Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

​Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten​

6/18/2026 12:00 AM
Hits: 673

Laporan Perekonomian Provinsi Banten Mei 2026

Banten
Triwulan

PERKEMBANGAN EKONOMI DAERAH

Perekonomian Provinsi Banten pada Triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,64% (yoy), stabil dibandingkan Triwulan IV 2025. Angka pertumbuhan ini lebih baik dari pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,61% (yoy). Kinerja tersebut didukung oleh tetap kuatnya permintaan domestik di tengah ketidakpastian global akibat perang geopolitik.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi (PMTB), dan konsumsi pemerintah yang masing-masing tumbuh sebesar 5,92% (yoy), 6,09% (yoy), dan 14,93% (yoy). Hal tersebut didorong oleh momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), serta berlanjutnya proyek pemerintah dan swasta. Sementara itu, net ekspor mengalami kontraksi sebesar 0,24% (yoy) akibat terkanan terhadap permintaan global dan meningkatnya impor domestik.

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan didorong oleh Industri Pengolahan, Pertanian, Transportasi dan Pergudangan, dan Perdagangan, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum. Pertanian tumbuh tinggi sebesar 17,88% (yoy), Transportasi dan Pergudangan tumbuh 13,84% (yoy), serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 15,29% (yoy), sejalan meningkatnya mobilitas dan konsumsi masyarakat selama periode HBKN.

PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH

Inflasi Banten pada Triwulan I 2026 berada diatas sasaran inflasi 2,50% ± 1%, yakni sebesar 3,55% (yoy). Realisasi tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan Triwulan I 2025 yang mencapai 0,70 % (yoy). Permintaan yang meningkat terutama pada HBKN Ramadan dan Idulfitri serta normalisasi tarif listrik secara nasional untuk pengguna dengan daya listrik sampai dengan <2.200VA menjadi pendorong laju inflasi. Tekanan inflasi yang tinggi terjadi pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga, serta Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya.

PEMBIAYAAN DAERAH

Pada Triwulan I 2026, sistem keuangan Provinsi Banten tetap menunjukkan kondisi yang terjaga di tengah tantangan perlambatan pada beberapa segmen pembiayaan. Hal tersebut tecermin dari pertumbuhan kredit yang meningkat menjadi 4,68% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Triwulan IV 2025 yang tercatat 1,73% (yoy). Kinerja intermediasi juga didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh signifikan sebesar 15,57% (yoy), menguat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,17% (yoy). Perkembangan tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas penghimpunan dana dan penyaluran kredit masih berlangsung, sejalan dengan terjaganya aktivitas ekonomi daerah dan kebutuhan pembiayaan dunia usaha maupun rumah tangga.

Di sisi lain, terdapat beberapa indikator yang perlu dicermati ke depan. Pertumbuhan kredit UMKM masih mengalami kontraksi sebesar -0,33% (yoy), membaik dibandingkan triwulan IV 2025 yang tercatat kontraksi -1,13% (yoy). Hal tersebut mengindikasikan bahwa pemulihan pembiayaan pada sektor UMKM masih berlangsung secara bertahap. Sementara itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) pada periode pelaporan berada pada level 160,90%, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 163,28%, yang mengindikasikan penyaluran kredit yang tumbuh lebih lambat dibandingkan penghimpunan dana di wilayah Banten.

Meski demikian, risiko kredit tetap terkendali sebagaimana tecermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) yang stabil pada level 2,92%, masih berada di bawah ambang batas kewaspadaan 5%. Dengan demikian, stabilitas sistem keuangan Banten pada Triwulan I 2026 tetap terjaga dengan fungsi intermediasi yang membaik dan risiko kredit yang relatif terkendali.

PENYELENGGARAAN SP DAN PUR

Transaksi pembayaran tunai dan nontunai di Provinsi Banten tetap tumbuh positif sejalan dengan terjaganya aktivitas ekonomi daerah. Kinerja transaksi nontunai didukung oleh peningkatan penggunaan berbagai instrumen pembayaran digital, termasuk transfer dana melalui Bank Indonesia Fast Payment (BI-FAST), Real Time Gross Settlement (RTGS), dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI), serta transaksi menggunakan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) dan Uang Elektronik (UE). Perluasan digitalisasi pembayaran melalui kanal QR Code Indonesian Standard (QRIS) terus berlanjut, didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant di berbagai sektor usaha. Penguatan ekosistem pembayaran digital tersebut mencerminkan semakin tingginya penerimaan masyarakat terhadap transaksi yang cepat, mudah, aman, dan efisien.

Di sisi lain, transaksi tunai tetap terjaga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama pada periode HBKN Idul Fitri melalui program Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI). Bank Indonesia memastikan kecukupan ketersediaan uang Rupiah yang layak edar melalui pengelolaan distribusi uang yang efektif serta sinergi dengan perbankan dan pemangku kepentingan terkait.

KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Banten yang tumbuh tinggi, kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan tumbuh positif sebagaimana tecermin dari penurunan jumlah pengangguran (TPT), peningkatan lapangan pekerjaan (TPAK), turunnya angka kemiskinan dan ketimpangan di Banten serta pertumbuhan positif kesejahteraan petani (NTP) yang semakin memperkuat optimisme kesejahteraan masyarakat yang meningkat.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada periode Februari 2026 tercatat sebesar 6,59%, mengalami penurunan dibandingkan dengan nilai TPT periode Februari 2025 sebesar 6,64%. Kesejahteraan petani di Banten pada triwulan I 2026 tercatat tumbuh positif pada semua indikator. Hal tersebut tecermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang meningkat menjadi sebesar 111,79 dari semula sebesar 110,01 pada triwulan I 2026.

PROSPEK EKONOMI DAERAH

Kinerja perekonomian Provinsi Banten pada tahun 2026 diprakirakan tumbuh positif dalam kisaran 5,1%–5,9% (yoy). Prospek tersebut didukung oleh tetap terjaganya permintaan domestik serta berlanjutnya aktivitas investasi. Di sisi lain, sektor industri pengolahan yang menjadi penopang utama perekonomian Banten masih terdorong oleh permintaan ekspor yang tetap terjaga. Namun demikian, peningkatan ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah berpotensi akan memberikan dampak terhadap kenaikan biaya logistik, energi, dan bahan baku impor, yang dapat memberikan tekanan terhadap kinerja sektor industri. Secara keseluruhan, perekonomian Banten diprakirakan tetap tumbuh kuat dengan dukungan permintaan domestik dan investasi yang berlanjut.

Inflasi di Provinsi Banten diprakirakan tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%. Inflasi inti diperkirakan tetap terjaga didukung oleh kapasitas ekonomi yang memadai, imported inflation yang terkendali, dan akselerasi digitalisasi. Sementara itu, inflasi pangan bergejolak (volatile food) diprakirakan tetap terkendali melalui penguatan sinergi pengendalian inflasi pusat dan daerah dalam kerangka strategi 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Ke depan, penguatan ketahanan pangan dan stabilitas harga akan terus didorong melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), antara lain melalui peningkatan produktivitas pertanian, dukungan terhadap program prioritas pemerintah, optimalisasi kerja sama antar daerah, serta penguatan peran offtaker dalam menjaga kesinambungan pasokan pangan.

Lampiran
Kontak
Contact Center BICARA: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten​
Halaman ini terakhir diperbarui 6/18/2026 4:41 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga