Cerita BI

BI Icon

Departemen Komunikasi​

8/20/2026 1:00 AM
Hits: 24

KKI 2026: Dukung UMKM Aceh Pulih dari Bencana

Hampir lima bulan para perajin UMKM Bungong Jaroe tak bisa menenun setelah banjir bandang Desember 2025 merendam alat tenun mereka. Kini, dari Peulalu, Aceh Timur, mereka kembali menenun dan membawa wastra Aceh ke panggung nasional Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.

Sobat Rupiah, ada musibah yang datang tanpa bisa dielakkan. Bencana tak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tapi juga menghentikan sumber penghidupan. Seperti yang dialami kelompok perajin tenun Bungong Jaroe di Desa Peulalu, Dusun Bahagia, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur.

Saat banjir bandang melanda, genangan air mencapai 2 meter dan merendam alat tenun bukan mesin (ATBM) para perajin. Benang dan bahan produksi ikut rusak kena lumpur. "Hampir semua perajin terkena imbasnya. Ibu-ibu rumah tangga nggak bisa menenun karena alat tenunnya rusak," tutur Khairiah, salah satu perajin Bungong Jaroe. Selama hampir lima bulan, produksi terhenti, permintaan pun ikut menurun karena masyarakat sekitar sama-sama terdampak. Momen itu membekas, bukan hanya sebagai kerugian material, tapi pengingat betapa rentannya usaha kecil di hadapan bencana.

Berjuang Pulih, Menggerakkan Kembali Ekonomi

Namun, setelah badai selalu ada pelangi. Di setiap kesulitan, ada kemudahan. Apa hikmah yang bisa dipetik? Dari titik ini, sebuah perjalanan baru dimulai. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe hadir mendampingi UMKM tenun Aceh Timur, termasuk Bungong Jaroe, untuk bukan hanya bangkit, tapi naik kelas. Mereka mendapat lima bantuan alat tenun pengganti disertai pembinaan dan rencana pelatihan lanjutan. "Alhamdulillah sekarang kami sudah bisa menenun kembali, produk-produk kami juga sudah banyak," ujar Khairiah.

Dampaknya terlihat. Bungong Jaroe mengerjakan hampir 200 lembar kain, termasuk 50 lembar untuk kegiatan 17 Agustus tahun ini dan 40 lembar pesanan perusahaan swasta. Kapasitas produksi kini sekitar 100 lembar per bulan, omzet hingga Rp50 juta saat pesanan ramai. Sebagian besar perajin ibu rumah tangga yang bekerja dari rumah, sehingga bisa berpenghasilan sambil tetap mengurus keluarga.

Kembali Menjadi Sumber Penghidupan

Bungong Jaroe telah menjadi binaan Bank Indonesia sejak 2020. Khairiah sendiri lulusan SMP yang sempat menganggur dua tahun sebelum ikut pelatihan tenun BI di desanya, meski awalnya ragu. "Saya nggak berani, karena tenun ini susah banget," katanya. Dari 22 peserta pelatihan 12 hari, hanya tiga yang bertahan. Khairiah salah satunya.

Kini, hampir empat tahun kemudian, keterampilan yang dulu sulit justru jadi sumber penghasilan. Bungong Jaroe memiliki sekitar 14 perajin, mayoritas perempuan, dengan produk andalan tenun katun, tenun ekstra, songket, dan selendang bermotif khas kaki dan pucuk glima, dibanderol Rp600 ribu–Rp800 ribu per lembar. Bagi Khairiah, menenun berarti tak perlu meninggalkan kampung untuk mencari kerja. "Sebagai perempuan, saya nggak bisa kerja di tempat yang jauh," ujarnya.

Satu UMKM Bangkit, Mata Rantai Ekonomi Ikut Bergerak

Ketika permintaan kain tenun mulai meningkat, manfaatnya bisa menjalar ke lingkungan sekitar. Mata rantai ekonomi yang sempat terputus saat bencana kini bergerak kembali:

  • Lapangan kerja kembali terbuka bagi warga Peulalu, terutama perempuan.

  • Perputaran ekonomi lokal, dari bahan baku hingga usaha kecil sekitar desa.

  • Wastra tetap lestari, karena generasi muda punya alasan meneruskannya.

  • Akses produk lokal berkualitas bagi konsumen di berbagai daerah.

Dari Aceh, Menuju Panggung Nasional

Pemulihan Bungong Jaroe tak hanya berhenti di bagian produksi. Bank Indonesia memberi penguatan kapasitas lewat pelatihan pemasaran digital, hingga produk mereka dipasarkan lewat media sosial. Dukungan yang diberikan tak berhenti pada bantuan sesaat, melainkan proses berkelanjutan. Apa saja bentuk dukungan BI? Diantaranya, mulai dari:

  • Penguatan aspek produksi, untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas tenun.

  • Penguatan kapasitas usaha, dari manajemen produksi hingga pengemasan.

  • Pendampingan kurasi nasional, hingga Bungong Jaroe dan Bungong Geulima lolos seleksi untuk tampil di panggung Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.

  • Perluasan akses pasar, melalui pameran dan pemasaran digital agar tak bergantung pada pasar lokal.

  • Digitalisasi pembayaran melalui QRIS, termasuk MDR 0% untuk transaksi UMKM sesuai ketentuan, sehingga transaksi lebih ringan dan efisien. 

Namun, perjalanan Bungong Jaroe untuk kembali tumbuh tidak dilakukan sendiri. Pemerintah Kabupaten Aceh Timur bersama Dekranasda Kabupaten Aceh Timur turut melengkapi dukungan melalui pelatihan menenun, pemesanan produk, hingga memberikan ruang bagi produk Bungong Jaroe untuk ditampilkan di Galeri Dekranasda. Dukungan ini membuat para perajin tidak hanya kembali memproduksi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengasah keterampilan, mendapatkan pesanan, dan memperkenalkan karya mereka kepada pasar yang lebih luas. 

Berkat rangkaian dukungan itu, Bungong Jaroe bersama Bungong Geulima dari Peureulak resmi tampil di KKI 2026, Jakarta, 20 Agustus 2026, ajang ke-11 bertema "Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing" dengan Aceh sebagai wilayah tematik.

Bagi Khairiah, kesempatan itu jadi kebanggaan tersendiri. "Bahagia, sangat bangga. Karena kami ingin mengangkat kain tenun Aceh," ujarnya. Harapannya tak berhenti di pasar domestik. Ia ingin wastra Aceh bisa Go Global. Malaysia dan Brunei jadi target terdekat, Turki masuk rencana berikutnya, meski sejak 2020 mereka belum pernah ekspor. Namun setelah tampil di KKI 2026, cita-cita itu serasa semakin dekat.

Sinergi: Buka Jalan untuk Bangkit Lagi!

Kisah Bungong Jaroe memperlihatkan bahwa pemulihan UMKM pascabencana butuh proses panjang. Para perajin di Kecamatan Madat dan Simpang Ulim masih membutuhkan dukungan pembinaan, penguatan kapasitas, dan akses pemasaran. Sebab dukungan tak cukup berhenti pada bantuan pemulihan. Setelah berproduksi kembali, mereka perlu didorong berkembang dan bersaing.

Di sinilah dibutuhkan semangat sinergi antar-lembaga, sejalan dengan #BeudayaMeusareSare yang artinya “berdaya bersama-sama”. Di KKI 2026, semangat itu diwujudkan lewat keterlibatan 27 Kementerian/Lembaga dan 34 mitra strategis, mendukung 550 UMKM pameran fisik dan lebih dari 1.300 UMKM pameran daring.

Bagi Bungong Jaroe, perjalanan bangkit dari keterpurukan dan nasib bencana, menjadi bukti UMKM dapat bangkit ketika mendapat dukungan dan kesempatan. Dari desa kecil di Peulalu, Aceh, sehelai kain tenun kini membawa cerita lebih besar. Masyarakatnya yang kembali bekerja, tradisi yang tetap hidup, dan UMKM lokal yang bergerak dari pulih menuju naik kelas.

Karena bagi mereka, menenun bukan sekadar kembali membuat kain. Ini adalah kesempatan untuk membangun kembali kehidupan yang berdaya.




Lampiran
Kontak

​​​Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131

e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Halaman ini terakhir diperbarui 8/20/2026 7:29 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?
Tag :

Baca Juga