Angka itu bukan sekadar jumlah pengrajin. Di balik setiap helai Songket Pandai Sikek, ada keterampilan yang terus diwariskan, keluarga yang mendapatkan penghasilan, dan tradisi Pandai Sikek yang menemukan cara baru untuk tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Kisah tersebut menjadi bagian dari Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang di hari kedua ini mengangkat tema Inklusi dan Berkelanjutan. Melalui perjalanan Bandaro Songket, kita melihat bagaimana warisan budaya dapat terus tumbuh ketika semakin banyak orang mendapat kesempatan untuk terlibat dan ketika tradisi diberi ruang untuk beradaptasi.
Dari Tradisi yang Diwariskan hingga Peluang yang Terbuka
Bagi masyarakat Pandai Sikek, menenun bukan sekadar keterampilan membuat kain. Tradisi ini telah menjadi bagian dari identitas perempuan Minangkabau dan secara turun-temurun diwariskan melalui garis keturunan ibu.
Bandaro Songket yang didirikan Dian pada 2019 turut menjaga tradisi tersebut sambil mencari cara agar Songket Pandai Sikek semakin dikenal. Jika sebelumnya penjualan lebih banyak mengandalkan butik dan galeri, perkembangan media sosial membuka pintu baru untuk memperkenalkan songket kepada calon pembeli dari berbagai daerah.
Pada 2025, Dian mulai aktif memanfaatkan media sosial dan memperkenalkan produknya melalui konten serta live streaming. Langkah ini kemudian diperkuat dengan pendampingan BI KPw Sumatera Barat melalui pelatihan pemasaran digital dan penguatan strategi pemasaran. Dari sini, pasar yang lebih luas membuka kesempatan bagi semakin banyak orang untuk terlibat dalam produksi dan mendapatkan manfaat dari berkembangnya usaha.
Sobat Rupiah, perubahan ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan hanya soal memindahkan cara berjualan ke layar ponsel. Ketika pasar semakin terbuka, peluangnya juga dapat dirasakan lebih banyak orang di balik sebuah produk.
Ketika Menenun Membuka Kesempatan untuk Banyak Orang
Pasar yang semakin berkembang membuat kesempatan untuk terlibat dalam produksi songket juga semakin luas. Sekitar 60 persen pengrajin yang terlibat di Bandaro Songket merupakan ibu rumah tangga, termasuk pengrajin sulam dan renda untuk produk ready to wear.
Kesempatan tersebut juga mulai menarik generasi muda. Lebih dari 30 anak muda, termasuk lulusan SMA dan mereka yang tidak melanjutkan sekolah, kini ikut menenun. Salah satunya sempat memandang profesi menenun dari pengalaman ibunya. Namun, ketika melihat pasar Bandaro Songket semakin berkembang, pandangannya berubah. Menenun bukan lagi sekadar pekerjaan yang diwariskan, tetapi bisa menjadi pilihan untuk mendapatkan penghasilan.
Di sinilah makna inklusi terasa nyata. Ketika sebuah usaha berkembang, manfaatnya tidak hanya dinikmati oleh pemilik usaha, tetapi dapat membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk ikut tumbuh.
Bagi generasi muda, cerita ini juga memberi perspektif bahwa warisan budaya dapat menjadi bagian dari masa depan. Keterampilan tradisional tidak harus berhadapan dengan perkembangan zaman; keduanya dapat berjalan bersama ketika diberi ruang untuk berkembang.
Tradisi Tetap Hidup dengan Sentuhan Zaman
Menjaga keberlanjutan Songket Pandai Sikek bukan berarti membuatnya berhenti pada bentuk yang sama. Bandaro Songket melakukan pengembangan pada alat tenun, kualitas benang, serta pewarnaan, sekaligus mempertahankan karakter khas Songket Pandai Sikek. Motif klasik seperti Batang Pinang, Biji Bayam, dan Saluak Laka tetap dipertahankan. Teknik tenun manual seperti cukie dan rajuik juga terus digunakan sebagai bagian dari identitas yang membedakan Songket Pandai Sikek dari tenun daerah lainnya.
Di saat yang sama, tampilan warna dan pengembangan produk disesuaikan dengan selera pasar masa kini. Warna pastel dan soft dihadirkan tanpa menghilangkan esensi tradisionalnya. Upaya menjaga kualitas pun dilakukan melalui standar operasional prosedur (SOP) sebelum kain diterima dari pengrajin. Cara ini menunjukkan bahwa melestarikan budaya tidak selalu berarti mempertahankannya tanpa perubahan. Justru dengan menjaga identitas sekaligus beradaptasi, sebuah warisan dapat terus memiliki tempat di tengah kehidupan generasi baru.
Songket Pandai Sikek sendiri telah mendapatkan perlindungan Indikasi Geografis, yang memastikan songket asli tersebut ditenun oleh masyarakat di kawasan geografis Pandai Sikek. Perlindungan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keaslian sekaligus nilai warisan budaya tersebut.
Saat Warisan Memberi Manfaat Lebih Luas
Ketika pasar tumbuh, semakin banyak pengrajin memiliki kesempatan untuk mendapatkan penghasilan dari keterampilan yang mereka miliki. Perekrutan pengrajin baru pun menjadi lebih terbuka, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh lebih banyak keluarga di Pandai Sikek.
Pada saat yang sama, pembeli tidak hanya mendapatkan sehelai kain dengan nilai estetika dan budaya. Setiap pembelian turut menjadi bagian dari rantai ekonomi yang menjaga keterampilan menenun tetap bernilai dan memberikan ruang bagi generasi berikutnya untuk meneruskannya. Songket Pandai Sikek bahkan pernah hadir dalam desain uang kertas Rp5.000 emisi 2001, menjadi salah satu pengingat bahwa kekayaan tenun Indonesia telah menjadi bagian dari identitas bangsa.
Kini, warisan tersebut kembali menemukan panggungnya melalui KKI 2026. Bukan hanya untuk dipamerkan, tetapi untuk mempertemukan karya dengan lebih banyak orang dan membuka peluang agar tradisi tersebut terus berkembang.
Tumbuh Bersama, Lestari Selamanya
Bagi Dian, kehadiran Bandaro Songket di KKI 2026 menjadi kesempatan untuk semakin memperkenalkan Songket Pandai Sikek dan mengajak lebih banyak orang ikut menjaga warisan tersebut.
Sebab, kelestarian tidak hanya bergantung pada kain yang tetap diproduksi. Ia juga bergantung pada orang-orang yang masih mau menenun, generasi muda yang bersedia belajar, pasar yang terus menghargai karya, dan ekosistem yang memberi ruang bagi semuanya untuk berkembang.
Seperti falsafah Minang, “bapantang kusuik salamo indak salasai” pantang berhenti sebelum setiap kusut terurai. Dari sehelai benang yang dirangkai menjadi songket, kita belajar bahwa sesuatu yang diwariskan akan tetap hidup ketika terus diberi kesempatan untuk tumbuh. Ketika semakin banyak orang dapat tumbuh bersama, warisan pun punya kesempatan untuk lestari selamanya.