PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH
Kinerja pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 6,20% (yoy), atau tumbuh secara melambat dibandingkan triwulan I 2026 yang tumbuh 7,68% (yoy). Pertumbuhan tersebut sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi kawasan Sulampua sebesar 4,36% (yoy) dan Nasional sebesar 5,29% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi dari Sisi Lapangan Usaha (LU) pada triwulan II 2026 didorong oleh meningkatnya pertumbuhan LU Pertambangan dan Penggalian sebesar 59,96% (yoy) yang didorong oleh peningkatan produksi emas; LU Industri Pengolahan tumbuh sebesar 33,34% (yoy) khususnya didorong oleh peningkatan kinerja subsektor industri makan dan minum; LU Perdagangan 10,81% (yoy) yang didorong oleh peningkatan aktivitas perdagangan selama PENAS XVII, penguatan perdagangan produk olahan industri berbasis sumber daya lokal, serta meningkatnya penjualan kendaraan bermotor; dan LU Konstruksi tumbuh sebesar 5,65% (yoy) didorong oleh meningkatnya aktivitas pembangunan fisik yang tercermin dari pertumbuhan realisasi pengadaan semen, berlanjutnya pembangunan fasilitas pengolahan Proyek Emas Pani, serta peningkatan realisasi belanja modal APBN untuk berbagai proyek infrastruktur strategis.
Pertumbuhan yang lebih tinggi tersebut tertahan oleh perlambatan LU utama seperti LU Pertanian, Kehutanan dan Perikanan tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 1,26% (yoy) atau melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, seiring penurunan produksi jagung akibat normalisasi produksi setelah periode panen sebelumnya. Perlambatan tersebut tertahan oleh peningkatan produksi padi dan perikanan tangkap yang didukung kondisi cuaca lebih kondusif serta peningkatan kapasitas armada perikanan.
Pada sisi pengeluaran, pertumbuhan perekonomian Provinsi Gorontalo yang lebih tinggi utamanya didorong oleh menguatnya kinerja ekspor yang tumbuh sebesar 25,32% (yoy) dan pertumbuhan positif pada kinerja konsumsi Rumah Tangga sebesar 5,39% (yoy) yang menjadi penopang utama sisi pengeluaran. Kinerja Ekspor didorong oleh peningkatan ekspor luar negeri produk olahan kayu dan kelapa serta penguatan perdagangan antardaerah komoditas jagung seiring meningkatnya permintaan dari luar daerah. Sedangkan kinerja konsumsi rumah tangga didorong oleh peningkatan pendapatan masyarakat seiring kenaikan NTP serta aktivitas ekonomi selama PENAS XVII yang mendorong konsumsi jasa akomodasi, makanan-minuman, dan usaha pendukung.
INFLASI DAERAH
Pada Triwulan II 2026[1], Provinsi Gorontalo mengalami inflasi 2,11% (mtm), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami inflasi 0,24% (mtm). Inflasi bulanan Provinsi Gorontalo disumbang oleh komoditas strategis antara lain, cabai rawit, bawang merah, tomat, ikan selar/tude, dan beras. Peningkatan harga komoditas cabai rawit dan bawang merah terjadi seiring dengan berkurangnya pasokan lokal karena belum memasuki masa panen, serta terbatasnya pasokan dari luar provinsi, khususnya Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Selanjutnya, peningkatan harga tomat secara mtm pada triwulan II dipengaruhi pergeseran fokus petani lokal yang kembali ke komoditas jagung pakan. Selain itu, terdapat peningkatan harga beras yang dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan dan telah selesainya periode panen raya pada tw I 2026, serta meningkatnya permintaan pada PENAS KTNA VXII di Gorontalo.
Secara tahunan, Provinsi Gorontalo mencatatkan inflasi sebesar 4,77% (yoy) pada Triwulan II 2026, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 2,60% (yoy). Dengan capaian tersebut, inflasi Gorontalo sudah berada di atas rentang sasaran inflasi nasional 2,5% ± 1% (yoy), mencerminkan adanya lonjakan harga di tengah tingginya permintaan dan keterbatasan pasokan baik dari dalam maupun luar wilayah Gorontalo. Adapun tekanan inflasi tahunan pada Triwulan II 2026 terutama bersumber dari menurunnya produksi komoditas hortikultura di sentra produksi, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah yang diakibatkan oleh faktor cuaca (El Nino), serta kenaikan harga pada beberapa komoditas kelompok inflasi inti (core inflation) dan kelompok administered price (AP), yakni emas perhiasan dan angkutan udara. Kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan lonjakan harga emas global sebesar 28,52% (yoy), dipengaruhi oleh ketidakpastian global yang masih tinggi, disrupsi rantai pasok, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan kelancaran arus perdagangan internasional dan memicu preferensi investor dan pemilik modal terhadap aset safe haven. Selanjutnya, inflasi yang lebih tinggi disebabkan oleh kelompok AP, yakni komoditas angkutan udara yang dipengaruhi oleh kenaikan harga avtur akibat konflik Geopolitik yang terus berlanjut dan berimbas pada kelancaran distribusi pasokan komoditas secara global hingga saat ini.
STABILITAS KEUANGAN DAERAH
Pertumbuhan kredit di Provinsi Gorontalo pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 20,49% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 10,77% (yoy) dan berada di atas rentang sasaran pertumbuhan kredit nasional sebesar 8–11%. Di tengah akselerasi tersebut, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 4,57%. Angka tersebut meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,31%, namun masih berada di bawah ambang batas 5%.
Berdasarkan jenis penggunaannya, akselerasi kredit terutama ditopang oleh kredit modal kerja yang tumbuh sebesar 52,54% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 39,70% (yoy). Kredit investasi juga tumbuh sebesar 13,94% (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya terkontraksi sebesar 12,04% (yoy). Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,94% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 6,76% (yoy).
Pertumbuhan kredit konsumsi terutama ditopang oleh kredit multiguna dan kredit peralatan rumah tangga yang masing-masing tumbuh sebesar 13,99% dan 13,91% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 13,46% dan 11,74% (yoy). Sebaliknya, pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) melambat dari 16,45% menjadi 14,01% (yoy), sedangkan kredit kendaraan bermotor masih terkontraksi sebesar 11,40% (yoy), meskipun membaik dibandingkan kontraksi sebesar 13,59% (yoy) pada triwulan sebelumnya.
Secara sektoral, akselerasi kredit terutama ditopang oleh sektor pertambangan yang tumbuh sebesar 756,21% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 552,61% (yoy), sejalan dengan berlanjutnya aktivitas pertambangan emas di Kabupaten Pohuwato. Kredit sektor perdagangan dan pertanian juga kembali tumbuh positif masing-masing sebesar 13,96% dan 7,95% (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya terkontraksi sebesar 2,35% dan 5,69% (yoy). Sementara itu, kredit industri pengolahan tetap tumbuh positif sebesar 7,24% (yoy), namun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 43,18% (yoy), di tengah risiko kredit sektor tersebut yang relatif tinggi.
Dari sisi penghimpunan dana, DPK tumbuh sebesar 7,48% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 10,32% (yoy). Pertumbuhan DPK ditopang oleh tabungan yang tumbuh 13,60% (yoy) dan deposito sebesar 1,32% (yoy), sementara giro terkontraksi sebesar 6,16% (yoy). Aset perbankan tercatat sebesar Rp17,65 triliun atau terkontraksi sebesar 1,60% (yoy). Di tengah pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan DPK, LDR meningkat menjadi 390,70%, yang mengindikasikan tekanan likuiditas perbankan masih relatif tinggi.
SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Transaksi sistem pembayaran non-tunai (BI-RTGS dan SKNBI) pada triwulan II 2026 mencapai Rp1,41 triliun atau mengalami kontraksi sebesar 26,31% (yoy), menunjukkan perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,66% (yoy). Berdasarkan pangsa nominal transaksinya, sebanyak 80,48% transaksi (senilai Rp1,14 triliun) berupa transaksi BI-RTGS yang mengalami kontraksi sebesar 30,17% (yoy) dan 19,52% transaksi (senilai Rp276 miliar) berupa transaksi SKNBI yang mengalami kontraksi sebesar 4,56% (yoy).
Di sisi lain, pertumbuhan positif pada pembayaran non-tunai terjadi pada kanal QRIS yang ditandai dengan volume dan nominal transaksi QRIS di Provinsi Gorontalo pada triwulan II 2026 masing-masing tercatat tumbuh positif sebesar 207,28% (yoy) dan 162,94% (yoy) atau membaik dibandingkan triwulan sebelumnya. Di sisi lain, penambahan pengguna baru QRIS di Provinsi Gorontalo mencatatkan perbaikan pada triwulan II 2026 dengan tambahan sebanyak 13.518 pengguna baru meningkat 12,65% (yoy) atau mengalami sedikit perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang juga mengalami pertumbuhan sebesar 12,42% (yoy).
Selanjutnya, aliran uang kartal masuk ke dan keluar dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo pada triwulan II 2026 tercatat mengalami net inflow sebesar Rp 511,50 miliar. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo terus mengoptimalkan layanan setoran dan bayaran perbankan untuk dapat terus mengedarkan Uang Layak Edar (ULE) kepada seluruh masyarakat di Gorontalo. Aktivitas penukaran ULE masyarakat dapat dilakukan di perbankan maupun melalui layanan kas keliling yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo sekaligus membantu distribusi ULE secara lebih luas secara langsung kepada masyarakat. Pada triwulan II 2026 terdapat Uang Tidak Layak Edar (UTLE) sebanyak 6.905.643 bilyet yang dimusnahkan. Sementara itu, temuan uang palsu di Provinsi Gorontalo tercatat rendah, yaitu 6 bilyet pecahan Rp50.000 dan Rp100.000. Kondisi ini didukung oleh kapasitas perputaran uang yang relatif terbatas serta literasi masyarakat yang cukup baik. Selain itu Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi dengan Aparat Penegak Hukum (APH) terkait temuan uang palsu dan proaktif melakukan edukasi Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah.
KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Pada triwulan II 2026, kondisi ketenagakerjaan Provinsi Gorontalo secara umum mencatat kontraksi 44,84% (yoy), dengan jumlah tenaga kerja Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN) yang terkontraksi 47,80% (yoy). Sementara itu, jumlah tenaga kerja Penanaman Modal Asing (PMA) mengalami pertumbuhan yang solid sebesar 70,97% (yoy). Kontraksi tersebut terutama ditopang oleh penurunan jumlah tenaga kerja PMDN, khusunya di sektor perdagangan dan reparasi serta perumahan, kawasan industri dan perkantoran. Penurunan tersebut sejalan dengan berkurangnya aktivitas investasi pada sektor-sektor dimaksud.
Dari sisi kesejahteraan, distribusi pendapatan pada Maret 2026 menunjukkan perbaikan dengan penurunan rasio Gini dari 0,383 (September 2025) menjadi 0,368 (Maret 2026). Lebih lanjut, persentase penduduk miskin juga menurun menjadi 12,16% atau 150,60 ribu orang, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P₁) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P₂) mengalami penurunan, menunjukkan bahwa pengeluaran penduduk miskin semakin bergerak ke atas mendekati garis batas kemiskinan dan kesenjangan antar penduduk miskin menyempit. Garis kemiskinan per kapita naik menjadi Rp535.255/bulan, didorong kenaikan komponen makanan (8,16% yoy) dan non-makanan (7,47% yoy), dengan struktur pengeluaran yang masih didominasi kebutuhan pangan, terutama beras.
Indikator kesejahteraan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) berada di level tinggi, yakni 131,04 pada triwulan II 2026 dibandingkan 122,88 pada triwulan sebelumnya. Tingginya NTP didukung kebijakan penyerapan gabah dan jagung oleh Bulog dengan harga di atas pasar, serta harga komoditas hortikultura dan perkebunan rakyat yang tetap menguntungkan khususnya BARITO (bawang merah, cabai rawit, tomat) dan kelapa. Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTP-H) mencapai 363,27 dan Nilai Tukar Petani Perkebunan (NTP-PR) sebesar 128,33, mencerminkan daya beli petani yang terjaga di tengah perlambatan pertumbuhan sektor pertanian.
PROSPEK PEREKONOMIAN
Melalui pemantauan terhadap indikator perkembangan ekonomi global, nasional, serta capaian pertumbuhan dan indikator makroekonomi Provinsi Gorontalo secara akumulatif sampai dengan triwulan laporan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo pada tahun 2026 secara keseluruhan diprakirakan masih tumbuh positif sejalan dengan pertumbuhan pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan perekonomian pada tahun 2026 diprakirakan akan tetap didorong oleh Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan serta LU Industri Pengolahan dengan tambahan sumber pertumbuhan baru yang berasal dari Lapangan Usaha Pertambangan. Kinerja LU Pertanian diprakirakan tetap tumbuh positif, meskipun dengan laju pertumbuhan yang lebih terbatas. Peningkatan target produksi jagung nasional pada 2026 serta berlanjutnya bantuan benih jagung diprakirakan tetap menjadi faktor penopang. Namun demikian, dampak positif tersebut berpotensi tertahan oleh kondisi El Niño dan prakiraan curah hujan Bawah Normal pada September–November 2026 yang dapat membatasi aktivitas tanam dan produktivitas tanaman pangan, khususnya padi dan jagung.
Selain itu, pertumbuhan yang lebih tinggi juga didorong oleh adanya prakiraan peningkatan produktivitas pelet kayu dan peningkatan aktivitas industri pengolahan emas di Kabupaten Pohuwato yang telah mulai beroperasi sejak triwulan I 2026. Dari sisi pengeluaran, perekonomian Gorontalo diprakirakan tetap didorong oleh komponen Konsumsi Rumah Tangga seiring dengan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2026 serta tren pertumbuhan pada LU Pertanian dan sektor perdagangan jagung yang diprakirakan dapat meningkatkan Nilai Tukar Petani dan daya beli masyarakat pada tahun 2026.
Pada tahun 2026, laju inflasi Provinsi Gorontalo diprakirakan masih terjaga pada rentang sasaran inflasi Nasional 2,5% ±1%. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, Kelompok Transportasi, dan Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya diprakirakan masih menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di Provinsi Gorontalo. Tekanan Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau diprakirakan terutama disumbang oleh komoditas beras, hortikultura, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Sementara itu, tekanan dari komoditas emas perhiasan yang disebabkan oleh peningkatan harga emas global secara tahunan sebagai safe haven di tengah peningkatan intensi geopolitik global di Timur Tengah.
Terjaganya inflasi pada rentang sasaran inflasi nasional didukung oleh program swasembada pangan Pemerintah Pusat dan berbagai program inovatif TPID se-Provinsi Gorontalo yang diprakirakan dapat menjaga keterjangkauan harga dan ketersediaan pasokan di Provinsi Gorontalo.