulan IV 2024, kredit perbankan di DIY juga tetap positif, meskipun termoderasi dibandingkan triwulan III 2024. Pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi proyek tercatat sebesar 11,66% (yoy), melemah dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu 12,78% (yoy). Adapun valuasi kredit perbankan DIY pada triwulan IV 2024 yaitu sebesar Rp60.370 miliar. Kualitas pembiayaan perbankan tetap terjaga di tengah meningkatnya penyaluran kredit. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) triwulan IV 2024 tercatat sebesar 3,01% (yoy), lebih terkendali dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 3,15% dan masih berada di bawah threshold 5%.
Pertumbuhan transaksi nontunai melalui Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada triwulan IV 2024 mengalami kontraksi. Nominal transaksi RTGS di DIY pada triwulan IV 2024 tercatat sebesar Rp15,50 triliun atau terkontraksi 2,23% (yoy) . Sejalan dengan hal tersebut transaksi melalui SKNBI pada triwulan IV 2024 tercatat sebesar Rp3,77 triliun atau menurun sebesar 7,54% (yoy). Nominal transaksi pembayaran nontunai berbasis kartu di DIY mencapai Rp20,80 triliun tumbuh sebesar 0,03% (yoy) dari triwulan IV tahun 2023 yang tercatat sebesar Rp20,79 triliun. Sementara itu, kinerja Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) pada triwulan IV 2024 juga berjalan dengan baik. Pada triwulan IV 2024, jumlah arus uang tunai yang keluar dan masuk Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY masing-masing tercatat Rp3,11 triliun dan Rp2,21 triliun dengan net outflow sebesar Rp0,89 triliun. Net outflow terjadi seiring dengan peningkatan permintaan uang kartal oleh perbankan dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pada periode Natal dan Tahun Baru. Jumlah transaksi penukaran valuta asing (valas) DIY melalui KUPVA Bukan Bank pada triwulan II 2024 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya seiring dengan peningkatan jumlah wisatawan mancanegara. Dari sisi sistem pembayaran non tunai, Akseptasi kanal pembayaran berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai kanal pembayaran digital di DIY terus mencatatkan perkembangan yang positif sejalan dengan perkembangan implementasi QRIS secara nasional. Penggunaan QRIS di DIY terus tumbuh baik dari sisi merchant dan pengguna. Hingga triwulan IV 2024 terdapat 857 ribu merchant QRIS dan 941 ribu pengguna QRIS di wilayah DIY, meningkat masing-masing 21,10% (yoy) dan 16,13% (yoy). lebih lanjut, Segmentasi merchant QRIS masih didominasi oleh 96,97% merchant jenis usaha mikro 56,54%.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) DIY pada Agustus 2024 meningkat. Secara sektoral, TPAK penyerapan tenaga kerja di DIY masih didominasi oleh tiga Lapangan Usaha (LU) utama yang menjadi penggerak perekonomian DIY, diantaranya LU Pertanian, Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor, serta Industri Pengolahan. Persentase penduduk miskin DIY pada September 2024 melanjutkan keberlanjutan penurunan meski masih lebih tinggi dibandingkan capaian nasional. Persentase penduduk miskin DIY turun dari 10,83% pada Maret 2024 menjadi 10,4% pada September 2024. Penurunan persentase penduduk miskin salah satunya dipengaruhi oleh inflasi yang terkendali. Selain itu, ketimpangan pengeluaran penduduk DIY juga mengalami penurunan, tercermin dari Indeks Gini Ratio sebesar 0,428 yang lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 0,435. Walaupun mengalami penurunan indeks Gini Ratio, tingkat ketimpangan DIY ini masih lebih tinggi dibandingkan nasional yang sebesar 0,381 nasional.
Secara umum, perekonomian DIY pada 2025 diperkirakan tumbuh di kisaran 4,8 – 5,6% (yoy), lebih tinggi dibandingkan 2024. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perekonomian DIY berpotensi tumbuh optimal dengan didukung oleh ekonomi domestik. Selain itu, meningkatnya daya beli masyarakat seiring kenaikan UMP dan UMK serta penyelesaian PSN berupa pembangunan jalan tol juga diprakirakan mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi. Kinerja investasi juga berpotensi mengalami pertumbuhan seiring dengan membaiknya kepercayaan investor dan berlanjutnya pembangunan di daerah. Lebih lanjut, Inflasi DIY pada tahun 2025 diperkirakan tetap terkendali sepanjang tahun dan berada pada sasaran 2,5±1%. Terkendalinya inflasi didukung oleh upaya TPID DIY untuk menjaga kestabilan inflasi melalui GNPIP dalam koridor 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif). Beberapa upaya TPID antara lain mengoptimalisasikan Segoro Amarto sebagai kios price reference, meningkatkan produksi pangan daerah melalui implementasi digital farming, melakukan operasi pasar, pemenuhan kebutuhan melalui perluasan kerja sama intra dan antar daerah, serta meningkatkan komunikasi efektif melalui MRANTASI (Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi) di seluruh kabupaten/kota di DIY.