Perkembangan Ekonomi Makro Daerah
Perekonomian Jawa Tengah pada triwulan IV 2023 masih tumbuh positif sebesar 4,73% (yoy). Sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah terbesar pada sisi pengeluaran adalah konsumsi rumah tangga. Sementara dari sisi lapangan usaha, sumber pertumbuhan berasal dari sektor industri pengolahan
Konsumsi rumah tangga sebagai komponen perekonomian terbesar masih tumbuh tinggi, walaupun melambat pada triwulan IV 2023. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,65% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan lalu (5,97%; yoy). Pertumbuhan positif konsumsi rumah tangga didorong oleh peningkatan konsumsi seiring dengan momentum perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kinerja konsumsi rumah tangga yang masih kuat juga tercermin dari hasil Survei Konsumen Bank Indonesia yang menunjukkan tingkat keyakinan konsumen masih berada pada level optimis.
Dari sisi lapangan usaha (LU), sumber pertumbuhan terbesar PDRB Jawa Tengah pada triwulan IV 2023 berasal dari LU industri pengolahan dengan andil 1,39% dan tumbuh 4,22% (yoy). Kinerja positif tersebut seiring dengan permintaan domestik yang masih kuat di tengah pelemahan permintaan global. Sektor utama Jawa Tengah lain yang juga mencatat pertumbuhan positif yaitu perdagangan dan konstruksi.
Namun demikian, terdapat beberapa komponen yang menahan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, antara lain konsumsi pemerintah dan pertanian. Konsumsi pemerintah pada triwulan IV 2023 terkontraksi sebesar 2,35% (yoy). Penurunan tersebut diindikasikan karena realisasi belanja pegawai, modal, dan bantuan sosial sebagian besar telah terjadi pada triwulan lalu. Hal ini antara lain tercermin pada realisasi belanja pegawai, modal, dan bantuan sosial yang bersumber dari APBN mengalami kontraksi pada triwulan IV 2023. Sementara itu, kinerja LU pertanian, kehutanan, dan perikanan menurun pada triwulan IV 2023 disebabkan periode off season padi serta dampak El Nino. LU pertanian mengalami kontraksi sebesar -4,63% (yoy), menurun dibanding triwulan lalu yang tumbuh 1,81% (yoy). Hal ini seiring dengan penurunan produksi padi pada triwulan laporan dan dipengaruhi juga dipengaruhi oleh El Nino yang tercermin pada intensitas curah hujan yang menurun (-81,38%; yoy).
Prospek Perekonomian Daerah
Secara keseluruhan tahun perekonomian Provinsi Jawa Tengah pada 2024 diperkirakan meningkat dengan kisaran pertumbuhan sebesar 4,7% - 5,5% (yoy), terutama didukung oleh permintaan domestik yang masih kuat. Ke depan, ekonomi Jawa Tengah diprakirakan tetap kuat dengan didukung permintaan domestik di tengah ketidakpastian kondisi perekonomian global. Pertumbuhan akan bersumber dari konsumsi rumah tangga dan LNPRT, seiring dengan periode pemilu serentak pada 2024, serta beberapa faktor pendorong, seperti kenaikan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2024, serta stimulus fiskal dan makroprudensial yang masih berlanjut. Sementara itu, kinerja investasi dan konstruksi Jawa Tengah diperkirakan akan meningkat seiring dengan percepatan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang ditargetkan akan selesai pada 2024. Untuk melanjutkan tren pemulihan ekonomi Jawa Tengah yang berkesinambungan, diperlukan langkah-langkah yang lebih strategis dan sinergi kebijakan antara pemerintah daerah dan Bank Indonesia, serta keterlibatan pelaku usaha dalam mempertahankan produktivitas sektor-sektor utama dan menjaga iklim investasi tetap kondusif.
Keuangan Pemerintah
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tahun 2023 meningkat. Peningkatan terjadi baik pada komponen pendapatan maupun belanja. Pada Triwulan IV 2023, tercatat lebih rendah dibandingkan tahun 2022. Penurunan persentase capaian realisasi pendapatan terjadi pada komponen Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Lain-lain Pendapatan yang Sah. Sementara itu, persentase realisasi belanja APBD Provinsi Jawa Tengah triwulan IV 2023 lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2022. Persentase realisasi yang lebih rendah tersebut bersumber dari belanja tidak terduga dan belanja transfer yang terealisasi 1%.
Inflasi Daerah
Inflasi gabungan kota di Provinsi Jawa Tengah pada triwulan laporan mengalami peningkatan, namun masih berada dalam rentang sasaran inflasi 3±1%. Pada triwulan IV 2023, inflasi gabungan kota di Provinsi Jawa Tengah tercatat lebih tinggi dibandinsgkan triwulan sebelumnya. Sebagian besar kota pantauan inflasi di Jawa Tengah pada triwulan IV 2023 mengalami peningkatan inflasi dibandingkan triwulan lalu, dengan daerah inflasi tertinggi adalah Kota Tegal. Peningkatan tekanan inflasi pada periode laporan terutama dipengaruhi oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Peningkatan tekanan harga tersebut terutama berlangsung seiring dengan fenomena El Nino di Jawa Tengah yang berdampak pada penurunan produktivitas di sektor pertanian. Di sisi lain, peningkatan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan tekanan inflasi pada Kelompok Transportasi seiring dengan harga bensin yang menurun. Adapun penurunan harga bensin tersebut sejalan dengan penurunan harga minyak dunia.
Inflasi gabungan kota di Provinsi Jawa Tengah pada triwulan I 2024 diperkirakan meningkat. Kenaikan tekanan tersebut diperkirakan bersumber dari tekanan inflasi pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang masih berlanjut seiring dengan panen raya beras yang diperkirakan baru akan dimulai di akhir Maret dan puncaknya berlangsung di bulan April 2024. Kenaikan inflasi lebih lanjut didorong oleh Kelompok Transportasi seiring dengan potensi kenaikan harga BBM pada triwulan I 2024 sebagai respon atas kenaikan harga minyak dunia.
Perkembangan UMKM dan Stabilitas Sistem Keuangan
Kinerja perbankan Jawa Tengah pada triwulan IV 2023 secara umum tetap kuat, meski kredit sedikit melambat dibandingkan triwulan III 2023. Berdasarkan jenis penggunaan, perlambatan kredit disebabkan oleh kredit modal kerja dan konsumsi. Sementara secara sektoral, pelambatan terutama bersumber dari industri pertanian dan perdagangan. Secara spasial, Kota Semarang dan Kota Surakarta masih menjadi daerah yang mendominasi penyaluran kredit perbankan di Jawa Tengah. Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) pada triwulan laporan juga tercatat melambat. Berdasarkan golongan nasabah, perlambatan ini bersumber dari DPK korporasi (dari semula 6,66%; yoy, melambat menjadi 3,64%; yoy), DPK perseorangan (dari semula 2,01%; yoy, melambat menjadi 1,49%; yoy) serta DPK bukan penduduk (dari semula 0,02%; yoy, melambat menjadi 0,00%; yoy). Secara spasial, Kab. Demak, Kota Salatiga, Kota Semarang dan Kota Pekalongan mengalami pertumbuhan tertinggi selama triwulan laporan.
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Secara umum, perkembangan indikator sistem pembayaran di Jawa Tengah pada triwulan IV 2023 meningkat, baik transkasi tunai, non tunai maupun digitalisasi sistem pembayaran. Peningkatan ini sejalan dengan momen Natal dan Tahun Baru 2024. Peningkatan kinerja sistem pembayaran juga didorong oleh perkembangan elektronifikasi dan digitalisasi yang meningkat, tercermin dari peningkatan merchant di Jawa Tengah yang telah memiliki QRIS. Sementara itu, tranksasi tunai mengalami net outflow, yang mengindikasikan peningkatan kebutuhan uang tunai di masyarakat pada saat momentum HBKN Natal dan Tahun Baru.
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Pada triwulan IV 2023, kondisi tenaga kerja di Jawa Tengah membaik. Pada Agustus 2023, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Jawa Tengah meningkat, sejalan dengan penurunan tingkat pengangguran. Peningkatan penyerapan tenaga kerja di Jawa Tengah terutama terjadi di sektor pertanian, industri, dan perdagangan. Hal ini seiring dengan momentum panen gadu dan hortikultura, peningkatan aktivitas produksi industri sebagai persiapan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), serta permintaan domestik yang masih kuat ditengah pencabutan status pandemi COVID-19. Sejalan dengan hal tersebut, tingkat kemiskinan Jawa Tengah juga menurun, baik dari sisi jumlah maupun rasio penduduk miskin.