Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi​

12/7/2021 12:00 AM
Hits: 1574

Laporan Perekonomian Provinsi Jambi November 2021

Jambi
Triwulan

RINGKASAN EKSEKUTIF

I.     EKONOMI MAKRO REGIONAL
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan III 2021 mengalami pertumbuhan sebesar 5,91% (yoy), tumbuh terakselerasi dibandingkan triwulan II 2021 yang tercatat mengalami pertumbuhan 5,39% (yoy). Secara triwulanan, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 2,73% (qtq). Dari 17 LU pada sisi produksi, 13 LU tercatat mengalami pertumbuhan, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 19,68% (yoy), didorong oleh program kebijakan pemerintah dalam penanganan COVID-19. Sementara, kontraksi terdalam terjadi pada sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib yang terkontraksi 16,78% (yoy) dengan andil sebesar -25,87% disebabkan oleh term pembayaran gaji 13 yang dilaksanakan lebih awal yaitu triwulan II dibandingkan tahun sebelumnya.

Struktur PDRB Provinsi Jambi menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku triwulan III 2021 tidak menunjukkan perubahan berarti. Perekonomian Provinsi Jambi masih didominasi oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 32,58%, diikuti oleh Pertambangan dan Penggalian sebesar 15,11%, Perdagangan Besar-Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 12,15%, dan Industri Pengolahan sebesar 10,57%. Peranan keempat lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Provinsi Jambi mencapai 70,41%.

Dari sisi pengeluaran, Ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan III-2021 terhadap triwulan III-2020 (yoy) tumbuh sebesar 5,91%. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang tumbuh sebesar 15,71% dan diikuti oleh Komponen Pembentukan Modal tetap Bruto (PMTB) sebesar 7,36%. Pertumbuhan Komponen Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) dan Pengeluaran Konsumsi LNPRT (PK-LNPRT) relatif kecil masing-masing tumbuh sebesar 2,59% dan 1,39%. Sementara itu, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami kontraksi sebesar 2,82%.

Struktur PDRB Provinsi Jambi menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku triwulan III-2021 tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Aktivitas permintaan akhir masih didominasi oleh Komponen ekspor (64,42%) namun terkoreksi impor (35,68%). Komponen lainnya  yang memiliki peranan besar terhadap PDRB adalah Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) yang mencapai hampir separuh PDRB Provinsi Jambi yaitu sebesar 41,62% dan diikuti oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 20,62%. Sedangkan peranan Komponen Pengeluaran Konsumsi LNPRT dan Perubahan Inventori relatif kecil.

Selanjutnya, pertumbuhan triwulan IV 2021 diprakirakan akan tetap tumbuh dibandingkan triwulan sebelumnya seiring dengan meredanya pandemi secara gradual. Konsumsi diperkirakan akan kembali meningkat seiring dengan berbagai stimulus yang dilakukan terutama untuk mendorong konsumsi kelas menengah atas dan perbaikan pendapatan sejalan dengan membaiknya kinerja sektor ekonomi utama.


II.     KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
Realisasi pendapatan Pemerintah Provinsi Jambi sampai dengan triwulan III 2021 terealisasi sebesar Rp3,13 triliun atau 72,94% dari target APBD 2021. Realisasi tersebut tumbuh 19,80% (yoy) dibandingkan pendapatan triwulan III 2020 sebesar Rp2,61 triliun (63,27% dari target APBD 2020). Sementara, belanja daerah dari sisi nominal dan persentase tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2020. Hingga triwulan III 2021, belanja pemerintah Provinsi Jambi mencapai Rp1,95 triliun atau terealisasi sebesar 43,16% dari target APBD 2021. Realisasi anggaran tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi triwulan III 2020 sebesar Rp2,27 triliun dengan serapan 49,82% terhadap pagu tahun 2020.

 

III.     PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
Pada triwulan III 2021, inflasi Provinsi Jambi tercatat 2,04% (yoy), menurun dibandingkan triwulan II 2021 sebesar 2,43% (yoy). Realisasi inflasi tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi nasional yang tercatat 1,6% (yoy). Inflasi Provinsi Jambi merupakan komposit dari inflasi Kota Jambi sebesar 2,11% (yoy) dan Kabupaten Bungo yang mengalami inflasi sebesar 1,42% (yoy).

Tekanan inflasi Kota Jambi pada triwulan III 2021  terutama disumbangkan oleh daging ayam ras, cabai rawit, udang basah, minyak goreng, rokok putih dan rokok kretek filter. Sedangkan penyumbang deflasi adalah ikan nila, bawang merah, telur ayam ras, kentang, bawang putih, cumi-cumi. Selanjutnya, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 0,91% (yoy) dengan andil sebesar 0,17%. Inflasi tersebut tetap bila dibandingkan dengan triwulan II tahun 2021. Secara triwulanan, kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,32% (qtq), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tercatat 0,27% (qtq).

Sementara, inflasi tahunan Bungo pada triwulan III 2021 tercatat inflasi 1,42% (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (0,06% yoy). Selanjutnya, capaian tersebut juga lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat inflasi 1,27% (yoy). Sementara secara bulanan, Inflasi Kab. Bungo tercatat 0,20% (mtm) pada Juli 2021; -0,20% (mtm) pada Agustus 2021, dan -0,12% (mtm) pada September 2021. Menurut kelompoknya, penyumbang inflasi terbesar bersumber dari kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi tercatat 2,78% (yoy) dan andil 0,84%.

Selanjutnya, inflasi Provinsi Jambi pada triwulan IV 2021 diprakirakan meningkat dibanding triwulan sebelumnya. pertumbuhan inflasi terutama dipengaruhi oleh tingginya permintaan barang dan jasa seiring membaiknya kondisi perekonomian nasional dan global dan meningkatnya keyakinan masyarakat seiring sentimen positif terhadap program vaksinasi COVID-19. Inflasi keseluruhan tahun 2021 diperkirakan akan tetap tumbuh disebabkan oleh meningkatnya tekanan inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Inflasi bahan pangan terutama meningkat tajam pada triwulan IV 2021 akibat potensi cuaca yang kurang kondusif dan pemangkasan produksi oleh produsen untuk menghindari kerugian, namun disisi lain permintaan meningkat karena momentum HBKN dan Tahun Baru 2022.


IV.     STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM
Pertumbuhan kredit korporasi di Provinsi Jambi pada triwulan III 2021 tercatat sebesar Rp13,73 triliun atau terkontraksi lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya 9,67% (yoy). Penurunan kredit korporasi disebabkan pandemi COVID-19 yang berdampak pada penurunan permintaan agregat sehingga menekan kegiatan usaha. Sektor ekonomi yang menyumbangkan penurunan kredit adalah sektor perdagangan yang tercatat kontraksi sebesar 15,85% (yoy) pada triwulan berjalan. Dari sisi risiko kredit, kredit korporasi menunjukan peningkatan, NPL kredit korporasi tercatat 4,54% (gross) lebih baik dari triwulan sebelumnya sebesar 5,60% (gross). Adapun sektor yang menunjukan perbaikan Rasio NPL yaitu sektor pertambangan dan pertanian yang tercatat 0,01% (gross) dan 0,42% (gross) pada triwulan laporan. Dari sisi penghimpunan dana, Pertumbuhan DPK perseorangan Jambi pada triwulan III 2021 mencapai 11,67% (yoy) atau melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 13,06% (yoy).

 V.     PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Perkembangan aliran uang kartal di Provinsi Jambi pada triwulan III - 2021 menunjukan net outflow sebesar Rp652,59 miliar, menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami net ouflow sebesar Rp1,52 triliun. Penurunan outflow ini diindikasi merupakan dampak dari telah berakhirnya agenda perayaan Hari Raya Keagamaan seperti Jumat Agung, Idul Fitri, Kenaikan Isa Almasih dan Waisak selama periode Triwulan II-2021 yang mendorong puncak permintaan uang tunai sesuai pola siklikalnya. Sementara di sisi pembayaran non tunai, nilai dan volume kliring di Provinsi Jambi pada triwulan III - 2021 terkontraksi masing-masing sebesar 13,63% (yoy) dan 24,97% (yoy). Secara triwulanan, nilai dan volume kliring pada triwulan III - 2021 terkontraksi dibanding triwulan sebelumnya masing-masing sebesar 4,56% (qtq) dan 2,87% (qtq).

Selain penyelenggaraan sistem pembayaran tunai dan nontunai, KPwBI Provinsi Jambi juga melaksanakan edukasi Gerakan Nasional Nontunai (GNNT) secara berkala baik kepada pelajar/mahasiswa, Keluarga Penerima Manfaat (KPM) selaku penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako, serta berkoordinasi bersama dengan perbankan, insititusi lainnya dan Pemda dalam rangka pembentukan Tim Percepatan dan Perluasan Implementasi Daerah (TP2DD) dan memfasilitasi pelaksanaan elektronifikasi transaksi keuangan Pemda sebagai upaya mendorong masyarakat untuk melakukan transaksi nontunai yang mudah, aman, praktis, nyaman, dan efisien.


VI.     KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dari 5,13% (yoy) pada Agustus 2020 menjadi 5,09% (yoy) di Agustus 2021. Hal ini sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk yang bekerja dan didorong oleh pertumbuhan serapan kerja. Namun demikian, Peningkatan jumlah penduduk bekerja tersebut belum mampu mendorong TPAK Agustus 2021 yang justru masih terkontraksi menjadi 67,17% dibandingkan Agustus 2020 sebesar 67,79%.

Sementara, indeks Nilai Tukar Petani menunjukkan peningkatan pada triwulan III 2021 menjadi 127,26 dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 123,49. Perbaikan NTP disebabkan peningkatan indeks yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan peningkatan indeks yang dibayar petani. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) pada triwulan III 2021 rata-rata 135,85, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 132,21.

Selain itu, jumlah penduduk miskin Provinsi Jambi pada Maret 2021 tercatat sebanyak 293,86 ribu orang atau meningkat 16,06 ribu orang dibandingkan Maret 2020 sebesar 277,80 ribu orang. Peningkatan angka penduduk miskin tersebut terutama disebabkan dampak pandemi COVID-19. Angka kemiskinan Provinsi Jambi pada Maret 2021 juga meningkat dibandingkan September 2020, dimana terjadi peningkatan baik dari sisi persentase maupun jumlah penduduk. Sementara itu, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga menunjukkan pemburukan pada Maret 2021.

VII.   PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi 2021 diperkirakan kembali tumbuh positif setelah terkontraksi cukup dalam pada 2020 sebagai dampak pandemi COVID-19. Perekonomian Provinsi Jambi diproyeksikan akan tumbuh pada rentang 3,85% - 4,65% (yoy) yang didukung oleh pemulihan permintaan domestik dan global, serta perbaikan kinerja sektor ekonomi utama yang terus berjalan secara gradual. Vakinasi yang menjadi game changer dalam pemulihan ekonomi mendorong peningkatan level of confidence masyarakat dan pelaku usaha. Berbagai stimulus kebijakan fiskal dan moneter pun terus berlanjut untuk mendukung proses pemulihan ekonomi.

Secara sektoral, peningkatan ekonomi daerah terutama akan bersumber dari perbaikan LU pertanian dan LU pertambangan. Kinerja LU pertanian didorong oleh membaiknya produktivitas tanaman perkebunan disertai peningkatan harga komoditas. Sementara, kinerja LU pertambangan akan didorong oleh meningkatnya produksi sejalan dengan membaiknya harga komoditas energi primer paska mulainya aktivitas ekonomi negara mitra dagang utama.

Dari sisi pengeluaran, perbaikan kinerja LU pertanian dan LU pertambangan akan menopang akselerasi ekspor dan konsumsi rumah tangga. Investasi juga diprakirakan meningkat terutama didorong optimisme pelaku usaha ditengah perbaikan kondisi ekonomi secara umum. Selain itu, rencana investasi yang tertunda pada tahun 2020 akibat COVID-19 akan direalisasikan pada tahun 2021.

Selanjutnya, tekanan inflasi Provinsi Jambi pada 2021 diprakirakan relatif stabil. Tekanan inflasi tahun 2021 terutama dipengaruhi oleh meredanya wabah COVID-19 yang berdampak terhadap normalisasi pola konsumsi masyarakat secara keseluruhan. Tekanan inflasi tahun 2021 terutama akan bersumber dari kenaikan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Terdapat beberapa risiko yang dapat menyebabkan tekanan inflasi lebih tinggi dari perkiraan. Kenaikan beberapa komoditas global serta harga komoditas energi primer dapat memengaruhi harga komoditas domestik serta pergeseran pola tanam serta periode HBKN yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya juga dapat menyebabkan inflasi bahan makanan karena adanya gap permintaan dan supply.

Lampiran
Kontak
Contact Center BICARA: (62 21) 131, e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan BI Provinsi Jambi


Halaman ini terakhir diperbarui 12/7/2021 5:26 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga