BI Icon

​​Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta​

9/14/2026 8:00 AM

Laporan Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta Agustus 2026

Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Perekonomian DIY tumbuh positif pada triwulan II 2026 mencapai 5,75% (yoy), terjaga baik meskipun termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,84% (yoy). Perekonomian DIY triwulan II 2026 tersebut tumbuh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kinerja perekonomian wilayah Jawa dan Nasional yang masing-masing tumbuh sebesar 5,65% (yoy) dan 5,29% (yoy).

Dari sisi pengeluaran, perekonomian DIY yang tumbuh positif pada triwulan II 2026 terutama ditopang oleh meningkatnya kinerja konsumsi Rumah Tangga (RT), konsumsi pemerintah, ekspor, dan impor. Konsumsi RT yang memiliki pangsa terbesar dibandingkan komponen lainnya yaitu sebesar 62,29%, melanjutkan pertumbuhan positif sebesar 4,80% (yoy), kendati melemah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yaitu 5,02% (yoy). Lebih lanjut, kinerja PMTB memiliki pangsa sebesar 35,80% terhadap perekonomian DIY, tumbuh sebesar 6,95% (yoy), termoderasi apabila dibandingkan dengan triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 7,35% (yoy). Adapun kinerja konsumsi pemerintah juga tumbuh melambat sebesar 18,34% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar 20,08% (yoy) dan memberikan kontribusi sebesar 15,14% pada perekonomian DIY.  Dari sisi eksternal, kinerja ekspor barang dan jasa DIY tercatat tumbuh positif pada triwulan II 2026 yaitu sebesar 4,93% (yoy) lebih tinggi dibandingkan kinerja pada triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,58% (yoy). Ekspor memiliki pangsa sebesar 49,95% terhadap perekonomian DIY pada triwulan II 2026. Meskipun demikian, kinerja impor juga tetap mengalami pertumbuhan positif sebesar 2,30% (yoy), meskipun melemah dibandingkan kinerja impor pada triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,62% (yoy) pada triwulan II 2026, dengan kontribusi sebesar 66,32% terhadap perekonomian DIY pada periode laporan.

Dari sisi Lapangan Usaha (LU), perekonomian DIY yang tetap tumbuh positif, meskipun termoderasi pada triwulan II 2026 ditopang oleh kinerja sejumlah LU utama, terutama LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, LU Industri Pengolahan, LU Konstruksi, LU Informasi dan Komunikasi, serta LU Perdagangan Besar dan Eceran. LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum memiliki pangsa sebesar 11,48% terhadap PDRB DIY pada triwulan II 2026 dan tumbuh sebesar 10,56% (yoy), meskipun termoderasi dibandingkan triwulan I 2026 yang tumbuh 11,59% (yoy). Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh normalisasi aktivitas masyarakat pasca festive season Ramadan dan periode HBKN Idulfitri serta Iduladha yang terjadi pada triwulan sebelumnya. Sementara itu, LU Industri Pengolahan yang memiliki pangsa sebesar 11,78% tumbuh 5,40% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,86% (yoy). Adapun LU Informasi dan Komunikasi memiliki pangsa sebesar 9,55% terhadap PDRB DIY dan tumbuh relatif stabil sebesar 4,59% (yoy), dibandingkan triwulan I 2026 sebesar 4,63% (yoy).

Perkembangan Inflasi

Kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunungkidul sebagai kota IHK yang mewakili DIY mencatat inflasi yang terkendali pada triwulan II 2026. Berdasarkan rilis BPS, inflasi gabungan kota IHK DIY tercatat sebesar 2,91% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan I 2026 sebesar 4,08% (yoy), serta lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 3,34% (yoy) dan Jawa sebesar 2,98% (yoy). Secara umum, capaian tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1% pada 2026.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi terutama dipengaruhi oleh Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang mencatat inflasi sebesar 14,71% (yoy), melandai dari 21,19% (yoy) pada triwulan I 2026, dengan andil sebesar 0,98% (yoy) pada triwulan II 2026. Kontributor utamanya adalah kenaikan harga emas perhiasan dengan andil 0,95% (yoy), sejalan dengan kenaikan harga emas global di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan permintaan emas sebagai aset safe-haven. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau juga memberikan andil sebesar 0,72% (yoy), meskipun inflasinya melandai dari 2,76% menjadi 2,54% (yoy). Inflasi kelompok ini terutama didorong oleh kenaikan harga beras, minyak goreng, dan cabai rawit. Kenaikan harga beras dipengaruhi meningkatnya biaya produksi dan harga gabah di tingkat petani, sementara harga minyak goreng terdorong keterbatasan pasokan di tengah permintaan yang tetap tinggi. Adapun kenaikan harga cabai rawit dipengaruhi peningkatan biaya logistik. Sementara itu, Kelompok Transportasi mencatat inflasi sebesar 3,87% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2026 sebesar 0,35% (yoy), dengan andil meningkat dari 0,05% (yoy) menjadi 0,50% (yoy). Peningkatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan harga bensin yang memberikan andil sebesar 0,27% (yoy).

Pembiayaan Daerah serta Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM

Kinerja perbankan umum di DIY pada triwulan II 2026 tetap solid, tecermin dari pertumbuhan intermediasi yang meningkat dan risiko kredit yang terjaga. Kinerja penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan umum di DIY tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, yakni sebesar 4,74% (yoy), dari 4,04% (yoy) pada triwulan I 2026. Sejalan dengan itu, kredit perbankan di DIY turut mencatatkan peningkatan pertumbuhan, dengan pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi proyek sebesar 2,41% (yoy), meningkat dari 1,10% (yoy) pada triwulan sebelumnya, dan valuasi kredit perbankan DIY mencapai Rp62,46 triliun. Kualitas pembiayaan perbankan tetap terjaga, tecermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 3,73%, masih berada di bawah threshold 5%. Dari sisi pengembangan akses keuangan dan UMKM, penyaluran kredit UMKM di DIY pada triwulan II 2026 tercatat sebesar Rp22,81 triliun dan kembali tumbuh positif sebesar 0,36% (yoy), membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 2,32% (yoy), seiring berlanjutnya dukungan kebijakan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) dan berbagai program pengembangan kapasitas UMKM oleh Bank Indonesia.

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah

Pertumbuhan transaksi nontunai melalui Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada triwulan II 2026 mengalami pertumbuhan positif.  Transaksi melalui SKNBI mencatatkan nominal sebesar Rp3,16 triliun atau tumbuh 26,40% (yoy) serta naik 7,15% (qtq) dari triwulan sebelumnya (Rp2,94 triliun), dengan volume yang meningkat 17,62% (yoy) menjadi 123.291 transaksi. Sementara itu, transaksi BI-RTGS mengalami lonjakan nominal yang sangat signifikan sebesar 116,74% (yoy) mencapai Rp22,52 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Rp10,39 triliun), yang turut diiringi oleh peningkatan volume transaksi sebesar 13,63% (yoy) menjadi 7.999 kali transaksi.

Di sisi lain, transaksi Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) di DIY pada triwulan II 2026 meningkat secara tahunan, namun menurun secara kuartalan. Nominal transaksi pembayaran nontunai berbasis kartu di DIY tercatat sebesar Rp19,68 triliun naik sebesar 1,37% (yoy) dari periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp19,41 triliun, namun menurun jika dibandingkan triwulan I 2026 yang tercatat sebesar 19,85 triliun.

Adopsi QRIS di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus meningkat hingga triwulan II 2026. Jumlah merchant QRIS tercatat mencapai 1,11 juta, tumbuh 18,92% (yoy) atau 2,37% (qtq), sementara jumlah pengguna mencapai 1,13 juta, meningkat 17,51% (yoy) atau 7,50% (qtq). Struktur merchant masih didominasi sektor usaha mikro sebesar 66,93% dan usaha kecil sebesar 25,09%. Sejalan dengan ekspansi ekosistem tersebut, aktivitas pembayaran digital melonjak signifikan hingga membukukan volume 284,28 juta transaksi (tumbuh 68,74% yoy) dengan nilai nominal mencapai Rp24,74 triliun (naik 21,09% yoy).

Sementara itu, Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) pada triwulan I 2026 terus dilaksanakan guna menjamin tersedianya Uang Rupiah yang layak edar, denominasi sesuai, dan tepat waktu sesuai kebutuhan masyarakat. Pada triwulan II 2026 DIY mengalami net inflow seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi yang ditunjang oleh pertumbuhan pariwisata DIY. Jumlah arus uang tunai yang keluar dan masuk di KPwBI DIY masing-masing tercatat sebesar Rp1,33 triliun dan Rp4,29 triliun sehingga mengalami net inflow sebesar Rp2,95 miliar. Pada triwulan II 2026 arus outflow uang kartal sebesar Rp1,33 triliun, meningkat 21,39% (yoy), meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,1 triliun, namun mengalami penurunan arus outflow jika dibandingkan dengan triwulan I 2026 sebesar 64,28% (qtq).

Jumlah transaksi penukaran valuta asing (valas) DIY melalui Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) pada triwulan I 2026 peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, seiring dengan meningkatnya jumlah kunjungan turis mancanegara di DIY. Total transaksi jual dan beli valas di DIY pada triwulan II 2026 sebesar Rp590 miliar, meningkat sebesar 0,04% (yoy). Porsi transaksi penjualan dan pembelian mata uang USD mencapai 49,26%, diikuti mata uang Dolar Singapura (16,48%), Euro (10,96%),  Real Saudi Arabia (5,28%), serta Yen Jepang (4,26%).

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Kondisi ketenagakerjaan di DIY yang tecermin dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)  relatif terjaga pada Mei 2026 meskipun meningkat terbatas dibandingkan Februari 2026. TPT DIY tercatat sebesar 3,11%, sedikit meningkat dari 3,05% pada Februari 2026, seiring dengan peningkatan jumlah pengangguran menjadi 70,56 ribu orang dari 69,54 ribu orang. Sementara itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tercatat sebesar 74,04%, menurun 0,48% dibandingkan Februari 2026. Penyerapan tenaga kerja masih didominasi oleh lapangan usaha pertanian, perdagangan besar dan eceran, serta industri pengolahan. Di tengah moderasi tersebut, kualitas penyerapan tenaga kerja menunjukkan perbaikan yang tecermin dari meningkatnya pangsa pekerja formal dari 46,02% menjadi 47,59% pada Februari 2026.

Sejalan dengan hal tersebut, kondisi kesejahteraan masyarakat DIY tetap terjaga, yang tecermin dari berlanjutnya tren penurunan kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran serta terjaganya kesejahteraan petani. Persentase penduduk miskin DIY pada Maret 2026 tercatat sebesar 9,70%, menurun dari 10,23% pada Maret 2025 dan menjadi level terendah dalam lima tahun terakhir. Ketimpangan pengeluaran juga menurun, tecermin dari Gini Rasio sebesar 0,411, lebih rendah dibandingkan Maret 2025 sebesar 0,426, meskipun masih lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar 0,368. Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) triwulan II 2026 tercatat sebesar 108,01, atau tumbuh 2,01% (yoy), yang mengindikasikan kemampuan tukar petani tetap terjaga.

Prospek Perekonomian

Secara umum, perekonomian DIY pada tahun 2026 diperkirakan melanjutkan pertumbuhan positif dibandingkan 2025. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2026 diperkirakan berada di kisaran 5,7 – 6,5% (yoy). Di tengah ketidakpastian global, perekonomian DIY diperkirakan tetap kuat sejalan dengan kebijakan kenaikan UMP dan UMK 2026 yang berpotensi mendorong daya beli masyarakat. Kinerja investasi juga berpotensi mengalami pertumbuhan seiring dengan membaiknya kepercayaan investor dan berlanjutnya pembangunan di daerah. Namun di sisi lain, ketidakpastian ekonomi global diwaspadai dapat mempengaruhi kinerja ekspor dan impor DIY.

Inflasi DIY pada tahun 2026 diprakirakan lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2025 dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1% (yoy). Beberapa faktor seperti peningkatan permintaan dan dinamika geopolitik menjadi pemicu tekanan inflasi sepanjang 2026 (Tabel 6.3). Inflasi secara umum diproyeksikan tetap terjaga didukung oleh upaya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY untuk menjaga kestabilan inflasi melalui koridor 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif). Hingga periode laporan, telah dilaksanakan berbagai upaya dan rencana jangka pendek ke depan, antara lain kondisi tersebut didukung oleh upaya TPID DIY dalam kerangka 4K, melalui perluasan kios Segoro Amarto sebagai price reference store melalui Warung MRANTASI, pelaksanaan edukasi MRANTASI Pasar, MRANTASI PKK, MRANTASI Goes to School, dan MRANTASI Goes to Campus serta rencana pelaksanaan Gerakan Pangan Murah, Operasi Pasar, dan Pasar Murah berdasarkan 3Tepat (Tepat Waktu, Tepat Lokasi, dan Tepat Sasaran) oleh TPID se-DIY untuk memastikan kestabilan harga dan ketersediaan pasokan.​

Lampiran
Kontak
Contact Center BICARA: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta

Halaman ini terakhir diperbarui 9/15/2026 2:02 PM

Apakah halaman ini bermanfaat?

Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?