Perekonomian DIY tumbuh akseleratif pada triwulan I 2025 mencapai 5,11% (yoy) meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,07% (yoy). Perekonomian DIY triwulan I 2025 tersebut juga tumbuh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kinerja perekonomian wilayah Jawa dan Nasional, yang masing-masing tumbuh sebesar 4,99% (yoy) dan 4,87% (yoy). Adapun kontribusi perekonomian DIY terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa dan Nasional secara berturut-turut sebesar 1,56% dan 0,90%.
Dari sisi pengeluaran, perekonomian DIY yang tetap kuat utamanya ditopang oleh meningkatnya kinerja konsumsi Rumah Tangga, dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Sementara itu, pertumbuhan ekonomi DIY yang lebih tinggi tertahan oleh kontraksi konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT). Meningkatnya pertumbuhan konsumsi RT terutama tejadi pada konsumsi makanan dan minuman, transportasi/angkutan, komunikasi, rekreasi dan penginapan, sejalan dengan momen cuti bersama serta Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri yang terjadi selama triwulan I 2025. Kinerja investasi tetap kuat yang dipengaruhi oleh investasi bangunan dan non bangunan yang terjaga positif seiring dengan berlanjutnya penyelesaian pembangunan beberapa infrastruktur eks Proyek Strategis Nasional (PSN), seperti jalan tol Yogyakarta-Solo, Yogyakarta-Bawen, Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) section Jembatan Pandansimo dan Jalan Baru Kretek-Girijati atau kelok 18.
Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan ekonomi DIY terutama ditopang oleh LU Industri Pengolahan; LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; LU Perdagangan Besar dan Eceran; LU Konstruksi serta LU Informasi dan Komunikasi. LU Pertanian tumbuh akseleratif pada triwulan I 2025 terutama sejalan dengan peningkatan produksi tanaman pangan yang cukup tinggi pada triwulan I 2025 pasca kendala cuaca El Nino. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke DIY seiring dengan periode cuti bersama, dan momentum HBKN Idul Fitri menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan LU akomodasi makan minum yang lebih tinggi, serta turut mendorong tumbuh positifnya LU industri pengolahan serta LU perdagangan besar dan eceran. Sementara LU konstruksi tumbuh sejalan dengan masih berlangsungnya Pembangunan beberapa infrastruktur eks Proyek Strategis Nasional (PSN), seperti jalan tol Yogyakarta-Solo, Yogyakarta-Bawen, Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) section Jembatan Pandansimo dan Jalan Baru Kretek-Girijati atau kelok 18.
Sejalan dengan penurunan pagu pendapatan, kinerja realisasi pendapatan Pemda se-DIY pada triwulan I 2025 mengalami kontraksi sebesar 13,8% (yoy), ditengah pertumbuhan positif realisasi belanja Pemda se-DIY sebesar 4,33% (yoy) dengan capaian realisasi serapan belanja telah mencapai 16% dari pagu tahun 2025. Secara keseluruhan, kemandirian fiskal se-DIY pada triwulan I 2025 relatif meningkat dibandingkan triwulan yang sama di tahun lalu, tercermin dari rasio PAD terhadap total pendapatan dari 26,05% menjadi 34,90%. Kinerja Pendapatan APBN di DIY mengalami kontraksi sebesar 20,57% (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya. Belanja Negara dari APBN DIY sampai dengan triwulan I 2025 telah terealisasi sebesar Rp4,65 triliun atau terkontraksi sebesar 11,62% (yoy) dari tahun sebelumnya. Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) sebagai bagian dari belanja negara telah disalurkan sebesar Rp2,64 triliun dengan pertumbuhan positif sebesar 4,74% (yoy) dari periode yang sama pada tahun yang sebelumnya. Keseimbangan Primer pada kinerja APBN DIY di triwulan I 2025 menunjukkan defisit sebesar Rp2,73 triliun namun mengalami penurunan angka defisit sebesar 4,04%. Perbaikan defisit ini mengindikasikan adanya upaya pemerintah untuk menekan angka defisit salah satunya dengan diberlakukannya efisiensi pada Belanja Negara.
Kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunungkidul sebagai kota IHK yang mewakili DIY mengawali tahun 2025 dengan inflasi yang terjaga. inflasi gabungan kota IHK di DIY pada triwulan I 2025 tercatat sebesar 0,52% (yoy), lebih rendah dari realisasi triwulan yang sama tahun 2024 dan inflasi triwulan IV 2024 yang masing-masing sebesar 2,95% (yoy) dan 1,28% (yoy). Realisasi tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan inflasi gabungan 90 Kabupaten/Kota IHK di Jawa dan inflasi nasional yang keduanya tercatat sebesar 0,85% (yoy) dan 1,03% (yoy) pada triwulan I 2025. Ditinjau berdasarkan kelompok pengeluaran, melandainya inflasi pada triwulan I 2025 terutama disebabkan kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga. Penurunan tekanan inflasi ini terutama disebabkan oleh kebijakan Pemerintah yang memberlakukan kebijakan stimulus diskon tarif listrik sebesar 50% bagi konsumen listrik rumah tangga dengan daya terpasang hingga 2.200VA. Terkendalinya inflasi tahunan pada triwulan I 2025 juga turut didukung oleh melimpahnya pasokan sejumlah komoditas pangan utamanya beras seiring berlangsungnya panen raya. Selain itu inflasi yang berada dalam sasaran target inflasi 2025 didukung dengan berbagai inovasi pengendalian inflasi yang dikembangkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY.
Kinerja bank umum di DIY pada triwulan I 2025 tetap kuat. Kinerja penghimpunan DPK perbankan umum di DIY pada triwulan I 2025 tumbuh positif, meskipun termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan I 2025, pertumbuhan DPK tercatat sebesar 4,00% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 4,60% (yoy). Pertumbuhan kredit perbankan DIY pada triwulan I 2025 juga tetap positif, meskipun termoderasi dibandingkan triwulan IV 2024. Pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi proyek tercatat sebesar 10,07% (yoy), melemah dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu 11,66% (yoy). Adapun valuasi kredit perbankan DIY pada triwulan I 2025 yaitu sebesar Rp60,61 miliar. Kualitas pembiayaan perbankan tetap terjaga di tengah meningkatnya penyaluran kredit. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) triwulan I 2025 tercatat sebesar 2,91% (yoy), lebih terkendali dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 3,01% dan masih berada di bawah threshold 5%.
Pertumbuhan transaksi pembayaran nontunai melalui Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) pada triwulan I 2025 tumbuh positif sejalan dengan pertumbuhan ekonomi DIY. Nominal transaksi RTGS di DIY pada triwulan I 2025 tercatat sebesar Rp13,27 triliun atau tumbuh 21,67% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi ritel, transaksi melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada triwulan I 2025 tercatat sebesar Rp2,66 triliun atau terkontraksi sebesar 13,65% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nominal transaksi pembayaran nontunai berbasis kartu di DIY tercatat sebesar Rp21,32 triliun terkontraksi sebesar 2,79% (yoy) pada triwulan I 2025. Di sisi lain, transaksi Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) di DIY pada triwulan I 2025 terkontraksi sebesar 2,79% (yoy) dari triwulan I tahun 2024 atau tercatat senilai Rp21,93 triliun. Adapun transaksi Uang Elektronik di DIY pada triwulan I 2025 melanjutkan tren pertumbuhan positif dengan nominal yang tercatat sebesar Rp3,15 triliun atau tumbuh 26,70% (yoy) dibanding capaian pada triwulan yang sama tahun lalu. Sejalan dengan hal tersebut, nominal serta volume transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada triwulan I 2025 masing-masing tumbuh 281,39% (yoy) dan 292,58% (yoy) dibandingkan triwulan I 2024. Sementara itu, jumlah arus uang tunai yang keluar dan masuk Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) DIY masing-masing tercatat Rp3,32 triliun dan Rp3,20 triliun dengan net outflow sebesar Rp11,33 miliar. Dari sisi penukaran valuta asing (valas) melalui Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB), Total transaksi jual dan beli valas di DIY tercatat sebesar Rp540,34 miliar atau terkontraksi 7,43% (yoy), lebih rendah dibandingkan transaksi pada triwulan yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp583,70 miliar. Porsi transaksi penjualan dan pembelian mata uang Dolar AS (USD) masih menjadi pangsa terbesar yang diperdagangkan, yakni sebesar 49,81%, diikuti oleh mata uang Dolar Singapura (16,99%), dan Euro (9,39%).
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) DIY pada bulan Februari 2025 mengalami peningkatan. Secara sektoral TPAK penyerapan tenaga kerja di DIY masih didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu, pertanian, Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor, serta Industri Pengolahan. Persentase penduduk miskin DIY pada September 2024 melanjutkan keberlanjutan penurunan meski masih lebih tinggi dibandingkan capaian nasional. Persentase penduduk miskin DIY turun dari 10,83% pada Maret 2024 menjadi 10,40% pada September 2024. Penurunan persentase penduduk miskin salah satunya dipengaruhi oleh inflasi yang terkendali. Selain itu, ketimpangan pengeluaran penduduk DIY juga mengalami penurunan, tercermin dari Indeks Gini Ratio sebesar 0,43 yang lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 0,43. Walaupun mengalami penurunan indeks Gini Ratio, tingkat ketimpangan DIY ini masih lebih tinggi dibandingkan nasional yang sebesar 0,38.
Secara umum pada 2025, perekonomian DIY diperkirakan melanjutkan pertumbuhan positif dibandingkan 2024. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2025 diperkirakan berada di kisaran 4,8 – 5,6% (yoy). Di tengah ketidakpastian global, perekonomian domestik diperkirakan tetap kuat sejalan dengan kebijakan kenaikan UMP dan UMK 2025 yang berpotensi mendorong daya beli masyarakat. Kinerja investasi juga berpotensi mengalami pertumbuhan seiring dengan membaiknya kepercayaan investor dan berlanjutnya pembangunan di daerah. Namun di sisi lain, ketidakpastian ekonomi global diwaspadai dapat mempengaruhi kinerja ekspor dan impor DIY. Lebih lanjut, Inflasi DIY pada tahun 2025 diperkirakan tetap terkendali sepanjang tahun dan berada pada sasaran 2,5±1%. Terkendalinya inflasi didukung oleh upaya TPID DIY untuk menjaga kestabilan inflasi melalui GNPIP dalam koridor 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif). Beberapa upaya TPID antara lain mengoptimalisasikan Segoro Amarto sebagai kios price reference, meningkatkan produksi pangan daerah melalui implementasi digital farming, melakukan operasi pasar, pemenuhan kebutuhan melalui perluasan kerja sama intra dan antar daerah, serta meningkatkan komunikasi efektif melalui MRANTASI (Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi) di seluruh kabupaten/kota di DIY.