​Perkembangan Ekonomi Makro Daerah
Perekonomian Kalimantan Utara triwulan II 2026 tetap tumbuh positif meskipun termoderasi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya akibat kinerja Lapangan Usaha (LU) Pertambangan, Konstruksi, serta Transportasi dan Pergudangan yang terkontraksi. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Kaltara yang positif ditopang oleh kinerja LU Industri Pengolahan, Perdagangan, dan Pertanian. Kinerja LU Pertambangan terkontraksi akibat penuruan produksi batubara paska kebijakan pembatasan RKAB tahun 2026. Sementara itu, LU Konstruksi juga terkontrakis akibat finalisasi pembangunan di Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI). Disisi lain, kinerja Industri Pengolahan tumbuh tinggi pada triwulan II 2026 didorong oleh peningkatan hasil produksi kayu dan industri kertas serta terdapat komoditas baru yaitu Aluminium. LU Perdagangan utamanya didorong oleh peningkatan produksi lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan serta industri pengolahan sejalan dengan indeks keyakinan konsumen yang masih terjaga. LU Pertanian didorong oleh peningkatan produksi tandan buah segar (TBS) dan komoditas perikanan tangkap. Dari sisi permintaan, perekonomian Kalimantan Utara pada triwulan II 2026 juga termoderasi akibat kinerja investasi sejalan dengan selesainya pembangunan KIHI namun masih ditopang dengan meningkatnya kinerja Net Ekspor komoditas baru di Kaltara.
Perkembangan Inflasi Daerah
Inflasi gabungan 3 kabupaten/kota IHK Provinsi Kalimantan Utara pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 3,30% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan I 2026 yang sebesar 3,12% (yoy) dan juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,38% (yoy). Secara tahunan, capaian tersebut masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional meskipun tekanan yang lebih tinggi tercatat pada triwulan laporan. Tekanan inflasi terutama dipengaruhi oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, khususnya komoditas cabai rawit, bawang merah, dan beras, sejalan dengan dinamika pasokan dari daerah sentra produksi. Selain itu, inflasi juga didorong oleh kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, khususnya dari komoditas emas perhiasan yang mencatat inflasi tahunan tinggi sejalan dengan masih tingginya harga emas global. Tekanan dari sisi transportasi juga tercatat, terutama dari komoditas angkutan udara dan bensin yang meningkat pada akhir triwulan. Namun demikian, tekanan inflasi lebih lanjut tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas secara tahunan, terutama ikan layang/ikan benggol, bawang putih, dan telur ayam ras, yang mencerminkan membaiknya pasokan.
Pembiayaan Daerah Serta Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Utara didukung oleh intermediasi perbankan. Penyaluran kredit tumbuh di atas level regional Kalimantan dan Nasional. Penyaluran kredit dalam bentuk kredit konsumsi dan modal kerja masing-masing tumbuh 5,05 % (yoy) dan 56,55% (yoy). Meningkatnya investasi sejalan dengan optimisme pelaku usaha terhadap pemulihan ekonomi nasional dan Kaltara serta akselerasi beberapa proyek strategis. Realisasi investasi yang sudah dilakukan selama triwulan II Tahun 2026 adalah sebesar Rp14,3 Triliun atau 10,14 % dari target investasi 2026 yang ditetapkan sebesar Rp141 Triliun. Meningkatnya kredit modal kerja terjadi seiring optimisme masyarakat terhadap perekonomian, terutama pada sektor bisnis.
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Penyelenggaraan sistem pembayaran tunai maupun nontunai di Provinsi Kalimantan Utara pada Triwulan II 2026 menunjukkan perkembangan positif seiring dengan berlanjutnya digitalisasi transaksi ekonomi dan keuangan. Transaksi SKNBI pada Triwulan II 2026 tumbuh positif baik dari sisi nominal maupun volume, masing-masing sebesar 0,78% dan 2,43% (yoy), sementara transaksi BI-RTGS juga mencatat pertumbuhan positif dengan nominal meningkat 12,41% dan volume 28,63% (yoy), mencerminkan tetap kuatnya aktivitas transaksi bernilai besar. Dari sisi pengelolaan uang Rupiah, aliran uang kartal mencatat net outflow sebesar Rp307,65 miliar, seiring outflow yang lebih besar dibandingkan inflow. Distribusi Uang Layak Edar (ULE) tetap didominasi oleh pecahan besar, sementara pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) meningkat menjadi Rp25,66 miliar dengan rasio pemusnahan terhadap inflow sebesar 8,84%. Sejalan dengan akselerasi digitalisasi sistem pembayaran, jumlah pengguna QRIS meningkat menjadi 147.818 pengguna dan jumlah merchant mencapai 116.472 merchant, dengan dominasi pada segmen Usaha Mikro serta penyebaran yang semakin luas di seluruh wilayah Kalimantan Utara. Penggunaan APMK juga menunjukkan pertumbuhan positif, dengan volume transaksi mencapai 292,52 ribu transaksi atau tumbuh 5,86% (yoy). Selain itu, kinerja Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) tetap terjaga, tercermin dari seluruh pemerintah daerah di Kalimantan Utara yang masih berada pada tahap Digital.
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Perkembangan ketenagakerjaan dan kesejahteraan di Kalimantan Utara hingga triwulan II 2026 secara umum tetap terjaga. TPT pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,90%, sementara optimisme masyarakat terhadap pasar kerja semakin kuat, tercermin dari indeks perkiraan ketersediaan lapangan kerja enam bulan mendatang sebesar 127,14, meningkat 2,10% (yoy). Kualitas hidup masyarakat juga terus membaik, tercermin dari IPM 2025 sebesar 74,04, sementara ketimpangan pendapatan tetap berada dalam kategori rendah dengan Gini Ratio Maret 2026 sebesar 0,253 dan porsi pengeluaran 40% terbawah meningkat menjadi 25,00%. Secara keseluruhan, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kondisi kesejahteraan masyarakat Kalimantan Utara tetap stabil, didukung oleh peningkatan kualitas pembangunan manusia, distribusi pengeluaran yang semakin merata, serta optimisme terhadap prospek pasar kerja.
Prospek Perekonomian Daerah
Perekonomian Prov. Kaltara 2026 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi 2025, yaitu dalam kisaran 6,2%-6,7% (yoy). Proyeksi tersebut terutama didorong oleh akselerasi LU Industri Pengolahan dan LU Perdagangan. LU Industri Pengolahan diprakirakan meningkat sejalan dengan mulai masuknya PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) di Bulungan ke fase produksi komersial dan ekspor aluminium serta kontribusi produksi dan pengiriman bubur kertas (pulp) oleh PT Phoenix Resources International (PRI) di Tarakan. LU Perdagangan juga diprakirakan tumbuh meningkat seiring peningkatan pasokan dan distribusi barang untuk mendukung aktivitas industri, pembangunan kawasan, serta konsumsi masyarakat. Sementara itu, LU Konstruksi diprakirakan tetap tumbuh positif meskipun melambat seiring sejumlah proyek strategis utama memasuki tahap finalisasi, dengan aktivitas konstruksi masih ditopang oleh pembangunan tahap II PT PRI, proyek real estate, dan pengembangan kawasan industri. Namun demikian, LU Pertambangan diprakirakan tumbuh melambat akibat pembatasan RKAB secara nasional, belum membaiknya harga batubara, serta melemahnya permintaan ekspor, dengan risiko bias ke bawah seiring berakhirnya cadangan batubara pada salah satu lokasi pertambangan di Kabupaten Bulungan.
Dari sisi harga, inflasi Prov. Kaltara 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam sasaran inflasi nasional. Tekanan inflasi terutama perlu diwaspadai dari risiko gangguan produktivitas pertanian akibat anomali cuaca panas, kenaikan biaya produksi dan logistik, serta fluktuasi harga energi global. Ke depan, sinergi pengendalian inflasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat melalui akselerasi program MBG, KDKMP, ketahanan pangan, dan pengendalian inflasi guna menjaga stabilitas harga serta mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah