BI Icon

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Tengah​

9/15/2026 12:00 AM

Laporan Perekonomian Provinsi Kalimantan Tengah Agustus 2026

Pertumbuhan Ekonomi Regional

Ekonomi Kalimantan Tengah pada triwulan II 2026 mencatatkan pertumbuhan yang melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah tercatat tumbuh sebesar 3,53% (yoy) atau mengalami perlambatan moderat dibandingkan triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 3,79% (yoy). Capaian pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah mencatatkan angka yang lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29% (yoy), serta berada di bawah rata-rata pertumbuhan regional Kalimantan yang sebesar 4,10% (yoy). Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah di triwulan laporan sebagian besar dikontribusikan oleh LU Pertanian, LU Industri Pengolahan, dan LU Perdagangan Besar dan Eceran. LU Pertanian mencatatkan peningkatan signi​fikan yang tumbuh sebesar 4,80% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 0,21% (yoy) didorong oleh peningkatan produksi pada komoditas Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. Sementara, LU Industri Pengolahan turut mengalami peningkatan yang signifikan menjadi sebesar 3,30% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 0,09% (yoy) sejalan dengan peningkatan bahan baku utama Crude Palm Oil (CPO) yaitu TBS kelapa sawit. LU Perdagangan Besar dan Eceran turut mencatatkan peningkatan menjadi sebesar 4,45% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,76% (yoy). Hal ini didorong oleh peningkatan perdagangan arus komoditas sejalan dengan peningkatan yang terjadi di LU Pertanian dan LU Industri Pengolahan. Di sisi lain, LU Pertambangan mengalami kontraksi sebesar 1,78% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,03% (yoy). Penurunan yang signifikan ini disebabkan oleh penurunan produksi batu bara seiring penurunan kuota RKAB batu bara tahun 2026 yang disetujui. Sementara, pertumbuhan yang lebih tinggi turut ditahan oleh perlambatan yang terjadi di LU Konstruksi. LU Konstruksi mengalami perlambatan sebesar 3,97% (yoy) setelah mencatatkan pertumbuhan akseleratif sebesar 9,07% (yoy) pada triwulan I 2026.​

Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga (RT), ekspor, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), dan konsumsi pemerintah. Konsumsi RT mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,52% (yoy) melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,01% (yoy) akibat normalisasi konsumsi pasca HBKN Idul Fitri dan Imlek. Meskipun demikian masih berada di level yang moderat didukung oleh pencairan gaji ke-13 untuk ASN dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), bantuan sosial Huma Betang, dan masih terjaganya level konsumsi masyarakat. Sementara, Ekspor mengalami pertumbuhan sebesar 1,49% (yoy) menurun moderat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,51% (yoy) diakibatkan oleh peningkatan ekspor CPO sejalan dengan peningkatan produksi namun tertahan oleh kinerja ekspor batu bara. PMTB mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,59% (yoy) melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,51% (yoy) sejalan dengan penurunan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Konsumsi pemerintah mencatatkan perlambatan yaitu tumbuh sebesar 4,02% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,16% (yoy) akibat penurunan belanja barang dan jasa.

Perekonomian Kalimantan Tengah pada triwulan III 2026 diprakirakan melambat disebabkan oleh kontraksi LU Pertambangan. Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah triwulan III 2026 masih dipengaruhi oleh 5 LU utama yaitu LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Industri Pengolahan,  LU Perdagangan Besar dan Eceran, dan LU Pertambangan dan Penggalian, dan LU Konstruksi. LU Pertanian diprakirakan mengalami tantangan dan melambat dibandingkan triwulan II 2026. Meskipun komoditas TBS kelapa sawit memasuki periode peak crop, berbagai kondisi iklim yang terjadi dikhawatirkan menurunkan produksi yaitu cuaca ekstrem di awal tahun 2026 dan puncak El-Nino pada bulan Agustus dan September 2026. Sementara, adanya bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang sebagian turut melanda lahan perkebunan masyarakat, diprakirakan menjadi kontributor lain yang menahan pertumbuhan ekspansif dari LU Pertanian. Selain itu, komoditas padi yang memasuki periode musim panen raya juga diprakirakan mengalami penurunan bobot akibat panen yang lebih awal sehingga bulir beras belum matang sempurna. LU Industri Pengolahan turut diprakirakan mengalami perlambatan sejalan dengan perlambatan produksi pada LU Pertanian yang menjadi sumber bahan baku utama. Begitu pula dengan kinerja LU Perdagangan Besar dan Eceran yang diprakirakan mengalami perlambatan sejalan dengan arus komoditas unggulan yang melambat yaitu TBS, CPO, dan batu bara. Sementara, LU Pertambangan turut diprakirakan melambat akibat telah habisnya kuota produksi batu bara dari kuota produksi yang telah disetujui pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dan belum ada kebijakan revisi yang sudah diterima perusahaan. Sementara, distribusi komoditas batu bara turut mengalami tantangan sejalan dengan berkurangnya debit air di Sungai Barito yang menjadi jalur distribusi utama. Di sisi lain, LU Konstruksi diprakirakan meningkat didorong oleh aktivitas realisasi investasi swasta meskipun terdapat potensi penundaan akibat kondisi Karhutla yang memicu keterbatasan jarak pandang.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi diprakirakan melambat disebabkan oleh kinerja ekspor. Ekspor diprakirakan mengalami perlambatan sejalan dengan prakiraan penurunan produksi pada komoditas unggulan yaitu CPO dan batu bara. Selain itu, kinerja ekspor diprakirakan melambat akibat terjadinya gangguan distribusi yang melalui Sungai Barito, meskipun dapat dilaporkan bahwa belum terjadi gangguan yang signifikan dari distribusi yang melalui Sungai Mentaya atau tercatat di Pelabuhan Sampit. Konsumsi RT diprakirakan mengalami perlambatan sejalan dengan tidak adanya event perayaan yang masif di triwulan berjalan. Sementara, konsumsi RT diprakirakan mengalami tantangan sejalan dengan masih tingginya harga BBM dan bahan bakar rumah tangga. Dampak dari kondisi karhutla turut diprakirakan berpengaruh pada konsumsi RT akibat terganggunya aktivitas masyarakat. Konsumsi pemerintah turut diprakirakan melambat sejalan dengan normalisasi pasca pencairan gaji ke-13, namun diprakirakan tetap di level tinggi sejalan dengan kebutuhan penanganan bencana Karhutla melalui anggaran APBN maupun APBD. Di sisi lain, kinerja PMTB diprakirakan membaik sejalan dengan prakiraan realisasi investasi yang masih positif baik pada proyek swasta maupun proyek pemerintah.


Perkembangan Inflasi Daerah

Berdasarkan empat kabupaten/kota IHK, inflasi Kalimantan Tengah pada triwulan II 2026 meningkat menjadi 4,47% (yoy) dari 3,86% (yoy) pada triwulan I 2026, dan lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34% (yoy). Secara tahun berjalan, inflasi Kalimantan Tengah mencapai 2,39% (ytd). Peningkatan inflasi terutama bersumber dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau serta Kelompok Transportasi, di tengah masih tingginya inflasi Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya. Secara spasial, inflasi tahunan meningkat di seluruh kabupaten/kota IHK, dengan inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Kapuas sebesar 5,01% (yoy) dan terendah di Kabupaten Sukamara sebesar 3,81% (yoy).

Tekanan inflasi pada triwulan II 2026 terutama dipengaruhi oleh masih tingginya harga sejumlah komoditas pangan strategis, seperti beras, minyak goreng, ikan, dan bawang merah, disertai peningkatan tekanan dari bensin dan komponen transportasi, serta masih tingginya harga emas perhiasan secara tahunan. Tekanan pangan mencerminkan belum meratanya pasokan, ketergantungan terhadap pasokan luar daerah, serta sensitivitas terhadap biaya distribusi, sementara kenaikan harga bensin meningkatkan risiko rambatan terhadap biaya mobilitas dan logistik. Namun demikian, tekanan inflasi tertahan oleh normalisasi harga daging ayam ras, koreksi beberapa komoditas hortikultura dan perikanan, serta berlanjutnya upaya stabilisasi pasokan dan harga melalui SPHP, Gerakan Pangan Murah, MinyaKita, penguatan stok Bulog, dan Kerja Sama Antar Daerah.


Pembiayaan Daerah Serta Pengembangan Akses Keuangan, dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)

Pada triwulan II 2026, kondisi pembiayaan daerah di Kalimantan Tengah meningkat seiring dengan risiko kredit yang menurun serta tetap terjaga. Pertumbuhan kredit meningkat menjadi 13,20% (yoy) dari 8,93% (yoy) pada triwulan sebelumnya, didorong oleh Kredit Investasi (KI) yang tumbuh sebesar 15,82% (yoy) setelah sebelumnya terkontraksi 0,09% (yoy). Sementara itu, Kredit Modal Kerja (KMK) dan kredit konsumsi tumbuh masing-masing sebesar 16,07% (yoy) dan 6,01% (yoy), meskipun melambat dari 19,34% (yoy) dan 7,74% (yoy). Berdasarkan segmen, pertumbuhan kredit korporasi meningkat menjadi 23,45% (yoy) dari 15,39% (yoy). Kredit rumah tangga tumbuh sebesar 6,01% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,74% (yoy). Sementara itu, kontraksi kredit UMKM mengalami perbaikan menjadi 3,64% (yoy) dari kontraksi triwulan sebelumnya sebesar 5,51% (yoy). Secara nominal, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat dari Rp52,20 triliun menjadi Rp52,70 triliun, atau tumbuh sebesar 5,45% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 8,23% (yoy). Giro korporasi tumbuh sebesar 6,89% (yo​​y), melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 14,64% (yoy), sementara kontraksi giro pemda mengalami perbaikan menjadi 9,11% (yoy) dari 9,83% (yoy). Lebih lanjut, kontraksi DPK Pemda terkontraksi semakin dalam dari 10,05% (yoy) menjadi 12,56% (yoy). Risiko kredit perbankan tetap terjaga pada level yang aman, tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) yang menurun dari 3,52% menjadi 3,33% dan tetap berada di bawah threshold (<5%).     


Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah

Net outflow uang kartal dari Bank Indonesia kepada perbankan di Provinsi Kalimantan Tengah pada  triwulan II 2026 mengalami penurunan. Penurunan ini sejalan dengan telah selesainya Hari Raya Idul Fitri yang memicu lonjakan permintaan uang tunai (outflow) yang sangat tinggi pada triwulan I 2026. Transaksi pembayaran non-tunai melalui kliring (SKNBI) dan RTGS mengalami penurunan secara nominal maupun secara volume dibandingkan triwulan sebelumnya, penurunan secara volume merupakan indikasi adanya pergeseran perilaku transaksi dari SKNBI ke kanal pembayaran real time (BI-FAST). Transaksi uang elektronik mengalami penurunan pada triwulan II 2026 baik dari sisi volume maupun nominal. Begitu pula transaksi QRIS mengalami penurunan pada sisi volume.

 
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Kondisi ketenagakerjaan Kalimantan Tengah pada Mei 2026 mengalami moderasi dibandingkan Februari 2026. Jumlah angkatan kerja tercatat sebesar 1.452,78 ribu orang, menurun 3,44% dibandingkan Februari 2026, sementara jumlah penduduk bekerja turun 3,60% menjadi 1.400,58 ribu orang. Sejalan dengan itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat dari 3,44% menjadi 3,59%, sedangkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) turun cukup dalam dari 69,20% menjadi 66,58%. Meski demikian, TPT Kalimantan Tengah masih menjadi yang terendah di regional Kalimantan dan berada di bawah tingkat nasional.

Dari sisi kualitas dan struktur pekerjaan, perkembangan pasar tenaga kerja masih menunjukkan kondisi yang beragam. Pangsa pekerja formal meningkat dari 49,33% pada Februari 2026 menjadi 50,68% pada Mei 2026, namun proporsi setengah pengangguran juga meningkat menjadi 6,34%. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan pangsa 32,91%, meskipun jumlah pekerjanya berkurang 52,16 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Sebaliknya, penyerapan tenaga kerja meningkat pada sektor Pertambangan dan Penggalian, Jasa Kesehatan, serta Perdagangan Besar dan Eceran.

Kondisi kesejahteraan masyarakat menunjukkan tekanan yang meningkat pada Maret 2026, terutama tercermin dari kenaikan tingkat kemiskinan dan memburuknya kualitas kemiskinan. Persentase penduduk miskin meningkat dari 4,94% pada September 2025 menjadi 5,09% pada Maret 2026, dengan jumlah penduduk miskin mencapai 146,71 ribu orang. Peningkatan relatif lebih kuat terjadi di wilayah perdesaan. Pada saat yang sama, Indeks Kedalaman Kemiskinan meningkat dari 0,611 menjadi 0,778 dan Indeks Keparahan Kemiskinan naik dari 0,113 menjadi 0,188. Tekanan tersebut berlangsung seiring kenaikan Garis Kemiskinan sebesar 5,78% menjadi Rp723.149 per kapita per bulan, yang masih didominasi oleh komponen makanan.

Daya tukar petani secara agregat pada triwulan II 2026 masih membaik dibandingkan triwulan sebelumnya, meskipun mengalami tekanan pada akhir triwulan dan tidak merata antar-subsektor. Rata-rata NTP Kalimantan Tengah meningkat dari 136,25 pada triwulan I 2026 menjadi 138,63 pada triwulan II 2026. Peningkatan terutama ditopang oleh subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat, Tanaman Pangan, dan Hortikultura, sementara NTP Peternakan dan Perikanan berada di bawah threshold 100. Pada Juni 2026, NTP gabungan terkoreksi menjadi 136,74 akibat penurunan indeks harga yang diterima petani di tengah kenaikan indeks harga yang dibayar petani, sehingga tekanan biaya produksi dan konsumsi petani tetap perlu dicermati.

 
Prospek Perekonomian Daerah

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 diprakirakan meningkat dalam kisaran 4,9–5,7% sejalan dengan kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia yang terus bersinergi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Kebijakan moneter akan difokuskan untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dari dampak gejolak global. Sementara, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran diarahkan untuk mendorong pertumbuhan. Sejalan dengan hal tersebut, target inflasi tahun 2026-2027 diprakirakan tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1%. Inflasi inti diprakirakan tetap terjaga seiring ekspektasi inflasi yang terkendali dalam sasaran, kapasitas ekonomi yang masih besar, imported inflation yang terkendali, dan didukung dampak positif dari digitalisasi.​

Ekonomi Kalimantan Tengah di tahun 2026 diprakirakan masih terus melanjutkan kinerja positif di kisaran 3,5-4,5% (yoy). Dari sisi permintaan, kinerja sektor ekonomi masih memiliki potensi untuk tumbuh kuat​ yang ditopang oleh konsumsi pemerintah dan investasi. Konsumsi pemerintah diprakirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sejalan dengan peningkatan ASN dan PPPK serta didukung oleh keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis. Sementara, investasi turut diprakirakan positif sejalan dengan program prioritas pemerintah pusat (a.l pembangunan saluran irigasi dalam mendukung program cetak sawah, pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, hingga pembangunan sekolah rakyat) pada sektor infrastruktur dan positifnya realisasi investasi proyek swasta sejalan dengan pembangunan pabrik pengolahan turunan CPO seperti oleokimia, minyak goreng, dan biodie​sel. Pertumbuhan ini turut berimplikasi mendorong kinerja positif LU Konstruksi dan LU Industri Pengolahan melalui peningkatan produksi CPO dalam memenuhi kebutuhan energi dan pangan dalam negeri. Tekanan inflasi diprakirakan terjaga di tahun 2026 sehingga dapat memenuhi sasaran inflasi Nasional 2,5±1%. Sinergi kebijakan terus dilakukan oleh TPID melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) seperti peningkatan produksi komoditas pendorong inflasi utama, kerja sama antar daerah, intensifikasi produksi padi dari lahan cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa, serta upaya lainnya dalam mengendalikan inflasi pangan.  â€‹

Lampiran

​

Kontak
​Contact Center BICARA: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah ​

Halaman ini terakhir diperbarui 9/16/2026 8:33 AM

Apakah halaman ini bermanfaat?

Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?