Perkembangan Ekonomi Makro Regional
Perekonomian DIY tumbuh akseleratif pada triwulan II 2025 mencapai 5,49% (yoy) meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,11% (yoy). Perekonomian DIY triwulan II 2025 tersebut juga tumbuh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kinerja perekonomian wilayah Jawa dan Nasional, yang masing-masing tumbuh sebesar 5,24% (yoy) dan 5,12% (yoy) (Grafik 1.1). Adapun kontribusi perekonomian DIY terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa dan Nasional secara berturut-turut sebesar 1,63% dan 0,99%.
Dari sisi pengeluaran, perekonomian DIY yang tumbuh positif pada triwulan II 2025 terutama ditopang oleh meningkatnya kinerja Konsumsi Rumah Tangga (RT), PMTB, dan Konsumsi Pemerintah. Konsumsi RT yang memiliki pangsa terbesar dibandingkan komponen lainnya yaitu sebesar 62,25%, melanjutkan pertumbuhan positif sebesar 4,43% (yoy), sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yaitu 4,80% (yoy). Sementara itu, kinerja PMTB memiliki pangsa sebesar 34,58% terhadap perekonomian DIY, tumbuh akseleratif sebesar 8,23% (yoy) dibandingkan dengan kinerja PMTB pada triwulan I 2025 yang tumbuh sebesar 4,58% (yoy). Sejalan dengan hal tersebut, kinerja Konsumsi Pemerintah juga mengalami pertumbuhan positif sebesar 2,00% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,38% (yoy) dan memberikan kontribusi sebesar 13,50% pada perekonomian DIY triwulan II 2025. Lebih lanjut, kinerja konsumsi LNPRT DIY tumbuh 4,13% (yoy), menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 1,47% (yoy), dengan kontribusi sebesar 3,18% pada perekonomian DIY triwulan II 2025.
Dari sisi Lapangan Usaha (LU), perekonomian DIY yang tumbuh positif pada triwulan II 2025 terutama ditopang oleh meningkatnya kinerja LU utama di DIY, seperti Industri Pengolahan, Konstruksi, Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, Pertanian, serta Informasi dan Komunikasi. LU Industri Pengolahan yang memiliki pangsa 11,88% dari total PDRB DIY triwulan II 2025, tumbuh sebesar 5,25% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yaitu 3,94% (yoy). Kinerja LU Konstruksi memiliki pangsa sebesar 9,35% dari total PDRB DIY triwulan II 2025, tumbuh sebesar 9,38% (yoy), tumbuh akseleratif dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yaitu 5,07% (yoy). LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum memiliki pangsa sebesar 10,80% dari total PDRB DIY triwulan II 2025, tumbuh sebesar 7,17% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yaitu 5,20% (yoy). Lebih lanjut, LU Transportasi dan Pergudangan memiliki pangsa sebesar 5,89% dari total PDRB DIY triwulan II 2025, tumbuh sebesar 7,40% (yoy), meningkat apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yaitu 4,27% (yoy). Adapun LU Infokom tumbuh 4,92% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2025 yang tumbuh sebesar 3,77% (yoy). LU Infokom memiliki pangsa sebesar 9,56% terhadap perekonomian DIY.
Keuangan Daerah
Realisasi Pendapatan dan Belanja Pemda se-DIY hingga triwulan II 2025 mengalami kontraksi pertumbuhan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Realisasi pendapatan Pemda se-DIY tercatat terkontraksi sebesar 10,79% (yoy) dengan total pendapatan sebesar Rp 6,96 triliun dengan capaian sebesar 42,04% terhadap target pendapatan pada periode laporan. Secara keseluruhan, kemandirian fiskal se-DIY pada triwulan II 2025 relatif meningkat dibandingkan triwulan yang sama di tahun lalu, tercermin dari rasio PAD terhadap total pendapatan dari 30,08% menjadi 36,30% (Grafik 2.2), yang merupakan kemandirian fiskal tertinggi pada triwulan II 2025 selama 5 tahun terakhir. Realisasi belanja Pemda se-DIY pada triwulan II 2025 menunjukkan kontraksi sebesar 12,56% atau sebesar Rp6,2 triliun dengan capaian realisasi serapan mencapai 36,42% dari pagu tahun 2025. Tertahannya pertumbuhan pos belanja APBD secara umum disebabkan oleh pertumbuhan realisasi belanja operasi yang terkontraksi sebesar 7,73% dengan serapan sebesar 39,85% dari pagu anggaran, dengan komponen belanja operasi menjadi kontributor utama dalam penyerapan belanja pemerintah se-DIY dengan kontribusi sebesar 81,95% dari total realisasi belanja pada triwulan II 2025. Kinerja Pendapatan APBN di DIY pada triwulan II 2025 mengalami kontraksi sebesar 9,73% (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya dengan capaian realisasi sebesar Rp4,34 triliun. Belanja Negara dari APBN DIY sampai dengan triwulan II 2025 telah terealisasi sebesar Rp11,61 triliun atau terkontraksi sebesar 15,75% (yoy) dari tahun sebelumnya. Keseimbangan Primer pada kinerja APBN DIY di Triwulan II 2025 menunjukkan defisit sebesar Rp5,43 triliun.
Perkembangan Inflasi
Kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunungkidul sebagai kota IHK yang mewakili DIY tercatat mengalami inflasi yang terjaga pada triwulan II 2025. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi gabungan kota IHK di DIY pada triwulan II 2025 tercatat sebesar 2,52% (yoy), lebih tinggi dari realisasi triwulan yang sama tahun 2024 dan inflasi triwulan I 2025 yang masing-masing sebesar 2,35% (yoy) dan 0,52% (yoy). Adapun realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan inflasi gabungan 90 Kabupaten/Kota IHK di Jawa dan inflasi nasional yang keduanya tercatat sebesar 1,97% (yoy) dan 1,87% (yoy) pada triwulan II 2025. Sedangkan secara tahun kalender, inflasi gabungan kota IHK DIY tercatat sebesar 1,79% (ytd). Ditinjau berdasarkan kelompok pengeluaran, tingkat inflasi pada triwulan II 2025 yang lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I 2025 terutama disebabkan oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Naiknya harga sejumlah komoditas strategis seperti beras terjadi di tengah berlangsungnya musim kemarau basah yang berdampak pada produktivitas panen yang kurang optimal di tengah tingginya permintaan masyarakat. Namun demikian, capaian ini masih terkendali dalam sasaran target inflasi 2025 sebesar 2,5 1% didukung dengan berbagai inovasi pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-DIY.
Pembiayaan Daerah serta Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM
Kinerja bank umum di DIY pada triwulan II 2025 tetap kuat meski mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan triwulan I 2025. Kinerja penghimpunan DPK perbankan umum di DIY pada triwulan II 2025 tumbuh positif, meskipun termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan II 2025, pertumbuhan DPK tercatat sebesar 1,91% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 4,00% (yoy). Sejalan dengan itu, Pertumbuhan kredit perbankan DIY pada triwulan II 2025 juga tetap positif, meskipun termoderasi dibandingkan triwulan I 2025. Pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi proyek pada triwulan II 2025 tercatat sebesar 6,51% (yoy), termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 10,07% (yoy). Adapun valuasi kredit perbankan DIY pada triwulan II 2025 tercatat sebesar Rp60,99 triliun, lebih tinggi dibandingkan valuasi kedit pada triwulan sebelumnya yaitu Rp60,61 triliun. Kualitas pembiayaan perbankan tetap terjaga di tengah meningkatnya penyaluran kredit. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) triwulan II 2025 yang masih terjaga di bawah threshold 5%, yakni tercatat sebesar 3,06%, meski sedikit meningkat dibandingkan triwulan I 2025 yang tercatat sebesar 2,91%.
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Pertumbuhan transaksi nontunai melalui Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada triwulan II 2025 mengalami kontraksi, berbeda dengan transaksi QRIS yang mengalami pertumbuhan yang signifikan. Nominal transaksi RTGS di DIY pada triwulan II 2025 tercatat sebesar Rp10,39 triliun atau terkontraksi sebesar 22,21% (yoy) dibandingkan dengan transaksi pada triwulan yang sama di tahun sebelumnya. Di sisi ritel, transaksi melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada triwulan II 2025 tercatat sebesar Rp2,49 triliun atau terkontraksi sebesar 19,43% (yoy) jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, transaksi Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) di DIY pada triwulan II 2025 terkontraksi. Penurunan transaksi SKNBI dan APMK tersebut tersebut salah satunya terjadi seiring dengan perluasan penggunaan transfer ritel melalui Bank Indonesia Fast Payment (BI-FAST) dan QRIS yang menawarkan transaksi real time 24 jam dengan biaya lebih murah. Nominal transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada triwulan II 2025 mencapai Rp20,43 triliun, tumbuh 482,89% (yoy) dibandingkan triwulan I 2024. Sementara itu, Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) pada triwulan II 2025 terus dilaksanakan guna menjamin tersedianya Uang Rupiah yang layak edar, denominasi sesuai, dan tepat waktu sesuai kebutuhan masyarakat. Pada triwulan II 2025, jumlah arus uang tunai yang keluar dan masuk Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) DIY masing-masing tercatat Rp1,10 triliun dan Rp4,64 triliun dengan net inflow sebesar Rp3,54 triliun. Net inflow terjadi seiring dengan pergerakan masuk uang kartal dari perbankan dan masyarakat ke Bank Indonesia. Jumlah transaksi penukaran valuta asing (valas) DIY melalui Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) pada triwulan II 2025 terkontraksi dibandingkan triwulan sebelumnya seiring dengan penurunan jumlah wisatawan mancanegara. Secara umum, kebutuhan uang kartal menurun seiring dengan perluasan penggunaan transaksi nontunai oleh masyarakat.
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) DIY pada bulan Februari 2025 mengalami peningkatan. Secara sektoral TPAK penyerapan tenaga kerja di DIY masih didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu, pertanian, Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor, serta Industri Pengolahan. Tingkat kemiskinan di DIY pada bulan Maret 2025 melanjutkan kecenderungan dari sisi jumlah dan presentase yang terus menurun sebesar sebesar 1,08% dibandingkan posisi di bulan September 2024. Jumlah penduduk miskin DIY pada Maret 2025 tercatat sebesar 425,82 ribu orang atau 10,23% dari seluruh penduduk DIY. Penurunan jumlah penduduk miskin DIY ini sejalan dengan penurunan rasio penduduk miskin sebesar 0,17. Lebih lanjut, ketimpangan pengluaran penduduk DIY pada periode Maret 2025 terpantau turun terbatas dibandingkan periode sebelumnya. Indeks Gini Ratio tercatat sebesar 0,43 atau turun 0,002 poin dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan indeks gini ratio yang terbatas sejalan dengan penurunan Gini Ratio di tingkat perdesaan dan peningkatan pada indeks pada perkotaan. Walaupun mengalami penurunan indeks, tingkat ketimpangan DIY ini masih lebih tinggi dibandingkan indeks nasional yang sebesar 0,38.
Prospek Perekonomian
Secara umum pada 2025, perekonomian DIY diperkirakan melanjutkan pertumbuhan positif dibandingkan 2024. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2025 diperkirakan berada di kisaran 4,8 – 5,6% (yoy). Di tengah ketidakpastian global, perekonomian domestik diperkirakan tetap kuat sejalan dengan kebijakan kenaikan UMP dan UMK 2025 yang berpotensi mendorong daya beli masyarakat. Kinerja investasi juga berpotensi mengalami pertumbuhan seiring dengan membaiknya kepercayaan investor dan berlanjutnya pembangunan di daerah. Namun di sisi lain, ketidakpastian ekonomi global diwaspadai dapat mempengaruhi kinerja ekspor dan impor DIY. Lebih lanjut, Inflasi DIY pada tahun 2025 diperkirakan tetap terkendali sepanjang tahun dan berada pada sasaran 2,5±1%. Terkendalinya inflasi didukung oleh upaya TPID DIY untuk menjaga kestabilan inflasi melalui GNPIP dalam koridor 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif). Beberapa upaya TPID antara lain mengoptimalisasikan Segoro Amarto sebagai kios price reference, meningkatkan produksi pangan daerah melalui implementasi digital farming, melakukan operasi pasar, pemenuhan kebutuhan melalui perluasan kerja sama intra dan antar daerah, serta meningkatkan komunikasi efektif melalui MRANTASI (Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi) di seluruh kabupaten/kota di DIY.