PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI DAERAH
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu pada triwulan I 2026 tumbuh positif sebesar 4,72% (yoy), meskipun sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,79% (yoy). Secara umum, pertumbuhan tersebut ditopang oleh komponen konsumsi rumah tangga (RT), konsumsi pemerintah dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Kinerja tersebut sejalan dengan tetap terjaganya konsumsi dan mobilitas masyarakat pada momentum Ramadhan dan HBKN Idulfitri, serta meningkatnya realisasi belanja pemerintah pada periode berjalan seiring optimalisasi penyerapan anggaran pembangunan layanan publik melalui pembangunan infrastruktur menjelang HBKN Idulfitri. Kondisi ini turut mendukung peningkatan aktivitas ekonomi daerah melalui penguatan belanja pemerintah.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 didorong oleh komponen konsumsi rumah tangga, PMTB, dan konsumsi pemerintah. Konsumsi rumah tangga didorong oleh meningkatnya daya beli masyarakat seiring kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) dari Rp2,67 juta pada tahun 2025 menjadi Rp2,83 juta pada tahun 2026, serta meningkatnya pengeluaran untuk makanan dan minuman, transportasi, dan komunikasi, serta restoran dan hotel, khususnya pada momentum Bulan Ramadhan dan HBKN Idulfitri. Kinerja investasi menunjukan perbaikan yang ditopang dengan meningkatnya aktivitas konstruksi dengan berlanjutnya sejumlah proyek strategis kementerian/lembaga, melalui pembangunan gedung, pembangunan fisik gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta preservasi jalan, yang secara keseluruhan turut menjaga keberlanjutan investasi fisik di Provinsi Bengkulu. Sementara itu, konsumsi pemerintah meningkat signifikan didorong oleh oleh realisasi belanja pegawai melalui pencairan gaji ke-14 dan THR, serta peningkatan transfer sosial pemerintah pusat dalam bentuk barang melalui program MBG.
Dari sisi lapangan usaha, sumber pertumbuhan ekonomi berasal dari LU Pertanian , LU Perdagangan dan transportasi. Kinerja LU Pertanian didukung oleh peningkatan produktivitas pertanian pangan, kinerja perikanan, dan perkembangan Sub Lapangan Usaha Peternakan yang semakin membaik. Selain itu, pertumbuhan sektor ini turut diperkuat oleh program perluasan lahan sawah dan program bantuan alsintan kepada petani. Selain itu, meningkatanya produksi Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit pasca replanting juga mendorong peningkatan Sub Lapangan Usaha Perkebunan, di tengah perbaikan harga TBS kelapa sawit turut mendorong pendapatan petani, sejalan dengan penetapan harga TBS oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu sebesar Rp3.463, meningkat dari kisaran sebelumnya sekitar Rp3.173/kg. Sementara, kinerja LU Industri Perdagangan didukung oleh peningkatan penjualan kendaraan baru, khususnya sepeda motor, yang tercermin dari meningkatnya penerimaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) tipe I, turut mendorong kinerja perdagangan otomotif, sejalan dengan peningkatan mobilitas masyarakat, aktivitas konsumsi pada momentum Ramadhan dan HBKN Idulfitri, serta perbaikan pasokan dari sektor produksi daerah. Pada LU Transportasi, pertumbuhan ditopang oleh meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode Ramadan dan HBKN Idulfitri yang mendorong peningkatan volume penumpang angkutan darat, udara, laut, dan penyeberangan serta turut didukung oleh kebijakan tarif angkutan lebaran 2026 yang diberlakukan secara nasional untuk menjaga daya beli dan memperlancar mobilitas masyarakat.
PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
Inflasi Provinsi Bengkulu pada triwulan I 2026 menunjukan peningkatan sebesar 2,85% (yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 2,77% (yoy). Kondisi ini dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 1,43% (yoy) dengan komoditas pendorong utama daging ayam ras.
Komoditas daging ayam ras menjadi pendorong inflasi utama yang disebabkan oleh berlanjutnya tekanan biaya produksi, khususnya harga bibit/DOC dan pakan, di tengah keterbatasan kapasitas pasokan lokal Bengkulu. Struktur pasokan ayam ras Bengkulu yang masih memiliki keterkaitan dengan wilayah pemasok sekitar Sumatera bagian selatan menyebabkan harga di tingkat konsumen relatif sensitif terhadap kenaikan biaya hulu dan distribusi. Di sisi permintaan, momentum Ramadan dan Idulfitri 2026 mendorong peningkatan konsumsi protein hewani, sehingga memperkuat tekanan harga daging ayam ras di pasar tradisional. Kondisi tersebut menjadikan daging ayam ras sebagai komoditas pangan dengan andil inflasi tahunan terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Di sisi lain, kontributor penahan inflasi terbesar di Provinsi Bengkulu berasal dari kelompok pendidikan, seiring penurunan biaya sekolah setelah terbitnya Surat Edaran Gubernur No. 00.4.4/801/Dikbud/2025 yang ditujukan kepada seluruh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu serta kepala SMA, SMK, dan SLB di seluruh provinsi, yang menginstruksikan satuan pendidikan untuk tidak memungut uang bangunan, uang seragam, uang buku tertentu, maupun iuran dalam bentuk apapun pada pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB).
Pada triwulan II 2026, tekanan inflasi Provinsi Bengkulu diprakirakan stabil dengan kecendrungan bias bawah dibandingkan triwulan I 2026. Inflasi diprakirakan didorong oleh peningkatan harga komoditas hortikultura yang telah melewati masa panen dan memasuki masa tanam. Lebih lanjut, inflasi diprakirakan berasal dari dorongan permintaan pada periode long weekend di bulan Mei. Dari sisi pangan, komoditas cabai merah, daging ayam ras, dan hortikultura diprakirakan relatif stabil dengan normalisasi permintaan pasca periode HBKN Ramadhan dan Idul Fitri di bulan sebelumnya yang mendorong kenaikan harga. Di sisi lain, TPID Provinsi Bengkulu terus melakukan berbagai upaya pengendalian inflasi dalam menjaga keterjangkauan harga melalui koordinasi dengan aparat penegak hukum dan satgas inflasi untuk terus mengadakan sidak terutama pada pasar dan distributor untuk menjaga ketersediaan pasokan, melaksanakan GPM 5 Tepat (Sasaran, Lokasi, Waktu, Komoditas, dan Jumlah), operasi pasar, pasar murah, dan pasokan yang terjaga melalui realisasi KAD untuk dapat membantu pengendalian inflasi sesuai target 2,5 + 1%.
PEMBIAYAAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM
Kondisi stabilitas sistem keuangan Provinsi Bengkulu pada periode triwulan I 2026 menunjukkan kinerja yang tetap terjaga dari sisi rumah tangga, korporasi dan perbankan secara umum. Intermediasi perbankan tetap terjaga dengan ditopang oleh pertumbuhan kredit yang positif. Peningkatan tingkat Loan to Deposit Ratio mencerminkan peningkatan rasio penyaluran kredit yang lebih besar dibandingkan tingkat penghimpunan dana. Namun demikian, kualitas kredit tetap terjaga dengan membaiknya rasio kredit bermasalah/Non-Performing Loan/Funding.
Kinerja penyaluran kredit pada triwulan laporan mengalami peningkatan didorong oleh pertumbuhan kredit investasi yang meningkat signifikan dan kredit konsumsi yang terus tumbuh meski sedikit melambat. Kinerja penghimpunan dana tercatat positif sebagaimana ditunjukan oleh posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) yang meningkat pada tabungan, deposito, dan giro dengan pertumbuhan yang menguat. Sejalan dengan hal tersebut, aset perbankan tercatat tetap positif meski sedikit melambat.
Kinerja perbankan syariah cenderung meningkat disertai dengan peningkatan pangsa perbankan syariah pada triwulan laporan. Disamping itu, penyaluran kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tercatat mengalami penurunan dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya dengan NPL yang relatif stagnan dan tetap di bawah batas aman NPL.
PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Aktivitas transaksi tunai di Provinsi Bengkulu pada triwulan I 2026 tercatat mengalami net outflow. Transaksi nontunai SKNBI mengalami penurunan secara year-on-year, sedangkan APMK debit dan kredit, uang elektronik, dan QRIS menunjukkan tren peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Perluasan ekosistem digital di Provinsi Bengkulu juga terakselarasi yang ditunjukkan oleh peningkatan pengguna dan volume QRIS maupun perluasan akusisi merchant.
Transaksi pembelian dan penjualan pada Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) di triwulan I 2026 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025. Lebih lanjut, valas yang paling banyak ditransaksikan oleh masyarakat Provinsi Bengkulu berturut-turut adalah Dollar Amerika Serikat (USD), Singapore Dollar (SGD) dan Malaysian Ringgit (MYR) dari total mata uang yang diperjualbelikan.
KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan di Provinsi Bengkulu menunjukkan perkembangan yang relatif terjaga. Hal tersebut tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang masih berada pada level tinggi serta indikator kemiskinan yang membaik. Namun demikian, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) masih menahan perbaikan karena penurunannya lebih dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah angkatan kerja. Kondisi tersebut menunjukkan penyerapan tenaga kerja belum optimal. TPT Provinsi Bengkulu tercatat sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai Tukar Petani (NTP) masih berada pada level yang tinggi meskipun mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan I 2026, NTP Provinsi Bengkulu tercatat sebesar 204,50.
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu sepanjang tahun 2026 diprakirakan mampu tumbuh positif pada rentang 4,61-4,69% (yoy).
Dari sisi pengeluaran, kinerja ekonomi diprakirakan tetap ditopang oleh konsumsi RT seiring kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP), penyaluran Tunjangan Profesi Guru (TPG) ASN secara bertahap, pembayaran THR pada momentum HBKN Ramadhan dan Idulfitri, ekspektasi pencairan gaji ke-13, serta berlanjutnya bantuan sosial. Konsumsi pemerintah diprakirakan terakselerasi, didorong oleh realisasi belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta pelaksanaan program prioritas pemerintah seperti MBG. Sementara itu, PMTB/investasi diprakirakan tetap tumbuh positif sejalan dengan berlanjutnya aktivitas konstruksi, preservasi jalan, pembangunan infrastruktur, dan meningkatnya realisasi PMDN. Di sisi lain, ekspor diprakirakan masih tertahan akibat terbatasnya produksi dan pengapalan komoditas utama, khususnya batu bara dan karet, meskipun perbaikan harga komoditas global berpotensi menahan perlambatan lebih dalam.
Dari sisi Lapangan Usaha (LU), akselerasi pertumbuhan ekonomi Bengkulu tahun 2026 bersumber dari kinerja LU Pertanian, LU Perdagangan, dan LU Transportasi. Namun tertahan oleh kinerja LU Industri Pengolahan yang diprakirakan akan tumbuh terbatas.
Dari sisi tekanan harga, inflasi di Provinsi Bengkulu pada 2026 diprakirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya namun masih dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Inflasi diprakirakan dipengaruhi oleh pola musiman konsumsi pada paruh kedua tahun dan risiko pasokan hortikultura selama fase tanam, Sementara itu, berbagai upaya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) diprakirakan mampu menjaga inflasi dalam sasarana nasional.
Secara tahunan, inflasi Provinsi Bengkulu tahun 2026 diprakirakan menurun dibandingkan 2025 namun tetap berada dalam sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Penurunan terutama dipengaruhi oleh pola musiman konsumsi pada paruh kedua tahun dan risiko pasokan hortikultura selama fase tanam. Sementara itu, berbagai upaya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) diprakirakan mampu menjaga inflasi dalam sasaran nasional.